"Kiai, saya selalu belajar dengan giat, bahkan menghafalkan, materi yang akan diujikan dalam ulangan. Sementara beberapa teman saya tidak belajar dan membuat contekan." Ujar Anam. "Hasilnya, saya dan teman saya tadi sama-sama mendapat nilai yang bagus".
Kiai Ahid mendengarkan dengan cermat curahan hati muridnya. Sambil tersenyum beliau menanggapi, "Dengan belajar, kamu mendapatkan nilai yang bagus. Sementara dengan mencontek ada temanmu yang juga bisa mendapatkan nilai bagus. Kamu lelah dalam belajarmu, sementara temanmu itu tidak. Rasanya, hal ini memang tidak sepadan"
Kiai Ahid menghela napasnya, "Namun Apakah nilai bagus yang diperoleh dari belajar sama dengan nilai bagus yang diperoleh dari mencontek?! Dengan belajar, kita menjadi bisa. Sementara mencontek seseorang tetap berada di kubangan kebodohan, setinggi apapun nilai yang bisa diperolehnya dalam raport sekolah".
Dalam surah al-Zumar ayat 9, Allah Ta'ala menegaskan bahwa orang yang mengetahui selamanya tidak akan sama dengan orang yang tidak mengetahui. Orang yang mengetahui dibaratkan sebagai orang hidup dan bisa melihat, sementara orang yang bodoh adalah orang mati yang buta dan berada dalam kegelapan (QS. al-Ra'd ayat 16, dan Fathir ayat 19-22). Ilmu adalah kebaikan, dan kebodohan adalah keburukan. Dalam ayat 100 surah al-Maidah, Allah Ta'ala mengukuhkan bahwa sebanyak apapun keburukan yang ada, kebaikan akan selalu menjadi pemenangnya.
Di sekolah, demikian juga di tempat kerja, mungkin kita dapati ada orang yang malas dan menyia nyiakan amanah yang diembannya. Orang ini justru diberikan peluang dan penghargaan yang sebenarnya tidak layak ia peroleh. Di waktu yang sama, kita merasa sudah belajar dan bekerja dengan baik, namun penghargaan yang kita dapati tidaklah sepadan. Hal ini bisa memunculkan perasaan tidak nyaman di hati kita.
Namun kita jangan lupa, bahwa Allah Ta'ala Maha Melihat lagi Maha Bijaksana. Segala kebaikan dan keburukan yang dilakukan hamba-Nya, pastilah Dia mengetahuinya. Kita belajar agar menjadi orang yang mengetahui, dan kita bekerja dalam rangka mengemban amanah yang kita emban. Kita tidak usah repot mengharapkan penghargaan dari manusia atas apa yang kita lakukan, karena kita belajar dan bekerja karena Allah Ta'ala bukan pamrih manusia.
Biarlah orang lain berlaku malas, tidak menunaikan amanahnya, atau bahkan menyelewengkannya. Biarlah kita tetap konsisten dalam mengemban amanah dan melakukan kebaikan. Karena kebaikan apapun yang kita lakukan, manfaatnya akan kembali kepada diri kita sendiri. Dalam surah al-Taubah ayat 105 Allah Ta'ala berfirman, "Katakanlah: Beramallah (bekerjalah) kalian! Maka Allah akan melihat amalmu (pekerjaanmu), demikian juga rasul-Nya dan seluruh mukmin (akan melihat amalmu). Kalian akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui segala yang ghaib dan yang nampak, kemudian Dia akan memaparkan apa-apa yang kalian telah kerjakan". (andiwowo@yahoo.com)
(dimuat di majalah CERDASIN)
Minggu, 23 Januari 2011
Selasa, 30 November 2010
Mereka (Juga) Anak Kita
Sore itu angin semilir berhembus. Ohim duduk di bawah pohon mangga sambil memandangi anak-anak kecil bermain di halaman masjid. Cuaca yang cerah tidak bisa menutupi kegalauan yang nampak di wajah Ohim.
Kiai Ahid melihat Ohim yang murung, iapun menghampirinya. “Kok murung, Him? Nampaknya ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu” Sapa Kiai Ahid.
Ohim bukan santri, usianya sudah cukup tua untuk disebut sebagai santri. Ia diminta kiai Ahid untuk tinggal di pesantren dan membantu beliau mengurus santri-santri.
“Melihat anak-anak itu bermain, saya jadi teringat anak-anak saya...” Jawab Ohim dengan lirih. “Semenjak terpisah dari istri, saya tidak pernah lagi mendengar kabar mereka”.
Kiai Ahid menghela napas dan tersenyum, “Kau lihat anak-anak itu sedang bermain?”. Ohim menganggukkan kepalanya mengiyakan. “Anak-anak itu ada di sini, di dekatmu. Kau melihatnya, bisa menyentuhnya dan mendengar suaranya. Anggap saja mereka adalah anak-anakmu. Sayangi mereka, kasihi mereka, bantulah mereka, dan jadilah teman sekaligus orang tua bagi mereka”. Kiai Ahid kembali tersenyum. “Kemudian tawakkallah kepada Allah Ta'ala. Semoga anak-anakmu yang ada di tempat yang antah berantah itu mendapati orang-orang yang ikhlas menyayangi mereka, mengasihi dan membantu mereka”.
Tersentak dengan jawaban kiai Ahid, Ohim tersenyum, dan bergumam, “Betul Kiai...Saya akan memperlakukan santri dan anak-anak yang saya temui sebagaimana saya memperlakukan anak kandung saya sendiri. Saya yakin, anak-anak kandung saya juga akan mendapatkan perlakuan yang sama”.
Guru yang baik, akan memperlakukan anak didiknya selayaknya ia memperlakukan anak kandungnya sendiri. Ia akan mengajar dengan penuh kerelaan (karena guru adalah relawan), berbahagia dengan prestasi muridnya, dengan berupaya memperbaiki kekurangan dan kesalahan muridnya. Guru yang baik menganggap anak, siapapun orang tuanya, sebagai anugerah sekaligus ujian.
Allah Ta'ala menyediakan pahala yang besar bagi mereka yang bisa merawat dan mendidik anak dengan baik (QS. Al-Anfal ayat 28, al-Kahf ayat 46). Menjadi guru adalah ibadah yang menenteramkan hati. Selamat beribadah di sekolah...(dimuat di majalah cerdasin edisi 05/Desember 2010)
Kiai Ahid melihat Ohim yang murung, iapun menghampirinya. “Kok murung, Him? Nampaknya ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu” Sapa Kiai Ahid.
Ohim bukan santri, usianya sudah cukup tua untuk disebut sebagai santri. Ia diminta kiai Ahid untuk tinggal di pesantren dan membantu beliau mengurus santri-santri.
“Melihat anak-anak itu bermain, saya jadi teringat anak-anak saya...” Jawab Ohim dengan lirih. “Semenjak terpisah dari istri, saya tidak pernah lagi mendengar kabar mereka”.
Kiai Ahid menghela napas dan tersenyum, “Kau lihat anak-anak itu sedang bermain?”. Ohim menganggukkan kepalanya mengiyakan. “Anak-anak itu ada di sini, di dekatmu. Kau melihatnya, bisa menyentuhnya dan mendengar suaranya. Anggap saja mereka adalah anak-anakmu. Sayangi mereka, kasihi mereka, bantulah mereka, dan jadilah teman sekaligus orang tua bagi mereka”. Kiai Ahid kembali tersenyum. “Kemudian tawakkallah kepada Allah Ta'ala. Semoga anak-anakmu yang ada di tempat yang antah berantah itu mendapati orang-orang yang ikhlas menyayangi mereka, mengasihi dan membantu mereka”.
Tersentak dengan jawaban kiai Ahid, Ohim tersenyum, dan bergumam, “Betul Kiai...Saya akan memperlakukan santri dan anak-anak yang saya temui sebagaimana saya memperlakukan anak kandung saya sendiri. Saya yakin, anak-anak kandung saya juga akan mendapatkan perlakuan yang sama”.
Guru yang baik, akan memperlakukan anak didiknya selayaknya ia memperlakukan anak kandungnya sendiri. Ia akan mengajar dengan penuh kerelaan (karena guru adalah relawan), berbahagia dengan prestasi muridnya, dengan berupaya memperbaiki kekurangan dan kesalahan muridnya. Guru yang baik menganggap anak, siapapun orang tuanya, sebagai anugerah sekaligus ujian.
Allah Ta'ala menyediakan pahala yang besar bagi mereka yang bisa merawat dan mendidik anak dengan baik (QS. Al-Anfal ayat 28, al-Kahf ayat 46). Menjadi guru adalah ibadah yang menenteramkan hati. Selamat beribadah di sekolah...(dimuat di majalah cerdasin edisi 05/Desember 2010)
Selasa, 23 November 2010
ISLAM INSTITUSIONAL: REFLEKSI SEORANG SANTRI
Slowly but surely, semoga kaum muslimin bisa melaksanakan Islam dengan lebih baik. Nilai, norma, dan ajaran Islam semoga bisa secara konsisten dilaksanakan di Indonesia.
Prof. Bustanul Arifin, mantan hakim Agung Mahkamah Agung yang menjadi dosen saya pada mata kuliah sejarah hukum Islam di Indonesia, menyatakan bahwa ada kecenderungan peningkatan prosentase hukum positif di Indonesia (yang merupakan warisan kolonial Belanda) yang diselaraskan dengan fiqh. UU Perkawinan sudah diselaraskan dengan fiqh. Lalu ada juga UU Zakat, Waris dan seterusnya.
Bagi mereka yang sering ke terminal pulo gadung akan mendapati bau pesing akibat sebagian awak bus yang pipis sembarangan (dan tidak istinja). Fenomena pulo gadung ini adalah pengantar dari data yang saya sampaikan berikut ini:
88% penduduk Indonesia beragam Islam (termasuk mereka yang pipisnya tidak cebok). 25% kaum muslimin di Indonesia (22% total populasi Indonesia) mampu membaca Alquran dengan tajwid yang baik dan benar (di tempat saya, mereka yang sudah menjadi murabby banyak yang belum mengetahui gharaib ayat seperi isymam, imalah, dan tafkhim).
10% dari mereka yang membaca Alquran dengan baik (2% dari total polpulasi penduduk Indonesia) mampu menerjemahkan Alquran dan memahaminya, berapa banyak Quraish Shihab atau Mustain Syafi'i di Indonesia?! Tidak lebih dari seperempatnya yang artinya hanya 0,5% penduduk Indonesia.
Lalu dari mereka yang mampu menerjemahkan dan memahami Alquran, berapa yang konsisten mengamalkannya seperti ust. Didin Hafiduddin dan kiai Ali Mustafa Yaqub? Tidak lebih dari 0,005%
Mari perbandingkan dengan mereka yang menjadi "sarjana barat" yang dengan mudah mengutip dan menafsirkan Alquran tanpa ilmu dan pertanggungjawaban moral kepada Allah?? Maka bersabarlah dalam memperbaiki diri, keluarga dan umat Islam.
Kiai Ahid pernah berkelakar: kalau kondisi pemahaman keislaman umat masih kayak gini, lalu kita ngotot menginstitusikan Islam dalam kehidupan bernegara, apa elok?
Data di atas bukan hasil unduhan dari BPS, tapi hasil "pembacaan" langsung di masyarakat. Valid? Nampaknya margin errornya sangat tinggi. lha wong BPS saja sering dikritik dan tidak dipercaya.
Pada tahun 2005 saya pernah melakukan survey di kalangan eksekutif muda yang memiliki intensitas pengajian lebih dari sekali dalam seminggu, dengan sebaran lokasi di jabotabek. Pertanyaannya: apa itu hadis shahih?
Hasilnya addalah 0% menjawab benar, dan sisanya (100%) menjawab ngawur. Tragis sekali! padahal mereka ini adalah orang yang sedemikian semangat "mendiskusikan" Islam dalam perspektif mereka ("menurut saya begini", "kayaknya begitu", dan seterusnya tanpa mengutip ayat atau hadis yang baru saja didapatnya sebagai penyokong argumentasinya) .
