Selasa, 03 Juli 2012
RUMUSAN PENDIDIKAN BERBASIS MORALITAS MENURUT HADRATUSYAIKH HASYIM ASY’ARI: ANALISIS KITAB ADAB AL-’ALIM WA AL-MUTA’ALLIM
(Ringkasan artikel ini telah dimuat di Jurnal al-Burhan,vol. XII 2012)
”Sebuah buku yang menarik, estetik,ditulis secara ringkas dan mudah dipahami oleh siapapun. Isinya penting dan perlu dipelajari oleh setiap orang alim. Penulisnya jelas merupakan sosok mulia yang diridhai” (Abdul Hamid Sunbul Hadidy).
Kemajuan sebuah bangsa berbanding lurus dengan kemajuan pendidikannya. Rumusan ini berlaku umum mengingat pendidikan adalah cara terbaik yang bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas manusia. Dengan pendidikan, manusia menjadi tahu, dan dengan pendidikan pula pengetahuan itu berkembang. Karenanya, mendiskusikan pendidikan sejatinya merupakan ikhtiar strategis untuk memperbaiki dan meningkatkan kemajuan bangsa. Pendidikan itu sendiri bukan semata kumpulan catatan berisi kurikulum dan materi ajar, melainkan juga nilai-nilai kemuliaan yang terinternalisasi dalam diri manusia.
Keberhasilan dari sebuah proses pendidikan, bisa dilihat dari perbaikan sikap dan sifat manusia yang menjadi peserta didik. Karena tujuan utama dari pendidikan adalah memperbaiki kualitas manusia, maka pendidikan yang berhasil akan menciptakan manusia berpengetahuan dan berakhlak mulia. Sebaliknya, pendidikan yang menciptakan manusia pintar namun bermental korup yang manipulatif, tidak bisa disebut sebagai sebuah keberhasilan.
”Kita ingin membuat gerakan baru, gerakan nasional untuk membuat kesadaran kolektif tentang pentingnya pendidikan moral, jati diri, karakter, budaya, akhlak mulia.” Demikian ungkap Mendiknas Muhammad Nuh. Penanaman moralitas yang terintegrasi dalam proses pendidikan dan pengajaran sedemikian penting, karena kecerdasan intelektual tanpa dikawal kecerdasan moral dan kecerdasan spiritual akan melahirkan pemimpin lalim, korup, dan tidak bermoral.
Mengingat pentingnya moralitas sebagai landasan sistem pendidikan nasional, perlu rasanya kita mengulas konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari yang termaktub dalam buku yang ditulisnya: Adab al-’Alim wa al-Muta’allim. Hadratusyaikh adalah guru yang berhasil mendidik banyak pemimpin bangsa yang cerdas dan berakhlak mulia. Menurutnya, moralitas atau akhlaqul karimah merupakan esensi dari pendidikan, dan bahwa proses pengajaran ilmu harus terintegrasi dengan moralitas.
Epistemologi Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan (bisa juga kita pahami bahwa ilmu berbeda dari pengetahuan), bisa diperoleh melalui dua hal: Belajar, dan ilham (termasuk wahyu). Secara epistemologis, keduanya berbeda dilihat dari sisi bagaimana ilmu itu diperoleh. Belajar adalah proses aktif seseorang mendapatkan pengetahuan dan ilmu tertentu, dengan tahapan-tahapan yang terstruktur. Keberhasilan seseorang dalam mendapatkan ilmu pengetahuan, biasanya berbanding lurus dengan proses belajar yang dijalaninya. Dari sini, proses belajar itu bisa direncanakan dan dievaluasi. Pencapaian ilmu yang diperoleh melalui mekanisme belajar juga bisa diukur dan diduplikasi.
Lain halnya dengan ilham, yang merupakan proses “monolog” antara Tuhan dengan manusia. Tuhan diibaratkan sumber mata air yang mengalirkan air ke cawan yang disebut manusia. Ilmu pengetahuan yang diperoleh berdasarkan ilham tidak bisa distrukturisasi dan diukur. Ada hak prerogatif Allah Ta’ala yang menentukan siapa dan berapa besaran ilmu yang diberikan-Nya melalui ilham ini. Cara memperoleh ilmu berdasarkan ilham tidak bisa dipelajari sebagaimana ia tidak bisa dievaluasi. Namun demikian, hasil dari ilmu yang diperoleh melalui ilham bisa dirasakan selayaknya ilmu yang diperoleh melalui proses belajar.
Para nabi merupakan contoh manusia yang mendapatkan ilmu melalu proses ilham, yang kita sebut sebagai wahyu. Rasulullah Muhammad menjelaskan banyak hal yang bersifat ghaib (eskatologis) dan tanabbuat (prophecy/perkiraan-perkiraan peristiwa yang akan terjadi di masa depan) yang diketahuinya tanpa melalui proses belajar. Bahkan, sekarangpun masih bisa kita temui manusia yang bukan nabi (dan tidak ada nabi diutus setelah Rasulullah Muhammad) yang memiliki keilmuan yang melebihi “titel” kependidikannya. Hal ini merupakan fakta yang kita ketahui bersama (common sense) yang tidak bisa dibantah.
Alquran sendiri mengakui adanya dua cara memperoleh ilmu pengetahuan ini. Dalam surah al-‘Alaq ayat 1-5 dinyatakan manusia memperoleh pengetahuan melalui perantara al-qalam,
“Bacalah dengan Nama Tuhanmu Yang telah Menciptakan. (Dia) menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu adalah Maha Mulia. (Dia) Yang telah mengajarkan dengan perantara al-qalam. (Dia) Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”.
Al-Qalam atau pena adalah simbol dari kegiatan membaca dan menulis. Keduanya merupakan inti dari kegiatan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dengan cara yang konvensional, yaitu belajar.
Di waktu yang sama, Alquran juga mengisahkan seorang laki-laki yang diberikan ilmu langsung dari Allah Ta’ala. Kisah ini termaktub dalam surah al-Kahf ayat 65, “Dan keduanya mendapati seorang hamba yang Kami berikan kepadanya rahmat dan kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”.
Proses memperoleh ilmu secara langsung dari Allah Ta’ala tanpa proses pembelajaran secara implisit dinyatakan dalam surah al-Baqarah ayat 282, “...Maka bertakwalah kalian kepada Allah, niscaya Allah akan memberi ilmu pada kalian...”
Kedua cara dalam memperoleh ilmu ini, yaitu belajar dan ilham, tidak selayaknya diperbandingkan dan dipisahkan. Dalam artian bahwa setiap orang yang bisa mendapat ilmu dengan belajar, maka dirinya tidak usah lagi bertakwa. Tidak juga dipahami sebaliknya, di mana orang “dipersilahkan” malas belajar dengan asumsi bahwa ibadah semata bisa menjadikannya pintar. Memisahkan belajar dari konsep ketakwaan jelas merupakan sebuah kesalahan epistemologis yang fatal.
Idealnya, kegiatan pembelajaran disertai dengan ketakwaan. Orang yang bertakwa bisa dengan mudah belajar dan memperoleh ilmu, karena ada “sinaran Ilahi” yang membuat kalbunya bersih. Ketakwaan juga bisa menimbulkan ketenangan mental dan spiritual yang mendukung proses pembelajaran sehingga ilmu pengetahuan bisa dengan mudah didapat dan meresap dalam jiwanya.
Ketakwaan seseorang sebagai sebuah konsep hati memang bersifat abstrak, namun bisa dilihat melalui perilaku, sikap dan sifat yang kita sebut sebagai akhlak. Seseorang disebut bertakwa ketika ia memiliki akhlaqul karimah atau budi pekerti yang mulia. Dari premis seperti ini kita fahami bahwa pintu memperoleh ilmu adalah belajar dan berakhlak mulia.
Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari menyatakan bahwa kedua cara tadi, yaitu belajar dan akhlaqul karimah (ketakwaan), perlu dimiliki oleh siapapun yang terlibat dalam proses pembelajaran. Bukan semata murid, gurupun diminta memiliki ketakwaan agar proses transformasi ilmu yang dilakukannya berlangsung lancar. Sehingga tepat rasanya beliau menulis buku Adab al-’Alim wa al-Muta’allim yang diperuntukkan kepada guru dan murid.
Mengenal Sosok Guru Besar Bidang Pendidikan
Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari lahir pada hari Selasa Kliwon, 24 Dzulqa’dah 1287 H bertepatan dengan 14 Februari 1871. Ia merupakan anak ketiga dari sebelas bersaudara. Kelahirannya ditandai dengan mimpi ibunya yang mendapati rembulan berada di pangkuannya.
Jika diruntut dari sudut geneologi jalur ayahnya, tokoh yang memiliki nama asli Muhammad Hasyim merupakan keturunan dari Ahlu Syaiban yang dikenal sebagai klan para da’i. Dengan meruntut lebih ke atas, kita dapati nama Ja’far Shodiq bin Muhammad Baqir. Sehingga, Hadratusyaikh sejatinya merupakan keturunan Rasulullah yang lumrah disebut sebagai habib, sayyid, atau syarif. Sementara jika diruntut dari jalur ibunya yang bernama Halimah, disebutkan bahwa Hadratusyaikh merupakan keturunan dari raja Brawijaya yang dikenal sangat berwibawa dan berpengaruh di tanah jawa.
Hadratusyaikh terlahir dari keluarga pesantren. Ayahnya yang bernama kiai Asy’ari merupakan pendiri dan pengasuh pesantren Keras di Jombang. Kakek dan buyutnya juga merupakan pengasuh pesantren.
Dibesarkan di rumah kakeknya, Hadratusyaikh mengenal dengan baik dunia pesantren. Baru ketika usianya beranjak lima tahun, beliau tinggal bersama ayahnya dan belajar di pesantren Keras. Hadratusyaikh kecil dikenal sangat cerdas dan memiliki determinasi (ketekunan) yang tinggi. Tujuh tahun belajar, beliau dinyatakan layak mengajar kitab-kitab kuning. Saat itu kira-kira usianya baru menginjak tiga belas tahun di mana anak-anak sebayanya masih berfikiran lugu dan senang bermain. Pada usia lima belas tahun, Hadratusyaikh memulai rihlah ilmiah guna menambah ilmu dan wawasannya.
Hadratusyaikh singgah dan belajar di pesantren Wonorejo, pesantren Wonokoyo, dan pesantren Langitan. Beliau juga ke Madura untuk berguru ke kiai Muhammad Cholil yang lebih dikenal dengan nama mbah Cholil Bangkalan. Beliau kemudian melanjutkan perjalanan studinya di pesantren Siwalan Panji di Sidoarjo. Terlahir, dibesarkan dan hidup di pesantren, telah membentuk kepribadian Hadratusyaikh sebagai sosok pendidik yang ulung.
Pada tahun 1892 Hadratussyaikh menunaikan haji di tanah suci dan bersama istrinya tinggal di kota Mekkah selama beberapa bulan. Beliau kemudian ”mudik” ke tanah jawa dan berada di kampung halaman selama tiga bulan. Selanjutnya Hadratusyaikh kembali berangkat ke tanah suci dan belajar selama sekitar tujuh tahun.
Pada tahun 1899 Hadratusyaikh kembali ke tanah air. Pada tahun ini pula beliau mendirikan pesantren Tebuireng yang mendapatkan pengakuan dari kolonial Belanda pada bulan Rabi’ul Awwal 1324 H bertepatan dengan Februari 1906. Tokoh yang tercatat sebagai pahlawan nasional ini mendirikan organisasi massa bernama Nahdlatul Ulama (NU) pada tanggal 16 Rajab 1344 H bertepatan dengan 31 Januari 1926. Sekarang NU merupakan organisasi massa terbesar di Indonesia.
Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari hidup di masa kolonialisme. Hal ini menuntut beliau untuk berjuang memperoleh kemerdekaan. Beliau adalah pahlawan nasional yang dikenang sebagai tokoh yang memimpin perjuangan melawan penjajah. Tidak kurang tokoh seperti panglima Soedirman dan Bung Tomo menjadikan Hadratusyaikh sebagai pemimpin spiritual yang memberikan arahan dalam perjuangannya.
Namun demikian, beliau memahami bahwa kemerdekaan bukan semata terbebas dari penjajahan dan kolonialisme. Mengusir penjajah merupakan usaha yang sangat penting, dan yang lebih penting dari itu adalah bagaimana menyiapkan anak bangsa mengisi kemerdekaannya. Oleh karenanya, Hadratusyaikh memutuskan untuk menjadi pengajar dan pendidik.
Sejatinya, Hadratusyaikh sudah menjadi pengajar dan pendidik saat usianya masih belia. Ketika menjadi santri, beliau juga diminta mengajar di pesantren. Perjalanan ”karir” yang panjang, menjadikan Hadratusyaikh sebagai pengajar dan pendidik yang ulung. Tidak aneh rasanya kita dapati banyak rekan Hadratusyaikh selama di pesantren, kemudian belajar dari Hadratusyaikh dan menjadi murid beliau. Banyak murid Hadratusyaikh yang menjadi tokoh nasional dan mengisi lini-lini kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hadratusyaikh memilih mendirikan pesantren sesaat setelah kepulangannya dari menuntut ilmu, karena pesantren telah terbukti berhasil melahirkan manusia-manusia pandai yang bermoral. Saat itu, pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan formal yang bisa diakses oleh seluruh anak bangsa. Sementara sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial bersifat eksklusif bagi keluarga keraton dan dimaksudkan untuk memperkuat kolonialisasi.
Hadratusyaikh menulis banyak buku, beberapa sudah ditahqiq dan diterbitkan. Tulisan Hadratusyaikh membahas banyak tema, mulai hadis, fiqh, tafsir, akidah, dan akhlak. Hal ini menunjukkan keluhuran ilmu Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari sebagai ulama ensiklopedis (al-’alim al-jami’).
Pada tanggal 7 Ramadhan 1366 H sekitar jam 3 Shubuh tanggal 7 Ramadhan 1366 bertepatan dengan 25 Juli 1947 Hadratusyaikh wafat. Inna lillah wa inna ’ilayhi raji’un. Semoga Allah membalas amal baik Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari dengan keridhaan-Nya.
Buku Adab al-’Alim wa al-Muta’allim
Melihat judulnya, kita bisa mengetahui gambaran isi sebuah buku. ”Etika Orang Yang Berilmu Dan Orang Yang Belajar” demikian judul buku itu jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari menghendaki orang yang berilmu untuk mengetahuinya, sebagaimana orang yang menjadi murid mempelajarinya. Buku ini berisi tuntunan dalam melaksanakan proses pembelajaran secara utuh, baik di dalam maupun di luar kelas.
Mungkin timbul pertanyaan: Mengapa Hadratusyaikh memilih kata ”al-’alim” yang bermakna orang berilmu dari pada kata ”al-mu’allim” yang berarti guru sebagai pembanding kata ”al-muta’allim” yang bermakna murid?
Nampaknya Hadratusyaikh menghendaki siapapun yang menjadi guru, haruslah ia berilmu terlebih dahulu. Kita bisa pahami, bahwa guru bukan sekedar profesi yang bisa diperoleh oleh seseorang dengan berbekal ijazah kependidikan dan pengajaran. Guru haruslah berilmu, dan ijazah hanyalah bukti yang bersifat formalistik terhadap kompetensi seseorang dalam mendidik dan mengajar. Kesan yang muncul adalah bahwa banyak orang yang tidak berprofesi sebagai guru namun memiliki ilmu yang luas dan bisa mengajar, atau orang yang menjadi guru padahal sebenarnya ia belum layak untuk mengajar.
Pemilihan kata ”al-’alim” dan ”al-muta’allim” juga bisa dipahami mengingat Hadratusyaikh merupakan pakar hadis. Nampak beliau melakukan iqtibas atau kutipan dari hadis untuk menamai bukunya tersebut. Dalam sebuah hadis kata “al-‘alim” dan “al-muta’allim” digunakan,
العالم والمتعلم شريكان في الأجر
“al-‘Alim (orang yang berilmu) dan al-muta’allim (orang yang belajar) keduanya bersekutu dalam pahala” (HR. Ibn Majah dari Abu Umamah).
Dalam hadis lain didapati juga penggunaan keduanya,
اغد عالما أو متعلما....
“Jadilah ‘alim (orang yang berilmu) atau al-muta’allim (orang yang belajar)”
Buku Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim terdiri dari sebuah prolog (khutbah), delapan bab, dan epilog. Berikut adalah ulasan dari isi dari buku tersebut.
Prolog Buku
Hadratusyaikh memulai bukunya dengan basmalah, hamdalah dan shalawat. Sebuah tradisi penulisan buku yang belaku umum di kalangan kaum muslimin. Kemudian beliau menyebutkan banyak riwayat yang isinya menjelaskan kewajiban orang tua untuk mengajarkan adab (akhlak) yang mulia kepada anaknya. Beliau menjelaskan betapa pengajaran akhlak itu perlu mendapat perhatian besar, karena akhlak mulia merupakan sari pati dari tauhid. Beliau dengan tegas menyatakan bahwa akhlak dan ilmu merupakan dua hal yang tidak terpisahkan.
Motivasi penulisan buku, atau kitab, ini adalah kebutuhan para murid (santri) akan tuntunan akhlak yang dijelaskan secara terperinci. Beliau menilai akhlak sedemikian penting, namun banyak orang yang merasa ”samar” akannya. Buku ini menjadi rujukan bagi mereka.
Bab I: Keutamaan Ilmu, Ulama, Mengajar, Dan Belajar
Hadratusyaikh menafsirkan ayat 11 surah al-Mujadilah sebagai dalil bahwa ulama mendapatkan kemuliaan dikarenakan mereka memiliki ilmu dan mengamalkan ilmunya. Beliau menyebutkan Alu Imran ayat 18 untuk menggambarkan kemuliaan yang diterima ulama. Pada bab ini disebutkan juga hadis-hadis yang menerangkan bahwa ilmu adalah tanda kebaikan, kemuliaan derajat, dan bahwa ulama sejatinya merupakan pewaris para nabi. Hadratusyaikh menilai ulama memiliki sifat ”khasyah” atau takut kepada Allah Ta’ala, dan sifat tersebut adalah ciri sebaik-baik makhluk sebagaimana dikesankan dalam surah al-Bayyinah ayat 6-8 dan Fathir ayat 28 .
Hadratusyaikh menerangkan kewajiban mencari ilmu dan keutamaan orang yang mau mengajar dan balajar. Beliau mengutip riwayat-riwayat yang menyebutkan kemuliaan majelis ilmu dan kegiatan belajar-mengajar. Belajar merupakan ibadah yang dijanjikan pahala besar oleh Allah Ta’ala.
Pada bagian akhir, Hadratusyaikh mengutip banyak riwayat dan syair tentang pentingnya ilmu dan bahayanya kebodohan. Orang yang bodoh akibat kemalasannya, akan menjadi sumber petaka bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Hadratusyaikh mengisyaratkan bahwa proses pembelajaran perlu mendapatkan perhatian semua pihak, bukan semata menjadi urusan pribadi orang perorang.
Pada bab ini, Hadratusyaikh menambahkan satu fashal (sub bab) untuk mengingatkan bahwa keutamaan-keutamaan ilmu tersebut diperuntukkan bagi ulama yang ikhlas dan mau mengamalkan ilmunya. Beliau menyebutkan riwayat-riwayat yang isinya ancaman bagi mereka yang mempermainkan ilmu, juga yang menjadikan pembelajaran (belajar-mengajar) untuk riya dan pamrih duniawi.
Bab II: Etika Murid Terhadap Dirinya
Pada bab ini, Hadratusyaikh menjelaskan sepuluh etika yang harus dimiliki dan dipegang teguh oleh murid. Beliau memulai dengan penjelasan bahwa akidah yang lurus dan hati yang bersih merupakan pijakan pertama dalam proses mencari ilmu. Selanjutnya, beliau menerangkan etika kedua yaitu bahwa setiap murid perlu menjaga keikhlasan hatinya selama belajar. Sifat riya dan segala macam motivasi duniawi wajib dihindari oleh siapapun yang sedang mencari ilmu.
Etika yang ketiga adalah menyegerakan diri untuk mencari ilmu dan bersungguh-sungguh dalam belajar. Pada etika keempat, Hadratusyaikh mengingatkan pentingnya kesederhanaan makanan dan pakaian sebagai faktor yang mendukung keberhasilan dalam belajar.
Etika kelima adalah optimalisasi waktu dalam belajar. Menurut beliau, waktu terbaik untuk menghafal adalah pertengahan akhir malam hari yang dikenal sebagai waktu sahur. Sementara untuk belajar dan mengaji adalah pagi hari. Kemudian, waktu terbaik untuk menulis pelajaran (dan juga buku) adalah siang hari, dan untuk mengulang pelajarannya malam hari. Hadratusyaikh memberikan tips belajar efektif, yaitu menjauh dari sumber kebisingan dan keramaian yang bisa mengalihkan konsentrasi belajar.
Pada etika keenam, Hadratusyaikh mengingatkan murid untuk memperhatikan makanannya. Bahwa makan dan minum berlebihan akan mengganggu pembelajaran, dan bisa menimbulkan penyakit. Selanjutnya, Hadratusyaikh mengajak murid untuk bersifat wara’ dengan cara meninggalkan segala perbuatan haram dan makruh, serta dengan memastikan kehalalan seluruh makanannya, pakaiannya, tempat tinggalnya, dan kebutuhan sehari-harinya. Sifat wara’ akan membuat hati disinari oleh Allah Ta’ala dan hal ini memudahkan proses penerimaan ilmu.
Seakan menyatakan besarnya pengaruh makanan terhadap pembelajaran, pada etika kedelapan Hadratusyaikh mengajak murid untuk menghindari makanan yang bisa membuat tumpul otak seperti buah yang masam dan cuka. Hadratusyaikh juga mengingatkan kita bahwa melakukan perbuatan sia-sia bisa mengganggu pembelajaran.
Etika kesembilan adalah cukup istirahat. Berlebihan tidur membuat otak tumpul, sebagaimana kurang istirahat juga bisa menyebabkan hal yang sama. Hadratusyaikh menyatakan bahwa berhibur diri juga perlu, ketika murid sudah mencapai proses jenuh dalam belajar. Terakhir, Hadratusyaikh mengingatkan kita untuk cermat memilih teman.
Bab III: Etika Murid Kepada Gurunya
Pada bab ini, Hadratusyaikh menjelaskan dua belas etika murid terhadap gurunya. Pertama seorang murid haruslah selektif dalam memilih guru yang menjadi sumber ilmu dan teladan akhlaknya. Hadratusyaikh menyebutkan ahliyyah (kompetensi), syafaqah (rasa kasih sayang), muruah (kepribadian luhur), shiyanah (terjaga dari dosa dan keburukan, dan profesionalitas dalam mengajar sebagai bahan pertimbangan dalam memilih guru. Hadratusyaikh menyatakan bahwa guru yang baik adalah orang yang melewati proses pembelajaran dari guru yang juga baik. Ia haruslah sosok manusia yang memiliki wawasan luas.
Ketiga, seorang murid hendaknya senantiasa dekat dengan gurunya dan taat terhadap tuntunannya. Murid yang baik seperti pasien yang patuh terhadap dokter yang merawatnya. Ia senantiasa menghormati gurunya, dan berupaya memperoleh ridhanya. Hadratusyaikh menjadikan pandangan hormat dan i’tikad bahwa guru adalah sosok manusia yang mulia sebagai etika keempat.
Etika kelima, seorang murid harus memahami hak guru, mengingat kebaikannya, mendoakannya beserta keluarganya. Selanjutnya, seorang murid diminta bersabar jika ia mendapati dari gurunya sesuatu yang menurutnya tidak baik. Ia harus berperasangka baik kepada gurunya. Apa yang dilihat dari gurunya tidak baik, haruslah ditakwilkan dan diprasangkakan baik.
Ketujuh, seorang murid meminta izin ketika hendak menemui guru di luar jam pembelajaran. Ketika mengetuk pintu, hendaknya ia menggunakan jarinya agar tidak menimbulkan suara yang gaduh. Murid menemui dengan kondisi bersih, berpakaian baik, dan mengenakan sedikit wewangian. Sebisa mungkin ia berlaku santun di hadapan gurunya.
Kedelapan, seorang murid mengikuti pembejaran dengan baik dan sungguh-sungguh. Hal ini nampak dari bagaimana ia duduk, konsentrasi terhadap pelajaran, dan merespon pertanyaan dan pernyataan gurunya. Murid harus menghindari sikap dan perbuatan yang mengganggu proses belajar mengajar. Hadratusyaikh menjadikan kesantunan berbicara dan menyampaikan pendapat dalam etika kesembilan, terutama saat ia hendak menyampaikan pendapat yang bertentangan dengan pendapat guru.
Masih menitikberatkan kesantunan, Hadratusyaikh menyebutkan etika kesepuluh terkait bagaimana sikap seorang murid saat mendengar penjelasan dari guru yang sudah pernah didengarnya. Hadratusyaikh mengingatkan murid untuk tetap menunjukkan antuasiasmenya seakan ia belum pernah mendengar dan mengetahui penjelasan itu.
Kesebelas, seorang murid tidak mendahului perkataan guru sebagaimana ia diharap tidak ”melangkahi” gurunya dalam menjawab pertanyaan atau memberikan penjelasan. Murid diharapkan fokus terhadap pengajaran dan merespon pertanyaan gurunya. Hadratusyaikh mengingatkan murid agar tidak melamun sehingga guru perlu menyapanya dua kali atau menanyakan sesuatu dua kali akibat murid tidak mendengarnya.
Terakhir, Hadratusyaikh mengingatkan murid untuk selalu menggunakan tangan kanannya ketika menerima sesuatu dari guru. Kalau posisi dirinya dengan guru berjauhan, maka murid yang harus berdiri dan menghampiri guru. Murid harus sigap dalam menyiapkan hal-hal yang diperlukan guru, termasuk menyiapkan sandal guru ketika ia berkehendak meninggalkan majelis pengajaran. Hadratusyaikh juga menjelaskan etika berjalan bersama guru, di mana murid berada di belakang guru, kecuali ketika perjalanan dilakukan di tempat yang asing atau berbahaya. Hadratusyaikh menjelaskan etika berkendara bersama guru, dan beliau mengakhiri penjelasannya terkait etika murid ketika ia tahu bahwa pendapat gurunya salah.
Bab. IV: Etika Murid Dalam Pembelajarannya
Pada bab ini, Hadratusyaikh menerangkan 13 etika yang perlu dimiliki murid dalam pembelajarannya. Pertama, seorang murid harus mendahulukan pembelajaran ilmu yang fardhu ayn, yaitu ilmu tauhid (ma’rifah Dzat Allah dan Sifat-Nya), fiqh, dan akhlak/tasawuf (ahwal, maqamat, dst).
Kedua, murid mempelajari Alquran termasuk tafsirnya, baru kemudian mempelajari ilmu penunjang seperti nahwu dan sharf. Ilmu-ilmu penunjang dikaji secara ringkas, bukan pendalaman. Murid membaca Alquran setiap hari dengan istiqamah dan menjaga hafalan Alqurannya.
Ketiga, murid menjauhkan diri dari mempelajari ikhtilaf dan perdebatan kecuali jika ia sudah menguasai ilmu-ilmu yang dibutuhkan. Murid mempelajari satu disiplin ilmu dengan baik, seperti mempelajari satu mazhab fiqh saja sebelum ia mempelajari perbandingan mazhab. Kemudian (etika keempat), murid harus memastikan keshahihan ilmu sebelum ia menghafalnya.
Kelima, murid memulai belajarnya di usia muda khususnya dalam mempelajari hadis. Dalam konteks ini, murid juga mempelajari ilmu hadis dan kajian atas sanadnya. Hendaknya ia memulai kajiannya dengan Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dilanjutkan dengan kitab-kitab primer (ushul) yang terpercaya semisal al-Muwattha’ karya Malik.
Keenam, setelah mengetahui penjelasan dari ilmu-ilmu yang dipelajarinya, ia mulai membaca kitab-kitab penjelas (mabsuthat). Seorang murid diharapkan memiliki cita-cita tertinggi, dan jangan merasa puas terhadap ilmu yang telah dia ketahuinya karena pasti ia hanyalah sedikit. Ia menggunakan segala kesempatan yang tersedia dengan baik untuk menimba ilmu sebanyak mungkin. Ketujuh, murid haruslah istiqamah mengikuti seluruh pembelajaran yang diberikan gurunya. Ia harus memiliki skala prioritas ilmu yang akan dipelajarinya. Ilmu yang telah diperolehnya secara berulang-ulang dipelajari lagi agar meresap. Sebaik-baik waktu mengulang pelajaran adalah malam hari.
Kedelapan, ketika memasuki dan meninggalkan majelis ilmu hendaknya murid mengucapkan salam. Ia duduk di tempat yang tersedia, dengan tidak mengganggu orang lain yang datang sebelumnya. Ia tidak duduk di tengah-tengah orang yang sudah duduk berkelompok, atau di antara dua shahabat karib, atau posisi duduknya lebih tinggi di atas orang yang lebih utama darinya.
Kesembilan, murid tidak malu untuk bertanya. Ia bertanya dengan santun dan beretika. Ia juga tidak malu untuk menyatakan bahwa dirinya tidak tahu, ketika guru bertanya dan dirinya memang tidak tahu.
Kesepuluh, murid mengetahui urutannya ketika ia dan murid yang lain mengajukan pertanyaan atau mendapatkan penjelasan. Murid jangan memaksakan diri memperoleh jawaban dari pertanyaan sebelum murid lain yang bertanya sebelumnya memperoleh jawaban.
Kesebelas, ia duduk mengikuti pelajaran dengan baik, membawa buku atau catatan milik sendiri, dan tidak meletakkan buku di atas lantai/tanah. Ia membaca buku setelah mendapat izin dari guru, dan tidak membaca di hadapan guru yang perasaannya sedang tidak enak. Ia memulai membaca buku dengan isti’adzah, basmalah, dan shalawat yang dilanjutkan dengan doa bagi guru dan pengarang buku serta seluruh kaum muslimin.
Kedua belas, murid tidak berpindah dari satu buku atau satu ilmu kecuali ia sudah menguasainya. ia juga tidak berpindah dari satu tempat belajar ke tempat lain yang bisa mengganggu konsentrasi dan fokusnya dalam belajar. Selama belajar, murid bertawakkal dan tidak perlu mengkhawatirkan hal lain utamanya masalah ekonomi (rezeki). Ia diharap tidak berdebat yang bisa menyia-siakan waktunya dan menambah kotor hati. Selama belajar, ia tidak bergaul dengan orang-orang yang senang merusak dan bermaksiat. Saat belajar ia menghadap kiblat, dan senantiasa mengamalkan sunnah Rasulullah. Ia diharapkan memperbanyak shalat yang dilakukannya dengan khusyu’.
