ME...

ME...
MUSCAT-OMAN 2005

Rabu, 13 Mei 2009

WAWANCARA IMAJINER DENGAN IMAM IBN MAJAH

berikut adalah tulisan kecil yang saya buat saat mengajukan proposal penyediaan mushala di kampus.
***


Kemarin sore saya mengunjungi Kyai Achied, dan sempat berbincang-bincang dengan beliau sebentar tentang Mushala MAFAZA. Berikut adalah petikannya:

Saya (S) :Alhamdulillah, akhirnya mahasiwa Fakultas Dirasat Islamiyah memiliki mushala sendiri.

Kyai Achied (K.A) :Oh ya, Syukurlah kalau demikian. Apa nama mushalanya

(S) :Kami menamainya mushala MAFAZA, singkatan dari Madrasah Fikriyah Al-Azhar. Karena fakultas kami pada awalnya bernama Fakultas Al-Azhar.
(K.A) :Alhamdulillah, sebuah nama yang baik, dalam Alquran Surat al-Naba ayat 31 disebutkan,
إن للمتقين مفازا
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat mafaza (kemenangan).
Semoga nama yang bagus ini menimbulkan rasa optimis sekaligus sebuah doa semoga kiranya para mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah menjadi pemimpin-pemimpin yang bertaqwa dan selalu memperoleh kemenangan dan keberhasilan dalam hidup.

(S) :Amin, semoga demikian. Sebenarnya saya ingin meperbincangkan dengan Kyai tentang mushala MAFAZA, saya mengharapkan taujih dan saran dari kyai untuk mushala MAFAZA.

(K.A) :Pertama saya ingin mengucapkan selamat dan rasa kagum saya kepada mahasiswa yang mau menghidupkan dan memakmurkan mushala MAFAZA. Dalam sebuah Hadis riwayat Shahabat Umar bin al-Khathab, sesungguhnya Rasulullah bersabda,"Siapa yang membangun masjid untuk diperguna-kan berdzikir kepada Allah Ta'ala, maka Allah Ta'ala akan membangunkan baginya rumah di surga." Shahabat Jabir bin Abdullah juga meriwayatkan Hadis, bahwasanya Rasulullah bersabda, "Siapa yang membangun masjid walaupun sesederhana sarang burung, maka Allah Ta'ala akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.

(S) :Sebenarnya mushala MAFAZA itu hanya merupakan pelataran di samping kelas, dan walaupun kami menginginkan agar mushala MAFAZA berada di ruangan tertutup, tapi nampaknya ruangan-ruangan yang ada di fakultas sudah dipergunakan untuk kantor, jadi ya itu tadi, mushalanya hanya di pelataran, yang dialasi karpet dan hijab antara akhawat dan ikhwannya hanya berupa korden.

(K.A) :Shahabat Said bin al-Khudri pernah meriwayatkan Hadis, Bahwasanya Rasulullah pernah bersabda, Sesungguhnya seluruh bumi itu masjid, kecuali kuburan dan kamar mandi.Dan dalam Hadis riwayat Shahabat Ibn Umar, disebutkan bahwa Rasulullah melarang kita shalat di tujuh tempat, yaitu tempat sampah, tempat penjagalan hewan, kuburan, tengah-tengah jalan, kamar mandi, kandang hewan ternak, dan di atas ka'bah. Artinya mushala MAFAZA yang berada di pelataran kelas, tetap dibenarkan dipuji oleh Agama. Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah bahwa Nabi Muhammad memerintahkan kita untuk membangun masjid-masjid di desa-desa, dan beliau juga memerintahkan agar masjid-masjid tersebut dibersihkan dan diharum-harumi. Menurut saya, jika dilihat dari sisi praktis fungsionalnya, mushala itu sama dengan masjid. Sehingga perintah membangun masjid sama dengan perintah membangun mushala. Apalagi untuk Fakultas Dirasat Islamiyah yang nota benenya merupakan lembaga pendidikan Islam, sudah selayaknya memiliki masjid atau mushala sendiri, sebagai tempat pelaksanaan ibadah, dan aktivitas keilmuan, sosial dan peribadatan lainnya.

(S) :Kyai punya saran atau usulan tentang aktivitas yang kami dilakukan di mushala?