Bahkan mereka yang seringkali menyatakan "kembalilah kepada Alquran dan hadis, seringkali belum pernah "mengkhatamkan" pembacaan kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Kalau anda sedih, saya malah pingin ketawa tersedu-sedu. ..
Aa Gym pernah berpesan: Indonesia adalah lahan yang luas untuk berdakwah. Ust. Hidayat Nurwahid berkata: harapan itu masih ada...
Prof. Bustanul Arifin, mantan hakim Agung Mahkamah Agung yang menjadi dosen saya pada mata kuliah sejarah hukum Islam di Indonesia, menyatakan bahwa ada kecenderungan peningkatan prosentase hukum positif di Indonesia (yang merupakan warisan kolonial Belanda) yang diselaraskan dengan fiqh. UU Perkawinan sudah diselaraskan dengan fiqh. Lalu ada juga UU Zakat, Waris dan seterusnya.
Bagi mereka yang sering ke terminal pulo gadung akan mendapati bau pesing akibat sebagian awak bus yang pipis sembarangan (dan tidak istinja). Fenomena pulo gadung ini adalah pengantar dari data yang saya sampaikan berikut ini:
88% penduduk Indonesia beragam Islam (termasuk mereka yang pipisnya tidak cebok). 25% kaum muslimin di Indonesia (22% total populasi Indonesia) mampu membaca Alquran dengan tajwid yang baik dan benar (di tempat saya, mereka yang sudah menjadi murabby banyak yang belum mengetahui gharaib ayat seperi isymam, imalah, dan tafkhim).
10% dari mereka yang membaca Alquran dengan baik (2% dari total polpulasi penduduk Indonesia) mampu menerjemahkan Alquran dan memahaminya, berapa banyak Quraish Shihab atau Mustain Syafi'i di Indonesia?! Tidak lebih dari seperempatnya yang artinya hanya 0,5% penduduk Indonesia.
Lalu dari mereka yang mampu menerjemahkan dan memahami Alquran, berapa yang konsisten mengamalkannya seperti ust. Didin Hafiduddin dan kiai Ali Mustafa Yaqub? Tidak lebih dari 0,005%
Mari perbandingkan dengan mereka yang menjadi "sarjana barat" yang dengan mudah mengutip dan menafsirkan Alquran tanpa ilmu dan pertanggungjawaban moral kepada Allah?? Maka bersabarlah dalam memperbaiki diri, keluarga dan umat Islam.
Kiai Ahid pernah berkelakar: kalau kondisi pemahaman keislaman umat masih kayak gini, lalu kita ngotot menginstitusikan Islam dalam kehidupan bernegara, apa elok?
Data di atas bukan hasil unduhan dari BPS, tapi hasil "pembacaan" langsung di masyarakat. Valid? Nampaknya margin errornya sangat tinggi. lha wong BPS saja sering dikritik dan tidak dipercaya.
Pada tahun 2005 saya pernah melakukan survey di kalangan eksekutif muda yang memiliki intensitas pengajian lebih dari sekali dalam seminggu, dengan sebaran lokasi di jabotabek. Pertanyaannya: apa itu hadis shahih?
Hasilnya addalah 0% menjawab benar, dan sisanya (100%) menjawab ngawur. Tragis sekali! padahal mereka ini adalah orang yang sedemikian semangat "mendiskusikan" Islam dalam perspektif mereka ("menurut saya begini", "kayaknya begitu", dan seterusnya tanpa mengutip ayat atau hadis yang baru saja didapatnya sebagai penyokong argumentasinya) .
Bahkan mereka yang seringkali menyatakan "kembalilah kepada Alquran dan hadis, seringkali belum pernah "mengkhatamkan" pembacaan kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Kalau anda sedih, saya malah pingin ketawa tersedu-sedu. ..
Aa Gym pernah berpesan: Indonesia adalah lahan yang luas untuk berdakwah. Ust. Hidayat Nurwahid berkata: harapan itu masih ada...
silabus Metode Memahami Hadis
A.Identitas Mata Kuliah (MK)
1.Mata Kuliah : Metodologi Memahami Hadis
2.Kode MK : ……..
3.Semester : 7 (tujuh)
4.MK Prasyarat : Ulumul Hadis (1 dan 2)
Takhrij Hadis
Kritik Sanad
Kritik Matan
B.Komponen Kegiatan
1.Perkuliahan : 1 (satu) SKS
2.Praktikum : 1 (satu) SKS
Jumlah : 2 (dua) SKS
C.Tujuan
Mahasiswa dapat menjelaskan tahapan dan metodologi dalam memahami hadis
D.Topik Inti (Materi Ajar)
1.Nabi Muhammad sebagai manusia dan rasul (basyar mitslukum yuha ilayh)
2.Pemahaman Tekstual dan Kontekstual (konsepsi fiqhul hadis)
3.Asbabul Wurud
4.Memahami hadis berdasarkan tafsiran ayat Alquran dan pendapat ulama
5.Memahami hadis secara linguistik (hakikat-majaz, zhahir-muawwal)
6.Hadis dan tradisi Arab (sosiologis-antropologis)
7.Memahami Hadis mukhtalaf 1 (nasikh-mansukh)
8.Memahami Hadis mukhtalaf 2 (Tarjih)
9.Memahami Hadis mukhtalaf 3 (tawfiq/jama’ dan tawaqquf)
10.Kajian hadis tematis
1.Mata Kuliah : Metodologi Memahami Hadis
2.Kode MK : ……..
3.Semester : 7 (tujuh)
4.MK Prasyarat : Ulumul Hadis (1 dan 2)
Takhrij Hadis
Kritik Sanad
Kritik Matan
B.Komponen Kegiatan
1.Perkuliahan : 1 (satu) SKS
2.Praktikum : 1 (satu) SKS
Jumlah : 2 (dua) SKS
C.Tujuan
Mahasiswa dapat menjelaskan tahapan dan metodologi dalam memahami hadis
D.Topik Inti (Materi Ajar)
1.Nabi Muhammad sebagai manusia dan rasul (basyar mitslukum yuha ilayh)
2.Pemahaman Tekstual dan Kontekstual (konsepsi fiqhul hadis)
3.Asbabul Wurud
4.Memahami hadis berdasarkan tafsiran ayat Alquran dan pendapat ulama
5.Memahami hadis secara linguistik (hakikat-majaz, zhahir-muawwal)
6.Hadis dan tradisi Arab (sosiologis-antropologis)
7.Memahami Hadis mukhtalaf 1 (nasikh-mansukh)
8.Memahami Hadis mukhtalaf 2 (Tarjih)
9.Memahami Hadis mukhtalaf 3 (tawfiq/jama’ dan tawaqquf)
10.Kajian hadis tematis
معايير التقوى تفسير سورة آل عمران الأية 133 إلى 136
الكاتب: أندي رحمان الماجستير
(tulisan telah dimuat di Jurna Studi Al-qur'an, vol. VI, no 1 Januari 2010)
مقدمة
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات. هو الله الذي لا إله إلاّ هو الواحد الأحد الفرد الصّمد، الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد. فضاعف الله دائم صلواته وسلامه على محمد سيد المرسلين، وعلى آله الطاهرين، وأزواجه أمهات المؤمنين، وأقربائه المؤمنين، وأصحابه الذين هم نجوم الهداية واليقين، وجميع أمته إلى يوم الدين.
فإنه قد علم من الدين بالضرورة أن التقوى هو وسيلة لنيل سعادة الدارين. فمن ثم نحتاج إلى بيان كاف عن التقوى لنفهم ثم نعمل بمقتضاه. فتعريف التقوى معلوم سمعناه كثيرا في الخطابات والمواعظ، وهو امتثال أوامر الله واجتناب نواهيه. ولكن يظهر في التسائل: ما هو معيار التقوى؟
فهذا البُحَيْث المتواضع يعطي لنا تفسير الأية 133 إلى 136 من سورة آل عمران حيث تشمل تلك المعايير كما تحتوي على معلومات كثيرة وقيم يحتاج إليها الناس في حياتهم. فقال تعالى:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)
تحليل الألفاظ
العرض: السعة وقيل هو مقابل الطول وهو مع الطول سعة
السراء والضراء: حالتي اليسر والعسر
الكاظمين الغيظ: الكافين عن إمضائه مع القدرة أو الحابسين عن أن ينفذوه
العافين عن الناس: التاركين عقوبتهم أي عمن ظلمهم
فاحشة: ذنبا قبيحا كالزنا، وقد يطلق على السيئات الكبار على حدتها كما يقال أيضا على البخل والشح
ولم يصروا: أي لم يداوموا بل يقفوا على ما كانوا عليه من الظلم وفعلهم بالفاحشة
تناسب الآيات بعضها مع بعض
قال الله تعالى: "وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ"
في الأية التي قبلها أمر الله تعالى المؤمنين بطاعته وطاعة رسوله حيث قال تعالى "وأطيعوا الله والرسول لعلكم ترحمون". وحقيقة الطاعة امتثال أوامر الله تعالى واجتناب نواهيه كما هو معلوم، والله تعالى حث عباده على المسارعة إلى ذلك وجعل امتثال الطاعة كالمنافسة والمسابقة بينهم حيث إن كل واحد منهم يتسابقون ويتنافسون في طاعته على الآخرين ولا يرضى أن يسبقه أحد في ذلك. ومن هنا نعرف أن المطيعين هم المتقون لأن الطاعة سبب التقوى. ففي هذه الأية بيان ما كان بين الله وعباده من لزوم الطاعة والتقوى والمسارعة فيهما والثناء من الله تعالى على المتقين.
قال الله تعالى: "الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ"
ففي هذه الأية بيان ما كان بين عباده بعضهم بعضا، حيث إن المؤمنين المتقين ينفقون أموالهم في سبيل الله تعالى.
ثم إن الناس في الصراع والمظالم والاختلافات أو المخاصمات بينهم على ثلاثة طبقات، أولاها الكاظمون غيظهم وبغضهم عن ظالميهم أو أعدائهم رغم أنهم يقدرون على إيقاعه بهم، وليس من لوازم كظم الغيظ ترك الغل في القلوب والصفح عن السيئات بل يتركون العقوبة والاعتداء لمجرد كظمهم الغيظ دون أن يقارنوا أنفسهم بالعفو والمسامحة.
وفوق الأولى الطبقة الثانية وهي العفو عن الناس يعني عن ظالميهم وأعدائهم، فأزالوا ما كان في قلوبهم من غل وإرادة على الاعتداء كأنه ليس بينهم وبين أعدائهم اعتداء ولا غيظ، ويمحون آثار ذلك عن قلوبهم حتى لا تذكر. ثم الطبقة الثالثة الإحسان على من ظلمهم واعتدى عليهم. فالمحسن يعفو ويزيل الغل من قلبه ويترك الإساءة والإعتداء على من ظلمهم بل ويحسن إليهم ويعمل في إرضائهم.
قال الله تعالى: "وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ"
وبعد أن بيّن الله تعالى ما كان بينه وبين عباده وما كان بين عباده بعضهم مع بعض في الآيات السابقة، شرع تبارك وتعالى في هذه الأية في بيان ما كان في العبد مع نفسه: فذكر أن من عباده من ارتكب المظالم والسيئات مع أن ارتكابهم في الحقيقة ظلم على أنفسهم. فعباد الله بادروا إلى الاعتراف بالذنوب وسارعوا إلى الاستغفار والتوبة حتى يغفر الله تعالى لهم.
ثم لما كان هذا مفهما لأنه تعالى يغفر الذنوب جميعا أتبعه تحقيق ذلك ونفي القدرة عليه عن غيره حيث قال تعالى "ومن يغفر الذنوب جميعا؟!"، لأن المخلوق لا يمضي غفرانه لذنب إلا إذا كان مما شرع الله تعالى غفرانه، فكان لا غافر في الحقيقة إلا الله تعالى. ومن الآيات ما يفهم قدرة الله على عباده حيث إنه تعالى يحرك قلوب عباده ويقلبها من الظلم إلى العتراف بالذنب ومن الغضب والغل إلى العفو والاحسان. فيتوبوا إلى الله تعالى وتركوا المظالم والذنوب ولم يصروا أو يداوموا عليها لعلمهم أن ذلك ممنوع.