Ketiga belas, murid memotivasi murid-murid lainnya dalam belajar. Ia membantu sebisa mungkin apa yang mereka butuhkan, dan menunjukkan hal-hal yang bisa membantu mereka dalam belajar. Yang demikian ini akan memberikan keberkahan pada ilmu yang didapatnya.
Bab V: Etika Orang Alim Terhadap Dirinya
Hadratusyaikh menyebutkan dua puluh etika yang harus dimiliki oleh orang alim. Pertama, ia harus senantiasa ingat dan sadar bahwa Allah mengawasinya. Kedua, ia selalu takut kepada Allah, utamanya terhadap ilmu yang dititipkan Allah pada dirinya.
Ketiga sampai keenam, ia harus menjaga ketenangan diri, sifat wara’ (menghindari hal-hal yang syubhat), tawadhu’ (rendah hati), dan kekhusyuan. Ketujuh, seorang alim harus menjadikan Allah sebagai tujuan dan tempat bersandar dalam hidupnya.
Kedelapan, ia tidak menjadikan ilmunya sebagai tangga menuju kekayaan dan kejayaan duniawi. Kesembilan, ia tidak memuliakan manusia yang orientasi hidupnya adalah dunia. Kesepuluh, ia selalu menjaga sifat zuhud dan qana’ah dalam batasan kewajaran. Selanjutnya seorang alim hendaknya menghindari melakukan dan memiliki pekerjaan yang kurang terhormat dalam pandangan syariat dan sosial masyarakat
Kedua belas, seorang alim menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan salah duga dan hal-hal yang bisa merendahkan muruahnya (kehormatannya). Jika dianggap perlu, ia bisa menyampaikan klarifikasi atas apa yang telah dilakukannya sehingga tidak ada orang yang berdosa akibat memiliki prasangka buruk terhadapnya.
Ketiga belas, seorang alim wajib menjaga syiar Islam seperti shalat berjamaah di masjid, menyebarkan salam, amar ma’ruf nahi munkar, dan tidak takut celaan orang dalam mengamalkan syariat Allah. Ia harus sabar dalam mengemban amanah itu sebagai konsekuensi menjadi orang yang berilmu.
Keempat belas, seorang alim senantiasa menampakkan pelaksanaan sunnah Rasulullah dan upayanya dalam memberangus bid’ah. Semua yang dilakukannya harus berdasarkan kepentingan dan kemashlahatan kaum muslimin. Ia diharap selalu melakukan perbuatan yang terbaik, karena dirinya adalah teladan (role model) bagi masyarakat. Apa yang dilihat oleh orang awam darinya, akan dianggap sebagai ajaran Islam itu sendiri. Karenanya ia harus melakukan hal yang terbaik, bukan sekedar yang boleh.
Kelima belas, dirinya senantiasa istiqamah melakukan amalan sunnah. Alquran senantiasa dibaca dan dzikir selalu menghiasi bibirnya. Ia membaca doa-doa ma’tsur harian yang diajarkan Rasulullah Keenam belas, ia selalu memperlakukan orang dengan mulia. Wajahnya selalu cerah dengan senyuman. Sebisa mungkin ia menahan amarahnya, dan menolong orang lain. Ketika melihat seseorang melakukan kekeliruan, ia memberikan pengajaran dengan santun.
Ketujuh belas, seorang alim senantiasa menyucikan zahir dan batin dari dirinya dari akhlak yang rendah. Sifat-sifat buruk dihindari seperti dengki, keras kepala, marah tanpa alasan, riya, sombong, pelit, mencari-cari kejelekan orang lain, fanatisme buta, adu domba, gunjing, dan lalai akan aib sendiri. Ia harus senantiasa mengingat ayat dan hadis yang menjeaskan bahaya sifat-sifat buruk, dan memperbanyak doa agar Allah menjaganya dari sifat-sifat buruk tersebut.
Kedelapan belas, seorang alim senantiasa menjaga motivasinya dalam belajar dan mengamalkan ilmu. Ia menghindari hal-hal yang tidak perlu dilakukan. Kesembilan belas, ia tidak segan mendapat ilmu dari orang yang derajatnya lebih rendah (misalnya dari muridnya) atau yang usianya lebih muda. Dan etika terakhir (kedua puluh), seorang alim harus menulis dan berkarya.
Bab VI: Etika Orang Alim Terhadap Pembelajarannya
Seorang alim mendatangi majelis ilmunya dalam keadaan suci dari hadas dan najis. Ia mengenakan pakaian yang layak sesuai dengan kemuliaan dirinya, dan menggunakan wewangian sewajarnya. Hal itu dilakukan demi memuliakan ilmu yang diamanahkan kepadanya. Pembelajaran atau pengajaran yang diberikannya, semata diniatkan untuk memperoleh keridhaan Allah Ta’ala dan menjaga Agama.
Saat keluar dari rumah, seorang alim berdoa dengan doa-doa yang diajarkan Rasulullah. Sesampainya di majelis ilmu, ia mengucapkan salam kepada para jamaah (murid-muridnya). Ia duduk menghadap kiblat, dengan menjaga ketenangan dan kewibawaan selama mengajar. Ia menjaga pergerakan tangan dan anggota tubuhnya, utamanya mata, dari hal-hal yang tidak perlu. Gurauan dan tertawa hendaknya dihindari, karena bisa mengurangi kewibawaannya.
Seorang alim menghindari mengajar saat dirinya dalam keadaan lapar, mengantuk, dan perasaan hati tidak enak. Kondisi lingkungan seperti cuaca juga perlu diperhatikan. Ia memuliakan murid-muridnya sesuai kedudukan masing-masing, dan tidak berlaku pilih kasih terhadap mereka.
Pengajaran dimulai dengan pembacaan Alquran, yang dilanjutkan doa untuk dirinya sendiri dan seluruh hadirin beserta kaum muslimin. Kemudian ia membaca isti’adzah, basmalah dan shalawat. Jika ia mengajar banyak disiplin ilmu dalam satu majelis, maka hendaknya ia memulai pengajaran ilmu yang paling mulia seperti tafsir Alquran dan hadis. Wacana yang kontroversial dihindari untuk diangkat dalam pengajaran.
Seorang alim tidak memperpanjang penjelasan yang menimbulkan kejemuan. Suaranya dijaga, sebatas kewajaran yang bisa didengar oleh seluruh murid-muridnya saja. Ia menyampaikan penjelasannya dengan perlahan dan sistematis, sehingga bisa dicerna dengan baik oleh murid-muridnya. Jika perlu, ia mengulang-ulang penjelasannya.
Tempat-tempat yang bising tidak bisa dijadikan majelis ilmu, karena bisa mengakibatkan penerimaan informasi yang salah. Sebisa mungkin, ia menghindari perdebatan yang tidak perlu. Jika ada orang yang ‘ngeyel’ atau mengganggu pembelajaran, ia wajib menegurnya. Ketika ada pertanyaan yang tidak diketahui jawabannya, seorang alim tidak malu menyatakan bahwa dirinya tidak tahu.
Seorang alim memberikan perhatian khusus bagi murid yang belum dikenalnya yang datang dari tempat yang jauh. Namun, perhatian itu bukan dimaknai selalu memandanginya, karena hal itu justru bisa membuat gugup.
Seorang alim mengakhiri pembelajarannya dengan ucapan “Allah A’lam”. Sehingga pembelajarannya dimulai dengan dzikr (menyebut) Allah dan diakhiri juga dengan dzikr. Ia tetap di tempatnya sampai murid-muridnya keluar, agar ia tidak berdesak-desakan dengan mereka. Ketika hendak berdiri meninggalkan majelis ilmunya, ia membaca doa kaffarah majelis.
Bab VII: Etika Orang Alim Terhadap Muridnya
Bab ini memuat empat belas etika. Pertama, tujuan mengajar adalah keridhaan Allah Ta’ala, menyebarkan ilmu, dan menghidupkan syariat. Pengajaran merupakan perbuatan yang mendapat ganjaran pahala, dan berkah doa dari orang-orang yang mempelajarinya. Kedua, seorang alim tidak melarang murid yang belum memiliki niat yang ikhlas karena keberkahan ilmu bisa memunculkan niat yang baik (ikhlas). Namun demikian, seorang alim akan senantiasa mengingatkan dan mengajarkan muridnya agar mempunyai niat yang ikhlas.
Ketiga, ia mencintai bagi murid-muridnya apa yang dicintai bagi dirinya sendiri. Demikian juga sebaliknya, ia membenci bagi murid-muridnya apa yang dia benci bagi dirinya. Karenanya, seorang alim akan berupaya membantu muridnya, sayang terhadap mereka, dan sabar terhadap hal-hal yang ada pada murid yang tidak disukainya. Ia perlu mengingat bahwa manusia pasti memiliki kekurangan, termasuk dalam masalah adab.
Keempat, seorang alim mempermudah muridnya yang ingin menemuinya. Ia menyampaikan pengajaran dengan bahasa yang dimengerti murid-muridnya. Ia tidak enggan menyampaikan ilmu yang diketahuinya. Seorang alim tidak mengajarkan ilmu yang belum bisa diterima oleh muridnya. Ketika ada murid yang bertanya sesuatu yang menurutnya belum layak diketahuinya, seorang alim tidak menjawab dengan menjelaskan bahwa murid tersebut tidak atau belum boleh mempelajarinya. Seorang alim bisa saja mengajukan pertanyaan untuk dijawab oleh murid-muridnya dengan berangkat dari dalil dan ilmu yang baru diajarkannya..
Kelima, seorang alim menjelaskan pelajaran dengan sederhana. Ia bisa menggunakan pendekatan contoh dalam memberikan penjelasan, sebagaimana ia bisa mengulang-ulang pelajaran sehingga murid-muridnya faham. Keenam, seorang alim meminta murid-muridnya mengulang-ulang pelajaran, dan ia memberikan ujian (test) kepada mereka.
Ketujuh, seorang alim menasihati muridnya yang berlebihan dalam menuntut ilmu agar berlaku sewajarnya dan tidak menyiksa diri. Jika muridnya nampak jenuh, ia menyuruhnya untuk beristirahat. Etika selanjutnya, seorang alim akan memperlakukan semua muridnya dengan sama tanpa pandang bulu dan membeda-bedakan.
Kesembilan, seorang alim mengasihi murid-muridnya. Ia menanyakan perihal murid yang tidak hadir dalam majelisnya. Karenanya, seorang alim diharapkan mengenali murid-muridnya secara personal. Ia menjaga akhlak dan perilaku murid-muridnya, dan menegur murid yang melakukan perbuatan terlarang. Teguran yang diberikan di majelis ilmu dilakukan tanpa menjelaskan secara lugas siapa murid yang sedang ditegur, namun murid yang bersangkutan mengetahui bahwa dirinya sedang ditegur.
Kesepuluh, seorang alim mentradisikan murid-muridnya dengan kebiasaan mulia seperti mengucapkan salam ketika bertemu, kesantunan dalam berbicara, dan bekerja sama dalam kebaikan dan takwa. Kesebelas, seorang alim senantiasa membantu murid-muridnya.
Kedua belas, ketika ada murid yang sering tidak hadir, ia menanyakan kabarnya bahkan jika perlu mengunjunginya. Jika murid itu sakit, ia menjenguknya. Jika murid itu sedang kesusahan ia membantunya. Ia mengupayakan kebaikan untuk murid-muridnya walau sekedar doa.
Ketiga belas, seorang alim senantiasa santun dan rendah hati terhadap muridnya. Dan keempat belas, seorang alim menghormati murid-muridnya dan memanggil mereka dengan panggilan yang disenangi oleh mereka. Dengan tersenyum, ia menyambut kedatangan muridnya. Ia menanyakan kabar muridnya dan kabar keluarganya sebagai salah satu perwujudan kepedulian dan rasa kasih sayang.
Bab VIII: Etika Terhadap Buku
Ada lima etika yang disebutkan Hadratusyaikh pada bab terakhir ini. Pertama, murid hendaknya memegang kitab yang dikaji, baik dengan cara membeli maupun meminjam. Karena buku adalah media pembelajaran.
Kedua, jika memungkinkan seseorang diharap meminjamkan kitab kepada orang yang membutuhkan. Orang yang dipinjami perlu menyampaikan rasa terima kasihnya dan segera mengembalikannya setelah kitab tersebut selesai dikaji. Kitab yang dipinjamnya, tidak dipinjamkan kepada orang lain dan tidak ditulisi apapun. Ia harus ingat bahwa dirinya tidak layak mengutip atau menyalin isi kitab kecuali seizin pemiliknya.
Ketiga, ketika menyalin atau menuliskan ulang, kitab tidak digeletakkan begitu saja di atas lantai. Kitab dimuliakan karena berisi ilmu yang dimuliakan. Upaya untuk memuliakan buku ini juga berlaku pada masalah penyimpanannya. Etika selanjutnya, jika bukunya ada kekurangan lembar, atau urutannya tidak benar, maka orang yang memegangnya perlu memperbaikinya.
Kelima, ketika seseorang menyalin kitab yang berisi ilmu-ilmu syariah, maka hendaknya ia dalam keadaan suci dan menghadap kiblat. Setiap bab yang ditulis dimulai dengan basmalah. Jika buku yang disalin dimulai dengan hamdalah dan shalawat, maka orang yang menyalin tetap dianjurkan memulai tulisannya dengan basmalah (sebelum hamdalah dan shalawat tadi). Dalam proses penyalinan dan penulisan, kaedah penulisan perlu diterapkan dengan tepat. Setiap menulis lafal jalalah ”Allah” hendaknya diikuti dengan penghormatan berupa kata ”Ta’ala” atau ”Azza wa Jalla”, sebagaimana nama Rasulullah diikuti dengan ”shallalahu ’alayhi wa sallam”. Shalawat yang ditulis setelah nama Rasulullah tidak disingkat menjadi ”SAW”. Demikian pula ketika menulis nama shahabat diikuti ”radhiya Allah ’anhu” dan nama ulama diikuti dengan ”rahmah Allah ’alayhi”.
Epilog Buku
Hadratusyaikh menerangkan bahwa buku ini selesai ditulis pada waktu pagi, hari Senin tanggal 22 Jumada al-Tsaniyah tahun 1343 H.
Penutup
Buku Adab al-’Alim wa al-Muta’allim memuat banya sekali rujukan berupa ayat-ayat Alquran dan riwayat hadis. Hal ini menggambarkan kepada siapapun yang membacanya betapa luas ilmu dan wawasan yang dimiliki Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari. Bahasa yang digunakan sederhana dan mudah difahami. Etika yang diajarkan sangat mungkin untuk diterapkan oleh siapapun.
Bab-bab yang ditulis oleh Hadratusyaikh, memberikan pemahaman bahwa keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran itu terkait dengan tiga komponen: Pengajar, murid, dan media ajar (yang difahami sebagai buku atau kitab). Ketiganya perlu diketahui hak dan kewajibannya sebagai sebuah konsep pendidikan yang terintegrasi dengan moralitas (akhlaqul karimah).
Buku ini berhasil memberikan gambaran akan urgensi akhlak yang mulia dalam proses pendidikan dan pengajaran. Bahwa dengan melihat sejarah kita dapati fakta bahwa orang-orang yang berhasil adalah mereka yang memiliki ilmu yang tinggi dan akhlak yang mulia. Tanpa akhlak yang mulia, orang yang berilmu akan membawa bencana dan madharat bagi orang lain. Koruptor, bandar narkoba, dan penjahat lintas negara bukanlah orang bodoh, namun justru orang-orang jenius yang tidak bermoral sehingga ilmunya digunakan untuk kejahatan dan kehancuran umat manusia. Karenanya, pendidikan dengan berbasis moral menjadi kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi. Karena dengan moral aksiologi ilmu terjaga, yaitu untuk menciptakan dan menyebarluaskan kebaikan dan kemashlahatan di tengah-tengah umat manusia.
DAFTAR BACAAN
Mushaf Alquran al-Karim
www.diknas.go.id
www.mahadalytebuireng.wordpress.com
www.nu.or.id
Al-Haytsami,’Alî bin Abû Bakar, Majma’ al-Zawâid wa Manba’ al-Fawâid, Beirut: Dâr al-Kitâb al-‘Arabî,1407 H.
Hasyim Asy’ari, Muhammad, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, ttp, tth.
Al-Qazwînî, Muhammad bin Yazîd Ibn Majah, Sunan Ibn Mâjah, Beirut: Dâr al-Fikr, tth
al-Thabrany Sulaiman bin Ahmad, al-Mu’jam al-Kabir, (Musol: Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam, 1983), cet. II.
MATERI ULUMUL HADIS 2
1.Etika pelajar hadis (thalib al-hadits), pakar hadis (muhaddits), dan majelis periwayatan hadis
2.Tata cara periwayatan hadis atau al-tahammul wa al-ada' (al-sima', al-qiraah, al-ijazah, al-munawalah, al-wijadah, al-washiyyah, dan i'lam)
3.Riwayah bi al-ma'na wa ikhtishar al-hadits
4.Al-Jahalah (al-mubham, jahalah al-'ayn, jahalah al-hal/mastur)
5.Mushahhaf wa muharraf (ketelitian dalam harakat dan titik dalam kata)
6.Mukhtalaf al-hadits (al-jam', al-naskh, al-tarjih, al-tawaqquf)
7.Konsepsi shahabat dan tabi'in: kajian atas hadis mursal
8.Mudabbaj (riwayah al-aqran, riwayah shahabi 'an shahabi akhar, riwayah shahabi 'an tabi'in, riwayah al-aba' an al-abna, riwayah al-abna 'an al-aba)
9.Ma'rifah tarikh wafayat, rihlah fi thalab al-hadits, al-buldan)
10.Shahih li ghayrihi, hasan li ghayrihi, shahih muhtaff bi al-qarain
sumber:
1. Tadrib al-Rawi karya al-Suyuthi
2. Taysir Mushthalah al-hadis karya al-Thahhan
3. literatur lain yang relevam
Contoh Hadis-hadis Yang Menjadi Objek Kajian Dalam Mata Kuliah Metode Memahami Hadis
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مَرْبُوعًا بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ عَظِيمَ الْجُمَّةِ إِلَى شَحْمَةِ أُذُنَيْهِ عَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ، وَعَلَيْهِ عِمَامَةٌ سَوْدَاءُ
يُعَذَّبُ الْمَيِّت بِبُكاءِ أهْلِهِ عَلَيْه
عَلَيْكُمْ بالأدْهَم الأقْرَح
مَنْ كاَنَ لَهُ شَعْرٌ فَلْيُكْرِمْه
نِعْمَ الإدَامُ الخَلّ
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ
Rabu, 26 Oktober 2011
Hadis-hadis Objek Penelitian Kritik Matan (Content Analysis) IIQ Jakarta
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: انْشَقَّ القَمَرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِرْقَتَيْنِ، فِرْقَةً فَوْقَ الجَبَلِ، وَفِرْقَةً دُونَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اشْهَدُوا»
عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلَاقُ»
عَنْ عَائِشةَ قَالَتْ: سُحِرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَتَّى كَانَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا يَفْعَلُهُ، حَتَّى كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ دَعَا وَدَعَا، ثُمَّ قَالَ: " أَشَعَرْتِ أَنَّ اللَّهَ أَفْتَانِي فِيمَا فِيهِ شِفَائِي، أَتَانِي رَجُلاَنِ: فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ مَا وَجَعُ الرَّجُلِ؟ قَالَ: مَطْبُوبٌ، قَالَ: وَمَنْ طَبَّهُ؟ قَالَ لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ، قَالَ: فِيمَا ذَا، قَالَ: فِي مُشُطٍ وَمُشَاقَةٍ وَجُفِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ، قَالَ فَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ " فَخَرَجَ إِلَيْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ لِعَائِشَةَ حِينَ رَجَعَ: «نَخْلُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ» فَقُلْتُ اسْتَخْرَجْتَهُ؟ فَقَالَ: «لاَ، أَمَّا أَنَا فَقَدْ شَفَانِي اللَّهُ، وَخَشِيتُ أَنْ يُثِيرَ ذَلِكَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا» ثُمَّ دُفِنَتِ البِئْرُ
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: " أُرْسِلَ مَلَكُ المَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ، فَلَمَّا جَاءَهُ صَكَّهُ، فَرَجَعَ إِلَى رَبِّهِ، فَقَالَ: أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لاَ يُرِيدُ المَوْتَ، فَرَدَّ اللَّهُ عَلَيْهِ عَيْنَهُ وَقَالَ: ارْجِعْ، فَقُلْ لَهُ: يَضَعُ يَدَهُ عَلَى مَتْنِ ثَوْرٍ فَلَهُ بِكُلِّ مَا غَطَّتْ بِهِ يَدُهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ سَنَةٌ، قَالَ: أَيْ رَبِّ، ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: ثُمَّ المَوْتُ، قَالَ: فَالْآنَ، فَسَأَلَ اللَّهَ أَنْ يُدْنِيَهُ مِنَ الأَرْضِ المُقَدَّسَةِ رَمْيَةً بِحَجَرٍ "، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَلَوْ كُنْتُ ثَمَّ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ، إِلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ، عِنْدَ الكَثِيبِ الأَحْمَرِ»
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «سَيْحَانُ وَجَيْحَانُ، وَالْفُرَاتُ وَالنِّيلُ كُلٌّ مِنْ أَنْهَارِ الْجَنَّةِ»
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَلَدُ الزِّنَا شَرُّ الثَّلَاثَةِ»
عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى القَمَرِ لَيْلَةً - يَعْنِي البَدْرَ - فَقَالَ: «إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ
عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ: «فِي النَّارِ» ، فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ، فَقَالَ: «إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ»
عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: لَمَّا أُصِيبَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جَعَلَ صُهَيْبٌ يَقُولُ: وَا أَخَاهُ، فَقَالَ عُمَرُ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ المَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكَاءِ الحَيِّ
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو الْقَارِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ: لَا وَرَبِّ الْكَعْبَةِ مَا أَنَا قُلْتُ " مَنْ أَصْبَحَ وَهُوَ جُنُبٌ فَلْيُفْطِرْ، مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَهُ
عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ سَالِمًا، مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ كَانَ مَعَ أَبِي حُذَيْفَةَ وَأَهْلِهِ فِي بَيْتِهِمْ، فَأَتَتْ - تَعْنِي ابْنَةَ سُهَيْلٍ - النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنَّ سَالِمًا قَدْ بَلَغَ مَا يَبْلُغُ الرِّجَالُ. وَعَقَلَ مَا عَقَلُوا. وَإِنَّهُ يَدْخُلُ عَلَيْنَا. وَإِنِّي أَظُنُّ أَنَّ فِي نَفْسِ أَبِي حُذَيْفَةَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا. فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَرْضِعِيهِ تَحْرُمِي عَلَيْهِ، وَيَذْهَبِ الَّذِي فِي نَفْسِ أَبِي حُذَيْفَةَ» فَرَجَعَتْ فَقَالَتْ: إِنِّي قَدْ أَرْضَعْتُهُ. فَذَهَبَ الَّذِي فِي نَفْسِ أَبِي حُذَيْفَةَ
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، «أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى بِيَمِينٍ وَشَاهِدٍ»
عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلَاقُ»
عَنْ عَائِشةَ قَالَتْ: سُحِرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَتَّى كَانَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا يَفْعَلُهُ، حَتَّى كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ دَعَا وَدَعَا، ثُمَّ قَالَ: " أَشَعَرْتِ أَنَّ اللَّهَ أَفْتَانِي فِيمَا فِيهِ شِفَائِي، أَتَانِي رَجُلاَنِ: فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ مَا وَجَعُ الرَّجُلِ؟ قَالَ: مَطْبُوبٌ، قَالَ: وَمَنْ طَبَّهُ؟ قَالَ لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ، قَالَ: فِيمَا ذَا، قَالَ: فِي مُشُطٍ وَمُشَاقَةٍ وَجُفِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ، قَالَ فَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ " فَخَرَجَ إِلَيْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ لِعَائِشَةَ حِينَ رَجَعَ: «نَخْلُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ» فَقُلْتُ اسْتَخْرَجْتَهُ؟ فَقَالَ: «لاَ، أَمَّا أَنَا فَقَدْ شَفَانِي اللَّهُ، وَخَشِيتُ أَنْ يُثِيرَ ذَلِكَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا» ثُمَّ دُفِنَتِ البِئْرُ
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: " أُرْسِلَ مَلَكُ المَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ، فَلَمَّا جَاءَهُ صَكَّهُ، فَرَجَعَ إِلَى رَبِّهِ، فَقَالَ: أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لاَ يُرِيدُ المَوْتَ، فَرَدَّ اللَّهُ عَلَيْهِ عَيْنَهُ وَقَالَ: ارْجِعْ، فَقُلْ لَهُ: يَضَعُ يَدَهُ عَلَى مَتْنِ ثَوْرٍ فَلَهُ بِكُلِّ مَا غَطَّتْ بِهِ يَدُهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ سَنَةٌ، قَالَ: أَيْ رَبِّ، ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: ثُمَّ المَوْتُ، قَالَ: فَالْآنَ، فَسَأَلَ اللَّهَ أَنْ يُدْنِيَهُ مِنَ الأَرْضِ المُقَدَّسَةِ رَمْيَةً بِحَجَرٍ "، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَلَوْ كُنْتُ ثَمَّ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ، إِلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ، عِنْدَ الكَثِيبِ الأَحْمَرِ»
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «سَيْحَانُ وَجَيْحَانُ، وَالْفُرَاتُ وَالنِّيلُ كُلٌّ مِنْ أَنْهَارِ الْجَنَّةِ»
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَلَدُ الزِّنَا شَرُّ الثَّلَاثَةِ»
عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى القَمَرِ لَيْلَةً - يَعْنِي البَدْرَ - فَقَالَ: «إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ
عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ: «فِي النَّارِ» ، فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ، فَقَالَ: «إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ»
عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: لَمَّا أُصِيبَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جَعَلَ صُهَيْبٌ يَقُولُ: وَا أَخَاهُ، فَقَالَ عُمَرُ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ المَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكَاءِ الحَيِّ
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو الْقَارِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ: لَا وَرَبِّ الْكَعْبَةِ مَا أَنَا قُلْتُ " مَنْ أَصْبَحَ وَهُوَ جُنُبٌ فَلْيُفْطِرْ، مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَهُ
عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ سَالِمًا، مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ كَانَ مَعَ أَبِي حُذَيْفَةَ وَأَهْلِهِ فِي بَيْتِهِمْ، فَأَتَتْ - تَعْنِي ابْنَةَ سُهَيْلٍ - النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنَّ سَالِمًا قَدْ بَلَغَ مَا يَبْلُغُ الرِّجَالُ. وَعَقَلَ مَا عَقَلُوا. وَإِنَّهُ يَدْخُلُ عَلَيْنَا. وَإِنِّي أَظُنُّ أَنَّ فِي نَفْسِ أَبِي حُذَيْفَةَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا. فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَرْضِعِيهِ تَحْرُمِي عَلَيْهِ، وَيَذْهَبِ الَّذِي فِي نَفْسِ أَبِي حُذَيْفَةَ» فَرَجَعَتْ فَقَالَتْ: إِنِّي قَدْ أَرْضَعْتُهُ. فَذَهَبَ الَّذِي فِي نَفْسِ أَبِي حُذَيْفَةَ
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، «أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى بِيَمِينٍ وَشَاهِدٍ»
Kamis, 21 April 2011
nazham bayquniyah منظومة البيقونية
أبدأ بالحمد مصليا على * محمد خير نبي أرسلا
وذي من أقسام الحديث عده * وكل واحد أتى وحده
أولها الصحيح وهو ما اتصل * إسناده ولم يشذ أو يعل
يرويه عدل ضابط عن مثله * معتمد في ضبطه ونقله
والحسن المعروف طرقا وغدت * رجاله لا كالصحيح اشتهرت
وكل ما عن رتبة الحسن قصر * فهو الضعيف وهو أقساما كثر
وما أضيف للنبي المرفوع * وما لتابع هو المقطوع
والمسند المتصل الاسناد من * راويه حتى المصطفى ولم يبن
وما بسمع كل راو يتصل * إسناده للمصطفى فالمتصل
مسلسل قل ما على وصف أتى * مثل أما والله أنباني الفتى
كذاك قد حدثنيه قائما * أو بعد أن حدثني تبسما
عزيز مروي اثنين أو ثلاثه * مشهور مروي فوق ما ثلاثه
معنعن كعن سعيد عن كرم * ومبهم ما فيه راو لم يسم
وكل ما قلت رجاله علا * وضده ذاك الذي قد نزلا
وما أضفته إلى الاصحاب * من قول وفعل فهو موقوف وكن
ومرسل منه الصحابي سقط * وقل غريب ما روى راو فقط
وكل ما لم يتصل بحال * إسناده منقطع الاوصال
والمعضل الساقط منه اثنان * وما أتى مدلسا نوعان
الاول الاسقاط للشيخ وأن * ينقل عمن فوقه بعن وأن
والثان لا يسقطه لكن يصف * أوصافه بما به لا ينعرف
وما يخالف ثقة به الملا * فالشاذ والمقلوب قسمان تلا
إبدال راو ما براو قسم * وقلب إسناد لمتن قسم
والفرد ما قيدته بثقة * أو جمع أو قصر على رواية
وما بعلة غموض أو خفا * معلل عندهم قد عرفا
وذو اختلاف سند أو متن * مضطرب عند أهيل الفن
والمدرجات في الحديث ما أتت * من بعض ألفاظ الرواة اتصلت
وما روى كل قرين عن أخه * مدبج فاعرفه حقا وأنتخه
متفق لفظا وخطا متفق * وضده فيما ذكرنا المفترق
مؤتلف متقق الخط فقط * وضده مختلف فاخش الغلط
والمنكر الفرد به راو غدا * تعديله لا يحمل التفردا
متروكه ما واحد به انفرد * وأجمعوا لضعفه فهو كرد
والكذب المختلق المصنوع * على النبي فذلك الموضوع
وقد أتت كالجوهر المكنون * سميتها منظومة البيقوني
فوق الثلاثين بأربع أتت * أقسامها تمت بخير ختمت
وذي من أقسام الحديث عده * وكل واحد أتى وحده
أولها الصحيح وهو ما اتصل * إسناده ولم يشذ أو يعل
يرويه عدل ضابط عن مثله * معتمد في ضبطه ونقله
والحسن المعروف طرقا وغدت * رجاله لا كالصحيح اشتهرت
وكل ما عن رتبة الحسن قصر * فهو الضعيف وهو أقساما كثر
وما أضيف للنبي المرفوع * وما لتابع هو المقطوع
والمسند المتصل الاسناد من * راويه حتى المصطفى ولم يبن
وما بسمع كل راو يتصل * إسناده للمصطفى فالمتصل
مسلسل قل ما على وصف أتى * مثل أما والله أنباني الفتى
كذاك قد حدثنيه قائما * أو بعد أن حدثني تبسما
عزيز مروي اثنين أو ثلاثه * مشهور مروي فوق ما ثلاثه
معنعن كعن سعيد عن كرم * ومبهم ما فيه راو لم يسم
وكل ما قلت رجاله علا * وضده ذاك الذي قد نزلا
وما أضفته إلى الاصحاب * من قول وفعل فهو موقوف وكن
ومرسل منه الصحابي سقط * وقل غريب ما روى راو فقط
وكل ما لم يتصل بحال * إسناده منقطع الاوصال
والمعضل الساقط منه اثنان * وما أتى مدلسا نوعان
الاول الاسقاط للشيخ وأن * ينقل عمن فوقه بعن وأن
والثان لا يسقطه لكن يصف * أوصافه بما به لا ينعرف
وما يخالف ثقة به الملا * فالشاذ والمقلوب قسمان تلا
إبدال راو ما براو قسم * وقلب إسناد لمتن قسم
والفرد ما قيدته بثقة * أو جمع أو قصر على رواية
وما بعلة غموض أو خفا * معلل عندهم قد عرفا
وذو اختلاف سند أو متن * مضطرب عند أهيل الفن
والمدرجات في الحديث ما أتت * من بعض ألفاظ الرواة اتصلت
وما روى كل قرين عن أخه * مدبج فاعرفه حقا وأنتخه
متفق لفظا وخطا متفق * وضده فيما ذكرنا المفترق
مؤتلف متقق الخط فقط * وضده مختلف فاخش الغلط
والمنكر الفرد به راو غدا * تعديله لا يحمل التفردا
متروكه ما واحد به انفرد * وأجمعوا لضعفه فهو كرد
والكذب المختلق المصنوع * على النبي فذلك الموضوع
وقد أتت كالجوهر المكنون * سميتها منظومة البيقوني
فوق الثلاثين بأربع أتت * أقسامها تمت بخير ختمت
Jumat, 15 April 2011
Hadis Untuk Tugas Mata Kuliah Kajian Sanad (IIQ/IPTIQ)
نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم أن نستقبل القبلتين ببول أو غائط
ثلاث لا يحل لأحد أن يفعلهن لا يؤم رجل قوما فيخص نفسه بالدعاء دونهم فإن فعل فقد خانهم ولا ينظر في قعر بيت قبل أن يستأذن فإن فعل فقد دخل ولا يصلي وهو حقن حتى يتخفف
الوليمة أول يوم حق والثاني معروف والثالث رياء وسمعة
من حلف على يمين فرأى غيرها خيرا منها فليتركها فإن تركها كفارتها
كان النبي صلى الله عليه و سلم إذا أكل طعاما قال الحمد لله الذي أطعمنا وسقانا وجعلنا مسلمين
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ لَكَ فِى أُخْتِى قَالَ « فَأَفْعَلُ مَاذَا ». قَالَتْ فَتَنْكِحُهَا. قَالَ « أُخْتَكِ ». قَالَتْ نَعَمْ. قَالَ « أَوَتُحِبِّينَ ذَاكَ ». قَالَتْ لَسْتُ بِمُخْلِيَةٍ بِكَ وَأَحَبُّ مَنْ شَرَكَنِى فِى خَيْرٍ أُخْتِى. قَالَ « فَإِنَّهَا لاَ تَحِلُّ لِى ». قَالَتْ فَوَاللَّهِ لَقَدْ أُخْبِرْتُ أَنَّكَ تَخْطُبُ دُرَّةَ - أَوْ ذَرَّةَ شَكَّ زُهَيْرٌ - بِنْتَ أَبِى سَلَمَةَ. قَالَ « بِنْتَ أُمِّ سَلَمَةَ ». قَالَتْ نَعَمْ. قَالَ « أَمَا وَاللَّهِ لَوْ لَمْ تَكُنْ رَبِيبَتِى فِى حِجْرِى مَا حَلَّتْ لِى إِنَّهَا ابْنَةُ أَخِى مِنَ الرَّضَاعَةِ أَرْضَعَتْنِى وَأَبَاهَا ثُوَيْبَةُ فَلاَ تَعْرِضْنَ عَلَىَّ بَنَاتِكُنَّ وَلاَ أَخَوَاتِكُنَّ
مَنْ كَانَ لَهُ شَعْرٌ فَلْيُكْرِمْهُ
عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - قَالَتْ أَوْمَتِ امْرَأَةٌ مِنْ وَرَاءِ سِتْرٍ بِيَدِهَا كِتَابٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَبَضَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يَدَهُ فَقَالَ « مَا أَدْرِى أَيَدُ رَجُلٍ أَمْ يَدُ امْرَأَةٍ ». قَالَتْ بَلِ امْرَأَةٌ. قَالَ « لَوْ كُنْتِ امْرَأَةً لَغَيَّرْتِ أَظْفَارَكِ ». يَعْنِى بِالْحِنَّاءِ.
إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ الأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ أَبْصَرَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يُقَبِّلُ حُسَيْنًا فَقَالَ إِنَّ لِى عَشْرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا فَعَلْتُ هَذَا بِوَاحِدٍ مِنْهُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ
عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ أَبِى بَكْرٍ أَوَّلَ مَا قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَإِذَا عَائِشَةُ ابْنَتُهُ مُضْطَجِعَةٌ قَدْ أَصَابَتْهَا حُمَّى فَأَتَاهَا أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ لَهَا كَيْفَ أَنْتِ يَا بُنَيَّةُ وَقَبَّلَ خَدَّهَا
عَنِ الشَّعْبِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَلَقَّى جَعْفَرَ بْنَ أَبِى طَالِبٍ فَالْتَزَمَهُ وَقَبَّلَ مَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ
أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِى لَيْلَى قال إَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ حَدَّثَهُ وَذَكَرَ قِصَّةً قَالَ فَدَنَوْنَا - يَعْنِى - مِنَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَبَّلْنَا يَدَهُ
عَنْ أُسَيْدِ بْنِ حُضَيْرٍ - رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ - قَالَ بَيْنَمَا هُوَ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ وَكَانَ فِيهِ مِزَاحٌ بَيْنَا يُضْحِكُهُمْ فَطَعَنَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِى خَاصِرَتِهِ بِعُودٍ فَقَالَ أَصْبِرْنِى. فَقَالَ « اصْطَبِرْ ». قَالَ إِنَّ عَلَيْكَ قَمِيصًا وَلَيْسَ عَلَىَّ قَمِيصٌ. فَرَفَعَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ قَمِيصِهِ فَاحْتَضَنَهُ وَجَعَلَ يُقَبِّلُ كَشْحَهُ قَالَ إِنَّمَا أَرَدْتُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ
عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِى وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَرِجْلَهُ - قَالَ - وَانْتَظَرَ الْمُنْذِرُ الأَشَجُّ حَتَّى أَتَى عَيْبَتَهُ فَلَبِسَ ثَوْبَيْهِ ثُمَّ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ لَهُ « إِنَّ فِيكَ خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ ». قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا أَتَخَلَّقُ بِهِمَا أَمِ اللَّهُ جَبَلَنِى عَلَيْهِمَا قَالَ « بَلِ اللَّهُ جَبَلَكَ عَلَيْهِمَا ». قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى جَبَلَنِى عَلَى خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ
عَنْ غَالِبٍ قَالَ إِنَّا لَجُلُوسٌ بِبَابِ الْحَسَنِ إِذْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ حَدَّثَنِى أَبِى عَنْ جَدِّى قَالَ بَعَثَنِى أَبِى إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ ائْتِهِ فَأَقْرِئْهُ السَّلاَمَ. قَالَ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ إِنَّ أَبِى يُقْرِئُكَ السَّلاَمَ. فَقَالَ « عَلَيْكَ وَعَلَى أَبِيكَ السَّلاَمُ »
خرج أبو بكر في تجارة إلى بصرى . قبل موت النبي صلى الله عليه و سلم بعام . ومعه نعيمان وسويبط بن حرملة وكانا شهدا بدرا . وكان نعيمان على الزاد . وكان سويبط رجلا مزاحا . فقال لنعيمان أطعمني . قال حتى يجيء أبو بكر . قال فلأغيظنك . قال فمروا بقوم . فقال لهم سويبط تشترون مني عبدا لي ؟ قالوا نعم . قال إنه عبد له كلام . وهو قائل لكم إني حر . فإن كنتم إذا قال لكم هذه المقالة تركتموه فلا تفسدوا علي عبدي . قالوا لا . بل نشتريه منك . فاشتروه منه بعشر قلائص . ثم أتوه فوضعوا في عثنقه عمامة أو جبلا . فقال نعيمان إن هذا يستهزئ بكم . وإني حر لست بعبد . فقالوا قد أخبرنا خبرك . فانطلقوا به . فجاء أبو بكر . ف - أخبروه بذلك . قال فاتسع القوم . ورد عليهم القلائص . وأخذ نعيمان . قال فلما قدموا على النبي صلى الله عليه و سلم وأخبروه . قال فضحك النبي صلى الله عليه و سلم وأصحابه منه حولا
عن قيس بن طخفة الغفاري عن أبيه قال أصابني رسول الله صلى الله عليه و سلم نائما في المسجد على بطني . فركضني برجله: وقال ( مالك ولهذا النوم نومة يكرهها الله أو يبغضها الله )
إياكم والتمادح فإنه الذبح
المستشار مؤتمن
الرؤيا ثلاث فبشرى من الله . وحديث النفس ونخويف من الشيطان . فإذا رأى أحدكم رؤيا تعجبه فليقص إن شاء . وإن رأى شييا يكرهه فلا يقصه على أحد . وليقم يصلي
إن الذي ليس في جوفه شيء من القرآن كالبيت الخرب
الجاهر بالقرآن كالجاهر بالصدقة والمسر بالقرآن كالمسر بالصدقة
من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة والحسنة بعشر أمثالها لا أقول آلم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف
ما من قوم يذكرون الله إلا حفت بهم الملائكة وغشيتهم الرحمة ونزلت عليهم السكينة وذكرهم الله فيمن عنده
كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا رفع يديه في الدعاء لم يحطهما حتى يمسح بهما وجهه
يستجاب لأحدكم مالم يعجل يقول دعوت فلم يستجب لي
عن المسور بن مخرمة قال : سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول وهو على المنبر إن بني هاشم بن المغيرة استأذنوني في أن ينكحوا ابنتهم علي بن أبي طالب فلا آذن ثتم لا آذن ثم لا آذن إلا أن يريد ابن أبي طالب أن يطلق ابنتي وينكح ابنتهم فإنها بضعة مني يريبني ما رابها ويؤذيني ما آذاها
أن النبي صلى الله عليه وسله جلل على الحسن و الحسين وعلى فاطمة كساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي وخاصتي اذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا فقالت أم سلمة وأنا معهم يا رسول الله ؟ قال إنك إلى خير
حسبك من نساء العالمين مريم ابنة عمران و خديجة بنت خويلد و فاطمة بنت محمد و آسية امرأة فرعون
ثلاث لا يحل لأحد أن يفعلهن لا يؤم رجل قوما فيخص نفسه بالدعاء دونهم فإن فعل فقد خانهم ولا ينظر في قعر بيت قبل أن يستأذن فإن فعل فقد دخل ولا يصلي وهو حقن حتى يتخفف
الوليمة أول يوم حق والثاني معروف والثالث رياء وسمعة
من حلف على يمين فرأى غيرها خيرا منها فليتركها فإن تركها كفارتها
كان النبي صلى الله عليه و سلم إذا أكل طعاما قال الحمد لله الذي أطعمنا وسقانا وجعلنا مسلمين
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ لَكَ فِى أُخْتِى قَالَ « فَأَفْعَلُ مَاذَا ». قَالَتْ فَتَنْكِحُهَا. قَالَ « أُخْتَكِ ». قَالَتْ نَعَمْ. قَالَ « أَوَتُحِبِّينَ ذَاكَ ». قَالَتْ لَسْتُ بِمُخْلِيَةٍ بِكَ وَأَحَبُّ مَنْ شَرَكَنِى فِى خَيْرٍ أُخْتِى. قَالَ « فَإِنَّهَا لاَ تَحِلُّ لِى ». قَالَتْ فَوَاللَّهِ لَقَدْ أُخْبِرْتُ أَنَّكَ تَخْطُبُ دُرَّةَ - أَوْ ذَرَّةَ شَكَّ زُهَيْرٌ - بِنْتَ أَبِى سَلَمَةَ. قَالَ « بِنْتَ أُمِّ سَلَمَةَ ». قَالَتْ نَعَمْ. قَالَ « أَمَا وَاللَّهِ لَوْ لَمْ تَكُنْ رَبِيبَتِى فِى حِجْرِى مَا حَلَّتْ لِى إِنَّهَا ابْنَةُ أَخِى مِنَ الرَّضَاعَةِ أَرْضَعَتْنِى وَأَبَاهَا ثُوَيْبَةُ فَلاَ تَعْرِضْنَ عَلَىَّ بَنَاتِكُنَّ وَلاَ أَخَوَاتِكُنَّ
مَنْ كَانَ لَهُ شَعْرٌ فَلْيُكْرِمْهُ
عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - قَالَتْ أَوْمَتِ امْرَأَةٌ مِنْ وَرَاءِ سِتْرٍ بِيَدِهَا كِتَابٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَبَضَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يَدَهُ فَقَالَ « مَا أَدْرِى أَيَدُ رَجُلٍ أَمْ يَدُ امْرَأَةٍ ». قَالَتْ بَلِ امْرَأَةٌ. قَالَ « لَوْ كُنْتِ امْرَأَةً لَغَيَّرْتِ أَظْفَارَكِ ». يَعْنِى بِالْحِنَّاءِ.
إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ الأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ أَبْصَرَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يُقَبِّلُ حُسَيْنًا فَقَالَ إِنَّ لِى عَشْرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا فَعَلْتُ هَذَا بِوَاحِدٍ مِنْهُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ
عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ أَبِى بَكْرٍ أَوَّلَ مَا قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَإِذَا عَائِشَةُ ابْنَتُهُ مُضْطَجِعَةٌ قَدْ أَصَابَتْهَا حُمَّى فَأَتَاهَا أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ لَهَا كَيْفَ أَنْتِ يَا بُنَيَّةُ وَقَبَّلَ خَدَّهَا
عَنِ الشَّعْبِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَلَقَّى جَعْفَرَ بْنَ أَبِى طَالِبٍ فَالْتَزَمَهُ وَقَبَّلَ مَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ
أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِى لَيْلَى قال إَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ حَدَّثَهُ وَذَكَرَ قِصَّةً قَالَ فَدَنَوْنَا - يَعْنِى - مِنَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَبَّلْنَا يَدَهُ
عَنْ أُسَيْدِ بْنِ حُضَيْرٍ - رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ - قَالَ بَيْنَمَا هُوَ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ وَكَانَ فِيهِ مِزَاحٌ بَيْنَا يُضْحِكُهُمْ فَطَعَنَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِى خَاصِرَتِهِ بِعُودٍ فَقَالَ أَصْبِرْنِى. فَقَالَ « اصْطَبِرْ ». قَالَ إِنَّ عَلَيْكَ قَمِيصًا وَلَيْسَ عَلَىَّ قَمِيصٌ. فَرَفَعَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ قَمِيصِهِ فَاحْتَضَنَهُ وَجَعَلَ يُقَبِّلُ كَشْحَهُ قَالَ إِنَّمَا أَرَدْتُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ
عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِى وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَرِجْلَهُ - قَالَ - وَانْتَظَرَ الْمُنْذِرُ الأَشَجُّ حَتَّى أَتَى عَيْبَتَهُ فَلَبِسَ ثَوْبَيْهِ ثُمَّ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ لَهُ « إِنَّ فِيكَ خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ ». قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا أَتَخَلَّقُ بِهِمَا أَمِ اللَّهُ جَبَلَنِى عَلَيْهِمَا قَالَ « بَلِ اللَّهُ جَبَلَكَ عَلَيْهِمَا ». قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى جَبَلَنِى عَلَى خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ
عَنْ غَالِبٍ قَالَ إِنَّا لَجُلُوسٌ بِبَابِ الْحَسَنِ إِذْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ حَدَّثَنِى أَبِى عَنْ جَدِّى قَالَ بَعَثَنِى أَبِى إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ ائْتِهِ فَأَقْرِئْهُ السَّلاَمَ. قَالَ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ إِنَّ أَبِى يُقْرِئُكَ السَّلاَمَ. فَقَالَ « عَلَيْكَ وَعَلَى أَبِيكَ السَّلاَمُ »
خرج أبو بكر في تجارة إلى بصرى . قبل موت النبي صلى الله عليه و سلم بعام . ومعه نعيمان وسويبط بن حرملة وكانا شهدا بدرا . وكان نعيمان على الزاد . وكان سويبط رجلا مزاحا . فقال لنعيمان أطعمني . قال حتى يجيء أبو بكر . قال فلأغيظنك . قال فمروا بقوم . فقال لهم سويبط تشترون مني عبدا لي ؟ قالوا نعم . قال إنه عبد له كلام . وهو قائل لكم إني حر . فإن كنتم إذا قال لكم هذه المقالة تركتموه فلا تفسدوا علي عبدي . قالوا لا . بل نشتريه منك . فاشتروه منه بعشر قلائص . ثم أتوه فوضعوا في عثنقه عمامة أو جبلا . فقال نعيمان إن هذا يستهزئ بكم . وإني حر لست بعبد . فقالوا قد أخبرنا خبرك . فانطلقوا به . فجاء أبو بكر . ف - أخبروه بذلك . قال فاتسع القوم . ورد عليهم القلائص . وأخذ نعيمان . قال فلما قدموا على النبي صلى الله عليه و سلم وأخبروه . قال فضحك النبي صلى الله عليه و سلم وأصحابه منه حولا
عن قيس بن طخفة الغفاري عن أبيه قال أصابني رسول الله صلى الله عليه و سلم نائما في المسجد على بطني . فركضني برجله: وقال ( مالك ولهذا النوم نومة يكرهها الله أو يبغضها الله )
إياكم والتمادح فإنه الذبح
المستشار مؤتمن
الرؤيا ثلاث فبشرى من الله . وحديث النفس ونخويف من الشيطان . فإذا رأى أحدكم رؤيا تعجبه فليقص إن شاء . وإن رأى شييا يكرهه فلا يقصه على أحد . وليقم يصلي
إن الذي ليس في جوفه شيء من القرآن كالبيت الخرب
الجاهر بالقرآن كالجاهر بالصدقة والمسر بالقرآن كالمسر بالصدقة
من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة والحسنة بعشر أمثالها لا أقول آلم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف
ما من قوم يذكرون الله إلا حفت بهم الملائكة وغشيتهم الرحمة ونزلت عليهم السكينة وذكرهم الله فيمن عنده
كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا رفع يديه في الدعاء لم يحطهما حتى يمسح بهما وجهه
يستجاب لأحدكم مالم يعجل يقول دعوت فلم يستجب لي
عن المسور بن مخرمة قال : سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول وهو على المنبر إن بني هاشم بن المغيرة استأذنوني في أن ينكحوا ابنتهم علي بن أبي طالب فلا آذن ثتم لا آذن ثم لا آذن إلا أن يريد ابن أبي طالب أن يطلق ابنتي وينكح ابنتهم فإنها بضعة مني يريبني ما رابها ويؤذيني ما آذاها
أن النبي صلى الله عليه وسله جلل على الحسن و الحسين وعلى فاطمة كساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي وخاصتي اذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا فقالت أم سلمة وأنا معهم يا رسول الله ؟ قال إنك إلى خير
حسبك من نساء العالمين مريم ابنة عمران و خديجة بنت خويلد و فاطمة بنت محمد و آسية امرأة فرعون
Senin, 04 April 2011
MATERI ULUMUL HADIS 2 IPTIQ
berikut tema-tema dalam mata kuliah ULUMUL HADIS 2 untuk mahasiswa Institut PTIQ Jakarta
1.Etika pelajar hadis (thalib al-hadits), pakar hadis (muhaddits), dan majelis periwayatan hadis
2.Tata cara periwayatan hadis atau al-tahammul wa al-ada' (al-sima', al-qiraah, al-ijazah, al-munawalah, al-wijadah, al-washiyyah, dan i'lam)
3.Riwayah bi al-ma'na wa ikhtishar al-hadits
4.Al-Jahalah (al-mubham, jahalah al-'ayn, jahalah al-hal/mastur)
5.Mushahhaf wa muharraf (ketelitian dalam harakat dan titik dalam kata)
6.Mukhtalaf al-hadits (al-jam', al-naskh, al-tarjih, al-tawaqquf)
7.Konsepsi shahabat dan tabi'in: kajian atas hadis mursal
8.Mudabbaj (riwayah al-aqran, riwayah shahabi 'an shahabi akhar, riwayah shahabi 'an tabi'in, riwayah al-aba' an al-abna, riwayah al-abna 'an al-aba)
9.Ma'rifah tarikh wafayat, rihlah fi thalab al-hadits, ma'rifah al-buldan
10.Shahih li ghayrihi, hasan li ghayrihi, shahih muhtaff bi al-qarain
keterangan:
makalah dibuat berdasarkan materi di atas. penjelasan dimulai dari definisi, pemberian contoh, dan analisis atas contoh tersebut.
sumber:
1. Tadrib al-Rawi karya al-Suyuthi
2. Taysir Mushthalah al-hadis karya al-Thahhan
3. literatur lain yang relevam
1.Etika pelajar hadis (thalib al-hadits), pakar hadis (muhaddits), dan majelis periwayatan hadis
2.Tata cara periwayatan hadis atau al-tahammul wa al-ada' (al-sima', al-qiraah, al-ijazah, al-munawalah, al-wijadah, al-washiyyah, dan i'lam)
3.Riwayah bi al-ma'na wa ikhtishar al-hadits
4.Al-Jahalah (al-mubham, jahalah al-'ayn, jahalah al-hal/mastur)
5.Mushahhaf wa muharraf (ketelitian dalam harakat dan titik dalam kata)
6.Mukhtalaf al-hadits (al-jam', al-naskh, al-tarjih, al-tawaqquf)
7.Konsepsi shahabat dan tabi'in: kajian atas hadis mursal
8.Mudabbaj (riwayah al-aqran, riwayah shahabi 'an shahabi akhar, riwayah shahabi 'an tabi'in, riwayah al-aba' an al-abna, riwayah al-abna 'an al-aba)
9.Ma'rifah tarikh wafayat, rihlah fi thalab al-hadits, ma'rifah al-buldan
10.Shahih li ghayrihi, hasan li ghayrihi, shahih muhtaff bi al-qarain
keterangan:
makalah dibuat berdasarkan materi di atas. penjelasan dimulai dari definisi, pemberian contoh, dan analisis atas contoh tersebut.
sumber:
1. Tadrib al-Rawi karya al-Suyuthi
2. Taysir Mushthalah al-hadis karya al-Thahhan
3. literatur lain yang relevam
silabus kritik sanad
Deskripsi Mata Kuliah:
Mata kuliah ini merupakan takhashush (spesialiasi) dari jurusan Tafsir Hadis. Peserta didik (mahasiswi) memahami bahwa hadis adalah ”dwi tunggal” sanad dan matan. Peserta didik mengetahui sejarah dan perkembangan kritik sanad. Mata kuliah ini juga memuat ulasan ontologi sanad hadis, dan bagaimana sebuah hadis dinilai shahih atau dhaif dengan berdasarkan pada analisis sanadnya. Mahasiswi diharapkan mampu memberikan penilaian terhadap perawi-perawi yang ada dalam rangkaian sanad, guna memberikan penilaian terhadap kualitas hadisnya. Pada akhirnya, mahasiswi mampu melakukan analisis terhadap kesahihan hadis yang menjadi objek ontologis kritik sanad
Kompetensi Dasar:
1.Pengenalan tentang sanad dan kritik sanad
2.Sejarah dan perkembangan kritik sanad hadis
3.Analisis ketersambungan sanad (ittishal sanad) dengan melihat redaksional transmisi (sighah tahammul wal ada')
4.Analisis ketersambungan sanad dengan melihat biografi masing-masing perawi dan hubungan guru-murid: Kajian atas kitab tarajum al-ruwat
5.Analisis 'Adalah (integritas moral) perawi
6.Analisis Dhabt (intelektualitas) perawi
7.Ungkapan yang digunakan dalam al-jarh wa ta'dil
8.Konsepsi syadz dan 'illah dalam sanad
9.Konsepsi 'i'tibar (syahid dan mutabi'): hasan li ghayrihi dan shahih li ghayrihi
10.Praktikum penelitian sanad hadis
Materi Ajar:
1. Definisi sanad hadis
2. Definisi kritik sanad
3. Sanad dan matan hadis sebagai bagian yang tak terpisahkan
4. Shighat tahammul wa al-ada'
5. Kajian atas kitab tarajum utamanya Tahdzib al-Kamal, Tahdzib al-Tahdzib, dan Taqrib al-Tahdzib
6. Konsepsi 'adalah: Definisi, syarat, dan ungkapan yang digunakan dalam menggambarkan 'adalah atau tidaknya seorang perawi
7. Konsepsi Dhabt: Definisi, syarat, dan ungkapan yang digunakan dalam menggambarkan dhabt tidaknya seorang perawi
8. Muqaranah riwayat: Kajian atas sanad-sanad yang berbeda pada sebuah hadis
9. Praktikum penelitian sanad: Pembuatan makalah individual dan mempresentasikannya
Indikator Keberhasilan:
Setelah menyelesaikan seluruh materi perkuliahan diharapkan mahasiswi memiliki kemampuan:
1. Memahami dengan benar konsep sanad dan kritik sanad
2. Menjelaskan sejarah dan perkembangan kritik sanad sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri
3. Mampu melakukan penelitian ketersambungan atau keterputusan sanad
4. Mampu menilai kualitas moral ('adalah) masing-masing perawi dalam mata rantai sanad
5. Mampu menilai kualitas intelektual (dhabt) masing-masing perawi dalam sanad
6. Memahami ungkapan yang digunakan dalam al-jarh wa ta'dil dan implikasinya dalam penetapan kualitas seorang perawi
7. Mampu menganalisis perbedaan sanad-sanad pada sebuah matan hadis (muqaranah riwayat) untuk mengetahui ada tidaknya syadz dan 'illah dalam sanad
8. Melakukan praktikum kritik sanad
Literatur:
1.Diktat Kritik Sanad karya Andi Rahman
2.Literatur ulumul hadis semisal Tadrib al-Rawi karya al-Suyuthi
3.literatur Tarajum al-Ruwat
4.Literatur dirasah sanad semisal Ushul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid karya al-Tahhan
5.Literatur lain yang relevan
Mata kuliah ini merupakan takhashush (spesialiasi) dari jurusan Tafsir Hadis. Peserta didik (mahasiswi) memahami bahwa hadis adalah ”dwi tunggal” sanad dan matan. Peserta didik mengetahui sejarah dan perkembangan kritik sanad. Mata kuliah ini juga memuat ulasan ontologi sanad hadis, dan bagaimana sebuah hadis dinilai shahih atau dhaif dengan berdasarkan pada analisis sanadnya. Mahasiswi diharapkan mampu memberikan penilaian terhadap perawi-perawi yang ada dalam rangkaian sanad, guna memberikan penilaian terhadap kualitas hadisnya. Pada akhirnya, mahasiswi mampu melakukan analisis terhadap kesahihan hadis yang menjadi objek ontologis kritik sanad
Kompetensi Dasar:
1.Pengenalan tentang sanad dan kritik sanad
2.Sejarah dan perkembangan kritik sanad hadis
3.Analisis ketersambungan sanad (ittishal sanad) dengan melihat redaksional transmisi (sighah tahammul wal ada')
4.Analisis ketersambungan sanad dengan melihat biografi masing-masing perawi dan hubungan guru-murid: Kajian atas kitab tarajum al-ruwat
5.Analisis 'Adalah (integritas moral) perawi
6.Analisis Dhabt (intelektualitas) perawi
7.Ungkapan yang digunakan dalam al-jarh wa ta'dil
8.Konsepsi syadz dan 'illah dalam sanad
9.Konsepsi 'i'tibar (syahid dan mutabi'): hasan li ghayrihi dan shahih li ghayrihi
10.Praktikum penelitian sanad hadis
Materi Ajar:
1. Definisi sanad hadis
2. Definisi kritik sanad
3. Sanad dan matan hadis sebagai bagian yang tak terpisahkan
4. Shighat tahammul wa al-ada'
5. Kajian atas kitab tarajum utamanya Tahdzib al-Kamal, Tahdzib al-Tahdzib, dan Taqrib al-Tahdzib
6. Konsepsi 'adalah: Definisi, syarat, dan ungkapan yang digunakan dalam menggambarkan 'adalah atau tidaknya seorang perawi
7. Konsepsi Dhabt: Definisi, syarat, dan ungkapan yang digunakan dalam menggambarkan dhabt tidaknya seorang perawi
8. Muqaranah riwayat: Kajian atas sanad-sanad yang berbeda pada sebuah hadis
9. Praktikum penelitian sanad: Pembuatan makalah individual dan mempresentasikannya
Indikator Keberhasilan:
Setelah menyelesaikan seluruh materi perkuliahan diharapkan mahasiswi memiliki kemampuan:
1. Memahami dengan benar konsep sanad dan kritik sanad
2. Menjelaskan sejarah dan perkembangan kritik sanad sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri
3. Mampu melakukan penelitian ketersambungan atau keterputusan sanad
4. Mampu menilai kualitas moral ('adalah) masing-masing perawi dalam mata rantai sanad
5. Mampu menilai kualitas intelektual (dhabt) masing-masing perawi dalam sanad
6. Memahami ungkapan yang digunakan dalam al-jarh wa ta'dil dan implikasinya dalam penetapan kualitas seorang perawi
7. Mampu menganalisis perbedaan sanad-sanad pada sebuah matan hadis (muqaranah riwayat) untuk mengetahui ada tidaknya syadz dan 'illah dalam sanad
8. Melakukan praktikum kritik sanad
Literatur:
1.Diktat Kritik Sanad karya Andi Rahman
2.Literatur ulumul hadis semisal Tadrib al-Rawi karya al-Suyuthi
3.literatur Tarajum al-Ruwat
4.Literatur dirasah sanad semisal Ushul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid karya al-Tahhan
5.Literatur lain yang relevan
Jumat, 25 Februari 2011
لمحة عن وضع الحديث
كتبه أندي رحمان
(يعرف وضع الحديث بالنظر إلى السند بوجود راو كذب في سنده وذلك بإقرار الواضع قولاً أو حالاً)
قال البخاري حدثني يحيى اليشكري عن علي بن جدير قال سمعت عمر بن صبح يقول أنا وضعت خطبة النبي صلى الله عليه وسلم. قال العراقي في بيان اقرار الواضع حالا كأن يحدث بحديث عن شيخ ويسأل عن مولده فيذكر تاريخا يعلم وفاة الشيخ قبله ولا يعرف ذلك الحديث إلا عنده، فهذا لم يعترف بوضعه ولكن اعترافه بوقت مولده أوتنزل منزلة إقراره بالوضع
(أو عدم وجود السند البتة).