(K.A) :Mushala MAFAZA selayaknya dipergunakan untuk semua aktivitas yang berhubungan dengan peribadatan, dakwah islamiyah, sosial, dan aktivitas keilmuan yang berhubungan dengan fakultas.
Sahabat Buraidah pernah meriwayatkan Hadis, bahwasanya Rasulullah pernah bersabda, Sesungguhnya masjid dibangun untuk tujuannya sendiri. Maksudnya masjid atau mushala harus dipergunakan untuk hal-hal yang tadi telah saya sebutkan, yaitu untuk peribadatan, kajian keilmuan, aktivitas sosial dan dakwah islamiyah.
Ketika waktu shalat Dzuhur telah masuk misalnya, seharusnya salah seorang mahasiswa ada yang adzan di mushala, untuk kemudian seluruh mahasiswa melakukan shalat Dzuhur berjamaah. Karena shalat berjamaah jauh lebih utama dibandingkan dengan shalat sendirian, yang menurut Shahabat Ibn Umar, shalat berjamaah dua puluh tujuh kali lipat keutamaannya jika dibandingkan dengan shalat sendirian.
Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa shalat fardhu berjamaah adalah wajib hukumnya, dan Imam Abdullah bin Mubarok menyatakan bahwa orang yang tidak istiqamah dalam melaksanakan shalat berjamaah, maka semua Hadis yang diriwayatkannya bernilai lemah (dha'if).
Dan sudah selayaknya, ketika waktu shalat telah datang dan adzan telah dikumandangkan, maka kita harus segera ke mushala untuk menunaikan shalat berjamaah. Dan khusus bagi mereka yang telah berada di masjid atau mushala, ketika adzan telah dikumandangkan, eh kok malah keluar dari masjid atau mushala, maka ia dianggap munafik. Hal ini sesuai dengan penegasan dari Shahabat Usman bin Affan yang meriwayatkan Hadis, bahwasanya Rasulullah bersabda, Siapa yang mendapati adzan dan ia berada di masjid, kemudian ia malah keluar dari masjid tanpa keperluan apa-apa, dan ia tidak berkehendak kembali ke masjid, maka sesungguhnya ia adalah munafik.
Semisal ketika dosen berhalangan datang atau memang tidak ada mata kuliah sama sekali, maka mahasiswa bisa berada di mushala untuk membaca Alquran.
Mushala juga dapat digunakan untuk diskusi rutin, atau rapat dan musyawarah, selama tidak mengganggu aktivitas peribadatan.

(S) :Bagaimana menurut kyai, hukum orang yang tidur atau istirahat di masjid dan di mushala?

(K.A) :Tidur dan istirahat di dalam masjid atau mushala, hukumnya boleh, selama tidak mengganggu orang yang beribadah. Misalnya jika seorang mahasiswa merasa letih atau mengantuk, maka ia boleh tidur di mushala MAFAZA asalkan tidak di shaf pertama, sehingga ketika ada mahasiswa lain yang ingin melaksanakan shalat Dhuha, atau ingin membaca Alquran, maka ia bisa melakukannya di mushala tanpa terganggu dan mengganggu orang yang tidur tadi.
Dalam sebuah Hadis disebutkan bahwa Shahabat Ibn Umar berkata, Kami (para shahabat) tidur di masjid pada zaman Rasulullah.
Namun lagi-lagi perlu saya pertegas, bahwa kebolehan istirahat dan tidur di masjid atau mushala, adalah selama tidak mengganggu aktivitas peribadatan, karena masjid dan mushala dibangun sebagai tempat peribadatan.

(S) :Lalu untuk pengelolaan mushala itu sendiri, kami mengharapkan saran-saran dari Kyai.

(K.A) :Selayaknya mushala MAFAZA memiliki takmir, yang mengelola dan bertanggungjawab atas semua aktivitas yang dilakukan di mushala, juga masalah kebersihan dan kerapian mushala. Shahabat Abu Said al-Khudri meriwayatkan Hadis, Bahwasanya Rasulullah bersabda, Siapa yang menghilangkan gangguan dari masjid, maka Allah Ta'ala akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga. Dan Ummul Mukminin Aisyah pernah meriwayatkan Hadis, Sesungguhnya Rasulullah memerintahkan pembangunan masjid di desa-desa, dan beliau juga memerintahkan agar masjid-masjid tersebut dibersihkan dan diharum-harumi.
Artinya Mushala takmir MAFAZA harus memiliki jadwal piket kebersihan. Selain itu takmir juga harus melarang mahasiswa merokok di dalam mushala, dan mempersilahkan mereka yang ingin merokok, untuk melakukannya di luar mushala. Hal ini penting karena Rasulullah pernah bersabda, Siapa yang memakan bawang, maka janganlah ia menyakiti kami di masjid kami ini.
Alasan Rasulullah melarang orang yang memakan bawang berada di dalam masjid, adalah aroma menyengat yang ditimbulkan dapat mengganggu orang yang beribadah. Hal ini dapat kita kiaskan dengan rokok, di mana orang yang merokok dapat mengganggu orang lain yang berada di sekitarnya sebab asap yang dihembuskannya.
Masih berkaitan dengan kebersihan, dinding dan hijab mushala hendaknya tidak ditempeli pengumuman dan pamflet-pamflet. Shahabat Buraidah pernah meriwayatkan Hadis, Bahwasanya Rasulullah sedang shalat, ketika beliau mendengar seseorang yang mencari-cari (dengan cara mengumumkan bahwa) untanya hilang. Kemudian Rasulullah bersabda, "Kamu tidak akan menemukannya, sesungguhnya masjid dibangun untuk tujuannya sendiri".
Kejadian yang disebutkan Hadis tersebut bisa kita samakan dengan orang yang yang menginformasikan sesuatu lewat pamflet. Selain demi kerapian dan kebersihan, pamflet-pamflet seharusnya ditempelkan di tempat pengumuman yang khusus.
Dan Saya kira takmir mushala MAFAZA dapat merumuskan sendiri aturan dan kebijakannya, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang ada.