والأية تبين لنا أن المتقين ليسوا الذين لا يذنبون ولا يظلمون، بل ارتكبوا المظالم والذنوب إلا أنهم حينذاك ذكروا الله تعالى وشرعوا إلى الاستغفار والتوبة إليه فغفر الله تعالى لهم. فالإنسان بطبيعته يخطئ ويظلم نفسه والآخرين والله تعالى برحمته يفتح أبواب التوبة والمغفرة لمن تاب واستغفر.
وذكره تعالى الفاحشة مع الظلم له أسراره، منها أن من فعل الفاحشة—التي هي الذنب الكبير—كان ظالما على نفسه، لأن ارتكاب الفاحشة يترتب عليه وقوع العذاب من الله تعالى والفتنة منه، وهذا ظلم على النفس، والعياذ بالله تعالى.
قال الله تعالى: "أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ"
بين سبحانه وتعالى أن من اتصفوا بهذه الصفات كانوا يستحقون المغفرة منه والجنة وهم خلود فيها، وهذا مصداق قوله تعالى "وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنات عرضها السموات والأرض أعدت للمتقين". فبدأ بالبشارة وهي الجنة والمغفرة وختم بنفس البشارة.
تفسير الآيات
قوله تعالى: "وسارعوا إلى مغفرة من ربكم"
والمسارعة المبادرة، وهي مفاعلة، أي سارعوا إلى ما يوجب المغفرة وهي التقوى ولا يكون ذلك إلا بطاعة الله وطاعة رسوله.
قال أنس بن مالك ومكحول في تفسير "سارعوا إلى مغفرة من ربكم" معناه إلى تكبيرة الإحرام يعني في الصلاة. وقال علي بن أبي طالب: إلى أداء الفرائض. وقال عثمان بن عفان: إلى الإخلاص. وقال الكلبي: إلى التوبة من الربا. وقيل: إلى الثبات في القتال. وقيل غير ذلك. والآية عامة في الجميع. ومعنى الأية شبيه بمعني قوله تعالى "فاستبقوا الخيرات" التي في سورة البقرة الأية 148.
قوله تعالى: "وجنة عرضها السموات والأرض"
أي كعرضهما، بحـذف المضاف وذلك للتأكيد والتحقيق كما في قوله تعالى في سورة لقمان الأية 28 "ما خلقكم ولا بعثكم إلا كنفس واحدة" أي إلا كخلق نفس واحـدة وبعثها.
واختلف العلماء في تأويله. فقال ابن عباس: تقرن السموات والأرض بعضها إلى بعض كما تبسط الثياب ويوصل بعضها ببعض، فذلك عـرض الجنة ولا يعلم طولها إلا الله، وهذا قول الجمهور. وذلك لا ينكر فإن في حديث أبي ذر عن النبي صلى الله عليه وسلم "ما السماوات السبع مع الكرسي إلا كحلقة ملقاة بأرض فلاة وفضل العرش على الكرسي كفضل الفلاة على الحلقة" (أخرجه ابن حبان في صحيحه). فعن ابن مسعود أن الرسول الله صلى الله عليه وسلم قال إنّي لَأعْلم آخر أَهْل النَّارِ خروجا منها وآخر أهل الْجنة دخولا الْجَنة رجل يخرج من النار حبوا فيقول اللَّهُ تبارك وتعالى له اذْهب فادخل الْجنة فيأتيها فيخَيّل إليه أنها ملْأَى فيرجع فيقول يَا رب وجدْتها مَلْأَى فيقول اللَّهُ تبارك وَتعالى لَه اذهب فادخل الْجنَّة قال فيأْتيها فيخيل إليه أنها ملْأَى فيرجع فيقول يا رب وجدْتها ملْأَى فيقول اللّه له اذهب فادخل الْجنة فإن لك مثل الدنيا وعشرة أمثالها أو إن لك عشرة أمثال الدنيا (رواه مسلم). فهذه مخلوقات أعظم بكثير من السموات والأرض, فقدرة الله أعظم من ذلك كله.
ونبه تبارك وتعالى بالعرض على الطول لأن الغالب أن الطول يكون أكثر من العرض. والطول إذا ذكر لا يدل على قدر العرض. قال الزهري: إنما وصف عرضها, فأما طولها فلا يعلمه إلا الله. وهذا كقول تعالى في سورة الرحمن الأية 54 "متكئين على فرش بطائنها من إستبرق..." فوصف البطانة بأحسن ما يعلم من الزينة, إذ معلوم أن الـظواهر تكون أحسن واتقن من البطائن. وقد قال العرب: بلاد عريضة وفلاة عريضة, أي واسعة. وقال قوم: الكلام جار على مقطع العرب من الاستعارة، فلما كانت الجنة من الاتساع والانفساح في غاية قصوى حسنت العبارة عنها بعرض السموات والأرض، كما تقول للرجل: هذا بحر, ولشخص كبير من الحـيوان: هذا جبل. ولم تقصد الآية تحـديد العرض, ولكن أراد بذلك أنها أوسع شيء رأيتموه.
وذكره تعالى وسعة جنته التي أعدها لعباده المتقين من أنها أوسع شيء يعرفه الناس، مع أن حقيقتها أوسع وأكبر من ذلك، فيه حكم كثيرة منها أنه ليس لأحد أن يعتقد أن الجنة أعدها الله تعالى خاصة له ولقومه دون المؤمنين الآخرين بمجرد الاختلافات في فروع الدين بينهم، بل بيًّن أن عباده ما داموا يتقون الله تعالى فيستحقون الجنة، وهذا من باب تقليل الكثير أو تضييق الواسع، وهو ممنوع.
قوله تعالى: "أعدت للمتقين"
أتى بصيغة الماضي، لذا ذهب به عامة العلماء إلى أن الجنة مخلوقة موجودة، وهو نص حديث الإسراء وغيره في الصحيحين وغيرهما حيث أن الرسول دخل فيها وبيّن أحوالها والنعم التي كانت فيها. وقالت المعتزلة إنهما غير مخلوقتين في وقتنا, وإن الله تعالى إذا طوى السموات والأرض ابتدأ خلق الجنة والنار حيث شاء، لأنهما دار جزاء بالثواب والعقاب, فخلقتا بعد التكليف في وقت الجزاء، لئلا تجتمع دار التكليف ودار الجزاء في الدنيا, كما لم يجتمعا في الآخرة. والمعتمد هو مذهب الجمهور.
قوله تعالى: "الذين ينفقون في السراء والضراء"
والضراء هو العسر كذا قاله ابن عباس والكلبي ومقاتل. وقال عبيد بن عمير والضحاك السراء والضراء الرخاء والشدة، ويقال في حال الصحة والمرض. وقيل في السراء يعني في الحياة وفي الضراء يعني يوصي بعد الموت. وقيل في السراء في العرس والولائم وفي الضراء في النوائب والمآتم. وقيل في السراء النفقة التي تسركم مثل النفقة على الأولاد والقرابات، والضراء على الأعداء. ويقال في السراء ما يضيف به الفتى ويهدي إليه، والضراء ما ينفقه على أهل الضر ويتصدق به عليهم. والأية تعم كل ذلك.
قوله تعالى: "والكاظمين الغيظ"
كظم غيظه أي سكت عليه ولم يظهره مع قدرته على إيقاعه بعدوه. وكظمت السـقاء أي ملئته وسددت عليه, والكظامة ما يسد به مجرى الماء. ومنه الكظام للسير الذي يسد به فم الزق والقربة، وكظم البعير جرته إذا ردها في جوفه. وقد يقال لحـبسه الجرة قبل أن يرسلها إلى فيه "كظم"، حكاه الزجـاج. يقال: كظم البعير والناقة إذا لم يجترا، ومنه رجل كظيم ومكظوم إذا كان ممتلئا غما وحزنا. وفي التنزيل في سورة يوسف الأية 84 "...وابيضت عيناه من الحزن فهو كظيم"، وفي سورة النحل الأية 58 "...ظل وجهه مسودا وهو كظيم"، وفي سورة القلم الأية 48 "...إذ نادى وهو مكظوم".
والغيظ أصل الغضب, وكثيرا ما يتلازمان لكن فرقان ما بينهما أن الغيظ لا يظهر على الجوارح, بخلاف الغضب فإنه يظهر في الجوارح مع فعل ما لا بد. ولهذا جـاء إسناد الغضب إلى الله تعالى إذ هو عبارة عن أفعاله في المغضوب عليهم. وقد فسر بعض الناس الغيظ بالغضب وليس بجيد. والله تعالى أعلم.
قوله تعالى: "والعافين عن الناس"
فالعفو عن الناس أجل ضروب فعل الخير حيث يجوز للإنسان أن يعفو وحيث يتجـه حقه. وكل من استحـق عقوبة فتركت له فقد عفي عنـه.
واختُلف في معنى "عن الناس". فقال بعضهم هم المماليك قال إذ هم الخدمة فهم يذنبون كثيرا والقدرة عليهم متيسرة, لإنفاذ العقوبة سهل، فلذلك مثل هذا المفـر به. وروي عن ميمون بن مهران أن جاريته جـاءت ذات يوم بصحـفة فيها مرقة حارة, وعنده أضياف فعثرت فصبت المرقة عليه, فأراد ميمون أن يضربها, فقالت الجارية: يا مولاي استعمل قوله تعالى "والكاظمين الغيظ". فترك الغضب وقال لها: قد فعلت. فقالت اعمل بما بعده "والعافين عن الناس". فقال قد عفوت عنك. فقالت الجارية "والله يحب المحسنين". قال ميمون قد أحسنت إليك, فأنت حرة لوجـه الله تعالى. وروي عن الأحنف بن قيس مثله. وقال زيد بن سلم "والعافين عن الناس" عن ظلمهم وإساءتهم، وهذا عام وهو ظاهر الآية.
وقال مقاتل بن حيان في هذه الآية، بلغنا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال عند ذلك "إن هؤلاء من أمتي قليل إلا من عصمه الله وقد كانوا كثيرا في الأمم التي مضت". فمدح الله تعالى الذين يغفرون عند الغضب وأثنى عليهم فقال في سورة الشورى الأية 37 "وإذا ما غضبوا هم يغفرون". وأثنى على الكاظمين الغيظ بقوله هنا.
ووردت في كظم الغيظ والعفو عن الناس وملك النفس عند الغضب أحاديث، وذلك من أعظم العبادة وجهاد النفس. فقال صلى الله عليه وسلم: "ليس الشديد بالصرعة ولكن الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب" (متفق عليه عن أبي هريرة). وقال صلى الله عليه وسـلم "ما من جرعة أعظم أجرا عند اللَّه من جرعة غيظ كظمها عبد ابتغاء وجه اللَّه" (أخرجه ابن ماجه). وقال "من كظم غيظا وهو قادر على أن ينفذه دعاه اللَّهُ عز وجل على رءوس الخلائق يوم القيامة حتى يخيره اللهُ من الحور الْعين ما شاء" (أخرجه أبو داود والترمذي وقال حديث حسن غريب).
وفي القرآن لن نجد الأمر بطلب العفو عن ظلم وإساءة بين الناس، بل نجد الأمر بإعطاء العفو والصفح عن الناس. فقد قال تعالى في سورة الأعراف الأية 199 "خذ العفو وأمر بالعرف واعرض عن الجاهلين".