ومن ذلك قوله "لا أصل له" أو "لم أجد له أصلا".
(ويعرف الوضع بالنظر إلى متنه بأمور منها ركاكة ألفاظه)
وقال البلقيني وشاهد هذا أن إنسانا لو خدم إنسانا سنين وعرف ما يحب وما يكره فادعى إنسان أنه كان يكره شيئا يعلم ذلك أنه يحبه فبمجرد سماعه يبادر إلى تكذيبه.
وقيل إن المدار في الركة على ركة المعنى، والقول هذا يكون في غالب الحال لأن ركة اللفظ في الحديث كانت موجودة ومع ذلك لا يمكن حدوثه من عند الرسول الذي هو أفصح من نطق بلغة الضاد
وركة اللفظ فقط فلا تدل على الوضع لاحتمال أن يكون رواه بالمعنى فغير لفظه بغير فصيح وإن صرح بأنه من لفظ النبي صلى الله عليه وسلم فكاذب
(وفساد معناه)
وكأن يفرط بالوعيد الشديد على الأمر الصغير أو الوعد العظيم على الفعل الحقير. ومن ذلك حديث من فرح بدخول رمضان حرم الله جسده على النيران
وحديث إن لله ملكا اسمه عمارة على فرس من حجارة الياقوت طوله مد بصره يدور في البلدان ويقف في الأسواق فينادي ألا ليغل كذا وكذا ألا ليرخص كذا (وكذا مخالفة لما ثبت في الكتاب والسنة الصحيحة)
لأن ما في الكتب والسنة الصحيحة وحي فلا يمكن وجود الاختلاف في الوحي لأن ذلك من أمارات العجز وهو محال.كحديث لا نبي بعدي إلا أن يشاء الله فوضع الاستثناء
(أو يباين المعقول) ومن ذلك ما رواه ابن الجوزي من طريق عبد الرحمن بن زيد بن أسلم عن أبيه عن حده مرفوعا أن سفينة نوح طافت بالبيت سبعا وصلت عند المقام ركعتين.
(ويناقض الأصول)، ومعنى مناقضته للأصول أن يكون خارجا عن دواوين الإسلام من المسانيد والكتب المشهورة كذلك
(وجود القرائن الواضحة)
كأن يكون الراوي رافضيا فيروي الحديث في فضائل أهل البيت. ومن أمثلة ذلك ما أسنده الحاكم عن سيف بن عمر التميمي قال كنت عند سعد بن طريف فجاء ابنه من الكتاب يبكي فقال ما لك؟ قال ضربني المعلم. قال لأخزينهم اليوم حدثني عكرمة عن ابن عباس مرفوعا معلمو صبيانكم شراركم أقلهم رحمة لليتيم وأغلظهم على المساكين. وقال مأمون بن أحمد الهروي في الشافعي حدثنا أحمد بن عبد الله حدثنا عبد الله بن معدان الأزدي عن أنس مرفوعا يكون في أمتي رجل يقال له محمد بن إدريس أضر على أمتي من إبليس. ويكون في أمتي رجل يقال له أبو حنيفة هو سراج أمتي.
(وتحرم رواية الحديث الموضوع إلا مبينا، ويحرم مطلقا العمل به مع اعتقاد صحته. والدواعي على وضع الحديث وروايته كثيرة منها الجهل بحرمة وضع الحديث والنية القبيحة على الإسلام والحسبة. ومن الضرر الكبير أن يظن ما ليس بموضوع موضوعا، فلينتبه على ذلك!!)
(يعرف وضع الحديث بالنظر إلى السند بوجود راو كذب في سنده وذلك بإقرار الواضع قولاً أو حالاً)
قال البخاري حدثني يحيى اليشكري عن علي بن جدير قال سمعت عمر بن صبح يقول أنا وضعت خطبة النبي صلى الله عليه وسلم. قال العراقي في بيان اقرار الواضع حالا كأن يحدث بحديث عن شيخ ويسأل عن مولده فيذكر تاريخا يعلم وفاة الشيخ قبله ولا يعرف ذلك الحديث إلا عنده، فهذا لم يعترف بوضعه ولكن اعترافه بوقت مولده أوتنزل منزلة إقراره بالوضع
(أو عدم وجود السند البتة).
ومن ذلك قوله "لا أصل له" أو "لم أجد له أصلا".
(ويعرف الوضع بالنظر إلى متنه بأمور منها ركاكة ألفاظه)
وقال البلقيني وشاهد هذا أن إنسانا لو خدم إنسانا سنين وعرف ما يحب وما يكره فادعى إنسان أنه كان يكره شيئا يعلم ذلك أنه يحبه فبمجرد سماعه يبادر إلى تكذيبه.
وقيل إن المدار في الركة على ركة المعنى، والقول هذا يكون في غالب الحال لأن ركة اللفظ في الحديث كانت موجودة ومع ذلك لا يمكن حدوثه من عند الرسول الذي هو أفصح من نطق بلغة الضاد
وركة اللفظ فقط فلا تدل على الوضع لاحتمال أن يكون رواه بالمعنى فغير لفظه بغير فصيح وإن صرح بأنه من لفظ النبي صلى الله عليه وسلم فكاذب
(وفساد معناه)
وكأن يفرط بالوعيد الشديد على الأمر الصغير أو الوعد العظيم على الفعل الحقير. ومن ذلك حديث من فرح بدخول رمضان حرم الله جسده على النيران
وحديث إن لله ملكا اسمه عمارة على فرس من حجارة الياقوت طوله مد بصره يدور في البلدان ويقف في الأسواق فينادي ألا ليغل كذا وكذا ألا ليرخص كذا (وكذا مخالفة لما ثبت في الكتاب والسنة الصحيحة)
لأن ما في الكتب والسنة الصحيحة وحي فلا يمكن وجود الاختلاف في الوحي لأن ذلك من أمارات العجز وهو محال.كحديث لا نبي بعدي إلا أن يشاء الله فوضع الاستثناء
(أو يباين المعقول) ومن ذلك ما رواه ابن الجوزي من طريق عبد الرحمن بن زيد بن أسلم عن أبيه عن حده مرفوعا أن سفينة نوح طافت بالبيت سبعا وصلت عند المقام ركعتين.
(ويناقض الأصول)، ومعنى مناقضته للأصول أن يكون خارجا عن دواوين الإسلام من المسانيد والكتب المشهورة كذلك
(وجود القرائن الواضحة)
كأن يكون الراوي رافضيا فيروي الحديث في فضائل أهل البيت. ومن أمثلة ذلك ما أسنده الحاكم عن سيف بن عمر التميمي قال كنت عند سعد بن طريف فجاء ابنه من الكتاب يبكي فقال ما لك؟ قال ضربني المعلم. قال لأخزينهم اليوم حدثني عكرمة عن ابن عباس مرفوعا معلمو صبيانكم شراركم أقلهم رحمة لليتيم وأغلظهم على المساكين. وقال مأمون بن أحمد الهروي في الشافعي حدثنا أحمد بن عبد الله حدثنا عبد الله بن معدان الأزدي عن أنس مرفوعا يكون في أمتي رجل يقال له محمد بن إدريس أضر على أمتي من إبليس. ويكون في أمتي رجل يقال له أبو حنيفة هو سراج أمتي.
(وتحرم رواية الحديث الموضوع إلا مبينا، ويحرم مطلقا العمل به مع اعتقاد صحته. والدواعي على وضع الحديث وروايته كثيرة منها الجهل بحرمة وضع الحديث والنية القبيحة على الإسلام والحسبة. ومن الضرر الكبير أن يظن ما ليس بموضوع موضوعا، فلينتبه على ذلك!!)
Materi Kritik Matan
1. Definisi matan hadis
2. Definisi kritik matan
3. Sanad dan matan hadis sebagai bagian yang tak terpisahkan
4. Takwil terhadap matan hadis sebelum dilakukan kritik matan
5. Mengulas contoh-contoh kritik matan yang dilakukan oleh shahabat (utamanya ummul mukminin Aisyah)
6. Era kritik matan: Zaman Rasulullah, masa tabi'in hingga abad IV, dan era kontemporer
7. Definisi mustahil terjadi
8. Pembedaan antara suprarasional (mukjizat), rasional, dan irrasional
9. Kemustahilan terjadinya kontradiksi antara Alquran dengan hadis atau antara hadis dengan hadis lainnya
10. pengenalan metode jama', nasikh-mansukh, tarjih, dan tawaqquf dalam memahami teks yang zahirnya kontradiktif
11. Penguatan konsepsi 'adalah sebagai kekhasan dari Kritik Matan
12. Penguatan konsepsi mua'radhah sebagai kekhasan Kritik Matan
13. Ciri hadis palsu dengan melihat sisi kebahasaan matan dan substansi matannya
14. Ciri lain dari hadis palsu berdasarkan matan: Tidak logis, bertentangan dengan ushul (kitab hadis yang mu'tabar), kontradiktif dengan Alquran atau hadis lain yang tidak bisa ditakwilkan
15. Praktikum Kritik Mata
2. Definisi kritik matan
3. Sanad dan matan hadis sebagai bagian yang tak terpisahkan
4. Takwil terhadap matan hadis sebelum dilakukan kritik matan
5. Mengulas contoh-contoh kritik matan yang dilakukan oleh shahabat (utamanya ummul mukminin Aisyah)
6. Era kritik matan: Zaman Rasulullah, masa tabi'in hingga abad IV, dan era kontemporer
7. Definisi mustahil terjadi
8. Pembedaan antara suprarasional (mukjizat), rasional, dan irrasional
9. Kemustahilan terjadinya kontradiksi antara Alquran dengan hadis atau antara hadis dengan hadis lainnya
10. pengenalan metode jama', nasikh-mansukh, tarjih, dan tawaqquf dalam memahami teks yang zahirnya kontradiktif
11. Penguatan konsepsi 'adalah sebagai kekhasan dari Kritik Matan
12. Penguatan konsepsi mua'radhah sebagai kekhasan Kritik Matan
13. Ciri hadis palsu dengan melihat sisi kebahasaan matan dan substansi matannya
14. Ciri lain dari hadis palsu berdasarkan matan: Tidak logis, bertentangan dengan ushul (kitab hadis yang mu'tabar), kontradiktif dengan Alquran atau hadis lain yang tidak bisa ditakwilkan
15. Praktikum Kritik Mata
لمحة عن نقد متن الحديث
جمعه: أندي رحمان بن عبد القهار
الحديث يتكون من السند والمتن كما هو معلوم. والحديث الصحيح ما صح سنده ومتنه معا. وإذا صح السند فغالب الأمر أن المتن تابع في صحته، ولو ظهر الإشكال في ذلك المتن فأولوه (تأويلا صحيحا). وإن لم يمكن التأويل فقاموا بنقد المتن وهو أمر قليل الوجود.
ودراسة الحديث لا يخلو من نقد السند ونقد المتن.ومعنى النقد هنا ليس نقدا على كون الرسول صلى الله عليه وسلم حجة وأنه نبي يوحى إليه بشريعة عينه الله تعالى بتبليغه وبيانه. فكل ما صح من الرسول حجة وشريعة. ودراسة السند جاء ببيان ما صح عنه وما لم يصح.
وعملية النقد للسند والمتن موجودة في عهد الرسول صلى الله عليه وسلم. وزعم بعض العلماء على أن نقد المتن جاء قبل نقد السند وأن الصحابة نقدوا سند الحديث بعد حدوث الفتنة بمقتل عثمان بن عفان رضي الله عنه. واستدلوا بقول ابن سيرين "قلما وقعت الفتنة قالوا سموا لنا رجالكم". وهذا زعم ضعيف لأن الرسول مدح بعض أصحابه وذم بعضا آخر وهذا من عملية نقد السند (يعني التوثيق والتجريح).
ومن أوضح دليل على وجود نقد السند في عهد الننبي قول الله تعالى "…إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا…"
فنقد السند والمتن كلاهما موجودان في عضر النبوة. والله تعالى أعلم.
المعياران في نقد المتن
قال الشافعي رحمه الله "لا يستدل على أكثر صدق الحديث وكذبه إلا بصدق الخبر وكذبه، إلا في الخاص القليل من الحديث، وذلك أن يستدل على الصدق والكذب فيه بأن يحدث المحدث ما لا يجوز أن يكون مثله، أو ما يخالفه ما هو أثبت وأكبر بدلالات الصدق منه"
فنقد المتن يرجع إلى معيارين هما:
الأول التحديث بما لا يجوز مثله، وهو ما يستحيل حدوثه، سواء كانت هذه الاستحالة من الناحية العقلية أو من الناحية التاريخية. والثاني التحديث بما يخالف ما هو أثبت منه.
فأما التحديث بما لا يجوز مثله من الناحية العقلية بأن يكون متن ذلك الحديث مخالفا لما هو مقرر عقلا. قال السيوطي رحمه الله تعالى "ومن أوضح أمثلته ما أخرجه – أي الحاكم - في المستدرك من طريق عبيد بن غنام النخعي عن علي بن حكيم عن شريك عن عطاء بن السائب عن أبي الضحى عن ابن عباس قال "في كل أرض نبي كنبيكم، وآدم كآدم، ونوح كنوح، وإبراهيم كإبراهيم، وعيسى كعيسى". قال: صحيح الإسناد. ولم ازل أتعجب من تصحيح الحاكم له حتى رأيت البيهقي قال: إسناده صحيح ، ولكنه شاذ بمرة ."قال عبد الله بن الصديق الغماري رحمه الله "وهو كما قال، فإنه لا يعقل أن يوجد آدمان ونوحان وإبراهيمان إلخ، ولا دليل يدل لذلك من عقل ولا نقل"
وأما الاستحالة التاريخية فذلك بأن يكون متن الحديث مثضمنا لمعطيات تاريخية تخالف الحقائق التاريخية الثابتة. مثاله مارواه مسلم في صحيحه في فضائل الصحابة، باب من فضائل أبي سفيان، من طريق عكرمة بن عمار عن أبي زميل عن ابن عباس قال "كان المسلمون لا ينظرون إلى أبي سفيان ولا يقاعدونه، فقال للنبي صلى الله عليه وآله وسلم: يا نبي الله ثلاث أعطينهن، قال: نعم، قال: عندي أحسن العرب وأجمله أم حبيبة بنت أبي سفيان أزوجكها، قال: نعم. قال: ومعاوية تجعله كاتبا بين يديك، قال: نعم. قال: وتؤمرني حتى أقاتل الكفار كما كنت أقاتل المسلمين. قال: نعم".
قال الغماري رحمه الله "هذا الحديث شاذ منكر، حتى قال ابن حزم : إنه موضوع، واتهم به عكرمة بن عمار، لأنه يخالف ما ثبت في كتب السيرة، فالنبي صلى الله عليه وآله وسلم تزوج أم حبيبة وهي بالحبشة حين هاجرت إليها، وأصدقها النجاشي عنه أربعمائة دينار، ولما جاء أبوها أبو سفيان إلى المدينة لتجديد العهد بينه وبين رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم، ودخل عليها فأراد أن يجلس على بساط رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم، فنزعته من تحته، وقالت: إنه بساط رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم، وأنت مشرك، فقال: أي بنية؟! قد أصابك بعدي شر! وهذا متفق عليه عند أهل التاريخ.
وقول أبي سفيان : أريد أن تأمرني ، قال: نعم. قال القرطبي: ولم يسمع قط أنه أَمَّره إلى أن توفي، وكيف يخلف رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم الوعد، هذا مما لا يجوز عليه، وأبو سفيان أسلم عام الفتح مكرها، وكان الصحابة لا يقاعدونه ولا ينظرون إليه لصنعه بالنبي صلى الله عليه وآله وسلم وبالمسلمين في شكره، إذ لم يصنع أحد كصنعه.
ومعاوية لم يكتب الوحي، وإنما كان يكتب الرسائل، ولم يصح عنه إلا كتابة رسالتين، فالذين يقولون إنه كان يكتب الوحي مخطئون"
ثم التحديث بما يخالف ما هو أثبت فصور ذلك كثيرة، كأن يخالف أصلا قرآنيا، أو يخالف متن خبر الآحاد أصلا ثبت بالتواتر، أو يخالف الواقع، ونحو ذلك. فمن ذلك: رد عمر بن الخطاب رضي الله عنه حديث فاطمة بنت قيس في المطلقة ثلاثا أنها لا سكنى لها ولا نفقة، لمخالفته ظاهر قوله تعالى (لا تخرجوهن من بيوتهن ولا يخرجن إلا أن يأتين بفاحشة مبينة(
وكذلك ما رواه الإمام مسلم في صحيحه من حديث أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعا " خلق الله عز وجل التربة يوم السبت، وخلق فيها الجبال يوم الأحد، وخلق الشجر يوم الإثنين، وخلق المكروه يوم الثلاثاء، وخلق النور يوم الأربعاء، وبث فيها الدواب يوم الخميس، وخلق آدم عليه السلام بعد العصر من يوم الجمعة في آخر الخلق في آخر ساعة من ساعات الجمعة فيما بين العصر إلى الليل".
فهذا الحديث يفيد أن الله خلق السموات والأرض في سبعة أيام، وهذا مخالف للقرآن ، وذلك لأن الله تعالى أخبر أنه خلق السموات والأرض في ستة أيام.قال الله تعالى (إن ربكم الله الذي خلق السموات والأرض في ستة أيام)
قال ابن كثير "هذا الحديث من غرائب صحيح مسلم، وقد تكلم فيه ابن المديني والبخاري وغير واحد من الحفاظ، وجعلوه من كلام كعب الأحبار، وأن أبا هريرة إنما سمعه من كلام كعب الأحبار، وقد اشتبه على بعض الرواة فجعله مرفوعا ".
ومن ذلك ما روى مسلم أيضا عن معاوية بن الحكم السلمي قال: كانت لي غنم بين أحد والجوانية، فيها جارية لي، فأطلعتها ذات يوم، فإذا الذئب قد ذهب منها بشاة، فأسفت فصككتها، فأتيت النبي صلى الله عليه وآله وسلم ، فذكرت ذلك له، فعظم ذلك علي، فقلت :يا رسول الله أفلا أعتقها؟ قال: ادعها، فدعوتها، فقال لها: أين الله ؟!، قالت:في السماء، قال: من أنا؟، قالت: أنت رسول الله، قال فأعتقها، فإنها مؤمنة!
قال الغماري "الحديث شاذ لا يجوز العمل به، وبيان شذوذه من وجوه: أولا مخالفته لما تواتر عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم أنه كان إذا أتاه شخص يريد الإسلام سأله عن الشهادتين، فإذا قبلها حكم بإسلامه. وفي الموطأ عن عبيد الله بن عبد الله بن عتبة بن مسعود أن رجلا من الأنصار جاء إلى رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم بجارية سوداء، فقال: يا رسول الله علي رقبة مؤمنة، فإن كنت تراها مؤمنة أعتقتها، فقال لها رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: أتشهدين أن لا إله إلا الله؟ قالت: نعم، قال: أتشهدين أن محمدا رسول الله؟ قالت: نعم، قال: أتوقنين بالبعث بعد الموت؟ قالت: نعم، قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : أعتقها". وهذا هو المعلوم من حال النبي صلى الله عليه وآله وسلم ضرورة.
وجاء حديثان مخالفان لحديث معاوية يؤكدان شذوذه. فروى البيهقي من طريق عون بن عبد الله بن عتبة حدثني أبي عن جدي قال: جاءت امرأة إلى رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم بأمة سوداء، فقالت: يا رسول الله علي رقبة مؤمنة ، أتجزئ عني هذه ؟، فقال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: من ربك؟، قالت: الله ربي ،قال: فما دينك؟، قالت: الإسلام، قال: من أنا؟، قالت: أنت رسول الله.قال: أفتصلين الخمس وتقرين بما جئت به من عند الله؟، قالت: نعم. فضرب رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم على ظهرها وقال: أعتقيها.
وروى أيضا من طريق حماد بن سلمة عن محمد بن عمرو بن أبي سلمة عن الشريد بن السويد الثقفي قال: قلت يا رسول الله إن أمي أوصت إلي أن أعتق عنها رقبة ، وأنا عندي جارية نوبية، فقال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: ادع بها.فقال: من ربك ؟، قالت: الله، قال: فمن أنا؟، قالت: رسول الله .قال: أعتقها فإنها مؤمنة.
وجاء حديث ثالث أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم بين أركان الإيمان في حديث سؤال جبريل، حيث قال "الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر، وتؤمن بالقدر خيره وشره" ولم يذكر فيها عقيدة أن الله في السماء.
وزاد بعض العلماء من أن العقيدة المذكورة لا تثبت توحيدا ولا تنفي شركا، فكيف يصف النبي صلى الله عليه وآله وسلم صاحبها بأنه مؤمن؟!!..كان المشركون يعتقدون أن الله في السماء، ويشركون معه آلهة في الأرض..
قال الإمام مسلم في كتابه التمييز "حدثنا أبو بكر ابن أبي شيبة، حدثنا زياد بن حباب حدثنا عمر بن عبد الله بن أبي خثعم حدثني يحيى بن أبي بكير عن أبي سلمة عن أبي هريرة أن رجلا قال: يا رسول الله ! ما الطهور بالخفين ؟، قال: للمقيم يوم وليلة ، وللمسافر ثلاث أيام ولياليهن".
قال مسلم: هذه الرواية في المسح عن أبي هريرة ليست بمحفوظة، وذلك أن أبا هريرة لم يحفظ المسح عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم لثبوت الرواية عنه بإنكاره المسح على الخفين.
وبعد أن ساق الرواية عن أبي هريرة في ذلك قال "ولو كان قد حفظ المسح عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم كان أجدر الناس وأولاهم للزومه والتدين به، فلما أنكره للذي في الخبر من قوله: ما أمرنا أن نمسح على جلود البقر والغنم، والقول الآخر: ما أبالي على ظهر حمار مسحت أو على خفي" بان ذلك أنه غير حافظ للمسح عن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم، وأن من أسند ذلك عنه عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم واهي الرواية ، أخطأ فيه سهوا أو تعمدا ".
فبجمع هذه الروابات ومقابلة بعضها ببعض تميز صحيحها من سقيمها
أهمية نقد المتن
فإنه من غير الخفي على المختصين في علم الحديث من المعاصرين أن موضوع نقد المتن الحديثي قد لقي في عصرنا اهتماماً بالغاً. وتتجلى أهمية هذا البحث في إبراز جهود علماء الجرح والتعديل في نقد المتن باعتباره ركيزة من أهم ركائزهم في نقد الرواة والحكم عليهم. وقد أغفل بعض الباحثين ممن كتبوا في موضوع نقد المتن الحديثي هذه الجهود، بل صرح بعضهم بأن كتب الرجال والعلل لا يوجد فيها نقد للمتن، مما يجعل الكتابة في هذا الموضوع ذات أهمية لبيان عدم سلامة هذه النتيجة. ولعلّ بيان عناية علماء الجرح والتعديل بالمتن الحديثي، ومعرفة الأسباب الموجبة لنقده عندهم، وحدوده، أن تكون من الأمور المساعدة على تهيئة المناخ العلمي لاستثمار تلك المعايير والطرق والوسائل في الجهود النقدية لعلماء الحديث المعاصرين الساعين لتنقية المصادر الحديثية.
ومصادر البحث الأساس التي ستستمد منها نقد المتن ستكون محصورة في كتب الرجال، وكتب العلل نظراً لكونها تمثل الجانب العملي التفصيلي لنقد مرويات الرواة.
زعم بعض الناس على أن نقد المتن وجد متأخرا بعد نقد السند. وهذا الزعم لا يصح لأن الصحابة ردوا بعض الأخبار بنقد المتن، وهم صدوق باتفاق غير أنهم ليسوا سواء في الضبط. فأكثر الصحابة ضابطون وبعضهم لا يتم ضبطهم.
أكثر أهل الحديث يعلون الحديث بنقد المتن بخلاف أهل الرأي المعاصرون يردون الأحاديث بدعوى نقد المتن. والفرق بين الطائفتين أن أهل الحديث يعلون المتن بناء على إحاطتهم الواسعة بالمتون الصحيحة والأصول الشرعية المتفق عليها؛ بناء على القاعدة الشرعية الأصيلة "رد المتشابه إلى المحكم".
وهذه القاعدة السابق ذكرها هي الأصل الأصيل الذي يُرجع إليه في نقد المتون، ولذلك لا يستطيع ذلك كلُّ أحد، بل لا يستطيعه إلا من أمعن في طلب النصوص الشرعية، وتشرب كلام الشارع حتى صار كأنه نفس من أنفاسه، وعرف مقاصد الشرعية المبنية على جل النصوص أو معظمها، وليس الأوهام الجاهلية التي يظنها بعض الناس مقاصد للشارع وليست كذلك!
فأهل الرأي فأحيانا يعلون المتن بناء على أصولهم القياسية وقواعدهم العقلية، فلا يقبل منهم ذلك لوجهين: الوجه الأول أن القواعد العقلية أمر مشترك بين البشر، فما لم يوافقهم العقلاء على كلامهم فلا عبرة به. والوجه الثاني أن النصوص التي ردوها ليست أولى بالرد من النصوص التي بنوا عليها قواعدهم؛ إلا إن كانوا على علم بالرواية وما ينبغي أن يقدم منها وما ينبغي أن يؤخر.
مفهوم المخالفة
نقصد بالمخالفة هنا أن متن الحديث الذي يرويه الراوي الذي يكون محل الدراسة عند علماء الجرح والتعديل يتعارض مع أحد الأصول التالية: صريح القرآن، أو صحيح السنة النبوية، أو الإجماع، أو قول راوي الحديث أو فعله.
ومما يؤكد أن علماء الجرح والتعديل التفتوا لهذا السبب بصورة أساسية، وجعلوه ركناً من أركان العملية النقدية في فحص الرواة والحكم عليهم، قال الحافظ ابن حجر: "مدار التعليل في الحقيقة على بيان الاختلاف،" وعلم العلل هو الجانب التطبيقي للعملية النقدية عند علماء الحديث، فالحكم على حديث أحد الرواة بأن فيه مخالفة هو من صميم علم العلل، ونتيجته: الحكم على الراوي إن تكرر منه مثل هذه المخالفات أن يحكم عليه بعبارة: "ضعيف، أو صالح، أو صدوق ليس بمتقن، أو متروك، أو ثقة له أوهام" ونحو هذه العبارات التي هي في حقيقة الأمر نتائج العملية النقدية التي يقوم بها علماء الجرح والتعديل قبل إصدار حكمهم على رواة الحديث النبوي، وبناء عليه فإن طرق ووسائل العمليات النقدية التي هي قواعد علم علل الحديث، تكون مرحلة سابقة على إصدار الحكم، وبهذا يتبين أن نقد المتن الحديثي بسبب المخالفة ركن من أهم أركان العملية النقدية لدى علماء الجرح والتعديل.
ومما يدل استعمال أئمة الجرح والتعديل لنقد المتن الحديثي بسبب مخالفته لظاهر القرآن من خلال كلامهم العام، ما ذكره ابن حبان -أحد علماء الجرح والتعديل المشهور- في سياق كلامه، وهو يقرر قاعدة عامة في معرفة الرواة بطريق الاعتبار، فقال: "ومتى عُدم ذلك -يعني وجود متابعة أو شاهد- والخبر نفسه يُخالف الأصول الثلاثة، علم أن الخبر موضوع، ولا شك فيه، وأن ناقله الذي تفرد به هو الذي وضعه".
ومقصوده بالأصول الثلاثة: الكتاب، والسنة، وإجماع الصحابة وقد صرح في موضع آخر من صحيحه أن الإجماع عندنا هو إجماع الصحابة، ويشهد لما ذكرته هنا بصورة قاطعة نص آخر لابن حبان ذكره في ترجمة أبي زيد الذي يروي عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه حديث الوضوء بالنبيذ لمن لم يجد الماء، فقد قال في ترجمته: "أبو زيد، يروي عن ابن مسعود ما لم يتابع عليه، ليس يُدرى من هو، ولا يعرف أبوه، ولا بلده، والإنسان إذا كان بهذا النعت، ثم لم يرو إلا خبراً واحداً خالف فيه الكتاب، والسنة، والإجماع، والقياس، والنظر، والرأي؛ يستحق توضأ بالنبيذ." مجانبته فيها، ولا يحتج به روى عن ابن مسعود أن النبي. وقد قال الحافظ ابن عدي في نقده لهذا الحديث: "هو خلاف القرآن،" يعني في "فَلَمْ تَجِدُواْ مَاء فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدًا طَيِّبًا"، فدل ظاهر القرآن أنه حيث لا يوجد ماء طهور، فينتقل إلى التيمم، وظاهر الحديث السابق يعارض هذا حيث يدل على أن الماء الذي نُبذ فيه التمر، وتغير بذلك حتى سمي نبيذاً يغني عن الماء الأصلي الذي لم تتغير صفاته، ولذا قال ابن حبان وابن عدي، وهما من كبار أئمة الجرح والتعديل إن الحديث مخالف للقرآن وطعنا في راويه أبي زيد وهو المتفرد به عن ابن مسعود. وهذا مثال تطبيقي للقاعدة التي قررها ابن حبان آنفاً.