(S) :Ada saran dan pesan khusus untuk takmir mushala MAFAZA, Kyai?

(K.A) :Saya doakan semoga takmir mushala diberikan ketabahan dan kamampuan untuk menjalankan amanat pengelolaan mushala, juga keikhlasan. Dan Saya ingin membacakan ayat Alquran Surat al-Taubah ayat 18,
إنما يعمر مساجد الله من ءامن بالله واليوم الآخر
وأقام الصلاة وءاتى الزكاة ولم يخش إلا الله
فعسى أولئك أن يكونوا من المهتدين


Artinya,
Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Shahabat Jarir meriwayatkan Hadis, bahwasanya Rasulullah pernah bersabda,Siapa yang merintis sebuah sebuah amal kebajikan, di mana amal kebajikan tersebut diikuti oleh orang lain, maka baginya pahala amal kebajikan tersebut, dan baginya pula pahala orang-orang yang mengikutinya melakukan amal tersebut, dengan tanpa mengurangi pahala dari orang-orang yang mengikutinya.

(S) :Terima kasih, Kyai! Jazakumullah khairan.

(K.A) :Terima kasih kembali.

Perlu saya sampaikan, bahwa saat melakukan wawancara dengan Kyai Achied, beliau sedang membawa kitab Sunan Ibn Majah karya Imam Muhammad bin Yazid al-Qazwini, dan beliau juga menyatakan bahwa Hadis-hadis yang beliau sebutkan, semua terdapat dalam kitab tersebut. Sehingga—dengan sedikit berkelakar—beliau menyatakan bahwa wawancara ini pada hakikatnya adalah wawancara saya dengan Imam Ibn Majah.***

mengqadha shalat

BEBERAPA HADIS DAN ATSAR TENTANG QADHA SHALAT

حدثني حرملة بن يحيى التجيـبي أخبرنا بن وهب أخبرني يونس عن بن شهاب عن سعيد بن المسيب عن أبي هريرة:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم حين قفل من غزوة خيبر سار ليله حتى إذا أدركه الكرى عرس وقال لبلال أكلأ لنا الليل فصلى بلال ما قدر له ونام رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه فلما تقارب الفجر استند بلال إلى راحلته مواجه الفجر فغلبت بلالا عيناه وهو مستند إلى راحلته فلم يستيقظ رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا بلال ولا أحد من أصحابه حتى ضربتهم الشمس فكان رسول الله صلى الله عليه وسلم أولهم استيقاظا ففزع رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال أي بلال فقال بلال أخذ بنفسي الذي أخذ بابي أنت وأمي يا رسول الله بنفسك قال اقتادوا فاقتادوا رواحلهم شيئا ثم توضأ رسول الله صلى الله عليه وسلم وأمر بلالا فأقام الصلاة فصلى بهم الصبح فلما قضى الصلاة قال من نسي الصلاة فليصلها إذا ذكرها فإن الله قال أقم الصلاة لذكري قال يونس وكان بن شهاب يقرؤها للذكرى
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saat kembali dari perang Khaibar, beliau melakukan perjalanan (pulang) pada malam hari, hingga ketika mengantuk, beliau berhenti dan beristirahat. Beliau berkata kepada Bilal, "Wahai Bilal, berjaga dan awasilah kami malam ini!" Lalu Bilal melakukan shalat sebanyak yang ia mampu, dan Rasulullah beserta shahabat (yang lain) tidur.
Ketika fajar hampir menyingsing, Bilal bersandar ke untanya seraya menunggu datangnya fajar (waktu shalat Shubuh), dan iapun mengantuk. Maka Rasulullah tidak terbangun, begitu pula Bilal dan para Shahabat, hingga cahaya matahari menerpa mereka, dan Rasulullah adalah orang yang pertama kali terbangun seraya terkaget. Beliau bertanya kepada Bilal, "Ada apa Bilal (kenapa kita bisa terlambat bangun)?". Bilal menjawab, "Allah Yang menggenggam diri engkau (membuat engkau mengantuk) diriku, telah menggenggam diriku (membuat aku mengantuk), Ya Rasulullah". Rasulullah berkata, "Tuntunlah tunggangan kalian!", maka para shahabatpun menuntun tunggangan mereka. Kemudian Rasulullah berwudhu, dan memerintahkan Bilal beriqamat, kemudian Rasulullah mengimami para shahabat melaksanakan shalat Shubuh (berjamaah). Dan setelah melaksanakan shalat, beliau bersabda, "Siapa yang lupa (melaksanakan) shalat, maka hendaknya ia melaksanakan shalat saat ia mengingatnya, karena Allah telah berfirman 'Aqim al-Shalat li dzikry' (dirikanlah shalat untuk mengingatku)"
(HR. al-Imam Muslim I/471; Al-Imam al-Baihaqi II/217; Dan al-Imam Ibn Hibban V/423, dari Shahabat Abu Hurairah).