وأمر الله عباده بأمر قد بدأ بنفسه، وهو تعالى سمى ذاته عفوا غفورا غفارا توابا. وقال تعالى في سورة الشورى الأية 34 "...ويعف عن كثير" وذلك برحمته دون أن يتقدمه العبد بطلبه، وبين تعالى في سورة هود الأية 114"...إن الحسنات يذبهن السيئآت..."، ووعد المغفرة لمن تاب وعمل صالحا حيث قال في سورة الزمر الأية 53 "قل يا عبادي الذين أسرفوا على أنفسهم لا تقنطوا من رحمة الله إن الله يغفر الذنوب جميعا إنه هو الغفور الرحيم". وهذا—طبعا—غير الشرك بالله تعالى الذي هو ظلم عظيم وذنب لا يغتفر حيث قال تعالى في سورة لقمان الأية 13 "... لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم" وقال في سورة النساء الأية 48 "إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء ومن يشرك بالله فقد افترى إثما عظيما" وقال في سورة النساء الأية 116 "إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء ومن يشرك بالله فقد ضل ضلالا بعيدا".
اللهم نعم وجدنا الأمر بطلب العفو بمظلمة عملناها أو بمعصية ارتكبناها في الأحاديث الصحيحة المرفوعة إلى النبي صلى الله عليه وسلم كالمروي عن أبي هريرة فيما أخرجه البخاري في صحيحه والبيهقي في سننه" من كانت له مظلمة لأحد من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه".
فالظالم والعاصي يجب عليه أن يستغفر الله العظيم ويتوب إليه، وإذا تعلقت المظلمة والمعصية بحق آدمي فطلب العفو منه لازم وواجب. والذي أتاه أخوه طالب العفو فإعطاء العفو والصفح عنه في حقه واجب. والجزاء من جنس العمل. فمن عفا وصفح عن أخيه فله العفو والمغفرة من الله تعالى. قال الله تعالى في سورة النساء الأية "إن تبدوا خيرا أو تخفوه أو تعفوا عن سوء فإن الله كان عفوا قديرا".
قوله تعالى: "والله يحب المحسنين".
والمحسنون هم الذين يتقون وينفقون في السراء والضراء ويكظمون غيظهم ويعفون عن الناس. وكان الله يحبهم والحب يستلزم الرضا ولا شيء أشد رغبة فيه للعبد المؤمن من مرضاة ربه.
قوله تعالى: "والذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم".
ذكر الله تعالى في هذه الآية صنفا, هم دون الصنف الأول فألحقهم به برحمته ومنه، فهؤلاء هم التوابون. قال ابن عباس في رواية عطاء: نزلت هذه الآية في نبهان التمار—وكنيته أبو مقبل—أتته امرأة حسناء باع منها تمرا, فضمها إلى نفسـه وقبلها فندم على ذلك, فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فذكر ذلك له، فنزلت هذه الآية. وذكـر أبو داود الطيالسي في مسنده عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: حـدثني أبو بكر أن الرسول صلى الله عليه وسلم قال: "ما من عبد يذنـب ذنبا ثم يتوضأ ويصلي ركعتين ثم يستغفر الله إلا غفر له"،- ثم تلا هذه الآية - "والذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم ذكروا الله فاستغفروا لذنوبهم" - الآية, والآية الأخرى في سورة النساء الأية 110- "ومن يعمل سوءًا أو يظلم نفسه". وخرجه الترمذي وقال حديث حـسن.
وقد تنزل الآية بسبب خاص ثم تتناول جميع من فعل ذلك أو أكثر منه. وقد قيل: إن سبب نزولها أن ثقيفيا خرج في غزاة وخلف صاحبا له أنصاريا على أهله, فخانه فيها بأن اقتحم عليها فدفعت عن نفسها فقبل يدها, فندم على ذلك فخرج يسيح في الأرض نادما تائبا، فجاء الثقفي فأخبرته زوجته بفعل صاحبه, فخرج في طلبه فأتى به إلى أبي بكر وعمر رجـاء أن يجد عندهما فرجا فوبخاه، فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فأخبره بفعله، فنزلت هـذه الآية. والعموم أولى للحديث.
وقال النبي صلى الله عليه وسلم " أن رجلا أذنب ذنبا فقال رب إني أذنبت ذنبا أو قال عملت عملا ذنبا فاغفره فقال عز وجل عبدي عمل ذنبا فعلم أن له ربا يغفر الذنب ويأخذ به قد غفرت لعبدي ثم عمل ذنبا آخر أو أذنب ذنبا آخر فقال رب إني عملت ذنبا فاغفره فقال تبارك وتعالى علم عبدي أن له ربا يغفر الذنب ويأخذ به قد غفرت لعبدي ثم عمل ذنبا آخر أو أذنب ذنبا آخر فقال رب إني عملت ذنبا فاغفره فقال علم عبدي أن له ربا يغفر الذنب ويأخذ به قد غفرت لعبدي فليعمل ما شاء" (أخرجه أحمد).
والفاحشة تطلق على كل معصية, وقد كثر اختصاصها بالزنا حتى فسر جابر بن عبدالله والسدي هذه الآية بالزنا. و "أو" في قوله: "أو ظلموا أنفسهم" قيل هي بمعنى الواو، والمراد ما دون الكبائر.
قوله تعالى: "ذكروا الله".
يعني يذكرون الجزاء من الله للمحسنين والمسيئين فيخافون من عقابه يستحيون منه ثم يرجعون من الذنوب إلى التوبة ومن العقاب إلى الرحمة.
قوله تعالى: "فاستغفروا لذنوبهم".
أي طلبوا الغفران لأجـل ذنوبهم. فالاستغفار عظيم وثوابه جسيم, حتى لقد روى أبو داود عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال "من قال استغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه، غفر له، وإن كان قد فر من الزحف".
نقول إن الاستغفار المطلوب هو الذي يحل عقد الإصرار ويثبت معناه في الجنان, لا التلفظ باللسان. فأما من قال بلسانه: استغفر الله, وقلبه مصر على معصيته فاستغفاره ذلك يحتاج إلى استغفار, وصغيرته لاحقة بالكبائر. وروي عن الحسن البصري أنه قال: استغفارنا يحـتاج إلى استغفار. فعجبا، هذا يقول في زمانه, فكيف في زماننا هذا الذي يرى فيه الإنسان مكبا على الظلم؟! حريصا عليه لا يقلع, والسبحة في يده زاعما أنه يستغفر الله من ذنبه وذلك استهزاء منه واستخفاف. وفي التنزيل في سورة البقرة الأية 231 قال تعالى "ولا تتخذوا آيات الله هزوا". وقال النبي صلى الله عليه وسلم وهو على المنبر "ارحموا ترحموا واغفروا يغفر لكم ويل لأقماع القول ويل للمصرين الذين يصرون على ما فعلوا وهم يعلمون". رواه أحمد وتفرد به.
و قال بعض العلماء عكسه من إنه لو تكرر منهم الذنب تابوا منه. فروى أبو يعلى الموصلي بسنده قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "ما أصر من استغفر وإن عاد في اليوم سبعين مرة".
قوله تعالى: "ولم يصروا على ما فعلوا"
أي ولم يثبتوا ويعزموا على ما فعلوا. وقال مجاهد أي ولم يمضوا. الإصرار هو العزم بالقلب على الأمر وترك الإقلاع عنه. ومنه صر الدنانير أي الربط عليها. قال الحطيئة يصف الخيل: عوابس بالشعث الكماة إذا ابتغوا علاتها بالمحصدات أصرت أي ثبتت على عدوها. وقال قتادة: الإصرار الثبوت على المعاصي. قال الشاعر: "يصر بالليل ما تخفي شواكله* يا ويح كل مصر القلب ختار". قال سهل بن عبدالله: الجاهل ميت, والناسي نائم, والعاصي سكران, والمصر هالك. والإصرار هو التسويف, والتسويف أن يقول: أتوب غدا، وهذا دعوى النفس, كيف يتوب غدا لا يملكه؟! وقال بعض العلماء الإصرار هو أن ينوي أن يتوب فإذا نوى التوبة النصوح خرج عن الإصرار.
قوله تعالى: "وهم يعلمون"
فيه أقوال: فقيل، إن معناه يذكرون ذنوبهم فيتوبون منها. وقيل وهم يعلمون أن الله يعاقب على الإصرار. وقيل وهم يعلمون أنهم إن تابوا تاب الله عليهم. وقيل يعلمون أنهم إن استغفروا غفر الله لهم. و قيل وهم يعلمون أن الإصرار ضار, وأن تركه خير من التمادي. و قيل وهم يعلمون أن لهم ربا يغفر الذنب. وقيل وهم يعلمون أنه لا غافر سوى الله تعالى. وكل هذه الأقوال مصيب ووجيه.
ودلت الآية والحديث على عظيم فائدة الاعتراف بالذنب والاستغفار منه. قال صلى الله عليه وسلم "فإن العبد إذا اعترف بذنب ثم تاب تاب الله عليه" (أخرجاه في الصحيحين). وفي صحيح مسلم عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (والذي نفسي بيده لو لم تذنبوا لذهب الله بكم ولجاء بقوم يذنبون ويستغفرون فيغفر لهم). وقالوا إن هذه فائدة اسم الله تعالى الغفار والتواب.
ثم الذنوب التي يتاب منها إما كفروا غيره, فتوبة الكافر إيمانه مع ندمه على ما سلف من كفره, وليس مجرد الإيمان نفس توبة, وغير الكفر إما حق لله تعالى. وإما حق لغيره, فحق الله تعالى يكفي في التوبة منه الترك، غير أن منها ما لم يكتف الشرع فيها بمجرد الترك بل أضاف إلى ذلك في بعضها قضاة كالصلاة والصوم, ومنها ما أضاف إليها كفارة كالحنث في الأيمان والظاهر وغير ذلك. وأما حقوق الآدميين فلا بد من إيصالها إلي مستحقيها, فإن لم يوجدوا تصدق عنهم, ومن لم يجد السبيل لخروج ما عليه لإعسار فعفو الله مأمول, وفضله مبذول. فكم ضمن من التبعات وبدل من السيئات بالحسنات. وليس على الإنسان إذا لم يذكر ذنبه ويعلمه أن يتوب منه بعينه, ولكن يلزمه إذا ذكر ذنبا تاب منه.
قوله تعالى: "أولئك جزاؤهم مغفرة من ربهم وجنات تجري من تحتها الأنهار خالدين فيها ونعم أجر العاملين".
فخير جزاء العمل الجنة. ومن توفر عندهم هذه المعايير فالجنة له الجزاء الأوفى
الاختتام
فالآيات ذكرت لنا معايير التقوى وهي الانفاق في السراء والضراء وكظم الغيظ وعفو الناس والإحسان وذكر الله والاستغفار وعدم الإصرار على الذنب. فجعلنا الله من المتقين ويجزين بالمغفرة ودخول الجنة النعيم. وصلى الله على سيدنا محمد والحمد لله رب العلمين.