وأما مخالفة المتن الحديثي لمتن حديثي آخر، فهذا يوجد في كلام أئمة الجرح والتعديل بكثرة، ومن الأمثلة على ذلك، حديث تفرد به أبو قيس عبد الرحمن بن ثَرْوان عن هُزيل بن شُرَحبيل عن المغيرة بن شعبة قال: "توضأ النبي ومسح على الجوربين". فقد انتقد جمع من كبار أئمة الجرح والتعديل هذا المتن، منهم الإمام مسلم بن الحجاج الذي قال فيه: "أبو قيس الأودي، وهزيل بن شرحبيل لا يحتملان هذا، مع مخالفتهما الأجلة، الذين رووا هذا الخبر عن المغيرة فقالوا: مسح على الخفين، وقال: لا نترك ظاهر القرآن، بمثل أبي قيس، وهزيل".
والمقصود أن الإمام مسلماً يرى أن لفظة "الجوربين" ليست صحيحة، وعلل طعنه فيها بأن أبا قيس وهو المتفرد بها قد خالفه جمع من كبار الحفاظ فرووا الحديث عن المغيرة وفيه لفظة "الخفين" لا الجوربين، ثم ألمح إلى أن ظاهر القرآن يدل على وجوب غسل القدم في الوضوء كما تدل عليه الآية السادسة في سورة المائدة المعروفة بآية الوضوء، وما دام الحديث مشكوك في ثبوته بسبب المخالفة، فعليه لا يقال بجواز المسح على الجوربين عوضاً عن غسل القدمين في الوضوء، وهذا الكلام يدل على أن الحديث محتمل الثبوت، والقول بضعفه ليس بقطعي.
ومما يدل على أنه قد اختلفت وجهات النظر فيه، أن بعض النقاد ذهبوا إلى تصحيحه، ورأوا أنه غير مخالف لما رواه الآخرون عن المغيرة، وممن قال بصحته الترمذي وابن خزيمة وابن حبان.
والرأي الذي عليه كبار أئمة العلل أن حديث أبي قيس منكر؛ لمخالفته للمحفوظ عن المغيرة بن شعبة، قال ابن المديني: "حديث المغيرة رواه عن المعيرة أهل المدينة، وأهل الكوفة، وأهل البصرة، ورواه هزيل بن شرحبيل، إلا أنه قال "ومسح على الجوربين،" وخالف الناس،" وقال ابن معين: "الناس كلهم يروونه على الخفين غير أبي قيس،" وهذا رأي سفيان الثوري، وعبد الرحمن بن مهدي، وأحمد بن حنبل، وأبو داود، والنسائي، والدارقطني، والبيهقي، وغيرهم.
وبناء على كلامهم في هذا الحديث قال الإمام أحمد في أبي قيس: "يخالف في أحاديثه،" وقال أبو حاتم الرازي: "ليس بقوي، هو قليل الحديث، وليس بحافظ، قيل له كيف حديثه؟ فقال: صالح، هو لين الحديث،" وقال النسائي: "ليس به بأس" وهذه عبارة تدل على توسط الحفظ، وذهب ابن معين والعجلي وابن حبان وآخرون إلى توثيقه.
والمتضح من كلام مسلم، وابن المديني، وابن معين المنقول آنفاً، أنهم بنوا سبب تضعيفهم لرواية أبي قيس؛ لكونها مخالفة للمحفوظ عن المغيرة بن شعبة رضي الله عنه، وهذا إعلال متن بمتن، وإن كان أصل الحديث يروى عن الصحابي نفسه، مع أن من صحح الحديث كالترمذي وابن خزيمة وابن حبان يرون أن حديث أبي قيس يعد حديثاً آخر مستقل لا علاقة له بحديث الخفين المشهور عن المغيرة.
ومما يدل على عناية أئمة الجرح والتعديل بنقد المتون، وأنه ركن أساس من أركان العملية النقدية السابقة على إطلاق الحكم على الراوي، أننا نجد بعض العبارات الموحية بذلك، فمثلاً نجد عن الإمام أحمد بن حنبل أنه لما سئل عن أبي إسرائيل المَلائي واسمه إسماعيل بن خليفة العبسي، قال فيه: "خالف الناس في أحاديث،" وقال ابن عدي في الراوي نفسه: "عامة ما يرويه يخالف الثقات،" وهذا يشمل السند والمتن، ونجد كذلك الإمام أحمد حين سئل عن الحجاج بن أرطاة: لِمَ ليس هو عند الناس بذاك؟، فقال: "لأن في حديثه زيادة على حديث الناس، ليس يكاد له حديث؛ إلا فيه زيادة،" وسأل رجال أحمد عن الحجاج: ما شأنه؟، فقال: "شأنه أنه يزيد في الأحاديث،" والمقصود هنا زيادة المتون لا زيادة الأسانيد؛ لأن الناظر في حديث الحجاج بن أرطاة يجد أسانيده في الغالب قليلة الوسائط إذ هو من طبقة الأتباع، وهو معروف بالتدليس في الإسناد، وأهم أغراض التدليس تقليص وسائط السند لا زيادته، ثم لو أن الإمام أحمد أراد أنه يخالف غيره في الأسانيد لقال: " يخالف،" ولم يقل: "في حديثه زيادة" أو "يزيد في الأحاديث،" وقد نص الأئمة على بعض زياداته في المتون.
ونجد الإمام البخاري في نص نفيس يبين لنا سبب تضعيفه لعطاء بن عبد الله الخراساني، بناء على مخالفاته في المتون التي يرويه، فيقول: "ما أعرف لمالك بن أنس رجلاً يروي عنه مالك يستحق أن يترك حديثه غير عطاء الخراساني. قلت له: ما شأنه؟ قال: عامة أحاديثه مقلوبة: وأفطر في رمضان،" وروي عن سعيد بن المسيب: "أن رجلاً أتى النبي أصحاب سعيد بن المسيب يقول: سألت سعيداً عن هذا الحديث؟ فقال: كذب علي عطاء لم أحدث هكذا.
وروى عطاء عن أبي سلمة عن عثمان، وزيد بن ثابت في الإيلاء إذا مضت أربعة أشهر فهي تطليقة بائنة، وروى حبيب بن أبي ثابت عن طاوس عن عثمان أنه قال في المولي يوقف.
. وروى عطاء عن سعيد بن المسيب قال إذا أقام أربعاً صلى أربعاً، وروى داود بن أبي هند عن سعيد بن المسيب خلاف هذا. قلت له [القائل الترمذي]: فإن قتادة روى عن سعيد بن المسيب قال: "إذا أقام أربعاً صلى أربعاً،" مثل ما روى عطاء؟! قال محمد: أرى قتادة أخذه عن عطاء"
والبخاري -رحمه الله- له عناية بنقد المتون كما يظهر هذا في مواطن عدة من كتبه.
وعلى أية حال فمما يؤسف له أن أغلب نصوص أئمة الجرح والتعديل تكون مختصرة، غير مصحوبة في الغالب ببيان الأسباب، ولذا قلنا: إن النص السابق في تضعيف البخاري لعطاء الخراساني يعد من النصوص النفيسة؛ لقلة وجود أمثاله من النصوص المفسرة
ومن الأمثلة التي تدل على استعمال مخالفة المتن للمعروف من قول الراوي أو فعله عند أئمة الجرح والتعديل بوصفه سبباً من أسباب المخالفة المؤثرة في الحكم على رواة الحديث عندهم، ما جاء عن الإمام أحمد في الحارث بن فضيل الأنصاري فقد قال فيه: "ليس بمحمود الحديث،" وبيّن سبب حكمه على هذا الراوي حين ذكر عنده حديث الحارث هذا الذي يرويه عن جعفر بن عبد الله بن الحكم عن عبد الرحمن بن المِسور بن مخرمة عن أبي رافع عن عبد الله بن : "يكون أمراء يقولون ما لا يفعلون، فمن جاهدهم بيده..." فقال: "والحارث بن فضيل ليس بمحفوظ الحديث، وهذا الكلام لا يُشبه كلام ابن مسعود"
فنقد أحمد هذا المتن الحديثي الذي يرويه الحارث عن ابن مسعود مرفوعاً؛ لمخالفته لمذهب ابن مسعود رضي الله عنه في عدم الخروج على أئمة الجور وقتالهم، وعليه رأى أحمد أن الحارث ليس بمحفوظ الحديث، ومع هذا فأن الإمام مسلماً صحح الحديث؛ لتوثيقه للحارث، ولأنه لم ير في المتن ما يوجب النكارة.
ومثال آخر على هذا النوع من المخالفة -وهو في غاية النفاسة- ذكره الإمام مسلم عن عمر بن عبد الله بن أبي خثعم عن يحيى بن أبي كثير عن أبي سلمة عن أبي هريرة رضي الله عنه: "أن رجلاً قال: يا رسول الله ما الطهور بالخفين؟ قال: "للمقيم يوم وليلة، وللمسافر ثلاثة أيام ولياليهن،" ثم قال الإمام مسلم: "هذه الرواية في المسح عن أبي هريرة ليست بمحفوظة، لثبوت الرواية عنه بإنكاره المسح على الخفين وذلك أن أبا هريرة لم يحفظ المسح عن النبي.
حدثنا محمد بن المثنى ثنا محمد -هو غندر- ثنا شعبة عن يزيد بن زاذان قال: سمعت أبا زرعة قال: سألت أبا هريرة عن المسح على الخفين؟ قال: فدخل أبو هريرة دار مروان بن الحكم، فبال، ثم دعا بماء فتوضأ، وخلع خفيه، وقال: "ما أمرنا الله أن نمسح على جلود البقر والغنم."
فقد صح برواية أبي زرعة، وأبي رزين عن أبي هريرة إنكاره المسح على الخفين، كان أجدر الناس وأولاهم للزومه.
والتعليل بمثل هذا النوع من المخالفة عند كثير من المختصين في الحديث اليوم، محل نظر؛ لأنه في نظرهم مخالف للقاعدة التي تقول: العبرة بما روى الراوي لا بما رأى، وفي ظني أن التعامل مع النص وفق وجهة النظر هذه سيكون من وجوه عدة. والأمثلة على هذا النوع من أنواع مخالفة المتن المؤثرة في الحكم على الرواة ليست بالقليلة، بل ذكر الحافظ ابن رجب أنها كثيرة في قوله: "قاعدة في تضعيف حديث الراوي إذا روى ما يخالف رأيه، قد ضعف الإمام أحمد، وأكثر الحفاظ أحاديث كثيرة بمثل هذا
الحديث يتكون من السند والمتن كما هو معلوم. والحديث الصحيح ما صح سنده ومتنه معا. وإذا صح السند فغالب الأمر أن المتن تابع في صحته، ولو ظهر الإشكال في ذلك المتن فأولوه (تأويلا صحيحا). وإن لم يمكن التأويل فقاموا بنقد المتن وهو أمر قليل الوجود.
ودراسة الحديث لا يخلو من نقد السند ونقد المتن.ومعنى النقد هنا ليس نقدا على كون الرسول صلى الله عليه وسلم حجة وأنه نبي يوحى إليه بشريعة عينه الله تعالى بتبليغه وبيانه. فكل ما صح من الرسول حجة وشريعة. ودراسة السند جاء ببيان ما صح عنه وما لم يصح.
وعملية النقد للسند والمتن موجودة في عهد الرسول صلى الله عليه وسلم. وزعم بعض العلماء على أن نقد المتن جاء قبل نقد السند وأن الصحابة نقدوا سند الحديث بعد حدوث الفتنة بمقتل عثمان بن عفان رضي الله عنه. واستدلوا بقول ابن سيرين "قلما وقعت الفتنة قالوا سموا لنا رجالكم". وهذا زعم ضعيف لأن الرسول مدح بعض أصحابه وذم بعضا آخر وهذا من عملية نقد السند (يعني التوثيق والتجريح).
ومن أوضح دليل على وجود نقد السند في عهد الننبي قول الله تعالى "…إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا…"
فنقد السند والمتن كلاهما موجودان في عضر النبوة. والله تعالى أعلم.
المعياران في نقد المتن
قال الشافعي رحمه الله "لا يستدل على أكثر صدق الحديث وكذبه إلا بصدق الخبر وكذبه، إلا في الخاص القليل من الحديث، وذلك أن يستدل على الصدق والكذب فيه بأن يحدث المحدث ما لا يجوز أن يكون مثله، أو ما يخالفه ما هو أثبت وأكبر بدلالات الصدق منه"
فنقد المتن يرجع إلى معيارين هما:
الأول التحديث بما لا يجوز مثله، وهو ما يستحيل حدوثه، سواء كانت هذه الاستحالة من الناحية العقلية أو من الناحية التاريخية. والثاني التحديث بما يخالف ما هو أثبت منه.
فأما التحديث بما لا يجوز مثله من الناحية العقلية بأن يكون متن ذلك الحديث مخالفا لما هو مقرر عقلا. قال السيوطي رحمه الله تعالى "ومن أوضح أمثلته ما أخرجه – أي الحاكم - في المستدرك من طريق عبيد بن غنام النخعي عن علي بن حكيم عن شريك عن عطاء بن السائب عن أبي الضحى عن ابن عباس قال "في كل أرض نبي كنبيكم، وآدم كآدم، ونوح كنوح، وإبراهيم كإبراهيم، وعيسى كعيسى". قال: صحيح الإسناد. ولم ازل أتعجب من تصحيح الحاكم له حتى رأيت البيهقي قال: إسناده صحيح ، ولكنه شاذ بمرة ."قال عبد الله بن الصديق الغماري رحمه الله "وهو كما قال، فإنه لا يعقل أن يوجد آدمان ونوحان وإبراهيمان إلخ، ولا دليل يدل لذلك من عقل ولا نقل"
وأما الاستحالة التاريخية فذلك بأن يكون متن الحديث مثضمنا لمعطيات تاريخية تخالف الحقائق التاريخية الثابتة. مثاله مارواه مسلم في صحيحه في فضائل الصحابة، باب من فضائل أبي سفيان، من طريق عكرمة بن عمار عن أبي زميل عن ابن عباس قال "كان المسلمون لا ينظرون إلى أبي سفيان ولا يقاعدونه، فقال للنبي صلى الله عليه وآله وسلم: يا نبي الله ثلاث أعطينهن، قال: نعم، قال: عندي أحسن العرب وأجمله أم حبيبة بنت أبي سفيان أزوجكها، قال: نعم. قال: ومعاوية تجعله كاتبا بين يديك، قال: نعم. قال: وتؤمرني حتى أقاتل الكفار كما كنت أقاتل المسلمين. قال: نعم".
قال الغماري رحمه الله "هذا الحديث شاذ منكر، حتى قال ابن حزم : إنه موضوع، واتهم به عكرمة بن عمار، لأنه يخالف ما ثبت في كتب السيرة، فالنبي صلى الله عليه وآله وسلم تزوج أم حبيبة وهي بالحبشة حين هاجرت إليها، وأصدقها النجاشي عنه أربعمائة دينار، ولما جاء أبوها أبو سفيان إلى المدينة لتجديد العهد بينه وبين رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم، ودخل عليها فأراد أن يجلس على بساط رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم، فنزعته من تحته، وقالت: إنه بساط رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم، وأنت مشرك، فقال: أي بنية؟! قد أصابك بعدي شر! وهذا متفق عليه عند أهل التاريخ.
وقول أبي سفيان : أريد أن تأمرني ، قال: نعم. قال القرطبي: ولم يسمع قط أنه أَمَّره إلى أن توفي، وكيف يخلف رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم الوعد، هذا مما لا يجوز عليه، وأبو سفيان أسلم عام الفتح مكرها، وكان الصحابة لا يقاعدونه ولا ينظرون إليه لصنعه بالنبي صلى الله عليه وآله وسلم وبالمسلمين في شكره، إذ لم يصنع أحد كصنعه.
ومعاوية لم يكتب الوحي، وإنما كان يكتب الرسائل، ولم يصح عنه إلا كتابة رسالتين، فالذين يقولون إنه كان يكتب الوحي مخطئون"
ثم التحديث بما يخالف ما هو أثبت فصور ذلك كثيرة، كأن يخالف أصلا قرآنيا، أو يخالف متن خبر الآحاد أصلا ثبت بالتواتر، أو يخالف الواقع، ونحو ذلك. فمن ذلك: رد عمر بن الخطاب رضي الله عنه حديث فاطمة بنت قيس في المطلقة ثلاثا أنها لا سكنى لها ولا نفقة، لمخالفته ظاهر قوله تعالى (لا تخرجوهن من بيوتهن ولا يخرجن إلا أن يأتين بفاحشة مبينة(
وكذلك ما رواه الإمام مسلم في صحيحه من حديث أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعا " خلق الله عز وجل التربة يوم السبت، وخلق فيها الجبال يوم الأحد، وخلق الشجر يوم الإثنين، وخلق المكروه يوم الثلاثاء، وخلق النور يوم الأربعاء، وبث فيها الدواب يوم الخميس، وخلق آدم عليه السلام بعد العصر من يوم الجمعة في آخر الخلق في آخر ساعة من ساعات الجمعة فيما بين العصر إلى الليل".
فهذا الحديث يفيد أن الله خلق السموات والأرض في سبعة أيام، وهذا مخالف للقرآن ، وذلك لأن الله تعالى أخبر أنه خلق السموات والأرض في ستة أيام.قال الله تعالى (إن ربكم الله الذي خلق السموات والأرض في ستة أيام)
قال ابن كثير "هذا الحديث من غرائب صحيح مسلم، وقد تكلم فيه ابن المديني والبخاري وغير واحد من الحفاظ، وجعلوه من كلام كعب الأحبار، وأن أبا هريرة إنما سمعه من كلام كعب الأحبار، وقد اشتبه على بعض الرواة فجعله مرفوعا ".
ومن ذلك ما روى مسلم أيضا عن معاوية بن الحكم السلمي قال: كانت لي غنم بين أحد والجوانية، فيها جارية لي، فأطلعتها ذات يوم، فإذا الذئب قد ذهب منها بشاة، فأسفت فصككتها، فأتيت النبي صلى الله عليه وآله وسلم ، فذكرت ذلك له، فعظم ذلك علي، فقلت :يا رسول الله أفلا أعتقها؟ قال: ادعها، فدعوتها، فقال لها: أين الله ؟!، قالت:في السماء، قال: من أنا؟، قالت: أنت رسول الله، قال فأعتقها، فإنها مؤمنة!
قال الغماري "الحديث شاذ لا يجوز العمل به، وبيان شذوذه من وجوه: أولا مخالفته لما تواتر عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم أنه كان إذا أتاه شخص يريد الإسلام سأله عن الشهادتين، فإذا قبلها حكم بإسلامه. وفي الموطأ عن عبيد الله بن عبد الله بن عتبة بن مسعود أن رجلا من الأنصار جاء إلى رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم بجارية سوداء، فقال: يا رسول الله علي رقبة مؤمنة، فإن كنت تراها مؤمنة أعتقتها، فقال لها رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: أتشهدين أن لا إله إلا الله؟ قالت: نعم، قال: أتشهدين أن محمدا رسول الله؟ قالت: نعم، قال: أتوقنين بالبعث بعد الموت؟ قالت: نعم، قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : أعتقها". وهذا هو المعلوم من حال النبي صلى الله عليه وآله وسلم ضرورة.
وجاء حديثان مخالفان لحديث معاوية يؤكدان شذوذه. فروى البيهقي من طريق عون بن عبد الله بن عتبة حدثني أبي عن جدي قال: جاءت امرأة إلى رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم بأمة سوداء، فقالت: يا رسول الله علي رقبة مؤمنة ، أتجزئ عني هذه ؟، فقال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: من ربك؟، قالت: الله ربي ،قال: فما دينك؟، قالت: الإسلام، قال: من أنا؟، قالت: أنت رسول الله.قال: أفتصلين الخمس وتقرين بما جئت به من عند الله؟، قالت: نعم. فضرب رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم على ظهرها وقال: أعتقيها.
وروى أيضا من طريق حماد بن سلمة عن محمد بن عمرو بن أبي سلمة عن الشريد بن السويد الثقفي قال: قلت يا رسول الله إن أمي أوصت إلي أن أعتق عنها رقبة ، وأنا عندي جارية نوبية، فقال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: ادع بها.فقال: من ربك ؟، قالت: الله، قال: فمن أنا؟، قالت: رسول الله .قال: أعتقها فإنها مؤمنة.
وجاء حديث ثالث أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم بين أركان الإيمان في حديث سؤال جبريل، حيث قال "الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر، وتؤمن بالقدر خيره وشره" ولم يذكر فيها عقيدة أن الله في السماء.
وزاد بعض العلماء من أن العقيدة المذكورة لا تثبت توحيدا ولا تنفي شركا، فكيف يصف النبي صلى الله عليه وآله وسلم صاحبها بأنه مؤمن؟!!..كان المشركون يعتقدون أن الله في السماء، ويشركون معه آلهة في الأرض..
قال الإمام مسلم في كتابه التمييز "حدثنا أبو بكر ابن أبي شيبة، حدثنا زياد بن حباب حدثنا عمر بن عبد الله بن أبي خثعم حدثني يحيى بن أبي بكير عن أبي سلمة عن أبي هريرة أن رجلا قال: يا رسول الله ! ما الطهور بالخفين ؟، قال: للمقيم يوم وليلة ، وللمسافر ثلاث أيام ولياليهن".
قال مسلم: هذه الرواية في المسح عن أبي هريرة ليست بمحفوظة، وذلك أن أبا هريرة لم يحفظ المسح عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم لثبوت الرواية عنه بإنكاره المسح على الخفين.
وبعد أن ساق الرواية عن أبي هريرة في ذلك قال "ولو كان قد حفظ المسح عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم كان أجدر الناس وأولاهم للزومه والتدين به، فلما أنكره للذي في الخبر من قوله: ما أمرنا أن نمسح على جلود البقر والغنم، والقول الآخر: ما أبالي على ظهر حمار مسحت أو على خفي" بان ذلك أنه غير حافظ للمسح عن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم، وأن من أسند ذلك عنه عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم واهي الرواية ، أخطأ فيه سهوا أو تعمدا ".
فبجمع هذه الروابات ومقابلة بعضها ببعض تميز صحيحها من سقيمها
أهمية نقد المتن
فإنه من غير الخفي على المختصين في علم الحديث من المعاصرين أن موضوع نقد المتن الحديثي قد لقي في عصرنا اهتماماً بالغاً. وتتجلى أهمية هذا البحث في إبراز جهود علماء الجرح والتعديل في نقد المتن باعتباره ركيزة من أهم ركائزهم في نقد الرواة والحكم عليهم. وقد أغفل بعض الباحثين ممن كتبوا في موضوع نقد المتن الحديثي هذه الجهود، بل صرح بعضهم بأن كتب الرجال والعلل لا يوجد فيها نقد للمتن، مما يجعل الكتابة في هذا الموضوع ذات أهمية لبيان عدم سلامة هذه النتيجة. ولعلّ بيان عناية علماء الجرح والتعديل بالمتن الحديثي، ومعرفة الأسباب الموجبة لنقده عندهم، وحدوده، أن تكون من الأمور المساعدة على تهيئة المناخ العلمي لاستثمار تلك المعايير والطرق والوسائل في الجهود النقدية لعلماء الحديث المعاصرين الساعين لتنقية المصادر الحديثية.
ومصادر البحث الأساس التي ستستمد منها نقد المتن ستكون محصورة في كتب الرجال، وكتب العلل نظراً لكونها تمثل الجانب العملي التفصيلي لنقد مرويات الرواة.
زعم بعض الناس على أن نقد المتن وجد متأخرا بعد نقد السند. وهذا الزعم لا يصح لأن الصحابة ردوا بعض الأخبار بنقد المتن، وهم صدوق باتفاق غير أنهم ليسوا سواء في الضبط. فأكثر الصحابة ضابطون وبعضهم لا يتم ضبطهم.
أكثر أهل الحديث يعلون الحديث بنقد المتن بخلاف أهل الرأي المعاصرون يردون الأحاديث بدعوى نقد المتن. والفرق بين الطائفتين أن أهل الحديث يعلون المتن بناء على إحاطتهم الواسعة بالمتون الصحيحة والأصول الشرعية المتفق عليها؛ بناء على القاعدة الشرعية الأصيلة "رد المتشابه إلى المحكم".
وهذه القاعدة السابق ذكرها هي الأصل الأصيل الذي يُرجع إليه في نقد المتون، ولذلك لا يستطيع ذلك كلُّ أحد، بل لا يستطيعه إلا من أمعن في طلب النصوص الشرعية، وتشرب كلام الشارع حتى صار كأنه نفس من أنفاسه، وعرف مقاصد الشرعية المبنية على جل النصوص أو معظمها، وليس الأوهام الجاهلية التي يظنها بعض الناس مقاصد للشارع وليست كذلك!
فأهل الرأي فأحيانا يعلون المتن بناء على أصولهم القياسية وقواعدهم العقلية، فلا يقبل منهم ذلك لوجهين: الوجه الأول أن القواعد العقلية أمر مشترك بين البشر، فما لم يوافقهم العقلاء على كلامهم فلا عبرة به. والوجه الثاني أن النصوص التي ردوها ليست أولى بالرد من النصوص التي بنوا عليها قواعدهم؛ إلا إن كانوا على علم بالرواية وما ينبغي أن يقدم منها وما ينبغي أن يؤخر.
مفهوم المخالفة
نقصد بالمخالفة هنا أن متن الحديث الذي يرويه الراوي الذي يكون محل الدراسة عند علماء الجرح والتعديل يتعارض مع أحد الأصول التالية: صريح القرآن، أو صحيح السنة النبوية، أو الإجماع، أو قول راوي الحديث أو فعله.
ومما يؤكد أن علماء الجرح والتعديل التفتوا لهذا السبب بصورة أساسية، وجعلوه ركناً من أركان العملية النقدية في فحص الرواة والحكم عليهم، قال الحافظ ابن حجر: "مدار التعليل في الحقيقة على بيان الاختلاف،" وعلم العلل هو الجانب التطبيقي للعملية النقدية عند علماء الحديث، فالحكم على حديث أحد الرواة بأن فيه مخالفة هو من صميم علم العلل، ونتيجته: الحكم على الراوي إن تكرر منه مثل هذه المخالفات أن يحكم عليه بعبارة: "ضعيف، أو صالح، أو صدوق ليس بمتقن، أو متروك، أو ثقة له أوهام" ونحو هذه العبارات التي هي في حقيقة الأمر نتائج العملية النقدية التي يقوم بها علماء الجرح والتعديل قبل إصدار حكمهم على رواة الحديث النبوي، وبناء عليه فإن طرق ووسائل العمليات النقدية التي هي قواعد علم علل الحديث، تكون مرحلة سابقة على إصدار الحكم، وبهذا يتبين أن نقد المتن الحديثي بسبب المخالفة ركن من أهم أركان العملية النقدية لدى علماء الجرح والتعديل.
ومما يدل استعمال أئمة الجرح والتعديل لنقد المتن الحديثي بسبب مخالفته لظاهر القرآن من خلال كلامهم العام، ما ذكره ابن حبان -أحد علماء الجرح والتعديل المشهور- في سياق كلامه، وهو يقرر قاعدة عامة في معرفة الرواة بطريق الاعتبار، فقال: "ومتى عُدم ذلك -يعني وجود متابعة أو شاهد- والخبر نفسه يُخالف الأصول الثلاثة، علم أن الخبر موضوع، ولا شك فيه، وأن ناقله الذي تفرد به هو الذي وضعه".
ومقصوده بالأصول الثلاثة: الكتاب، والسنة، وإجماع الصحابة وقد صرح في موضع آخر من صحيحه أن الإجماع عندنا هو إجماع الصحابة، ويشهد لما ذكرته هنا بصورة قاطعة نص آخر لابن حبان ذكره في ترجمة أبي زيد الذي يروي عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه حديث الوضوء بالنبيذ لمن لم يجد الماء، فقد قال في ترجمته: "أبو زيد، يروي عن ابن مسعود ما لم يتابع عليه، ليس يُدرى من هو، ولا يعرف أبوه، ولا بلده، والإنسان إذا كان بهذا النعت، ثم لم يرو إلا خبراً واحداً خالف فيه الكتاب، والسنة، والإجماع، والقياس، والنظر، والرأي؛ يستحق توضأ بالنبيذ." مجانبته فيها، ولا يحتج به روى عن ابن مسعود أن النبي. وقد قال الحافظ ابن عدي في نقده لهذا الحديث: "هو خلاف القرآن،" يعني في "فَلَمْ تَجِدُواْ مَاء فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدًا طَيِّبًا"، فدل ظاهر القرآن أنه حيث لا يوجد ماء طهور، فينتقل إلى التيمم، وظاهر الحديث السابق يعارض هذا حيث يدل على أن الماء الذي نُبذ فيه التمر، وتغير بذلك حتى سمي نبيذاً يغني عن الماء الأصلي الذي لم تتغير صفاته، ولذا قال ابن حبان وابن عدي، وهما من كبار أئمة الجرح والتعديل إن الحديث مخالف للقرآن وطعنا في راويه أبي زيد وهو المتفرد به عن ابن مسعود. وهذا مثال تطبيقي للقاعدة التي قررها ابن حبان آنفاً.
وأما مخالفة المتن الحديثي لمتن حديثي آخر، فهذا يوجد في كلام أئمة الجرح والتعديل بكثرة، ومن الأمثلة على ذلك، حديث تفرد به أبو قيس عبد الرحمن بن ثَرْوان عن هُزيل بن شُرَحبيل عن المغيرة بن شعبة قال: "توضأ النبي ومسح على الجوربين". فقد انتقد جمع من كبار أئمة الجرح والتعديل هذا المتن، منهم الإمام مسلم بن الحجاج الذي قال فيه: "أبو قيس الأودي، وهزيل بن شرحبيل لا يحتملان هذا، مع مخالفتهما الأجلة، الذين رووا هذا الخبر عن المغيرة فقالوا: مسح على الخفين، وقال: لا نترك ظاهر القرآن، بمثل أبي قيس، وهزيل".
والمقصود أن الإمام مسلماً يرى أن لفظة "الجوربين" ليست صحيحة، وعلل طعنه فيها بأن أبا قيس وهو المتفرد بها قد خالفه جمع من كبار الحفاظ فرووا الحديث عن المغيرة وفيه لفظة "الخفين" لا الجوربين، ثم ألمح إلى أن ظاهر القرآن يدل على وجوب غسل القدم في الوضوء كما تدل عليه الآية السادسة في سورة المائدة المعروفة بآية الوضوء، وما دام الحديث مشكوك في ثبوته بسبب المخالفة، فعليه لا يقال بجواز المسح على الجوربين عوضاً عن غسل القدمين في الوضوء، وهذا الكلام يدل على أن الحديث محتمل الثبوت، والقول بضعفه ليس بقطعي.
ومما يدل على أنه قد اختلفت وجهات النظر فيه، أن بعض النقاد ذهبوا إلى تصحيحه، ورأوا أنه غير مخالف لما رواه الآخرون عن المغيرة، وممن قال بصحته الترمذي وابن خزيمة وابن حبان.
والرأي الذي عليه كبار أئمة العلل أن حديث أبي قيس منكر؛ لمخالفته للمحفوظ عن المغيرة بن شعبة، قال ابن المديني: "حديث المغيرة رواه عن المعيرة أهل المدينة، وأهل الكوفة، وأهل البصرة، ورواه هزيل بن شرحبيل، إلا أنه قال "ومسح على الجوربين،" وخالف الناس،" وقال ابن معين: "الناس كلهم يروونه على الخفين غير أبي قيس،" وهذا رأي سفيان الثوري، وعبد الرحمن بن مهدي، وأحمد بن حنبل، وأبو داود، والنسائي، والدارقطني، والبيهقي، وغيرهم.
وبناء على كلامهم في هذا الحديث قال الإمام أحمد في أبي قيس: "يخالف في أحاديثه،" وقال أبو حاتم الرازي: "ليس بقوي، هو قليل الحديث، وليس بحافظ، قيل له كيف حديثه؟ فقال: صالح، هو لين الحديث،" وقال النسائي: "ليس به بأس" وهذه عبارة تدل على توسط الحفظ، وذهب ابن معين والعجلي وابن حبان وآخرون إلى توثيقه.
والمتضح من كلام مسلم، وابن المديني، وابن معين المنقول آنفاً، أنهم بنوا سبب تضعيفهم لرواية أبي قيس؛ لكونها مخالفة للمحفوظ عن المغيرة بن شعبة رضي الله عنه، وهذا إعلال متن بمتن، وإن كان أصل الحديث يروى عن الصحابي نفسه، مع أن من صحح الحديث كالترمذي وابن خزيمة وابن حبان يرون أن حديث أبي قيس يعد حديثاً آخر مستقل لا علاقة له بحديث الخفين المشهور عن المغيرة.
ومما يدل على عناية أئمة الجرح والتعديل بنقد المتون، وأنه ركن أساس من أركان العملية النقدية السابقة على إطلاق الحكم على الراوي، أننا نجد بعض العبارات الموحية بذلك، فمثلاً نجد عن الإمام أحمد بن حنبل أنه لما سئل عن أبي إسرائيل المَلائي واسمه إسماعيل بن خليفة العبسي، قال فيه: "خالف الناس في أحاديث،" وقال ابن عدي في الراوي نفسه: "عامة ما يرويه يخالف الثقات،" وهذا يشمل السند والمتن، ونجد كذلك الإمام أحمد حين سئل عن الحجاج بن أرطاة: لِمَ ليس هو عند الناس بذاك؟، فقال: "لأن في حديثه زيادة على حديث الناس، ليس يكاد له حديث؛ إلا فيه زيادة،" وسأل رجال أحمد عن الحجاج: ما شأنه؟، فقال: "شأنه أنه يزيد في الأحاديث،" والمقصود هنا زيادة المتون لا زيادة الأسانيد؛ لأن الناظر في حديث الحجاج بن أرطاة يجد أسانيده في الغالب قليلة الوسائط إذ هو من طبقة الأتباع، وهو معروف بالتدليس في الإسناد، وأهم أغراض التدليس تقليص وسائط السند لا زيادته، ثم لو أن الإمام أحمد أراد أنه يخالف غيره في الأسانيد لقال: " يخالف،" ولم يقل: "في حديثه زيادة" أو "يزيد في الأحاديث،" وقد نص الأئمة على بعض زياداته في المتون.
ونجد الإمام البخاري في نص نفيس يبين لنا سبب تضعيفه لعطاء بن عبد الله الخراساني، بناء على مخالفاته في المتون التي يرويه، فيقول: "ما أعرف لمالك بن أنس رجلاً يروي عنه مالك يستحق أن يترك حديثه غير عطاء الخراساني. قلت له: ما شأنه؟ قال: عامة أحاديثه مقلوبة: وأفطر في رمضان،" وروي عن سعيد بن المسيب: "أن رجلاً أتى النبي أصحاب سعيد بن المسيب يقول: سألت سعيداً عن هذا الحديث؟ فقال: كذب علي عطاء لم أحدث هكذا.
وروى عطاء عن أبي سلمة عن عثمان، وزيد بن ثابت في الإيلاء إذا مضت أربعة أشهر فهي تطليقة بائنة، وروى حبيب بن أبي ثابت عن طاوس عن عثمان أنه قال في المولي يوقف.
. وروى عطاء عن سعيد بن المسيب قال إذا أقام أربعاً صلى أربعاً، وروى داود بن أبي هند عن سعيد بن المسيب خلاف هذا. قلت له [القائل الترمذي]: فإن قتادة روى عن سعيد بن المسيب قال: "إذا أقام أربعاً صلى أربعاً،" مثل ما روى عطاء؟! قال محمد: أرى قتادة أخذه عن عطاء"
والبخاري -رحمه الله- له عناية بنقد المتون كما يظهر هذا في مواطن عدة من كتبه.
وعلى أية حال فمما يؤسف له أن أغلب نصوص أئمة الجرح والتعديل تكون مختصرة، غير مصحوبة في الغالب ببيان الأسباب، ولذا قلنا: إن النص السابق في تضعيف البخاري لعطاء الخراساني يعد من النصوص النفيسة؛ لقلة وجود أمثاله من النصوص المفسرة
ومن الأمثلة التي تدل على استعمال مخالفة المتن للمعروف من قول الراوي أو فعله عند أئمة الجرح والتعديل بوصفه سبباً من أسباب المخالفة المؤثرة في الحكم على رواة الحديث عندهم، ما جاء عن الإمام أحمد في الحارث بن فضيل الأنصاري فقد قال فيه: "ليس بمحمود الحديث،" وبيّن سبب حكمه على هذا الراوي حين ذكر عنده حديث الحارث هذا الذي يرويه عن جعفر بن عبد الله بن الحكم عن عبد الرحمن بن المِسور بن مخرمة عن أبي رافع عن عبد الله بن : "يكون أمراء يقولون ما لا يفعلون، فمن جاهدهم بيده..." فقال: "والحارث بن فضيل ليس بمحفوظ الحديث، وهذا الكلام لا يُشبه كلام ابن مسعود"
فنقد أحمد هذا المتن الحديثي الذي يرويه الحارث عن ابن مسعود مرفوعاً؛ لمخالفته لمذهب ابن مسعود رضي الله عنه في عدم الخروج على أئمة الجور وقتالهم، وعليه رأى أحمد أن الحارث ليس بمحفوظ الحديث، ومع هذا فأن الإمام مسلماً صحح الحديث؛ لتوثيقه للحارث، ولأنه لم ير في المتن ما يوجب النكارة.
ومثال آخر على هذا النوع من المخالفة -وهو في غاية النفاسة- ذكره الإمام مسلم عن عمر بن عبد الله بن أبي خثعم عن يحيى بن أبي كثير عن أبي سلمة عن أبي هريرة رضي الله عنه: "أن رجلاً قال: يا رسول الله ما الطهور بالخفين؟ قال: "للمقيم يوم وليلة، وللمسافر ثلاثة أيام ولياليهن،" ثم قال الإمام مسلم: "هذه الرواية في المسح عن أبي هريرة ليست بمحفوظة، لثبوت الرواية عنه بإنكاره المسح على الخفين وذلك أن أبا هريرة لم يحفظ المسح عن النبي.
حدثنا محمد بن المثنى ثنا محمد -هو غندر- ثنا شعبة عن يزيد بن زاذان قال: سمعت أبا زرعة قال: سألت أبا هريرة عن المسح على الخفين؟ قال: فدخل أبو هريرة دار مروان بن الحكم، فبال، ثم دعا بماء فتوضأ، وخلع خفيه، وقال: "ما أمرنا الله أن نمسح على جلود البقر والغنم."
فقد صح برواية أبي زرعة، وأبي رزين عن أبي هريرة إنكاره المسح على الخفين، كان أجدر الناس وأولاهم للزومه.
والتعليل بمثل هذا النوع من المخالفة عند كثير من المختصين في الحديث اليوم، محل نظر؛ لأنه في نظرهم مخالف للقاعدة التي تقول: العبرة بما روى الراوي لا بما رأى، وفي ظني أن التعامل مع النص وفق وجهة النظر هذه سيكون من وجوه عدة. والأمثلة على هذا النوع من أنواع مخالفة المتن المؤثرة في الحكم على الرواة ليست بالقليلة، بل ذكر الحافظ ابن رجب أنها كثيرة في قوله: "قاعدة في تضعيف حديث الراوي إذا روى ما يخالف رأيه، قد ضعف الإمام أحمد، وأكثر الحفاظ أحاديث كثيرة بمثل هذا
Minggu, 23 Januari 2011
KITA BELAJAR (BEKERJA) UNTUK KEBAIKAN KITA SENDIRI
"Kiai, saya selalu belajar dengan giat, bahkan menghafalkan, materi yang akan diujikan dalam ulangan. Sementara beberapa teman saya tidak belajar dan membuat contekan." Ujar Anam. "Hasilnya, saya dan teman saya tadi sama-sama mendapat nilai yang bagus".
Kiai Ahid mendengarkan dengan cermat curahan hati muridnya. Sambil tersenyum beliau menanggapi, "Dengan belajar, kamu mendapatkan nilai yang bagus. Sementara dengan mencontek ada temanmu yang juga bisa mendapatkan nilai bagus. Kamu lelah dalam belajarmu, sementara temanmu itu tidak. Rasanya, hal ini memang tidak sepadan"
Kiai Ahid menghela napasnya, "Namun Apakah nilai bagus yang diperoleh dari belajar sama dengan nilai bagus yang diperoleh dari mencontek?! Dengan belajar, kita menjadi bisa. Sementara mencontek seseorang tetap berada di kubangan kebodohan, setinggi apapun nilai yang bisa diperolehnya dalam raport sekolah".
Dalam surah al-Zumar ayat 9, Allah Ta'ala menegaskan bahwa orang yang mengetahui selamanya tidak akan sama dengan orang yang tidak mengetahui. Orang yang mengetahui dibaratkan sebagai orang hidup dan bisa melihat, sementara orang yang bodoh adalah orang mati yang buta dan berada dalam kegelapan (QS. al-Ra'd ayat 16, dan Fathir ayat 19-22). Ilmu adalah kebaikan, dan kebodohan adalah keburukan. Dalam ayat 100 surah al-Maidah, Allah Ta'ala mengukuhkan bahwa sebanyak apapun keburukan yang ada, kebaikan akan selalu menjadi pemenangnya.
Di sekolah, demikian juga di tempat kerja, mungkin kita dapati ada orang yang malas dan menyia nyiakan amanah yang diembannya. Orang ini justru diberikan peluang dan penghargaan yang sebenarnya tidak layak ia peroleh. Di waktu yang sama, kita merasa sudah belajar dan bekerja dengan baik, namun penghargaan yang kita dapati tidaklah sepadan. Hal ini bisa memunculkan perasaan tidak nyaman di hati kita.
Namun kita jangan lupa, bahwa Allah Ta'ala Maha Melihat lagi Maha Bijaksana. Segala kebaikan dan keburukan yang dilakukan hamba-Nya, pastilah Dia mengetahuinya. Kita belajar agar menjadi orang yang mengetahui, dan kita bekerja dalam rangka mengemban amanah yang kita emban. Kita tidak usah repot mengharapkan penghargaan dari manusia atas apa yang kita lakukan, karena kita belajar dan bekerja karena Allah Ta'ala bukan pamrih manusia.
Biarlah orang lain berlaku malas, tidak menunaikan amanahnya, atau bahkan menyelewengkannya. Biarlah kita tetap konsisten dalam mengemban amanah dan melakukan kebaikan. Karena kebaikan apapun yang kita lakukan, manfaatnya akan kembali kepada diri kita sendiri. Dalam surah al-Taubah ayat 105 Allah Ta'ala berfirman, "Katakanlah: Beramallah (bekerjalah) kalian! Maka Allah akan melihat amalmu (pekerjaanmu), demikian juga rasul-Nya dan seluruh mukmin (akan melihat amalmu). Kalian akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui segala yang ghaib dan yang nampak, kemudian Dia akan memaparkan apa-apa yang kalian telah kerjakan". (andiwowo@yahoo.com)
(dimuat di majalah CERDASIN)
Kiai Ahid mendengarkan dengan cermat curahan hati muridnya. Sambil tersenyum beliau menanggapi, "Dengan belajar, kamu mendapatkan nilai yang bagus. Sementara dengan mencontek ada temanmu yang juga bisa mendapatkan nilai bagus. Kamu lelah dalam belajarmu, sementara temanmu itu tidak. Rasanya, hal ini memang tidak sepadan"
Kiai Ahid menghela napasnya, "Namun Apakah nilai bagus yang diperoleh dari belajar sama dengan nilai bagus yang diperoleh dari mencontek?! Dengan belajar, kita menjadi bisa. Sementara mencontek seseorang tetap berada di kubangan kebodohan, setinggi apapun nilai yang bisa diperolehnya dalam raport sekolah".
Dalam surah al-Zumar ayat 9, Allah Ta'ala menegaskan bahwa orang yang mengetahui selamanya tidak akan sama dengan orang yang tidak mengetahui. Orang yang mengetahui dibaratkan sebagai orang hidup dan bisa melihat, sementara orang yang bodoh adalah orang mati yang buta dan berada dalam kegelapan (QS. al-Ra'd ayat 16, dan Fathir ayat 19-22). Ilmu adalah kebaikan, dan kebodohan adalah keburukan. Dalam ayat 100 surah al-Maidah, Allah Ta'ala mengukuhkan bahwa sebanyak apapun keburukan yang ada, kebaikan akan selalu menjadi pemenangnya.
Di sekolah, demikian juga di tempat kerja, mungkin kita dapati ada orang yang malas dan menyia nyiakan amanah yang diembannya. Orang ini justru diberikan peluang dan penghargaan yang sebenarnya tidak layak ia peroleh. Di waktu yang sama, kita merasa sudah belajar dan bekerja dengan baik, namun penghargaan yang kita dapati tidaklah sepadan. Hal ini bisa memunculkan perasaan tidak nyaman di hati kita.
Namun kita jangan lupa, bahwa Allah Ta'ala Maha Melihat lagi Maha Bijaksana. Segala kebaikan dan keburukan yang dilakukan hamba-Nya, pastilah Dia mengetahuinya. Kita belajar agar menjadi orang yang mengetahui, dan kita bekerja dalam rangka mengemban amanah yang kita emban. Kita tidak usah repot mengharapkan penghargaan dari manusia atas apa yang kita lakukan, karena kita belajar dan bekerja karena Allah Ta'ala bukan pamrih manusia.
Biarlah orang lain berlaku malas, tidak menunaikan amanahnya, atau bahkan menyelewengkannya. Biarlah kita tetap konsisten dalam mengemban amanah dan melakukan kebaikan. Karena kebaikan apapun yang kita lakukan, manfaatnya akan kembali kepada diri kita sendiri. Dalam surah al-Taubah ayat 105 Allah Ta'ala berfirman, "Katakanlah: Beramallah (bekerjalah) kalian! Maka Allah akan melihat amalmu (pekerjaanmu), demikian juga rasul-Nya dan seluruh mukmin (akan melihat amalmu). Kalian akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui segala yang ghaib dan yang nampak, kemudian Dia akan memaparkan apa-apa yang kalian telah kerjakan". (andiwowo@yahoo.com)
(dimuat di majalah CERDASIN)
Selasa, 30 November 2010
Mereka (Juga) Anak Kita
Sore itu angin semilir berhembus. Ohim duduk di bawah pohon mangga sambil memandangi anak-anak kecil bermain di halaman masjid. Cuaca yang cerah tidak bisa menutupi kegalauan yang nampak di wajah Ohim.
Kiai Ahid melihat Ohim yang murung, iapun menghampirinya. “Kok murung, Him? Nampaknya ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu” Sapa Kiai Ahid.
Ohim bukan santri, usianya sudah cukup tua untuk disebut sebagai santri. Ia diminta kiai Ahid untuk tinggal di pesantren dan membantu beliau mengurus santri-santri.
“Melihat anak-anak itu bermain, saya jadi teringat anak-anak saya...” Jawab Ohim dengan lirih. “Semenjak terpisah dari istri, saya tidak pernah lagi mendengar kabar mereka”.
Kiai Ahid menghela napas dan tersenyum, “Kau lihat anak-anak itu sedang bermain?”. Ohim menganggukkan kepalanya mengiyakan. “Anak-anak itu ada di sini, di dekatmu. Kau melihatnya, bisa menyentuhnya dan mendengar suaranya. Anggap saja mereka adalah anak-anakmu. Sayangi mereka, kasihi mereka, bantulah mereka, dan jadilah teman sekaligus orang tua bagi mereka”. Kiai Ahid kembali tersenyum. “Kemudian tawakkallah kepada Allah Ta'ala. Semoga anak-anakmu yang ada di tempat yang antah berantah itu mendapati orang-orang yang ikhlas menyayangi mereka, mengasihi dan membantu mereka”.
Tersentak dengan jawaban kiai Ahid, Ohim tersenyum, dan bergumam, “Betul Kiai...Saya akan memperlakukan santri dan anak-anak yang saya temui sebagaimana saya memperlakukan anak kandung saya sendiri. Saya yakin, anak-anak kandung saya juga akan mendapatkan perlakuan yang sama”.
Guru yang baik, akan memperlakukan anak didiknya selayaknya ia memperlakukan anak kandungnya sendiri. Ia akan mengajar dengan penuh kerelaan (karena guru adalah relawan), berbahagia dengan prestasi muridnya, dengan berupaya memperbaiki kekurangan dan kesalahan muridnya. Guru yang baik menganggap anak, siapapun orang tuanya, sebagai anugerah sekaligus ujian.
Allah Ta'ala menyediakan pahala yang besar bagi mereka yang bisa merawat dan mendidik anak dengan baik (QS. Al-Anfal ayat 28, al-Kahf ayat 46). Menjadi guru adalah ibadah yang menenteramkan hati. Selamat beribadah di sekolah...(dimuat di majalah cerdasin edisi 05/Desember 2010)
Kiai Ahid melihat Ohim yang murung, iapun menghampirinya. “Kok murung, Him? Nampaknya ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu” Sapa Kiai Ahid.
Ohim bukan santri, usianya sudah cukup tua untuk disebut sebagai santri. Ia diminta kiai Ahid untuk tinggal di pesantren dan membantu beliau mengurus santri-santri.
“Melihat anak-anak itu bermain, saya jadi teringat anak-anak saya...” Jawab Ohim dengan lirih. “Semenjak terpisah dari istri, saya tidak pernah lagi mendengar kabar mereka”.
Kiai Ahid menghela napas dan tersenyum, “Kau lihat anak-anak itu sedang bermain?”. Ohim menganggukkan kepalanya mengiyakan. “Anak-anak itu ada di sini, di dekatmu. Kau melihatnya, bisa menyentuhnya dan mendengar suaranya. Anggap saja mereka adalah anak-anakmu. Sayangi mereka, kasihi mereka, bantulah mereka, dan jadilah teman sekaligus orang tua bagi mereka”. Kiai Ahid kembali tersenyum. “Kemudian tawakkallah kepada Allah Ta'ala. Semoga anak-anakmu yang ada di tempat yang antah berantah itu mendapati orang-orang yang ikhlas menyayangi mereka, mengasihi dan membantu mereka”.
Tersentak dengan jawaban kiai Ahid, Ohim tersenyum, dan bergumam, “Betul Kiai...Saya akan memperlakukan santri dan anak-anak yang saya temui sebagaimana saya memperlakukan anak kandung saya sendiri. Saya yakin, anak-anak kandung saya juga akan mendapatkan perlakuan yang sama”.
Guru yang baik, akan memperlakukan anak didiknya selayaknya ia memperlakukan anak kandungnya sendiri. Ia akan mengajar dengan penuh kerelaan (karena guru adalah relawan), berbahagia dengan prestasi muridnya, dengan berupaya memperbaiki kekurangan dan kesalahan muridnya. Guru yang baik menganggap anak, siapapun orang tuanya, sebagai anugerah sekaligus ujian.
Allah Ta'ala menyediakan pahala yang besar bagi mereka yang bisa merawat dan mendidik anak dengan baik (QS. Al-Anfal ayat 28, al-Kahf ayat 46). Menjadi guru adalah ibadah yang menenteramkan hati. Selamat beribadah di sekolah...(dimuat di majalah cerdasin edisi 05/Desember 2010)
Selasa, 23 November 2010
ISLAM INSTITUSIONAL: REFLEKSI SEORANG SANTRI
Slowly but surely, semoga kaum muslimin bisa melaksanakan Islam dengan lebih baik. Nilai, norma, dan ajaran Islam semoga bisa secara konsisten dilaksanakan di Indonesia.
Prof. Bustanul Arifin, mantan hakim Agung Mahkamah Agung yang menjadi dosen saya pada mata kuliah sejarah hukum Islam di Indonesia, menyatakan bahwa ada kecenderungan peningkatan prosentase hukum positif di Indonesia (yang merupakan warisan kolonial Belanda) yang diselaraskan dengan fiqh. UU Perkawinan sudah diselaraskan dengan fiqh. Lalu ada juga UU Zakat, Waris dan seterusnya.
Bagi mereka yang sering ke terminal pulo gadung akan mendapati bau pesing akibat sebagian awak bus yang pipis sembarangan (dan tidak istinja). Fenomena pulo gadung ini adalah pengantar dari data yang saya sampaikan berikut ini:
88% penduduk Indonesia beragam Islam (termasuk mereka yang pipisnya tidak cebok). 25% kaum muslimin di Indonesia (22% total populasi Indonesia) mampu membaca Alquran dengan tajwid yang baik dan benar (di tempat saya, mereka yang sudah menjadi murabby banyak yang belum mengetahui gharaib ayat seperi isymam, imalah, dan tafkhim).
10% dari mereka yang membaca Alquran dengan baik (2% dari total polpulasi penduduk Indonesia) mampu menerjemahkan Alquran dan memahaminya, berapa banyak Quraish Shihab atau Mustain Syafi'i di Indonesia?! Tidak lebih dari seperempatnya yang artinya hanya 0,5% penduduk Indonesia.
Lalu dari mereka yang mampu menerjemahkan dan memahami Alquran, berapa yang konsisten mengamalkannya seperti ust. Didin Hafiduddin dan kiai Ali Mustafa Yaqub? Tidak lebih dari 0,005%
Mari perbandingkan dengan mereka yang menjadi "sarjana barat" yang dengan mudah mengutip dan menafsirkan Alquran tanpa ilmu dan pertanggungjawaban moral kepada Allah?? Maka bersabarlah dalam memperbaiki diri, keluarga dan umat Islam.
Kiai Ahid pernah berkelakar: kalau kondisi pemahaman keislaman umat masih kayak gini, lalu kita ngotot menginstitusikan Islam dalam kehidupan bernegara, apa elok?
Data di atas bukan hasil unduhan dari BPS, tapi hasil "pembacaan" langsung di masyarakat. Valid? Nampaknya margin errornya sangat tinggi. lha wong BPS saja sering dikritik dan tidak dipercaya.
Pada tahun 2005 saya pernah melakukan survey di kalangan eksekutif muda yang memiliki intensitas pengajian lebih dari sekali dalam seminggu, dengan sebaran lokasi di jabotabek. Pertanyaannya: apa itu hadis shahih?
Hasilnya addalah 0% menjawab benar, dan sisanya (100%) menjawab ngawur. Tragis sekali! padahal mereka ini adalah orang yang sedemikian semangat "mendiskusikan" Islam dalam perspektif mereka ("menurut saya begini", "kayaknya begitu", dan seterusnya tanpa mengutip ayat atau hadis yang baru saja didapatnya sebagai penyokong argumentasinya) .
Bahkan mereka yang seringkali menyatakan "kembalilah kepada Alquran dan hadis, seringkali belum pernah "mengkhatamkan" pembacaan kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Kalau anda sedih, saya malah pingin ketawa tersedu-sedu. ..
Aa Gym pernah berpesan: Indonesia adalah lahan yang luas untuk berdakwah. Ust. Hidayat Nurwahid berkata: harapan itu masih ada...
Prof. Bustanul Arifin, mantan hakim Agung Mahkamah Agung yang menjadi dosen saya pada mata kuliah sejarah hukum Islam di Indonesia, menyatakan bahwa ada kecenderungan peningkatan prosentase hukum positif di Indonesia (yang merupakan warisan kolonial Belanda) yang diselaraskan dengan fiqh. UU Perkawinan sudah diselaraskan dengan fiqh. Lalu ada juga UU Zakat, Waris dan seterusnya.
Bagi mereka yang sering ke terminal pulo gadung akan mendapati bau pesing akibat sebagian awak bus yang pipis sembarangan (dan tidak istinja). Fenomena pulo gadung ini adalah pengantar dari data yang saya sampaikan berikut ini:
88% penduduk Indonesia beragam Islam (termasuk mereka yang pipisnya tidak cebok). 25% kaum muslimin di Indonesia (22% total populasi Indonesia) mampu membaca Alquran dengan tajwid yang baik dan benar (di tempat saya, mereka yang sudah menjadi murabby banyak yang belum mengetahui gharaib ayat seperi isymam, imalah, dan tafkhim).
10% dari mereka yang membaca Alquran dengan baik (2% dari total polpulasi penduduk Indonesia) mampu menerjemahkan Alquran dan memahaminya, berapa banyak Quraish Shihab atau Mustain Syafi'i di Indonesia?! Tidak lebih dari seperempatnya yang artinya hanya 0,5% penduduk Indonesia.
Lalu dari mereka yang mampu menerjemahkan dan memahami Alquran, berapa yang konsisten mengamalkannya seperti ust. Didin Hafiduddin dan kiai Ali Mustafa Yaqub? Tidak lebih dari 0,005%
Mari perbandingkan dengan mereka yang menjadi "sarjana barat" yang dengan mudah mengutip dan menafsirkan Alquran tanpa ilmu dan pertanggungjawaban moral kepada Allah?? Maka bersabarlah dalam memperbaiki diri, keluarga dan umat Islam.
Kiai Ahid pernah berkelakar: kalau kondisi pemahaman keislaman umat masih kayak gini, lalu kita ngotot menginstitusikan Islam dalam kehidupan bernegara, apa elok?
Data di atas bukan hasil unduhan dari BPS, tapi hasil "pembacaan" langsung di masyarakat. Valid? Nampaknya margin errornya sangat tinggi. lha wong BPS saja sering dikritik dan tidak dipercaya.
Pada tahun 2005 saya pernah melakukan survey di kalangan eksekutif muda yang memiliki intensitas pengajian lebih dari sekali dalam seminggu, dengan sebaran lokasi di jabotabek. Pertanyaannya: apa itu hadis shahih?
Hasilnya addalah 0% menjawab benar, dan sisanya (100%) menjawab ngawur. Tragis sekali! padahal mereka ini adalah orang yang sedemikian semangat "mendiskusikan" Islam dalam perspektif mereka ("menurut saya begini", "kayaknya begitu", dan seterusnya tanpa mengutip ayat atau hadis yang baru saja didapatnya sebagai penyokong argumentasinya) .
Bahkan mereka yang seringkali menyatakan "kembalilah kepada Alquran dan hadis, seringkali belum pernah "mengkhatamkan" pembacaan kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Kalau anda sedih, saya malah pingin ketawa tersedu-sedu. ..
Aa Gym pernah berpesan: Indonesia adalah lahan yang luas untuk berdakwah. Ust. Hidayat Nurwahid berkata: harapan itu masih ada...
silabus Metode Memahami Hadis
A.Identitas Mata Kuliah (MK)
1.Mata Kuliah : Metodologi Memahami Hadis
2.Kode MK : ……..
3.Semester : 7 (tujuh)
4.MK Prasyarat : Ulumul Hadis (1 dan 2)
Takhrij Hadis
Kritik Sanad
Kritik Matan
B.Komponen Kegiatan
1.Perkuliahan : 1 (satu) SKS
2.Praktikum : 1 (satu) SKS
Jumlah : 2 (dua) SKS
C.Tujuan
Mahasiswa dapat menjelaskan tahapan dan metodologi dalam memahami hadis
D.Topik Inti (Materi Ajar)
1.Nabi Muhammad sebagai manusia dan rasul (basyar mitslukum yuha ilayh)
2.Pemahaman Tekstual dan Kontekstual (konsepsi fiqhul hadis)
3.Asbabul Wurud
4.Memahami hadis berdasarkan tafsiran ayat Alquran dan pendapat ulama
5.Memahami hadis secara linguistik (hakikat-majaz, zhahir-muawwal)
6.Hadis dan tradisi Arab (sosiologis-antropologis)
7.Memahami Hadis mukhtalaf 1 (nasikh-mansukh)
8.Memahami Hadis mukhtalaf 2 (Tarjih)
9.Memahami Hadis mukhtalaf 3 (tawfiq/jama’ dan tawaqquf)
10.Kajian hadis tematis
1.Mata Kuliah : Metodologi Memahami Hadis
2.Kode MK : ……..