قائمة المرجع
الألوسي (السيد محمود)، روح المعاني في تفسير القرآن العظيم والسبع المثاني، (بيروت: دار الفكر، 1414هـ)
الأندلسي (أبي حيان)، النهر الماد من البحر المحيط، (بيروت: دار الجيل، 1416 هـ)، ط: 1
البخاري (محمد بن إسماعيل)، صحيح البخاري، (بيروت: دار ابن كثير، 1407هـ)، ط: الثالثة
البغدادي (علي بن محمد)، تفسير الخازن المسمى لباب التأويل في معاني التنزيل، (بيروت: دار الفكر)، دت
الترمذي (محمد بن عيسى)، سنن الترمذي، (بيروت:دار إحياء التراث العربي)، دت
التميمي (محمد بن حبان)، صحيح ابن حبان، (بيروت: مؤسسة الرسالة، 1993م) ط: 3
جوهري (طنطاوي)، الجواهر في تفسير القرآن، (بيروت: دار الفكر)
الحاكم النيسابوري (محمد بن عبد الله)، المستدرك على الصحيحين، (بيروت: دار الكتب العلمية، 1990م)، ط: 1
الحراني (ابن تيمية)، التفسير الكبير، (بيروت: دار الكتب العلمية)، دت
حوى (سعيد)، الأساس في التفسير، (دار السلام، 1405 هـ)، دم، ط: 2
السجستاني أبو داود (سليمان بن الأشعث)، سنن أبي داود، (بيروت: دار الفكر)، دت
الشنقيطي (محمد الأمين بن محمد)، أضواء البيان في إيضاح القرآن بالقرآن، (بيروت: دار الفكر، 1415هـ)
الشيباني أبو عبد الله (أحمد بن حنبل)، مسند أحمد، (مصر: مؤسسة القرطبة)، دت
الصابوني (محمد علي)، روائع البيان تفسير آيات الأحكام من القرآن، دم، دت
الطبراني أبو القاسم (سليمان بن أحمد)، المعجم الكبير، (الموصل: مكتبة العلوم والحكم، 1983م)، ط: 3
الطبرسي (الفضل بن الحسن)، مجمع البيان في تفسير القرآن، (بيروت: دار المعرفة، 1406 هـ)، ط: 1
الطوسي (أبو جعفر محمد بن الحسن)، التبيان في تفسير القرآن، (مكتبة الإعلام الإسلامي)، دت، ط: 1
القزويني ابن ماجه (محمد بن يزيد)، سنن ابن ماجة، (بيروت: دار الفكر)، دت
القطان (إبراهيم)، تيسير التفسير، (عمان، 1404هـ)، ط: 1
الكلبي (محمد بن أحمد بن جزي)، التسهيل لعلوم التنزيل، (بيروت: دار الفكر)، دت
النيسابوري (مسلم بن الحجاج)، صحيح مسلم، (بيروت: دار إحياء التراث العربي)،
(tulisan telah dimuat di Jurna Studi Al-qur'an, vol. VI, no 1 Januari 2010)
مقدمة
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات. هو الله الذي لا إله إلاّ هو الواحد الأحد الفرد الصّمد، الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد. فضاعف الله دائم صلواته وسلامه على محمد سيد المرسلين، وعلى آله الطاهرين، وأزواجه أمهات المؤمنين، وأقربائه المؤمنين، وأصحابه الذين هم نجوم الهداية واليقين، وجميع أمته إلى يوم الدين.
فإنه قد علم من الدين بالضرورة أن التقوى هو وسيلة لنيل سعادة الدارين. فمن ثم نحتاج إلى بيان كاف عن التقوى لنفهم ثم نعمل بمقتضاه. فتعريف التقوى معلوم سمعناه كثيرا في الخطابات والمواعظ، وهو امتثال أوامر الله واجتناب نواهيه. ولكن يظهر في التسائل: ما هو معيار التقوى؟
فهذا البُحَيْث المتواضع يعطي لنا تفسير الأية 133 إلى 136 من سورة آل عمران حيث تشمل تلك المعايير كما تحتوي على معلومات كثيرة وقيم يحتاج إليها الناس في حياتهم. فقال تعالى:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)
تحليل الألفاظ
العرض: السعة وقيل هو مقابل الطول وهو مع الطول سعة
السراء والضراء: حالتي اليسر والعسر
الكاظمين الغيظ: الكافين عن إمضائه مع القدرة أو الحابسين عن أن ينفذوه
العافين عن الناس: التاركين عقوبتهم أي عمن ظلمهم
فاحشة: ذنبا قبيحا كالزنا، وقد يطلق على السيئات الكبار على حدتها كما يقال أيضا على البخل والشح
ولم يصروا: أي لم يداوموا بل يقفوا على ما كانوا عليه من الظلم وفعلهم بالفاحشة
تناسب الآيات بعضها مع بعض
قال الله تعالى: "وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ"
في الأية التي قبلها أمر الله تعالى المؤمنين بطاعته وطاعة رسوله حيث قال تعالى "وأطيعوا الله والرسول لعلكم ترحمون". وحقيقة الطاعة امتثال أوامر الله تعالى واجتناب نواهيه كما هو معلوم، والله تعالى حث عباده على المسارعة إلى ذلك وجعل امتثال الطاعة كالمنافسة والمسابقة بينهم حيث إن كل واحد منهم يتسابقون ويتنافسون في طاعته على الآخرين ولا يرضى أن يسبقه أحد في ذلك. ومن هنا نعرف أن المطيعين هم المتقون لأن الطاعة سبب التقوى. ففي هذه الأية بيان ما كان بين الله وعباده من لزوم الطاعة والتقوى والمسارعة فيهما والثناء من الله تعالى على المتقين.
قال الله تعالى: "الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ"
ففي هذه الأية بيان ما كان بين عباده بعضهم بعضا، حيث إن المؤمنين المتقين ينفقون أموالهم في سبيل الله تعالى.
ثم إن الناس في الصراع والمظالم والاختلافات أو المخاصمات بينهم على ثلاثة طبقات، أولاها الكاظمون غيظهم وبغضهم عن ظالميهم أو أعدائهم رغم أنهم يقدرون على إيقاعه بهم، وليس من لوازم كظم الغيظ ترك الغل في القلوب والصفح عن السيئات بل يتركون العقوبة والاعتداء لمجرد كظمهم الغيظ دون أن يقارنوا أنفسهم بالعفو والمسامحة.
وفوق الأولى الطبقة الثانية وهي العفو عن الناس يعني عن ظالميهم وأعدائهم، فأزالوا ما كان في قلوبهم من غل وإرادة على الاعتداء كأنه ليس بينهم وبين أعدائهم اعتداء ولا غيظ، ويمحون آثار ذلك عن قلوبهم حتى لا تذكر. ثم الطبقة الثالثة الإحسان على من ظلمهم واعتدى عليهم. فالمحسن يعفو ويزيل الغل من قلبه ويترك الإساءة والإعتداء على من ظلمهم بل ويحسن إليهم ويعمل في إرضائهم.
قال الله تعالى: "وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ"
وبعد أن بيّن الله تعالى ما كان بينه وبين عباده وما كان بين عباده بعضهم مع بعض في الآيات السابقة، شرع تبارك وتعالى في هذه الأية في بيان ما كان في العبد مع نفسه: فذكر أن من عباده من ارتكب المظالم والسيئات مع أن ارتكابهم في الحقيقة ظلم على أنفسهم. فعباد الله بادروا إلى الاعتراف بالذنوب وسارعوا إلى الاستغفار والتوبة حتى يغفر الله تعالى لهم.
ثم لما كان هذا مفهما لأنه تعالى يغفر الذنوب جميعا أتبعه تحقيق ذلك ونفي القدرة عليه عن غيره حيث قال تعالى "ومن يغفر الذنوب جميعا؟!"، لأن المخلوق لا يمضي غفرانه لذنب إلا إذا كان مما شرع الله تعالى غفرانه، فكان لا غافر في الحقيقة إلا الله تعالى. ومن الآيات ما يفهم قدرة الله على عباده حيث إنه تعالى يحرك قلوب عباده ويقلبها من الظلم إلى العتراف بالذنب ومن الغضب والغل إلى العفو والاحسان. فيتوبوا إلى الله تعالى وتركوا المظالم والذنوب ولم يصروا أو يداوموا عليها لعلمهم أن ذلك ممنوع.
والأية تبين لنا أن المتقين ليسوا الذين لا يذنبون ولا يظلمون، بل ارتكبوا المظالم والذنوب إلا أنهم حينذاك ذكروا الله تعالى وشرعوا إلى الاستغفار والتوبة إليه فغفر الله تعالى لهم. فالإنسان بطبيعته يخطئ ويظلم نفسه والآخرين والله تعالى برحمته يفتح أبواب التوبة والمغفرة لمن تاب واستغفر.
وذكره تعالى الفاحشة مع الظلم له أسراره، منها أن من فعل الفاحشة—التي هي الذنب الكبير—كان ظالما على نفسه، لأن ارتكاب الفاحشة يترتب عليه وقوع العذاب من الله تعالى والفتنة منه، وهذا ظلم على النفس، والعياذ بالله تعالى.
قال الله تعالى: "أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ"
بين سبحانه وتعالى أن من اتصفوا بهذه الصفات كانوا يستحقون المغفرة منه والجنة وهم خلود فيها، وهذا مصداق قوله تعالى "وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنات عرضها السموات والأرض أعدت للمتقين". فبدأ بالبشارة وهي الجنة والمغفرة وختم بنفس البشارة.
تفسير الآيات
قوله تعالى: "وسارعوا إلى مغفرة من ربكم"
والمسارعة المبادرة، وهي مفاعلة، أي سارعوا إلى ما يوجب المغفرة وهي التقوى ولا يكون ذلك إلا بطاعة الله وطاعة رسوله.
قال أنس بن مالك ومكحول في تفسير "سارعوا إلى مغفرة من ربكم" معناه إلى تكبيرة الإحرام يعني في الصلاة. وقال علي بن أبي طالب: إلى أداء الفرائض. وقال عثمان بن عفان: إلى الإخلاص. وقال الكلبي: إلى التوبة من الربا. وقيل: إلى الثبات في القتال. وقيل غير ذلك. والآية عامة في الجميع. ومعنى الأية شبيه بمعني قوله تعالى "فاستبقوا الخيرات" التي في سورة البقرة الأية 148.
قوله تعالى: "وجنة عرضها السموات والأرض"
أي كعرضهما، بحـذف المضاف وذلك للتأكيد والتحقيق كما في قوله تعالى في سورة لقمان الأية 28 "ما خلقكم ولا بعثكم إلا كنفس واحدة" أي إلا كخلق نفس واحـدة وبعثها.
واختلف العلماء في تأويله. فقال ابن عباس: تقرن السموات والأرض بعضها إلى بعض كما تبسط الثياب ويوصل بعضها ببعض، فذلك عـرض الجنة ولا يعلم طولها إلا الله، وهذا قول الجمهور. وذلك لا ينكر فإن في حديث أبي ذر عن النبي صلى الله عليه وسلم "ما السماوات السبع مع الكرسي إلا كحلقة ملقاة بأرض فلاة وفضل العرش على الكرسي كفضل الفلاة على الحلقة" (أخرجه ابن حبان في صحيحه). فعن ابن مسعود أن الرسول الله صلى الله عليه وسلم قال إنّي لَأعْلم آخر أَهْل النَّارِ خروجا منها وآخر أهل الْجنة دخولا الْجَنة رجل يخرج من النار حبوا فيقول اللَّهُ تبارك وتعالى له اذْهب فادخل الْجنة فيأتيها فيخَيّل إليه أنها ملْأَى فيرجع فيقول يَا رب وجدْتها مَلْأَى فيقول اللَّهُ تبارك وَتعالى لَه اذهب فادخل الْجنَّة قال فيأْتيها فيخيل إليه أنها ملْأَى فيرجع فيقول يا رب وجدْتها ملْأَى فيقول اللّه له اذهب فادخل الْجنة فإن لك مثل الدنيا وعشرة أمثالها أو إن لك عشرة أمثال الدنيا (رواه مسلم). فهذه مخلوقات أعظم بكثير من السموات والأرض, فقدرة الله أعظم من ذلك كله.
ونبه تبارك وتعالى بالعرض على الطول لأن الغالب أن الطول يكون أكثر من العرض. والطول إذا ذكر لا يدل على قدر العرض. قال الزهري: إنما وصف عرضها, فأما طولها فلا يعلمه إلا الله. وهذا كقول تعالى في سورة الرحمن الأية 54 "متكئين على فرش بطائنها من إستبرق..." فوصف البطانة بأحسن ما يعلم من الزينة, إذ معلوم أن الـظواهر تكون أحسن واتقن من البطائن. وقد قال العرب: بلاد عريضة وفلاة عريضة, أي واسعة. وقال قوم: الكلام جار على مقطع العرب من الاستعارة، فلما كانت الجنة من الاتساع والانفساح في غاية قصوى حسنت العبارة عنها بعرض السموات والأرض، كما تقول للرجل: هذا بحر, ولشخص كبير من الحـيوان: هذا جبل. ولم تقصد الآية تحـديد العرض, ولكن أراد بذلك أنها أوسع شيء رأيتموه.
وذكره تعالى وسعة جنته التي أعدها لعباده المتقين من أنها أوسع شيء يعرفه الناس، مع أن حقيقتها أوسع وأكبر من ذلك، فيه حكم كثيرة منها أنه ليس لأحد أن يعتقد أن الجنة أعدها الله تعالى خاصة له ولقومه دون المؤمنين الآخرين بمجرد الاختلافات في فروع الدين بينهم، بل بيًّن أن عباده ما داموا يتقون الله تعالى فيستحقون الجنة، وهذا من باب تقليل الكثير أو تضييق الواسع، وهو ممنوع.
قوله تعالى: "أعدت للمتقين"
أتى بصيغة الماضي، لذا ذهب به عامة العلماء إلى أن الجنة مخلوقة موجودة، وهو نص حديث الإسراء وغيره في الصحيحين وغيرهما حيث أن الرسول دخل فيها وبيّن أحوالها والنعم التي كانت فيها. وقالت المعتزلة إنهما غير مخلوقتين في وقتنا, وإن الله تعالى إذا طوى السموات والأرض ابتدأ خلق الجنة والنار حيث شاء، لأنهما دار جزاء بالثواب والعقاب, فخلقتا بعد التكليف في وقت الجزاء، لئلا تجتمع دار التكليف ودار الجزاء في الدنيا, كما لم يجتمعا في الآخرة. والمعتمد هو مذهب الجمهور.
قوله تعالى: "الذين ينفقون في السراء والضراء"
والضراء هو العسر كذا قاله ابن عباس والكلبي ومقاتل. وقال عبيد بن عمير والضحاك السراء والضراء الرخاء والشدة، ويقال في حال الصحة والمرض. وقيل في السراء يعني في الحياة وفي الضراء يعني يوصي بعد الموت. وقيل في السراء في العرس والولائم وفي الضراء في النوائب والمآتم. وقيل في السراء النفقة التي تسركم مثل النفقة على الأولاد والقرابات، والضراء على الأعداء. ويقال في السراء ما يضيف به الفتى ويهدي إليه، والضراء ما ينفقه على أهل الضر ويتصدق به عليهم. والأية تعم كل ذلك.
قوله تعالى: "والكاظمين الغيظ"
كظم غيظه أي سكت عليه ولم يظهره مع قدرته على إيقاعه بعدوه. وكظمت السـقاء أي ملئته وسددت عليه, والكظامة ما يسد به مجرى الماء. ومنه الكظام للسير الذي يسد به فم الزق والقربة، وكظم البعير جرته إذا ردها في جوفه. وقد يقال لحـبسه الجرة قبل أن يرسلها إلى فيه "كظم"، حكاه الزجـاج. يقال: كظم البعير والناقة إذا لم يجترا، ومنه رجل كظيم ومكظوم إذا كان ممتلئا غما وحزنا. وفي التنزيل في سورة يوسف الأية 84 "...وابيضت عيناه من الحزن فهو كظيم"، وفي سورة النحل الأية 58 "...ظل وجهه مسودا وهو كظيم"، وفي سورة القلم الأية 48 "...إذ نادى وهو مكظوم".
والغيظ أصل الغضب, وكثيرا ما يتلازمان لكن فرقان ما بينهما أن الغيظ لا يظهر على الجوارح, بخلاف الغضب فإنه يظهر في الجوارح مع فعل ما لا بد. ولهذا جـاء إسناد الغضب إلى الله تعالى إذ هو عبارة عن أفعاله في المغضوب عليهم. وقد فسر بعض الناس الغيظ بالغضب وليس بجيد. والله تعالى أعلم.
قوله تعالى: "والعافين عن الناس"
فالعفو عن الناس أجل ضروب فعل الخير حيث يجوز للإنسان أن يعفو وحيث يتجـه حقه. وكل من استحـق عقوبة فتركت له فقد عفي عنـه.
واختُلف في معنى "عن الناس". فقال بعضهم هم المماليك قال إذ هم الخدمة فهم يذنبون كثيرا والقدرة عليهم متيسرة, لإنفاذ العقوبة سهل، فلذلك مثل هذا المفـر به. وروي عن ميمون بن مهران أن جاريته جـاءت ذات يوم بصحـفة فيها مرقة حارة, وعنده أضياف فعثرت فصبت المرقة عليه, فأراد ميمون أن يضربها, فقالت الجارية: يا مولاي استعمل قوله تعالى "والكاظمين الغيظ". فترك الغضب وقال لها: قد فعلت. فقالت اعمل بما بعده "والعافين عن الناس". فقال قد عفوت عنك. فقالت الجارية "والله يحب المحسنين". قال ميمون قد أحسنت إليك, فأنت حرة لوجـه الله تعالى. وروي عن الأحنف بن قيس مثله. وقال زيد بن سلم "والعافين عن الناس" عن ظلمهم وإساءتهم، وهذا عام وهو ظاهر الآية.
وقال مقاتل بن حيان في هذه الآية، بلغنا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال عند ذلك "إن هؤلاء من أمتي قليل إلا من عصمه الله وقد كانوا كثيرا في الأمم التي مضت". فمدح الله تعالى الذين يغفرون عند الغضب وأثنى عليهم فقال في سورة الشورى الأية 37 "وإذا ما غضبوا هم يغفرون". وأثنى على الكاظمين الغيظ بقوله هنا.
ووردت في كظم الغيظ والعفو عن الناس وملك النفس عند الغضب أحاديث، وذلك من أعظم العبادة وجهاد النفس. فقال صلى الله عليه وسلم: "ليس الشديد بالصرعة ولكن الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب" (متفق عليه عن أبي هريرة). وقال صلى الله عليه وسـلم "ما من جرعة أعظم أجرا عند اللَّه من جرعة غيظ كظمها عبد ابتغاء وجه اللَّه" (أخرجه ابن ماجه). وقال "من كظم غيظا وهو قادر على أن ينفذه دعاه اللَّهُ عز وجل على رءوس الخلائق يوم القيامة حتى يخيره اللهُ من الحور الْعين ما شاء" (أخرجه أبو داود والترمذي وقال حديث حسن غريب).
وفي القرآن لن نجد الأمر بطلب العفو عن ظلم وإساءة بين الناس، بل نجد الأمر بإعطاء العفو والصفح عن الناس. فقد قال تعالى في سورة الأعراف الأية 199 "خذ العفو وأمر بالعرف واعرض عن الجاهلين".
وأمر الله عباده بأمر قد بدأ بنفسه، وهو تعالى سمى ذاته عفوا غفورا غفارا توابا. وقال تعالى في سورة الشورى الأية 34 "...ويعف عن كثير" وذلك برحمته دون أن يتقدمه العبد بطلبه، وبين تعالى في سورة هود الأية 114"...إن الحسنات يذبهن السيئآت..."، ووعد المغفرة لمن تاب وعمل صالحا حيث قال في سورة الزمر الأية 53 "قل يا عبادي الذين أسرفوا على أنفسهم لا تقنطوا من رحمة الله إن الله يغفر الذنوب جميعا إنه هو الغفور الرحيم". وهذا—طبعا—غير الشرك بالله تعالى الذي هو ظلم عظيم وذنب لا يغتفر حيث قال تعالى في سورة لقمان الأية 13 "... لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم" وقال في سورة النساء الأية 48 "إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء ومن يشرك بالله فقد افترى إثما عظيما" وقال في سورة النساء الأية 116 "إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء ومن يشرك بالله فقد ضل ضلالا بعيدا".
اللهم نعم وجدنا الأمر بطلب العفو بمظلمة عملناها أو بمعصية ارتكبناها في الأحاديث الصحيحة المرفوعة إلى النبي صلى الله عليه وسلم كالمروي عن أبي هريرة فيما أخرجه البخاري في صحيحه والبيهقي في سننه" من كانت له مظلمة لأحد من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه".
فالظالم والعاصي يجب عليه أن يستغفر الله العظيم ويتوب إليه، وإذا تعلقت المظلمة والمعصية بحق آدمي فطلب العفو منه لازم وواجب. والذي أتاه أخوه طالب العفو فإعطاء العفو والصفح عنه في حقه واجب. والجزاء من جنس العمل. فمن عفا وصفح عن أخيه فله العفو والمغفرة من الله تعالى. قال الله تعالى في سورة النساء الأية "إن تبدوا خيرا أو تخفوه أو تعفوا عن سوء فإن الله كان عفوا قديرا".
قوله تعالى: "والله يحب المحسنين".
والمحسنون هم الذين يتقون وينفقون في السراء والضراء ويكظمون غيظهم ويعفون عن الناس. وكان الله يحبهم والحب يستلزم الرضا ولا شيء أشد رغبة فيه للعبد المؤمن من مرضاة ربه.
قوله تعالى: "والذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم".
ذكر الله تعالى في هذه الآية صنفا, هم دون الصنف الأول فألحقهم به برحمته ومنه، فهؤلاء هم التوابون. قال ابن عباس في رواية عطاء: نزلت هذه الآية في نبهان التمار—وكنيته أبو مقبل—أتته امرأة حسناء باع منها تمرا, فضمها إلى نفسـه وقبلها فندم على ذلك, فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فذكر ذلك له، فنزلت هذه الآية. وذكـر أبو داود الطيالسي في مسنده عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: حـدثني أبو بكر أن الرسول صلى الله عليه وسلم قال: "ما من عبد يذنـب ذنبا ثم يتوضأ ويصلي ركعتين ثم يستغفر الله إلا غفر له"،- ثم تلا هذه الآية - "والذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم ذكروا الله فاستغفروا لذنوبهم" - الآية, والآية الأخرى في سورة النساء الأية 110- "ومن يعمل سوءًا أو يظلم نفسه". وخرجه الترمذي وقال حديث حـسن.
وقد تنزل الآية بسبب خاص ثم تتناول جميع من فعل ذلك أو أكثر منه. وقد قيل: إن سبب نزولها أن ثقيفيا خرج في غزاة وخلف صاحبا له أنصاريا على أهله, فخانه فيها بأن اقتحم عليها فدفعت عن نفسها فقبل يدها, فندم على ذلك فخرج يسيح في الأرض نادما تائبا، فجاء الثقفي فأخبرته زوجته بفعل صاحبه, فخرج في طلبه فأتى به إلى أبي بكر وعمر رجـاء أن يجد عندهما فرجا فوبخاه، فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فأخبره بفعله، فنزلت هـذه الآية. والعموم أولى للحديث.
وقال النبي صلى الله عليه وسلم " أن رجلا أذنب ذنبا فقال رب إني أذنبت ذنبا أو قال عملت عملا ذنبا فاغفره فقال عز وجل عبدي عمل ذنبا فعلم أن له ربا يغفر الذنب ويأخذ به قد غفرت لعبدي ثم عمل ذنبا آخر أو أذنب ذنبا آخر فقال رب إني عملت ذنبا فاغفره فقال تبارك وتعالى علم عبدي أن له ربا يغفر الذنب ويأخذ به قد غفرت لعبدي ثم عمل ذنبا آخر أو أذنب ذنبا آخر فقال رب إني عملت ذنبا فاغفره فقال علم عبدي أن له ربا يغفر الذنب ويأخذ به قد غفرت لعبدي فليعمل ما شاء" (أخرجه أحمد).
والفاحشة تطلق على كل معصية, وقد كثر اختصاصها بالزنا حتى فسر جابر بن عبدالله والسدي هذه الآية بالزنا. و "أو" في قوله: "أو ظلموا أنفسهم" قيل هي بمعنى الواو، والمراد ما دون الكبائر.
قوله تعالى: "ذكروا الله".
يعني يذكرون الجزاء من الله للمحسنين والمسيئين فيخافون من عقابه يستحيون منه ثم يرجعون من الذنوب إلى التوبة ومن العقاب إلى الرحمة.
قوله تعالى: "فاستغفروا لذنوبهم".
أي طلبوا الغفران لأجـل ذنوبهم. فالاستغفار عظيم وثوابه جسيم, حتى لقد روى أبو داود عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال "من قال استغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه، غفر له، وإن كان قد فر من الزحف".