3.Semester : 7 (tujuh)
4.MK Prasyarat : Ulumul Hadis (1 dan 2)
Takhrij Hadis
Kritik Sanad
Kritik Matan
B.Komponen Kegiatan
1.Perkuliahan : 1 (satu) SKS
2.Praktikum : 1 (satu) SKS
Jumlah : 2 (dua) SKS
C.Tujuan
Mahasiswa dapat menjelaskan tahapan dan metodologi dalam memahami hadis
D.Topik Inti (Materi Ajar)
1.Nabi Muhammad sebagai manusia dan rasul (basyar mitslukum yuha ilayh)
2.Pemahaman Tekstual dan Kontekstual (konsepsi fiqhul hadis)
3.Asbabul Wurud
4.Memahami hadis berdasarkan tafsiran ayat Alquran dan pendapat ulama
5.Memahami hadis secara linguistik (hakikat-majaz, zhahir-muawwal)
6.Hadis dan tradisi Arab (sosiologis-antropologis)
7.Memahami Hadis mukhtalaf 1 (nasikh-mansukh)
8.Memahami Hadis mukhtalaf 2 (Tarjih)
9.Memahami Hadis mukhtalaf 3 (tawfiq/jama’ dan tawaqquf)
10.Kajian hadis tematis
معايير التقوى تفسير سورة آل عمران الأية 133 إلى 136
الكاتب: أندي رحمان الماجستير
(tulisan telah dimuat di Jurna Studi Al-qur'an, vol. VI, no 1 Januari 2010)
مقدمة
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات. هو الله الذي لا إله إلاّ هو الواحد الأحد الفرد الصّمد، الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد. فضاعف الله دائم صلواته وسلامه على محمد سيد المرسلين، وعلى آله الطاهرين، وأزواجه أمهات المؤمنين، وأقربائه المؤمنين، وأصحابه الذين هم نجوم الهداية واليقين، وجميع أمته إلى يوم الدين.
فإنه قد علم من الدين بالضرورة أن التقوى هو وسيلة لنيل سعادة الدارين. فمن ثم نحتاج إلى بيان كاف عن التقوى لنفهم ثم نعمل بمقتضاه. فتعريف التقوى معلوم سمعناه كثيرا في الخطابات والمواعظ، وهو امتثال أوامر الله واجتناب نواهيه. ولكن يظهر في التسائل: ما هو معيار التقوى؟
فهذا البُحَيْث المتواضع يعطي لنا تفسير الأية 133 إلى 136 من سورة آل عمران حيث تشمل تلك المعايير كما تحتوي على معلومات كثيرة وقيم يحتاج إليها الناس في حياتهم. فقال تعالى:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)
تحليل الألفاظ
العرض: السعة وقيل هو مقابل الطول وهو مع الطول سعة
السراء والضراء: حالتي اليسر والعسر
الكاظمين الغيظ: الكافين عن إمضائه مع القدرة أو الحابسين عن أن ينفذوه
العافين عن الناس: التاركين عقوبتهم أي عمن ظلمهم
فاحشة: ذنبا قبيحا كالزنا، وقد يطلق على السيئات الكبار على حدتها كما يقال أيضا على البخل والشح
ولم يصروا: أي لم يداوموا بل يقفوا على ما كانوا عليه من الظلم وفعلهم بالفاحشة
تناسب الآيات بعضها مع بعض
قال الله تعالى: "وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ"
في الأية التي قبلها أمر الله تعالى المؤمنين بطاعته وطاعة رسوله حيث قال تعالى "وأطيعوا الله والرسول لعلكم ترحمون". وحقيقة الطاعة امتثال أوامر الله تعالى واجتناب نواهيه كما هو معلوم، والله تعالى حث عباده على المسارعة إلى ذلك وجعل امتثال الطاعة كالمنافسة والمسابقة بينهم حيث إن كل واحد منهم يتسابقون ويتنافسون في طاعته على الآخرين ولا يرضى أن يسبقه أحد في ذلك. ومن هنا نعرف أن المطيعين هم المتقون لأن الطاعة سبب التقوى. ففي هذه الأية بيان ما كان بين الله وعباده من لزوم الطاعة والتقوى والمسارعة فيهما والثناء من الله تعالى على المتقين.
قال الله تعالى: "الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ"
ففي هذه الأية بيان ما كان بين عباده بعضهم بعضا، حيث إن المؤمنين المتقين ينفقون أموالهم في سبيل الله تعالى.
ثم إن الناس في الصراع والمظالم والاختلافات أو المخاصمات بينهم على ثلاثة طبقات، أولاها الكاظمون غيظهم وبغضهم عن ظالميهم أو أعدائهم رغم أنهم يقدرون على إيقاعه بهم، وليس من لوازم كظم الغيظ ترك الغل في القلوب والصفح عن السيئات بل يتركون العقوبة والاعتداء لمجرد كظمهم الغيظ دون أن يقارنوا أنفسهم بالعفو والمسامحة.
وفوق الأولى الطبقة الثانية وهي العفو عن الناس يعني عن ظالميهم وأعدائهم، فأزالوا ما كان في قلوبهم من غل وإرادة على الاعتداء كأنه ليس بينهم وبين أعدائهم اعتداء ولا غيظ، ويمحون آثار ذلك عن قلوبهم حتى لا تذكر. ثم الطبقة الثالثة الإحسان على من ظلمهم واعتدى عليهم. فالمحسن يعفو ويزيل الغل من قلبه ويترك الإساءة والإعتداء على من ظلمهم بل ويحسن إليهم ويعمل في إرضائهم.
قال الله تعالى: "وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ"
وبعد أن بيّن الله تعالى ما كان بينه وبين عباده وما كان بين عباده بعضهم مع بعض في الآيات السابقة، شرع تبارك وتعالى في هذه الأية في بيان ما كان في العبد مع نفسه: فذكر أن من عباده من ارتكب المظالم والسيئات مع أن ارتكابهم في الحقيقة ظلم على أنفسهم. فعباد الله بادروا إلى الاعتراف بالذنوب وسارعوا إلى الاستغفار والتوبة حتى يغفر الله تعالى لهم.
ثم لما كان هذا مفهما لأنه تعالى يغفر الذنوب جميعا أتبعه تحقيق ذلك ونفي القدرة عليه عن غيره حيث قال تعالى "ومن يغفر الذنوب جميعا؟!"، لأن المخلوق لا يمضي غفرانه لذنب إلا إذا كان مما شرع الله تعالى غفرانه، فكان لا غافر في الحقيقة إلا الله تعالى. ومن الآيات ما يفهم قدرة الله على عباده حيث إنه تعالى يحرك قلوب عباده ويقلبها من الظلم إلى العتراف بالذنب ومن الغضب والغل إلى العفو والاحسان. فيتوبوا إلى الله تعالى وتركوا المظالم والذنوب ولم يصروا أو يداوموا عليها لعلمهم أن ذلك ممنوع.
والأية تبين لنا أن المتقين ليسوا الذين لا يذنبون ولا يظلمون، بل ارتكبوا المظالم والذنوب إلا أنهم حينذاك ذكروا الله تعالى وشرعوا إلى الاستغفار والتوبة إليه فغفر الله تعالى لهم. فالإنسان بطبيعته يخطئ ويظلم نفسه والآخرين والله تعالى برحمته يفتح أبواب التوبة والمغفرة لمن تاب واستغفر.
وذكره تعالى الفاحشة مع الظلم له أسراره، منها أن من فعل الفاحشة—التي هي الذنب الكبير—كان ظالما على نفسه، لأن ارتكاب الفاحشة يترتب عليه وقوع العذاب من الله تعالى والفتنة منه، وهذا ظلم على النفس، والعياذ بالله تعالى.
قال الله تعالى: "أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ"
بين سبحانه وتعالى أن من اتصفوا بهذه الصفات كانوا يستحقون المغفرة منه والجنة وهم خلود فيها، وهذا مصداق قوله تعالى "وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنات عرضها السموات والأرض أعدت للمتقين". فبدأ بالبشارة وهي الجنة والمغفرة وختم بنفس البشارة.
تفسير الآيات
قوله تعالى: "وسارعوا إلى مغفرة من ربكم"
والمسارعة المبادرة، وهي مفاعلة، أي سارعوا إلى ما يوجب المغفرة وهي التقوى ولا يكون ذلك إلا بطاعة الله وطاعة رسوله.
قال أنس بن مالك ومكحول في تفسير "سارعوا إلى مغفرة من ربكم" معناه إلى تكبيرة الإحرام يعني في الصلاة. وقال علي بن أبي طالب: إلى أداء الفرائض. وقال عثمان بن عفان: إلى الإخلاص. وقال الكلبي: إلى التوبة من الربا. وقيل: إلى الثبات في القتال. وقيل غير ذلك. والآية عامة في الجميع. ومعنى الأية شبيه بمعني قوله تعالى "فاستبقوا الخيرات" التي في سورة البقرة الأية 148.
قوله تعالى: "وجنة عرضها السموات والأرض"
أي كعرضهما، بحـذف المضاف وذلك للتأكيد والتحقيق كما في قوله تعالى في سورة لقمان الأية 28 "ما خلقكم ولا بعثكم إلا كنفس واحدة" أي إلا كخلق نفس واحـدة وبعثها.
واختلف العلماء في تأويله. فقال ابن عباس: تقرن السموات والأرض بعضها إلى بعض كما تبسط الثياب ويوصل بعضها ببعض، فذلك عـرض الجنة ولا يعلم طولها إلا الله، وهذا قول الجمهور. وذلك لا ينكر فإن في حديث أبي ذر عن النبي صلى الله عليه وسلم "ما السماوات السبع مع الكرسي إلا كحلقة ملقاة بأرض فلاة وفضل العرش على الكرسي كفضل الفلاة على الحلقة" (أخرجه ابن حبان في صحيحه). فعن ابن مسعود أن الرسول الله صلى الله عليه وسلم قال إنّي لَأعْلم آخر أَهْل النَّارِ خروجا منها وآخر أهل الْجنة دخولا الْجَنة رجل يخرج من النار حبوا فيقول اللَّهُ تبارك وتعالى له اذْهب فادخل الْجنة فيأتيها فيخَيّل إليه أنها ملْأَى فيرجع فيقول يَا رب وجدْتها مَلْأَى فيقول اللَّهُ تبارك وَتعالى لَه اذهب فادخل الْجنَّة قال فيأْتيها فيخيل إليه أنها ملْأَى فيرجع فيقول يا رب وجدْتها ملْأَى فيقول اللّه له اذهب فادخل الْجنة فإن لك مثل الدنيا وعشرة أمثالها أو إن لك عشرة أمثال الدنيا (رواه مسلم). فهذه مخلوقات أعظم بكثير من السموات والأرض, فقدرة الله أعظم من ذلك كله.
ونبه تبارك وتعالى بالعرض على الطول لأن الغالب أن الطول يكون أكثر من العرض. والطول إذا ذكر لا يدل على قدر العرض. قال الزهري: إنما وصف عرضها, فأما طولها فلا يعلمه إلا الله. وهذا كقول تعالى في سورة الرحمن الأية 54 "متكئين على فرش بطائنها من إستبرق..." فوصف البطانة بأحسن ما يعلم من الزينة, إذ معلوم أن الـظواهر تكون أحسن واتقن من البطائن. وقد قال العرب: بلاد عريضة وفلاة عريضة, أي واسعة. وقال قوم: الكلام جار على مقطع العرب من الاستعارة، فلما كانت الجنة من الاتساع والانفساح في غاية قصوى حسنت العبارة عنها بعرض السموات والأرض، كما تقول للرجل: هذا بحر, ولشخص كبير من الحـيوان: هذا جبل. ولم تقصد الآية تحـديد العرض, ولكن أراد بذلك أنها أوسع شيء رأيتموه.
وذكره تعالى وسعة جنته التي أعدها لعباده المتقين من أنها أوسع شيء يعرفه الناس، مع أن حقيقتها أوسع وأكبر من ذلك، فيه حكم كثيرة منها أنه ليس لأحد أن يعتقد أن الجنة أعدها الله تعالى خاصة له ولقومه دون المؤمنين الآخرين بمجرد الاختلافات في فروع الدين بينهم، بل بيًّن أن عباده ما داموا يتقون الله تعالى فيستحقون الجنة، وهذا من باب تقليل الكثير أو تضييق الواسع، وهو ممنوع.
قوله تعالى: "أعدت للمتقين"
أتى بصيغة الماضي، لذا ذهب به عامة العلماء إلى أن الجنة مخلوقة موجودة، وهو نص حديث الإسراء وغيره في الصحيحين وغيرهما حيث أن الرسول دخل فيها وبيّن أحوالها والنعم التي كانت فيها. وقالت المعتزلة إنهما غير مخلوقتين في وقتنا, وإن الله تعالى إذا طوى السموات والأرض ابتدأ خلق الجنة والنار حيث شاء، لأنهما دار جزاء بالثواب والعقاب, فخلقتا بعد التكليف في وقت الجزاء، لئلا تجتمع دار التكليف ودار الجزاء في الدنيا, كما لم يجتمعا في الآخرة. والمعتمد هو مذهب الجمهور.
قوله تعالى: "الذين ينفقون في السراء والضراء"
والضراء هو العسر كذا قاله ابن عباس والكلبي ومقاتل. وقال عبيد بن عمير والضحاك السراء والضراء الرخاء والشدة، ويقال في حال الصحة والمرض. وقيل في السراء يعني في الحياة وفي الضراء يعني يوصي بعد الموت. وقيل في السراء في العرس والولائم وفي الضراء في النوائب والمآتم. وقيل في السراء النفقة التي تسركم مثل النفقة على الأولاد والقرابات، والضراء على الأعداء. ويقال في السراء ما يضيف به الفتى ويهدي إليه، والضراء ما ينفقه على أهل الضر ويتصدق به عليهم. والأية تعم كل ذلك.
قوله تعالى: "والكاظمين الغيظ"
كظم غيظه أي سكت عليه ولم يظهره مع قدرته على إيقاعه بعدوه. وكظمت السـقاء أي ملئته وسددت عليه, والكظامة ما يسد به مجرى الماء. ومنه الكظام للسير الذي يسد به فم الزق والقربة، وكظم البعير جرته إذا ردها في جوفه. وقد يقال لحـبسه الجرة قبل أن يرسلها إلى فيه "كظم"، حكاه الزجـاج. يقال: كظم البعير والناقة إذا لم يجترا، ومنه رجل كظيم ومكظوم إذا كان ممتلئا غما وحزنا. وفي التنزيل في سورة يوسف الأية 84 "...وابيضت عيناه من الحزن فهو كظيم"، وفي سورة النحل الأية 58 "...ظل وجهه مسودا وهو كظيم"، وفي سورة القلم الأية 48 "...إذ نادى وهو مكظوم".
والغيظ أصل الغضب, وكثيرا ما يتلازمان لكن فرقان ما بينهما أن الغيظ لا يظهر على الجوارح, بخلاف الغضب فإنه يظهر في الجوارح مع فعل ما لا بد. ولهذا جـاء إسناد الغضب إلى الله تعالى إذ هو عبارة عن أفعاله في المغضوب عليهم. وقد فسر بعض الناس الغيظ بالغضب وليس بجيد. والله تعالى أعلم.
قوله تعالى: "والعافين عن الناس"
فالعفو عن الناس أجل ضروب فعل الخير حيث يجوز للإنسان أن يعفو وحيث يتجـه حقه. وكل من استحـق عقوبة فتركت له فقد عفي عنـه.
واختُلف في معنى "عن الناس". فقال بعضهم هم المماليك قال إذ هم الخدمة فهم يذنبون كثيرا والقدرة عليهم متيسرة, لإنفاذ العقوبة سهل، فلذلك مثل هذا المفـر به. وروي عن ميمون بن مهران أن جاريته جـاءت ذات يوم بصحـفة فيها مرقة حارة, وعنده أضياف فعثرت فصبت المرقة عليه, فأراد ميمون أن يضربها, فقالت الجارية: يا مولاي استعمل قوله تعالى "والكاظمين الغيظ". فترك الغضب وقال لها: قد فعلت. فقالت اعمل بما بعده "والعافين عن الناس". فقال قد عفوت عنك. فقالت الجارية "والله يحب المحسنين". قال ميمون قد أحسنت إليك, فأنت حرة لوجـه الله تعالى. وروي عن الأحنف بن قيس مثله. وقال زيد بن سلم "والعافين عن الناس" عن ظلمهم وإساءتهم، وهذا عام وهو ظاهر الآية.
وقال مقاتل بن حيان في هذه الآية، بلغنا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال عند ذلك "إن هؤلاء من أمتي قليل إلا من عصمه الله وقد كانوا كثيرا في الأمم التي مضت". فمدح الله تعالى الذين يغفرون عند الغضب وأثنى عليهم فقال في سورة الشورى الأية 37 "وإذا ما غضبوا هم يغفرون". وأثنى على الكاظمين الغيظ بقوله هنا.
ووردت في كظم الغيظ والعفو عن الناس وملك النفس عند الغضب أحاديث، وذلك من أعظم العبادة وجهاد النفس. فقال صلى الله عليه وسلم: "ليس الشديد بالصرعة ولكن الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب" (متفق عليه عن أبي هريرة). وقال صلى الله عليه وسـلم "ما من جرعة أعظم أجرا عند اللَّه من جرعة غيظ كظمها عبد ابتغاء وجه اللَّه" (أخرجه ابن ماجه). وقال "من كظم غيظا وهو قادر على أن ينفذه دعاه اللَّهُ عز وجل على رءوس الخلائق يوم القيامة حتى يخيره اللهُ من الحور الْعين ما شاء" (أخرجه أبو داود والترمذي وقال حديث حسن غريب).
وفي القرآن لن نجد الأمر بطلب العفو عن ظلم وإساءة بين الناس، بل نجد الأمر بإعطاء العفو والصفح عن الناس. فقد قال تعالى في سورة الأعراف الأية 199 "خذ العفو وأمر بالعرف واعرض عن الجاهلين".
وأمر الله عباده بأمر قد بدأ بنفسه، وهو تعالى سمى ذاته عفوا غفورا غفارا توابا. وقال تعالى في سورة الشورى الأية 34 "...ويعف عن كثير" وذلك برحمته دون أن يتقدمه العبد بطلبه، وبين تعالى في سورة هود الأية 114"...إن الحسنات يذبهن السيئآت..."، ووعد المغفرة لمن تاب وعمل صالحا حيث قال في سورة الزمر الأية 53 "قل يا عبادي الذين أسرفوا على أنفسهم لا تقنطوا من رحمة الله إن الله يغفر الذنوب جميعا إنه هو الغفور الرحيم". وهذا—طبعا—غير الشرك بالله تعالى الذي هو ظلم عظيم وذنب لا يغتفر حيث قال تعالى في سورة لقمان الأية 13 "... لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم" وقال في سورة النساء الأية 48 "إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء ومن يشرك بالله فقد افترى إثما عظيما" وقال في سورة النساء الأية 116 "إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء ومن يشرك بالله فقد ضل ضلالا بعيدا".
اللهم نعم وجدنا الأمر بطلب العفو بمظلمة عملناها أو بمعصية ارتكبناها في الأحاديث الصحيحة المرفوعة إلى النبي صلى الله عليه وسلم كالمروي عن أبي هريرة فيما أخرجه البخاري في صحيحه والبيهقي في سننه" من كانت له مظلمة لأحد من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه".
فالظالم والعاصي يجب عليه أن يستغفر الله العظيم ويتوب إليه، وإذا تعلقت المظلمة والمعصية بحق آدمي فطلب العفو منه لازم وواجب. والذي أتاه أخوه طالب العفو فإعطاء العفو والصفح عنه في حقه واجب. والجزاء من جنس العمل. فمن عفا وصفح عن أخيه فله العفو والمغفرة من الله تعالى. قال الله تعالى في سورة النساء الأية "إن تبدوا خيرا أو تخفوه أو تعفوا عن سوء فإن الله كان عفوا قديرا".
قوله تعالى: "والله يحب المحسنين".
والمحسنون هم الذين يتقون وينفقون في السراء والضراء ويكظمون غيظهم ويعفون عن الناس. وكان الله يحبهم والحب يستلزم الرضا ولا شيء أشد رغبة فيه للعبد المؤمن من مرضاة ربه.
قوله تعالى: "والذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم".
ذكر الله تعالى في هذه الآية صنفا, هم دون الصنف الأول فألحقهم به برحمته ومنه، فهؤلاء هم التوابون. قال ابن عباس في رواية عطاء: نزلت هذه الآية في نبهان التمار—وكنيته أبو مقبل—أتته امرأة حسناء باع منها تمرا, فضمها إلى نفسـه وقبلها فندم على ذلك, فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فذكر ذلك له، فنزلت هذه الآية. وذكـر أبو داود الطيالسي في مسنده عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: حـدثني أبو بكر أن الرسول صلى الله عليه وسلم قال: "ما من عبد يذنـب ذنبا ثم يتوضأ ويصلي ركعتين ثم يستغفر الله إلا غفر له"،- ثم تلا هذه الآية - "والذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم ذكروا الله فاستغفروا لذنوبهم" - الآية, والآية الأخرى في سورة النساء الأية 110- "ومن يعمل سوءًا أو يظلم نفسه". وخرجه الترمذي وقال حديث حـسن.
وقد تنزل الآية بسبب خاص ثم تتناول جميع من فعل ذلك أو أكثر منه. وقد قيل: إن سبب نزولها أن ثقيفيا خرج في غزاة وخلف صاحبا له أنصاريا على أهله, فخانه فيها بأن اقتحم عليها فدفعت عن نفسها فقبل يدها, فندم على ذلك فخرج يسيح في الأرض نادما تائبا، فجاء الثقفي فأخبرته زوجته بفعل صاحبه, فخرج في طلبه فأتى به إلى أبي بكر وعمر رجـاء أن يجد عندهما فرجا فوبخاه، فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فأخبره بفعله، فنزلت هـذه الآية. والعموم أولى للحديث.
وقال النبي صلى الله عليه وسلم " أن رجلا أذنب ذنبا فقال رب إني أذنبت ذنبا أو قال عملت عملا ذنبا فاغفره فقال عز وجل عبدي عمل ذنبا فعلم أن له ربا يغفر الذنب ويأخذ به قد غفرت لعبدي ثم عمل ذنبا آخر أو أذنب ذنبا آخر فقال رب إني عملت ذنبا فاغفره فقال تبارك وتعالى علم عبدي أن له ربا يغفر الذنب ويأخذ به قد غفرت لعبدي ثم عمل ذنبا آخر أو أذنب ذنبا آخر فقال رب إني عملت ذنبا فاغفره فقال علم عبدي أن له ربا يغفر الذنب ويأخذ به قد غفرت لعبدي فليعمل ما شاء" (أخرجه أحمد).
والفاحشة تطلق على كل معصية, وقد كثر اختصاصها بالزنا حتى فسر جابر بن عبدالله والسدي هذه الآية بالزنا. و "أو" في قوله: "أو ظلموا أنفسهم" قيل هي بمعنى الواو، والمراد ما دون الكبائر.
قوله تعالى: "ذكروا الله".
يعني يذكرون الجزاء من الله للمحسنين والمسيئين فيخافون من عقابه يستحيون منه ثم يرجعون من الذنوب إلى التوبة ومن العقاب إلى الرحمة.
قوله تعالى: "فاستغفروا لذنوبهم".
أي طلبوا الغفران لأجـل ذنوبهم. فالاستغفار عظيم وثوابه جسيم, حتى لقد روى أبو داود عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال "من قال استغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه، غفر له، وإن كان قد فر من الزحف".
نقول إن الاستغفار المطلوب هو الذي يحل عقد الإصرار ويثبت معناه في الجنان, لا التلفظ باللسان. فأما من قال بلسانه: استغفر الله, وقلبه مصر على معصيته فاستغفاره ذلك يحتاج إلى استغفار, وصغيرته لاحقة بالكبائر. وروي عن الحسن البصري أنه قال: استغفارنا يحـتاج إلى استغفار. فعجبا، هذا يقول في زمانه, فكيف في زماننا هذا الذي يرى فيه الإنسان مكبا على الظلم؟! حريصا عليه لا يقلع, والسبحة في يده زاعما أنه يستغفر الله من ذنبه وذلك استهزاء منه واستخفاف. وفي التنزيل في سورة البقرة الأية 231 قال تعالى "ولا تتخذوا آيات الله هزوا". وقال النبي صلى الله عليه وسلم وهو على المنبر "ارحموا ترحموا واغفروا يغفر لكم ويل لأقماع القول ويل للمصرين الذين يصرون على ما فعلوا وهم يعلمون". رواه أحمد وتفرد به.
و قال بعض العلماء عكسه من إنه لو تكرر منهم الذنب تابوا منه. فروى أبو يعلى الموصلي بسنده قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "ما أصر من استغفر وإن عاد في اليوم سبعين مرة".
قوله تعالى: "ولم يصروا على ما فعلوا"
أي ولم يثبتوا ويعزموا على ما فعلوا. وقال مجاهد أي ولم يمضوا. الإصرار هو العزم بالقلب على الأمر وترك الإقلاع عنه. ومنه صر الدنانير أي الربط عليها. قال الحطيئة يصف الخيل: عوابس بالشعث الكماة إذا ابتغوا علاتها بالمحصدات أصرت أي ثبتت على عدوها. وقال قتادة: الإصرار الثبوت على المعاصي. قال الشاعر: "يصر بالليل ما تخفي شواكله* يا ويح كل مصر القلب ختار". قال سهل بن عبدالله: الجاهل ميت, والناسي نائم, والعاصي سكران, والمصر هالك. والإصرار هو التسويف, والتسويف أن يقول: أتوب غدا، وهذا دعوى النفس, كيف يتوب غدا لا يملكه؟! وقال بعض العلماء الإصرار هو أن ينوي أن يتوب فإذا نوى التوبة النصوح خرج عن الإصرار.
قوله تعالى: "وهم يعلمون"
فيه أقوال: فقيل، إن معناه يذكرون ذنوبهم فيتوبون منها. وقيل وهم يعلمون أن الله يعاقب على الإصرار. وقيل وهم يعلمون أنهم إن تابوا تاب الله عليهم. وقيل يعلمون أنهم إن استغفروا غفر الله لهم. و قيل وهم يعلمون أن الإصرار ضار, وأن تركه خير من التمادي. و قيل وهم يعلمون أن لهم ربا يغفر الذنب. وقيل وهم يعلمون أنه لا غافر سوى الله تعالى. وكل هذه الأقوال مصيب ووجيه.
ودلت الآية والحديث على عظيم فائدة الاعتراف بالذنب والاستغفار منه. قال صلى الله عليه وسلم "فإن العبد إذا اعترف بذنب ثم تاب تاب الله عليه" (أخرجاه في الصحيحين). وفي صحيح مسلم عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (والذي نفسي بيده لو لم تذنبوا لذهب الله بكم ولجاء بقوم يذنبون ويستغفرون فيغفر لهم). وقالوا إن هذه فائدة اسم الله تعالى الغفار والتواب.
ثم الذنوب التي يتاب منها إما كفروا غيره, فتوبة الكافر إيمانه مع ندمه على ما سلف من كفره, وليس مجرد الإيمان نفس توبة, وغير الكفر إما حق لله تعالى. وإما حق لغيره, فحق الله تعالى يكفي في التوبة منه الترك، غير أن منها ما لم يكتف الشرع فيها بمجرد الترك بل أضاف إلى ذلك في بعضها قضاة كالصلاة والصوم, ومنها ما أضاف إليها كفارة كالحنث في الأيمان والظاهر وغير ذلك. وأما حقوق الآدميين فلا بد من إيصالها إلي مستحقيها, فإن لم يوجدوا تصدق عنهم, ومن لم يجد السبيل لخروج ما عليه لإعسار فعفو الله مأمول, وفضله مبذول. فكم ضمن من التبعات وبدل من السيئات بالحسنات. وليس على الإنسان إذا لم يذكر ذنبه ويعلمه أن يتوب منه بعينه, ولكن يلزمه إذا ذكر ذنبا تاب منه.
قوله تعالى: "أولئك جزاؤهم مغفرة من ربهم وجنات تجري من تحتها الأنهار خالدين فيها ونعم أجر العاملين".
فخير جزاء العمل الجنة. ومن توفر عندهم هذه المعايير فالجنة له الجزاء الأوفى
الاختتام
فالآيات ذكرت لنا معايير التقوى وهي الانفاق في السراء والضراء وكظم الغيظ وعفو الناس والإحسان وذكر الله والاستغفار وعدم الإصرار على الذنب. فجعلنا الله من المتقين ويجزين بالمغفرة ودخول الجنة النعيم. وصلى الله على سيدنا محمد والحمد لله رب العلمين.
قائمة المرجع
الألوسي (السيد محمود)، روح المعاني في تفسير القرآن العظيم والسبع المثاني، (بيروت: دار الفكر، 1414هـ)
الأندلسي (أبي حيان)، النهر الماد من البحر المحيط، (بيروت: دار الجيل، 1416 هـ)، ط: 1
البخاري (محمد بن إسماعيل)، صحيح البخاري، (بيروت: دار ابن كثير، 1407هـ)، ط: الثالثة
البغدادي (علي بن محمد)، تفسير الخازن المسمى لباب التأويل في معاني التنزيل، (بيروت: دار الفكر)، دت
الترمذي (محمد بن عيسى)، سنن الترمذي، (بيروت:دار إحياء التراث العربي)، دت
التميمي (محمد بن حبان)، صحيح ابن حبان، (بيروت: مؤسسة الرسالة، 1993م) ط: 3
جوهري (طنطاوي)، الجواهر في تفسير القرآن، (بيروت: دار الفكر)
الحاكم النيسابوري (محمد بن عبد الله)، المستدرك على الصحيحين، (بيروت: دار الكتب العلمية، 1990م)، ط: 1
الحراني (ابن تيمية)، التفسير الكبير، (بيروت: دار الكتب العلمية)، دت
حوى (سعيد)، الأساس في التفسير، (دار السلام، 1405 هـ)، دم، ط: 2
السجستاني أبو داود (سليمان بن الأشعث)، سنن أبي داود، (بيروت: دار الفكر)، دت
الشنقيطي (محمد الأمين بن محمد)، أضواء البيان في إيضاح القرآن بالقرآن، (بيروت: دار الفكر، 1415هـ)
الشيباني أبو عبد الله (أحمد بن حنبل)، مسند أحمد، (مصر: مؤسسة القرطبة)، دت
الصابوني (محمد علي)، روائع البيان تفسير آيات الأحكام من القرآن، دم، دت
الطبراني أبو القاسم (سليمان بن أحمد)، المعجم الكبير، (الموصل: مكتبة العلوم والحكم، 1983م)، ط: 3
الطبرسي (الفضل بن الحسن)، مجمع البيان في تفسير القرآن، (بيروت: دار المعرفة، 1406 هـ)، ط: 1
الطوسي (أبو جعفر محمد بن الحسن)، التبيان في تفسير القرآن، (مكتبة الإعلام الإسلامي)، دت، ط: 1
القزويني ابن ماجه (محمد بن يزيد)، سنن ابن ماجة، (بيروت: دار الفكر)، دت
القطان (إبراهيم)، تيسير التفسير، (عمان، 1404هـ)، ط: 1
الكلبي (محمد بن أحمد بن جزي)، التسهيل لعلوم التنزيل، (بيروت: دار الفكر)، دت
النيسابوري (مسلم بن الحجاج)، صحيح مسلم، (بيروت: دار إحياء التراث العربي)،
(tulisan telah dimuat di Jurna Studi Al-qur'an, vol. VI, no 1 Januari 2010)
مقدمة
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات. هو الله الذي لا إله إلاّ هو الواحد الأحد الفرد الصّمد، الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد. فضاعف الله دائم صلواته وسلامه على محمد سيد المرسلين، وعلى آله الطاهرين، وأزواجه أمهات المؤمنين، وأقربائه المؤمنين، وأصحابه الذين هم نجوم الهداية واليقين، وجميع أمته إلى يوم الدين.