نقول إن الاستغفار المطلوب هو الذي يحل عقد الإصرار ويثبت معناه في الجنان, لا التلفظ باللسان. فأما من قال بلسانه: استغفر الله, وقلبه مصر على معصيته فاستغفاره ذلك يحتاج إلى استغفار, وصغيرته لاحقة بالكبائر. وروي عن الحسن البصري أنه قال: استغفارنا يحـتاج إلى استغفار. فعجبا، هذا يقول في زمانه, فكيف في زماننا هذا الذي يرى فيه الإنسان مكبا على الظلم؟! حريصا عليه لا يقلع, والسبحة في يده زاعما أنه يستغفر الله من ذنبه وذلك استهزاء منه واستخفاف. وفي التنزيل في سورة البقرة الأية 231 قال تعالى "ولا تتخذوا آيات الله هزوا". وقال النبي صلى الله عليه وسلم وهو على المنبر "ارحموا ترحموا واغفروا يغفر لكم ويل لأقماع القول ويل للمصرين الذين يصرون على ما فعلوا وهم يعلمون". رواه أحمد وتفرد به.
و قال بعض العلماء عكسه من إنه لو تكرر منهم الذنب تابوا منه. فروى أبو يعلى الموصلي بسنده قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "ما أصر من استغفر وإن عاد في اليوم سبعين مرة".
قوله تعالى: "ولم يصروا على ما فعلوا"
أي ولم يثبتوا ويعزموا على ما فعلوا. وقال مجاهد أي ولم يمضوا. الإصرار هو العزم بالقلب على الأمر وترك الإقلاع عنه. ومنه صر الدنانير أي الربط عليها. قال الحطيئة يصف الخيل: عوابس بالشعث الكماة إذا ابتغوا علاتها بالمحصدات أصرت أي ثبتت على عدوها. وقال قتادة: الإصرار الثبوت على المعاصي. قال الشاعر: "يصر بالليل ما تخفي شواكله* يا ويح كل مصر القلب ختار". قال سهل بن عبدالله: الجاهل ميت, والناسي نائم, والعاصي سكران, والمصر هالك. والإصرار هو التسويف, والتسويف أن يقول: أتوب غدا، وهذا دعوى النفس, كيف يتوب غدا لا يملكه؟! وقال بعض العلماء الإصرار هو أن ينوي أن يتوب فإذا نوى التوبة النصوح خرج عن الإصرار.
قوله تعالى: "وهم يعلمون"
فيه أقوال: فقيل، إن معناه يذكرون ذنوبهم فيتوبون منها. وقيل وهم يعلمون أن الله يعاقب على الإصرار. وقيل وهم يعلمون أنهم إن تابوا تاب الله عليهم. وقيل يعلمون أنهم إن استغفروا غفر الله لهم. و قيل وهم يعلمون أن الإصرار ضار, وأن تركه خير من التمادي. و قيل وهم يعلمون أن لهم ربا يغفر الذنب. وقيل وهم يعلمون أنه لا غافر سوى الله تعالى. وكل هذه الأقوال مصيب ووجيه.
ودلت الآية والحديث على عظيم فائدة الاعتراف بالذنب والاستغفار منه. قال صلى الله عليه وسلم "فإن العبد إذا اعترف بذنب ثم تاب تاب الله عليه" (أخرجاه في الصحيحين). وفي صحيح مسلم عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (والذي نفسي بيده لو لم تذنبوا لذهب الله بكم ولجاء بقوم يذنبون ويستغفرون فيغفر لهم). وقالوا إن هذه فائدة اسم الله تعالى الغفار والتواب.
ثم الذنوب التي يتاب منها إما كفروا غيره, فتوبة الكافر إيمانه مع ندمه على ما سلف من كفره, وليس مجرد الإيمان نفس توبة, وغير الكفر إما حق لله تعالى. وإما حق لغيره, فحق الله تعالى يكفي في التوبة منه الترك، غير أن منها ما لم يكتف الشرع فيها بمجرد الترك بل أضاف إلى ذلك في بعضها قضاة كالصلاة والصوم, ومنها ما أضاف إليها كفارة كالحنث في الأيمان والظاهر وغير ذلك. وأما حقوق الآدميين فلا بد من إيصالها إلي مستحقيها, فإن لم يوجدوا تصدق عنهم, ومن لم يجد السبيل لخروج ما عليه لإعسار فعفو الله مأمول, وفضله مبذول. فكم ضمن من التبعات وبدل من السيئات بالحسنات. وليس على الإنسان إذا لم يذكر ذنبه ويعلمه أن يتوب منه بعينه, ولكن يلزمه إذا ذكر ذنبا تاب منه.
قوله تعالى: "أولئك جزاؤهم مغفرة من ربهم وجنات تجري من تحتها الأنهار خالدين فيها ونعم أجر العاملين".
فخير جزاء العمل الجنة. ومن توفر عندهم هذه المعايير فالجنة له الجزاء الأوفى
الاختتام
فالآيات ذكرت لنا معايير التقوى وهي الانفاق في السراء والضراء وكظم الغيظ وعفو الناس والإحسان وذكر الله والاستغفار وعدم الإصرار على الذنب. فجعلنا الله من المتقين ويجزين بالمغفرة ودخول الجنة النعيم. وصلى الله على سيدنا محمد والحمد لله رب العلمين.
قائمة المرجع
الألوسي (السيد محمود)، روح المعاني في تفسير القرآن العظيم والسبع المثاني، (بيروت: دار الفكر، 1414هـ)
الأندلسي (أبي حيان)، النهر الماد من البحر المحيط، (بيروت: دار الجيل، 1416 هـ)، ط: 1
البخاري (محمد بن إسماعيل)، صحيح البخاري، (بيروت: دار ابن كثير، 1407هـ)، ط: الثالثة
البغدادي (علي بن محمد)، تفسير الخازن المسمى لباب التأويل في معاني التنزيل، (بيروت: دار الفكر)، دت
الترمذي (محمد بن عيسى)، سنن الترمذي، (بيروت:دار إحياء التراث العربي)، دت
التميمي (محمد بن حبان)، صحيح ابن حبان، (بيروت: مؤسسة الرسالة، 1993م) ط: 3
جوهري (طنطاوي)، الجواهر في تفسير القرآن، (بيروت: دار الفكر)
الحاكم النيسابوري (محمد بن عبد الله)، المستدرك على الصحيحين، (بيروت: دار الكتب العلمية، 1990م)، ط: 1
الحراني (ابن تيمية)، التفسير الكبير، (بيروت: دار الكتب العلمية)، دت
حوى (سعيد)، الأساس في التفسير، (دار السلام، 1405 هـ)، دم، ط: 2
السجستاني أبو داود (سليمان بن الأشعث)، سنن أبي داود، (بيروت: دار الفكر)، دت
الشنقيطي (محمد الأمين بن محمد)، أضواء البيان في إيضاح القرآن بالقرآن، (بيروت: دار الفكر، 1415هـ)
الشيباني أبو عبد الله (أحمد بن حنبل)، مسند أحمد، (مصر: مؤسسة القرطبة)، دت
الصابوني (محمد علي)، روائع البيان تفسير آيات الأحكام من القرآن، دم، دت
الطبراني أبو القاسم (سليمان بن أحمد)، المعجم الكبير، (الموصل: مكتبة العلوم والحكم، 1983م)، ط: 3
الطبرسي (الفضل بن الحسن)، مجمع البيان في تفسير القرآن، (بيروت: دار المعرفة، 1406 هـ)، ط: 1
الطوسي (أبو جعفر محمد بن الحسن)، التبيان في تفسير القرآن، (مكتبة الإعلام الإسلامي)، دت، ط: 1
القزويني ابن ماجه (محمد بن يزيد)، سنن ابن ماجة، (بيروت: دار الفكر)، دت
القطان (إبراهيم)، تيسير التفسير، (عمان، 1404هـ)، ط: 1
الكلبي (محمد بن أحمد بن جزي)، التسهيل لعلوم التنزيل، (بيروت: دار الفكر)، دت
النيسابوري (مسلم بن الحجاج)، صحيح مسلم، (بيروت: دار إحياء التراث العربي)،
Jumat, 13 Agustus 2010
doa setelah shalat
***
عَلى هَذِهِ النِّيـَّةِ وعَلى كُلِّ نِيَّةٍ صَالِحَةٍ وإلىَ حَضْرَةِ الرَّسُوْلِ صلى الله عليه وسلم، الفاتحة
***
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رَبِّ العالميْنَ * حَمْدًا يُـوَافِيْ نِعَمَهُ ويُكافِئُ مَزِيْدَهُ * يا رَبَّناَ لكَ الْحَمْدُ كَما يَـنْبَغِيْ لِجَلالِ وَجْهِكَ الكرِيْمِ وعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ * سُبْحَانَكَ لا نُحْصِيْ ثَنَاءًا عَلَيْكَ أنْتَ كَما أثْنَيْتَ عَلىَ نَفْسِكَ * الَّلهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنا محمدٍ وآلِهِ وصَحْبِهِ وسَلِّمْ * ربنَّـا ظَلَمْنَا أنْفُسَنَا وإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنا وتَرْحَمْنا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخاسِرِيْنَ * ربَّنَا اغْفِرْ لَنَا ولِإِخْوَانِنا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بالإِيْمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا ربَّنا إنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ * ربنا هَبْ لَنا مِنْ أزْوَاجِنَا وَذُرِّيـَّاتِنا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إماماً * ربنا لا تُزِغْ قُلُوْبَنا بَعْدَ إذْ هَدَيْـتَنا وهَبْ لنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إنَّكَ أنْتَ الوَهَّابُ * اللهم أَصْلِحْ لَنا دِيْـنَناَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أمْرِناَ * وأصْلِحْ لَنا دُنْيَانا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنا * وأصلح لنا آخِرَتَنا التي إِلَيْهَا مَعادُنا * وَاجْعَلِ الْحَياةَ زِياَدَةً لَنا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ * وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ * ربناآتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار * وصَلَّى اللهُ على سيِّدِنا مُحَمَّدٍ وآلِهِ وصحْبِهِ وسَلَّمَ * سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ * وسَلامٌ عَلى
المُرْسَلِيْنَ * والحمد لله رب العالمين
عَلى هَذِهِ النِّيـَّةِ وعَلى كُلِّ نِيَّةٍ صَالِحَةٍ وإلىَ حَضْرَةِ الرَّسُوْلِ صلى الله عليه وسلم، الفاتحة
***
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رَبِّ العالميْنَ * حَمْدًا يُـوَافِيْ نِعَمَهُ ويُكافِئُ مَزِيْدَهُ * يا رَبَّناَ لكَ الْحَمْدُ كَما يَـنْبَغِيْ لِجَلالِ وَجْهِكَ الكرِيْمِ وعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ * سُبْحَانَكَ لا نُحْصِيْ ثَنَاءًا عَلَيْكَ أنْتَ كَما أثْنَيْتَ عَلىَ نَفْسِكَ * الَّلهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنا محمدٍ وآلِهِ وصَحْبِهِ وسَلِّمْ * ربنَّـا ظَلَمْنَا أنْفُسَنَا وإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنا وتَرْحَمْنا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخاسِرِيْنَ * ربَّنَا اغْفِرْ لَنَا ولِإِخْوَانِنا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بالإِيْمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا ربَّنا إنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ * ربنا هَبْ لَنا مِنْ أزْوَاجِنَا وَذُرِّيـَّاتِنا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إماماً * ربنا لا تُزِغْ قُلُوْبَنا بَعْدَ إذْ هَدَيْـتَنا وهَبْ لنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إنَّكَ أنْتَ الوَهَّابُ * اللهم أَصْلِحْ لَنا دِيْـنَناَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أمْرِناَ * وأصْلِحْ لَنا دُنْيَانا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنا * وأصلح لنا آخِرَتَنا التي إِلَيْهَا مَعادُنا * وَاجْعَلِ الْحَياةَ زِياَدَةً لَنا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ * وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ * ربناآتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار * وصَلَّى اللهُ على سيِّدِنا مُحَمَّدٍ وآلِهِ وصحْبِهِ وسَلَّمَ * سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ * وسَلامٌ عَلى
المُرْسَلِيْنَ * والحمد لله رب العالمين
Selasa, 10 Agustus 2010
Pemuda Itu Bernama Ibrahim
“Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim” (QS. Al-Syu’ara: 69)
Seorang pemuda diutus menjadi rasul kepada kaum paganis yang menyembah seorang raja lalim bernama Namrudz. Sebagai pribadi yang cerdas dan kritis (QS. al-Anbiya`: 51), pemuda ini mengamati penyimpangan akidah kaumnya, “Namrudz adalah manusia seperti kita. Kalau kita diperintahkan menyembahnya, lalu dia menyembah siapa?!”.