فإنه قد علم من الدين بالضرورة أن التقوى هو وسيلة لنيل سعادة الدارين. فمن ثم نحتاج إلى بيان كاف عن التقوى لنفهم ثم نعمل بمقتضاه. فتعريف التقوى معلوم سمعناه كثيرا في الخطابات والمواعظ، وهو امتثال أوامر الله واجتناب نواهيه. ولكن يظهر في التسائل: ما هو معيار التقوى؟
فهذا البُحَيْث المتواضع يعطي لنا تفسير الأية 133 إلى 136 من سورة آل عمران حيث تشمل تلك المعايير كما تحتوي على معلومات كثيرة وقيم يحتاج إليها الناس في حياتهم. فقال تعالى:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)
تحليل الألفاظ
العرض: السعة وقيل هو مقابل الطول وهو مع الطول سعة
السراء والضراء: حالتي اليسر والعسر
الكاظمين الغيظ: الكافين عن إمضائه مع القدرة أو الحابسين عن أن ينفذوه
العافين عن الناس: التاركين عقوبتهم أي عمن ظلمهم
فاحشة: ذنبا قبيحا كالزنا، وقد يطلق على السيئات الكبار على حدتها كما يقال أيضا على البخل والشح
ولم يصروا: أي لم يداوموا بل يقفوا على ما كانوا عليه من الظلم وفعلهم بالفاحشة
تناسب الآيات بعضها مع بعض
قال الله تعالى: "وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ"
في الأية التي قبلها أمر الله تعالى المؤمنين بطاعته وطاعة رسوله حيث قال تعالى "وأطيعوا الله والرسول لعلكم ترحمون". وحقيقة الطاعة امتثال أوامر الله تعالى واجتناب نواهيه كما هو معلوم، والله تعالى حث عباده على المسارعة إلى ذلك وجعل امتثال الطاعة كالمنافسة والمسابقة بينهم حيث إن كل واحد منهم يتسابقون ويتنافسون في طاعته على الآخرين ولا يرضى أن يسبقه أحد في ذلك. ومن هنا نعرف أن المطيعين هم المتقون لأن الطاعة سبب التقوى. ففي هذه الأية بيان ما كان بين الله وعباده من لزوم الطاعة والتقوى والمسارعة فيهما والثناء من الله تعالى على المتقين.
قال الله تعالى: "الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ"
ففي هذه الأية بيان ما كان بين عباده بعضهم بعضا، حيث إن المؤمنين المتقين ينفقون أموالهم في سبيل الله تعالى.
ثم إن الناس في الصراع والمظالم والاختلافات أو المخاصمات بينهم على ثلاثة طبقات، أولاها الكاظمون غيظهم وبغضهم عن ظالميهم أو أعدائهم رغم أنهم يقدرون على إيقاعه بهم، وليس من لوازم كظم الغيظ ترك الغل في القلوب والصفح عن السيئات بل يتركون العقوبة والاعتداء لمجرد كظمهم الغيظ دون أن يقارنوا أنفسهم بالعفو والمسامحة.
وفوق الأولى الطبقة الثانية وهي العفو عن الناس يعني عن ظالميهم وأعدائهم، فأزالوا ما كان في قلوبهم من غل وإرادة على الاعتداء كأنه ليس بينهم وبين أعدائهم اعتداء ولا غيظ، ويمحون آثار ذلك عن قلوبهم حتى لا تذكر. ثم الطبقة الثالثة الإحسان على من ظلمهم واعتدى عليهم. فالمحسن يعفو ويزيل الغل من قلبه ويترك الإساءة والإعتداء على من ظلمهم بل ويحسن إليهم ويعمل في إرضائهم.
قال الله تعالى: "وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ"
وبعد أن بيّن الله تعالى ما كان بينه وبين عباده وما كان بين عباده بعضهم مع بعض في الآيات السابقة، شرع تبارك وتعالى في هذه الأية في بيان ما كان في العبد مع نفسه: فذكر أن من عباده من ارتكب المظالم والسيئات مع أن ارتكابهم في الحقيقة ظلم على أنفسهم. فعباد الله بادروا إلى الاعتراف بالذنوب وسارعوا إلى الاستغفار والتوبة حتى يغفر الله تعالى لهم.
ثم لما كان هذا مفهما لأنه تعالى يغفر الذنوب جميعا أتبعه تحقيق ذلك ونفي القدرة عليه عن غيره حيث قال تعالى "ومن يغفر الذنوب جميعا؟!"، لأن المخلوق لا يمضي غفرانه لذنب إلا إذا كان مما شرع الله تعالى غفرانه، فكان لا غافر في الحقيقة إلا الله تعالى. ومن الآيات ما يفهم قدرة الله على عباده حيث إنه تعالى يحرك قلوب عباده ويقلبها من الظلم إلى العتراف بالذنب ومن الغضب والغل إلى العفو والاحسان. فيتوبوا إلى الله تعالى وتركوا المظالم والذنوب ولم يصروا أو يداوموا عليها لعلمهم أن ذلك ممنوع.
والأية تبين لنا أن المتقين ليسوا الذين لا يذنبون ولا يظلمون، بل ارتكبوا المظالم والذنوب إلا أنهم حينذاك ذكروا الله تعالى وشرعوا إلى الاستغفار والتوبة إليه فغفر الله تعالى لهم. فالإنسان بطبيعته يخطئ ويظلم نفسه والآخرين والله تعالى برحمته يفتح أبواب التوبة والمغفرة لمن تاب واستغفر.
وذكره تعالى الفاحشة مع الظلم له أسراره، منها أن من فعل الفاحشة—التي هي الذنب الكبير—كان ظالما على نفسه، لأن ارتكاب الفاحشة يترتب عليه وقوع العذاب من الله تعالى والفتنة منه، وهذا ظلم على النفس، والعياذ بالله تعالى.
قال الله تعالى: "أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ"
بين سبحانه وتعالى أن من اتصفوا بهذه الصفات كانوا يستحقون المغفرة منه والجنة وهم خلود فيها، وهذا مصداق قوله تعالى "وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنات عرضها السموات والأرض أعدت للمتقين". فبدأ بالبشارة وهي الجنة والمغفرة وختم بنفس البشارة.
تفسير الآيات
قوله تعالى: "وسارعوا إلى مغفرة من ربكم"
والمسارعة المبادرة، وهي مفاعلة، أي سارعوا إلى ما يوجب المغفرة وهي التقوى ولا يكون ذلك إلا بطاعة الله وطاعة رسوله.
قال أنس بن مالك ومكحول في تفسير "سارعوا إلى مغفرة من ربكم" معناه إلى تكبيرة الإحرام يعني في الصلاة. وقال علي بن أبي طالب: إلى أداء الفرائض. وقال عثمان بن عفان: إلى الإخلاص. وقال الكلبي: إلى التوبة من الربا. وقيل: إلى الثبات في القتال. وقيل غير ذلك. والآية عامة في الجميع. ومعنى الأية شبيه بمعني قوله تعالى "فاستبقوا الخيرات" التي في سورة البقرة الأية 148.
قوله تعالى: "وجنة عرضها السموات والأرض"
أي كعرضهما، بحـذف المضاف وذلك للتأكيد والتحقيق كما في قوله تعالى في سورة لقمان الأية 28 "ما خلقكم ولا بعثكم إلا كنفس واحدة" أي إلا كخلق نفس واحـدة وبعثها.
واختلف العلماء في تأويله. فقال ابن عباس: تقرن السموات والأرض بعضها إلى بعض كما تبسط الثياب ويوصل بعضها ببعض، فذلك عـرض الجنة ولا يعلم طولها إلا الله، وهذا قول الجمهور. وذلك لا ينكر فإن في حديث أبي ذر عن النبي صلى الله عليه وسلم "ما السماوات السبع مع الكرسي إلا كحلقة ملقاة بأرض فلاة وفضل العرش على الكرسي كفضل الفلاة على الحلقة" (أخرجه ابن حبان في صحيحه). فعن ابن مسعود أن الرسول الله صلى الله عليه وسلم قال إنّي لَأعْلم آخر أَهْل النَّارِ خروجا منها وآخر أهل الْجنة دخولا الْجَنة رجل يخرج من النار حبوا فيقول اللَّهُ تبارك وتعالى له اذْهب فادخل الْجنة فيأتيها فيخَيّل إليه أنها ملْأَى فيرجع فيقول يَا رب وجدْتها مَلْأَى فيقول اللَّهُ تبارك وَتعالى لَه اذهب فادخل الْجنَّة قال فيأْتيها فيخيل إليه أنها ملْأَى فيرجع فيقول يا رب وجدْتها ملْأَى فيقول اللّه له اذهب فادخل الْجنة فإن لك مثل الدنيا وعشرة أمثالها أو إن لك عشرة أمثال الدنيا (رواه مسلم). فهذه مخلوقات أعظم بكثير من السموات والأرض, فقدرة الله أعظم من ذلك كله.
ونبه تبارك وتعالى بالعرض على الطول لأن الغالب أن الطول يكون أكثر من العرض. والطول إذا ذكر لا يدل على قدر العرض. قال الزهري: إنما وصف عرضها, فأما طولها فلا يعلمه إلا الله. وهذا كقول تعالى في سورة الرحمن الأية 54 "متكئين على فرش بطائنها من إستبرق..." فوصف البطانة بأحسن ما يعلم من الزينة, إذ معلوم أن الـظواهر تكون أحسن واتقن من البطائن. وقد قال العرب: بلاد عريضة وفلاة عريضة, أي واسعة. وقال قوم: الكلام جار على مقطع العرب من الاستعارة، فلما كانت الجنة من الاتساع والانفساح في غاية قصوى حسنت العبارة عنها بعرض السموات والأرض، كما تقول للرجل: هذا بحر, ولشخص كبير من الحـيوان: هذا جبل. ولم تقصد الآية تحـديد العرض, ولكن أراد بذلك أنها أوسع شيء رأيتموه.
وذكره تعالى وسعة جنته التي أعدها لعباده المتقين من أنها أوسع شيء يعرفه الناس، مع أن حقيقتها أوسع وأكبر من ذلك، فيه حكم كثيرة منها أنه ليس لأحد أن يعتقد أن الجنة أعدها الله تعالى خاصة له ولقومه دون المؤمنين الآخرين بمجرد الاختلافات في فروع الدين بينهم، بل بيًّن أن عباده ما داموا يتقون الله تعالى فيستحقون الجنة، وهذا من باب تقليل الكثير أو تضييق الواسع، وهو ممنوع.
قوله تعالى: "أعدت للمتقين"
أتى بصيغة الماضي، لذا ذهب به عامة العلماء إلى أن الجنة مخلوقة موجودة، وهو نص حديث الإسراء وغيره في الصحيحين وغيرهما حيث أن الرسول دخل فيها وبيّن أحوالها والنعم التي كانت فيها. وقالت المعتزلة إنهما غير مخلوقتين في وقتنا, وإن الله تعالى إذا طوى السموات والأرض ابتدأ خلق الجنة والنار حيث شاء، لأنهما دار جزاء بالثواب والعقاب, فخلقتا بعد التكليف في وقت الجزاء، لئلا تجتمع دار التكليف ودار الجزاء في الدنيا, كما لم يجتمعا في الآخرة. والمعتمد هو مذهب الجمهور.
قوله تعالى: "الذين ينفقون في السراء والضراء"
والضراء هو العسر كذا قاله ابن عباس والكلبي ومقاتل. وقال عبيد بن عمير والضحاك السراء والضراء الرخاء والشدة، ويقال في حال الصحة والمرض. وقيل في السراء يعني في الحياة وفي الضراء يعني يوصي بعد الموت. وقيل في السراء في العرس والولائم وفي الضراء في النوائب والمآتم. وقيل في السراء النفقة التي تسركم مثل النفقة على الأولاد والقرابات، والضراء على الأعداء. ويقال في السراء ما يضيف به الفتى ويهدي إليه، والضراء ما ينفقه على أهل الضر ويتصدق به عليهم. والأية تعم كل ذلك.
قوله تعالى: "والكاظمين الغيظ"
كظم غيظه أي سكت عليه ولم يظهره مع قدرته على إيقاعه بعدوه. وكظمت السـقاء أي ملئته وسددت عليه, والكظامة ما يسد به مجرى الماء. ومنه الكظام للسير الذي يسد به فم الزق والقربة، وكظم البعير جرته إذا ردها في جوفه. وقد يقال لحـبسه الجرة قبل أن يرسلها إلى فيه "كظم"، حكاه الزجـاج. يقال: كظم البعير والناقة إذا لم يجترا، ومنه رجل كظيم ومكظوم إذا كان ممتلئا غما وحزنا. وفي التنزيل في سورة يوسف الأية 84 "...وابيضت عيناه من الحزن فهو كظيم"، وفي سورة النحل الأية 58 "...ظل وجهه مسودا وهو كظيم"، وفي سورة القلم الأية 48 "...إذ نادى وهو مكظوم".
والغيظ أصل الغضب, وكثيرا ما يتلازمان لكن فرقان ما بينهما أن الغيظ لا يظهر على الجوارح, بخلاف الغضب فإنه يظهر في الجوارح مع فعل ما لا بد. ولهذا جـاء إسناد الغضب إلى الله تعالى إذ هو عبارة عن أفعاله في المغضوب عليهم. وقد فسر بعض الناس الغيظ بالغضب وليس بجيد. والله تعالى أعلم.
قوله تعالى: "والعافين عن الناس"
فالعفو عن الناس أجل ضروب فعل الخير حيث يجوز للإنسان أن يعفو وحيث يتجـه حقه. وكل من استحـق عقوبة فتركت له فقد عفي عنـه.
واختُلف في معنى "عن الناس". فقال بعضهم هم المماليك قال إذ هم الخدمة فهم يذنبون كثيرا والقدرة عليهم متيسرة, لإنفاذ العقوبة سهل، فلذلك مثل هذا المفـر به. وروي عن ميمون بن مهران أن جاريته جـاءت ذات يوم بصحـفة فيها مرقة حارة, وعنده أضياف فعثرت فصبت المرقة عليه, فأراد ميمون أن يضربها, فقالت الجارية: يا مولاي استعمل قوله تعالى "والكاظمين الغيظ". فترك الغضب وقال لها: قد فعلت. فقالت اعمل بما بعده "والعافين عن الناس". فقال قد عفوت عنك. فقالت الجارية "والله يحب المحسنين". قال ميمون قد أحسنت إليك, فأنت حرة لوجـه الله تعالى. وروي عن الأحنف بن قيس مثله. وقال زيد بن سلم "والعافين عن الناس" عن ظلمهم وإساءتهم، وهذا عام وهو ظاهر الآية.
وقال مقاتل بن حيان في هذه الآية، بلغنا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال عند ذلك "إن هؤلاء من أمتي قليل إلا من عصمه الله وقد كانوا كثيرا في الأمم التي مضت". فمدح الله تعالى الذين يغفرون عند الغضب وأثنى عليهم فقال في سورة الشورى الأية 37 "وإذا ما غضبوا هم يغفرون". وأثنى على الكاظمين الغيظ بقوله هنا.
ووردت في كظم الغيظ والعفو عن الناس وملك النفس عند الغضب أحاديث، وذلك من أعظم العبادة وجهاد النفس. فقال صلى الله عليه وسلم: "ليس الشديد بالصرعة ولكن الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب" (متفق عليه عن أبي هريرة). وقال صلى الله عليه وسـلم "ما من جرعة أعظم أجرا عند اللَّه من جرعة غيظ كظمها عبد ابتغاء وجه اللَّه" (أخرجه ابن ماجه). وقال "من كظم غيظا وهو قادر على أن ينفذه دعاه اللَّهُ عز وجل على رءوس الخلائق يوم القيامة حتى يخيره اللهُ من الحور الْعين ما شاء" (أخرجه أبو داود والترمذي وقال حديث حسن غريب).
وفي القرآن لن نجد الأمر بطلب العفو عن ظلم وإساءة بين الناس، بل نجد الأمر بإعطاء العفو والصفح عن الناس. فقد قال تعالى في سورة الأعراف الأية 199 "خذ العفو وأمر بالعرف واعرض عن الجاهلين".
وأمر الله عباده بأمر قد بدأ بنفسه، وهو تعالى سمى ذاته عفوا غفورا غفارا توابا. وقال تعالى في سورة الشورى الأية 34 "...ويعف عن كثير" وذلك برحمته دون أن يتقدمه العبد بطلبه، وبين تعالى في سورة هود الأية 114"...إن الحسنات يذبهن السيئآت..."، ووعد المغفرة لمن تاب وعمل صالحا حيث قال في سورة الزمر الأية 53 "قل يا عبادي الذين أسرفوا على أنفسهم لا تقنطوا من رحمة الله إن الله يغفر الذنوب جميعا إنه هو الغفور الرحيم". وهذا—طبعا—غير الشرك بالله تعالى الذي هو ظلم عظيم وذنب لا يغتفر حيث قال تعالى في سورة لقمان الأية 13 "... لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم" وقال في سورة النساء الأية 48 "إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء ومن يشرك بالله فقد افترى إثما عظيما" وقال في سورة النساء الأية 116 "إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء ومن يشرك بالله فقد ضل ضلالا بعيدا".
اللهم نعم وجدنا الأمر بطلب العفو بمظلمة عملناها أو بمعصية ارتكبناها في الأحاديث الصحيحة المرفوعة إلى النبي صلى الله عليه وسلم كالمروي عن أبي هريرة فيما أخرجه البخاري في صحيحه والبيهقي في سننه" من كانت له مظلمة لأحد من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه".
فالظالم والعاصي يجب عليه أن يستغفر الله العظيم ويتوب إليه، وإذا تعلقت المظلمة والمعصية بحق آدمي فطلب العفو منه لازم وواجب. والذي أتاه أخوه طالب العفو فإعطاء العفو والصفح عنه في حقه واجب. والجزاء من جنس العمل. فمن عفا وصفح عن أخيه فله العفو والمغفرة من الله تعالى. قال الله تعالى في سورة النساء الأية "إن تبدوا خيرا أو تخفوه أو تعفوا عن سوء فإن الله كان عفوا قديرا".
قوله تعالى: "والله يحب المحسنين".
والمحسنون هم الذين يتقون وينفقون في السراء والضراء ويكظمون غيظهم ويعفون عن الناس. وكان الله يحبهم والحب يستلزم الرضا ولا شيء أشد رغبة فيه للعبد المؤمن من مرضاة ربه.
قوله تعالى: "والذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم".
ذكر الله تعالى في هذه الآية صنفا, هم دون الصنف الأول فألحقهم به برحمته ومنه، فهؤلاء هم التوابون. قال ابن عباس في رواية عطاء: نزلت هذه الآية في نبهان التمار—وكنيته أبو مقبل—أتته امرأة حسناء باع منها تمرا, فضمها إلى نفسـه وقبلها فندم على ذلك, فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فذكر ذلك له، فنزلت هذه الآية. وذكـر أبو داود الطيالسي في مسنده عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: حـدثني أبو بكر أن الرسول صلى الله عليه وسلم قال: "ما من عبد يذنـب ذنبا ثم يتوضأ ويصلي ركعتين ثم يستغفر الله إلا غفر له"،- ثم تلا هذه الآية - "والذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم ذكروا الله فاستغفروا لذنوبهم" - الآية, والآية الأخرى في سورة النساء الأية 110- "ومن يعمل سوءًا أو يظلم نفسه". وخرجه الترمذي وقال حديث حـسن.
وقد تنزل الآية بسبب خاص ثم تتناول جميع من فعل ذلك أو أكثر منه. وقد قيل: إن سبب نزولها أن ثقيفيا خرج في غزاة وخلف صاحبا له أنصاريا على أهله, فخانه فيها بأن اقتحم عليها فدفعت عن نفسها فقبل يدها, فندم على ذلك فخرج يسيح في الأرض نادما تائبا، فجاء الثقفي فأخبرته زوجته بفعل صاحبه, فخرج في طلبه فأتى به إلى أبي بكر وعمر رجـاء أن يجد عندهما فرجا فوبخاه، فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فأخبره بفعله، فنزلت هـذه الآية. والعموم أولى للحديث.
وقال النبي صلى الله عليه وسلم " أن رجلا أذنب ذنبا فقال رب إني أذنبت ذنبا أو قال عملت عملا ذنبا فاغفره فقال عز وجل عبدي عمل ذنبا فعلم أن له ربا يغفر الذنب ويأخذ به قد غفرت لعبدي ثم عمل ذنبا آخر أو أذنب ذنبا آخر فقال رب إني عملت ذنبا فاغفره فقال تبارك وتعالى علم عبدي أن له ربا يغفر الذنب ويأخذ به قد غفرت لعبدي ثم عمل ذنبا آخر أو أذنب ذنبا آخر فقال رب إني عملت ذنبا فاغفره فقال علم عبدي أن له ربا يغفر الذنب ويأخذ به قد غفرت لعبدي فليعمل ما شاء" (أخرجه أحمد).
والفاحشة تطلق على كل معصية, وقد كثر اختصاصها بالزنا حتى فسر جابر بن عبدالله والسدي هذه الآية بالزنا. و "أو" في قوله: "أو ظلموا أنفسهم" قيل هي بمعنى الواو، والمراد ما دون الكبائر.
قوله تعالى: "ذكروا الله".
يعني يذكرون الجزاء من الله للمحسنين والمسيئين فيخافون من عقابه يستحيون منه ثم يرجعون من الذنوب إلى التوبة ومن العقاب إلى الرحمة.
قوله تعالى: "فاستغفروا لذنوبهم".
أي طلبوا الغفران لأجـل ذنوبهم. فالاستغفار عظيم وثوابه جسيم, حتى لقد روى أبو داود عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال "من قال استغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه، غفر له، وإن كان قد فر من الزحف".
نقول إن الاستغفار المطلوب هو الذي يحل عقد الإصرار ويثبت معناه في الجنان, لا التلفظ باللسان. فأما من قال بلسانه: استغفر الله, وقلبه مصر على معصيته فاستغفاره ذلك يحتاج إلى استغفار, وصغيرته لاحقة بالكبائر. وروي عن الحسن البصري أنه قال: استغفارنا يحـتاج إلى استغفار. فعجبا، هذا يقول في زمانه, فكيف في زماننا هذا الذي يرى فيه الإنسان مكبا على الظلم؟! حريصا عليه لا يقلع, والسبحة في يده زاعما أنه يستغفر الله من ذنبه وذلك استهزاء منه واستخفاف. وفي التنزيل في سورة البقرة الأية 231 قال تعالى "ولا تتخذوا آيات الله هزوا". وقال النبي صلى الله عليه وسلم وهو على المنبر "ارحموا ترحموا واغفروا يغفر لكم ويل لأقماع القول ويل للمصرين الذين يصرون على ما فعلوا وهم يعلمون". رواه أحمد وتفرد به.
و قال بعض العلماء عكسه من إنه لو تكرر منهم الذنب تابوا منه. فروى أبو يعلى الموصلي بسنده قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "ما أصر من استغفر وإن عاد في اليوم سبعين مرة".
قوله تعالى: "ولم يصروا على ما فعلوا"
أي ولم يثبتوا ويعزموا على ما فعلوا. وقال مجاهد أي ولم يمضوا. الإصرار هو العزم بالقلب على الأمر وترك الإقلاع عنه. ومنه صر الدنانير أي الربط عليها. قال الحطيئة يصف الخيل: عوابس بالشعث الكماة إذا ابتغوا علاتها بالمحصدات أصرت أي ثبتت على عدوها. وقال قتادة: الإصرار الثبوت على المعاصي. قال الشاعر: "يصر بالليل ما تخفي شواكله* يا ويح كل مصر القلب ختار". قال سهل بن عبدالله: الجاهل ميت, والناسي نائم, والعاصي سكران, والمصر هالك. والإصرار هو التسويف, والتسويف أن يقول: أتوب غدا، وهذا دعوى النفس, كيف يتوب غدا لا يملكه؟! وقال بعض العلماء الإصرار هو أن ينوي أن يتوب فإذا نوى التوبة النصوح خرج عن الإصرار.
قوله تعالى: "وهم يعلمون"
فيه أقوال: فقيل، إن معناه يذكرون ذنوبهم فيتوبون منها. وقيل وهم يعلمون أن الله يعاقب على الإصرار. وقيل وهم يعلمون أنهم إن تابوا تاب الله عليهم. وقيل يعلمون أنهم إن استغفروا غفر الله لهم. و قيل وهم يعلمون أن الإصرار ضار, وأن تركه خير من التمادي. و قيل وهم يعلمون أن لهم ربا يغفر الذنب. وقيل وهم يعلمون أنه لا غافر سوى الله تعالى. وكل هذه الأقوال مصيب ووجيه.
ودلت الآية والحديث على عظيم فائدة الاعتراف بالذنب والاستغفار منه. قال صلى الله عليه وسلم "فإن العبد إذا اعترف بذنب ثم تاب تاب الله عليه" (أخرجاه في الصحيحين). وفي صحيح مسلم عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (والذي نفسي بيده لو لم تذنبوا لذهب الله بكم ولجاء بقوم يذنبون ويستغفرون فيغفر لهم). وقالوا إن هذه فائدة اسم الله تعالى الغفار والتواب.
ثم الذنوب التي يتاب منها إما كفروا غيره, فتوبة الكافر إيمانه مع ندمه على ما سلف من كفره, وليس مجرد الإيمان نفس توبة, وغير الكفر إما حق لله تعالى. وإما حق لغيره, فحق الله تعالى يكفي في التوبة منه الترك، غير أن منها ما لم يكتف الشرع فيها بمجرد الترك بل أضاف إلى ذلك في بعضها قضاة كالصلاة والصوم, ومنها ما أضاف إليها كفارة كالحنث في الأيمان والظاهر وغير ذلك. وأما حقوق الآدميين فلا بد من إيصالها إلي مستحقيها, فإن لم يوجدوا تصدق عنهم, ومن لم يجد السبيل لخروج ما عليه لإعسار فعفو الله مأمول, وفضله مبذول. فكم ضمن من التبعات وبدل من السيئات بالحسنات. وليس على الإنسان إذا لم يذكر ذنبه ويعلمه أن يتوب منه بعينه, ولكن يلزمه إذا ذكر ذنبا تاب منه.
قوله تعالى: "أولئك جزاؤهم مغفرة من ربهم وجنات تجري من تحتها الأنهار خالدين فيها ونعم أجر العاملين".
فخير جزاء العمل الجنة. ومن توفر عندهم هذه المعايير فالجنة له الجزاء الأوفى
الاختتام
فالآيات ذكرت لنا معايير التقوى وهي الانفاق في السراء والضراء وكظم الغيظ وعفو الناس والإحسان وذكر الله والاستغفار وعدم الإصرار على الذنب. فجعلنا الله من المتقين ويجزين بالمغفرة ودخول الجنة النعيم. وصلى الله على سيدنا محمد والحمد لله رب العلمين.
قائمة المرجع
الألوسي (السيد محمود)، روح المعاني في تفسير القرآن العظيم والسبع المثاني، (بيروت: دار الفكر، 1414هـ)
الأندلسي (أبي حيان)، النهر الماد من البحر المحيط، (بيروت: دار الجيل، 1416 هـ)، ط: 1
البخاري (محمد بن إسماعيل)، صحيح البخاري، (بيروت: دار ابن كثير، 1407هـ)، ط: الثالثة
البغدادي (علي بن محمد)، تفسير الخازن المسمى لباب التأويل في معاني التنزيل، (بيروت: دار الفكر)، دت
الترمذي (محمد بن عيسى)، سنن الترمذي، (بيروت:دار إحياء التراث العربي)، دت
التميمي (محمد بن حبان)، صحيح ابن حبان، (بيروت: مؤسسة الرسالة، 1993م) ط: 3
جوهري (طنطاوي)، الجواهر في تفسير القرآن، (بيروت: دار الفكر)
الحاكم النيسابوري (محمد بن عبد الله)، المستدرك على الصحيحين، (بيروت: دار الكتب العلمية، 1990م)، ط: 1
الحراني (ابن تيمية)، التفسير الكبير، (بيروت: دار الكتب العلمية)، دت
حوى (سعيد)، الأساس في التفسير، (دار السلام، 1405 هـ)، دم، ط: 2
السجستاني أبو داود (سليمان بن الأشعث)، سنن أبي داود، (بيروت: دار الفكر)، دت
الشنقيطي (محمد الأمين بن محمد)، أضواء البيان في إيضاح القرآن بالقرآن، (بيروت: دار الفكر، 1415هـ)
الشيباني أبو عبد الله (أحمد بن حنبل)، مسند أحمد، (مصر: مؤسسة القرطبة)، دت
الصابوني (محمد علي)، روائع البيان تفسير آيات الأحكام من القرآن، دم، دت
الطبراني أبو القاسم (سليمان بن أحمد)، المعجم الكبير، (الموصل: مكتبة العلوم والحكم، 1983م)، ط: 3
الطبرسي (الفضل بن الحسن)، مجمع البيان في تفسير القرآن، (بيروت: دار المعرفة، 1406 هـ)، ط: 1
الطوسي (أبو جعفر محمد بن الحسن)، التبيان في تفسير القرآن، (مكتبة الإعلام الإسلامي)، دت، ط: 1
القزويني ابن ماجه (محمد بن يزيد)، سنن ابن ماجة، (بيروت: دار الفكر)، دت
القطان (إبراهيم)، تيسير التفسير، (عمان، 1404هـ)، ط: 1
الكلبي (محمد بن أحمد بن جزي)، التسهيل لعلوم التنزيل، (بيروت: دار الفكر)، دت
النيسابوري (مسلم بن الحجاج)، صحيح مسلم، (بيروت: دار إحياء التراث العربي)،
Langganan:
Postingan (Atom)