Sikap kritis pemuda ini terus berlanjut. Ia mengamati sebagian kaumnya menuhankan bintang, bulan, dan matahari selain penyembahan terhadap rajanya. Menurutnya, dalam pergantian siang dan malam, ketiga benda langit ini hilang tenggelam. “Kalau Tuhan hilang dan tenggelam, maka siapa yang akan mengatur alam semesta. Harus ada Tuhan yang menciptakan alam semesta, dan mengaturnya”. Ibrahim berfikir keras, “Kalaulah Tuhan tidak membimbingku, pasti aku akan tersesat dalam mencari kebenaran!”. (QS. al-An’am: 77).
Dakwah dilakukan semakin gencar. Pemuda ini memulainya dengan menyadarkan bapaknya dari penyembahan berhala, “Wahai bapakku, pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai Tuhan?! Sungguh aku melihatmu dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata” (QS. al-An’am: 74). “Wahai ayah, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, melihat, dan menolongmu sedikitpun?!” (QS. Maryam: 42). Pertanyaan yang sama juga ia tujukan kepada kaumnya (QS. al-Syura: 75).
Reformasi moral yang digulirkannya menuai protes dan ancaman. Bukan hanya dari mereka yang masuk golongan elit politiknya, kalangan grass root kaumnya juga menyatakan sikap penolakannya. “Apakah kalian hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia telah memberi petunjuk kepadaku?!...” (QS. Al-An’am: 80) sanggah si pemuda.
Pada suatu waktu kerajaan merayakan upacara. Sejarah tidak menjelaskan momentum acara dan bentuk perayaannya. Hanya saja dikisahkan bahwa seluruh rakyat berkumpul di suatu tempat untuk berpesat. Pemuda hanif (berakidah lurus) ini menolak ikut dengan alasan dirinya sedang sakit. Dan dialah satu-satunya orang yang menolak mengikuti upacara dan pesta itu. Ketika seluruh penduduk negeri riuh berpesta, si pemuda justru mengusung sebuah kapak besar dan menghancurkan seluruh berhala yang ada di tempat penyembahan. Ia hanya menyisakan satu berhala yang terbesar, sementara berhala-berhala lain yang kecil hancur tak berbentuk lagi. Kapak tadi kemudian dikalungkan di leher berhala terbesar yang masih tegak berdiri.
Pesta selesai, dan rakyat menuju ke tempat peribadatan. Namun, mereka terkejut saat mendapati berhala-berhala berguguran dengan kondisi yang mengenaskan.Yang tersisa hanyalah berhala terbesar dengan sebuah kapak di lehernya. “Apa mungkin berhala yang terbesar membunuh berhala-berhala lainnya karena merasa tersaingi?” Gumam mereka. “Tapi berhala-berhala ini hanyalah seonggok batu. Mana mungkin batu dapat bergerak. Mustahil rasanya benda-benda mati itu memiliki perasaan”. Instabilitas nasionalpun terjadi. Setelah dilakukan investigasi, aparat kerajaan berhasil menangkap seorang pemuda yang menjadi satu-satunya tersangka pelaku ”kejahatan melawan tuhan-tuhan”. Pemuda itu bernama Ibrahim. Usianya masih belasan tahun.
Ditangkap dan dibawa ke pengadilan, Ibrahim berkilah dari tuduhan. “Pelakunya adalah berhala yang terbesar. Kalian lihat bukti kejahatan ada padanya. Mengapa kalian tidak langsung menanyainya?”. Mereka yang hadir di persidangan tersentak kaget dengan jawaban Ibrahim. Mereka tertunduk malu karena sadar bahwa berhala tidak mungkin dapat berkata-kata dan berbuat apa-apa. “Mengapa kalian mau menyambah patung yang tidak dapat memberikan kalian manfaat dan madharat?!” cecar Ibrahim lagi. Dalam surat al-Anbiya` ayat 57 sampai 70 diceritakan proses penangkapan dan pengadilan Ibrahim:
Namrudz melihat keadaan yang tidak menguntungkan pihaknya, berinisiatif mendebat Ibrahim. Dengan sombong, Namrudz yang mengaku sebagai tuhan menyatakan bahwa dirinya dapat menghidupkan atau mematikan orang. Hal ini dilakukan dengan cara mendatangkan dua orang laki-laki, di mana yang satu dilepaskan sementara yang lainnya dipenggal kepalanya. Membebaskan orang dari pemenggalan kepala, artinya Namrudz telah memberinya kehidupan. Sementara menghukum mati orang, artinya sang raja telah mematikannya. Namun saat diminta memutar perjalanan matahari dari barat ke timur, Namrudz kelimpungan (QS. Al-Baqarah: 258).
Pemuda Sebagai Agent Of Change
Sejarah mencatat banyak perubahan dimotori oleh pemuda, dan bahwa kepemimpinan yang efektif ada di tangan pemuda. Dalam konteks Indonesia, peralihan orde kepemimpinan diinisiasi dan dipimpin oleh kaum muda. Pemerintahan menjadi tidak efektif ketika ada sosok pemimpin yang “menjadi tua” di kursi jabatannya.
Dengan caranya yang elegan, Ibrahim menunjukkan kebenaran di hadapan sistem otoriter dan penguasa sesat yang lalim. Ia menunjukkan sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap pemuda: Peduli dan berani mengubah keadaan buruk menjadi baik. Ibrahim mencontohkan kepada kita tugas dan tanggung jawab seorang pemuda terhadap bangsa, negara, dan Agamanya. “Sungguh ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim …” (QS. Al-Mumtahanah: 4). Selamat Hari Sumpah Pemuda!
Seorang pemuda diutus menjadi rasul kepada kaum paganis yang menyembah seorang raja lalim bernama Namrudz. Sebagai pribadi yang cerdas dan kritis (QS. al-Anbiya`: 51), pemuda ini mengamati penyimpangan akidah kaumnya, “Namrudz adalah manusia seperti kita. Kalau kita diperintahkan menyembahnya, lalu dia menyembah siapa?!”.
Sikap kritis pemuda ini terus berlanjut. Ia mengamati sebagian kaumnya menuhankan bintang, bulan, dan matahari selain penyembahan terhadap rajanya. Menurutnya, dalam pergantian siang dan malam, ketiga benda langit ini hilang tenggelam. “Kalau Tuhan hilang dan tenggelam, maka siapa yang akan mengatur alam semesta. Harus ada Tuhan yang menciptakan alam semesta, dan mengaturnya”. Ibrahim berfikir keras, “Kalaulah Tuhan tidak membimbingku, pasti aku akan tersesat dalam mencari kebenaran!”. (QS. al-An’am: 77).
Dakwah dilakukan semakin gencar. Pemuda ini memulainya dengan menyadarkan bapaknya dari penyembahan berhala, “Wahai bapakku, pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai Tuhan?! Sungguh aku melihatmu dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata” (QS. al-An’am: 74). “Wahai ayah, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, melihat, dan menolongmu sedikitpun?!” (QS. Maryam: 42). Pertanyaan yang sama juga ia tujukan kepada kaumnya (QS. al-Syura: 75).
Reformasi moral yang digulirkannya menuai protes dan ancaman. Bukan hanya dari mereka yang masuk golongan elit politiknya, kalangan grass root kaumnya juga menyatakan sikap penolakannya. “Apakah kalian hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia telah memberi petunjuk kepadaku?!...” (QS. Al-An’am: 80) sanggah si pemuda.
Pada suatu waktu kerajaan merayakan upacara. Sejarah tidak menjelaskan momentum acara dan bentuk perayaannya. Hanya saja dikisahkan bahwa seluruh rakyat berkumpul di suatu tempat untuk berpesat. Pemuda hanif (berakidah lurus) ini menolak ikut dengan alasan dirinya sedang sakit. Dan dialah satu-satunya orang yang menolak mengikuti upacara dan pesta itu. Ketika seluruh penduduk negeri riuh berpesta, si pemuda justru mengusung sebuah kapak besar dan menghancurkan seluruh berhala yang ada di tempat penyembahan. Ia hanya menyisakan satu berhala yang terbesar, sementara berhala-berhala lain yang kecil hancur tak berbentuk lagi. Kapak tadi kemudian dikalungkan di leher berhala terbesar yang masih tegak berdiri.
Pesta selesai, dan rakyat menuju ke tempat peribadatan. Namun, mereka terkejut saat mendapati berhala-berhala berguguran dengan kondisi yang mengenaskan.Yang tersisa hanyalah berhala terbesar dengan sebuah kapak di lehernya. “Apa mungkin berhala yang terbesar membunuh berhala-berhala lainnya karena merasa tersaingi?” Gumam mereka. “Tapi berhala-berhala ini hanyalah seonggok batu. Mana mungkin batu dapat bergerak. Mustahil rasanya benda-benda mati itu memiliki perasaan”. Instabilitas nasionalpun terjadi. Setelah dilakukan investigasi, aparat kerajaan berhasil menangkap seorang pemuda yang menjadi satu-satunya tersangka pelaku ”kejahatan melawan tuhan-tuhan”. Pemuda itu bernama Ibrahim. Usianya masih belasan tahun.
Ditangkap dan dibawa ke pengadilan, Ibrahim berkilah dari tuduhan. “Pelakunya adalah berhala yang terbesar. Kalian lihat bukti kejahatan ada padanya. Mengapa kalian tidak langsung menanyainya?”. Mereka yang hadir di persidangan tersentak kaget dengan jawaban Ibrahim. Mereka tertunduk malu karena sadar bahwa berhala tidak mungkin dapat berkata-kata dan berbuat apa-apa. “Mengapa kalian mau menyambah patung yang tidak dapat memberikan kalian manfaat dan madharat?!” cecar Ibrahim lagi. Dalam surat al-Anbiya` ayat 57 sampai 70 diceritakan proses penangkapan dan pengadilan Ibrahim:
Namrudz melihat keadaan yang tidak menguntungkan pihaknya, berinisiatif mendebat Ibrahim. Dengan sombong, Namrudz yang mengaku sebagai tuhan menyatakan bahwa dirinya dapat menghidupkan atau mematikan orang. Hal ini dilakukan dengan cara mendatangkan dua orang laki-laki, di mana yang satu dilepaskan sementara yang lainnya dipenggal kepalanya. Membebaskan orang dari pemenggalan kepala, artinya Namrudz telah memberinya kehidupan. Sementara menghukum mati orang, artinya sang raja telah mematikannya. Namun saat diminta memutar perjalanan matahari dari barat ke timur, Namrudz kelimpungan (QS. Al-Baqarah: 258).
Pemuda Sebagai Agent Of Change
Sejarah mencatat banyak perubahan dimotori oleh pemuda, dan bahwa kepemimpinan yang efektif ada di tangan pemuda. Dalam konteks Indonesia, peralihan orde kepemimpinan diinisiasi dan dipimpin oleh kaum muda. Pemerintahan menjadi tidak efektif ketika ada sosok pemimpin yang “menjadi tua” di kursi jabatannya.
Dengan caranya yang elegan, Ibrahim menunjukkan kebenaran di hadapan sistem otoriter dan penguasa sesat yang lalim. Ia menunjukkan sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap pemuda: Peduli dan berani mengubah keadaan buruk menjadi baik. Ibrahim mencontohkan kepada kita tugas dan tanggung jawab seorang pemuda terhadap bangsa, negara, dan Agamanya. “Sungguh ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim …” (QS. Al-Mumtahanah: 4). Selamat Hari Sumpah Pemuda!
Langganan:
Postingan (Atom)