حدثنا أبو نعيم وموسى بن إسماعيل قالا حدثنا همام عن قتادة عن أنس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:
من نسي صلاة ليصل إذا ذكرها لا كفارة لها إلا ذلك
Rasulullah bersabda, "Siapa yang terlupa akan (melaksanakan) shalat, maka hendaknya ia melaksanakannya ketika ia mengingatnya. Tidak ada kaffarah (tebusan atas kesalahan) baginya (bagi shalat yang dilupakan) kecuali yang demikian itu (yaitu melaksanakannya ketika ia mengingatnya)
(HR. al-Imam al-Bukhari I/215; Al-Imam Ibn Khuzaimah II/97, dari Shahabat Anas bin Malik)

حدثنا مسدد قال حدثنا يحيى عن هشام قال حدثنا يحيى هو بن أبي كثير عن أبي سلمة عن جابر قال:
جعل عمر يوم الخندق يسب كفارهم وقال ما كدت أصلي العصر حتى غربت قال فنزلنا بطحان فصلى بعد ما غربت الشمس ثم صلى المغرب
Shahabat Umar bin al-Khathab melaknati orang-orang kafir Khandak pada saat perang Khandak, dan berkata, "Hampir aku tidak melaksanakan shalat Ashar, hingga terbenamnya matahari".
Shahabat Jabir berkata, "Kemudian kami berhenti di kawasan Bathhan dan beliau (Shahabat Umar) melaksanakan shalat Ashar setelah matahari terbenam (dan waktu shalat Ashar telah habis), kemudian beliau shalat Maghrib".
(HR. al-Imam al-Bukhari I/215, dari Shahabat Jabir)
ثنا أبو موسى ثنا عبد الأعلى ثنا سعيد عن قتادة عن أنس بن مالك قال قال نبي الله صلى الله عليه وسلم:
من نسي صلاة ونام عنها فكفارتها أن يصليها إذا ذكرها
Siapa yang lupa (melaksanakan) shalat, atau tertidur darinya (hingga tidak melaksanakan shalat pada waktunya), maka kaffarahnya adalah ia melaksanakan shalat tersebut ketika ia teringat akannya.
(HR. al-Imam Ibn Khuzaimah II/97, dari Shahabat Anas bin Malik)

Sumber Bacaan
Al-Baihaqy (Ahmad bin al-Husain), al-Sunan al-Kubra, (Makkah al-Mukarramah: Maktabah Dar al-Baz, 1994).
Al-Naisabury (Muhammad bin Ishaq), Shahih Ibn Khuzaimah, (Beirut: al-Maktab al-Islamy, 1970)
Al-Naisabury (Muslim bin al-Hajjaj), Shahih Muslim, (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-'Araby, tt)
Al-Tamimy (Muhammad bin Hibban), Shahih Ibn Hibban, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1993), cet. II

hadis tentang doa bersama

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
لاَ يَجْتَمِعُ مَلأٌ فَيَدْعُوْ بَعْضُهُمْ وَيُؤَمِّنُ البَعْضُ إِلاَّ أَجَابَهُمُ اللهُ
Tidaklah sekelompok orang berkumpul, kemudian sebagian mereka berdoa dan sebagian yang lain mengamininya, kecuali Allah akan mengabulkan doa mereka
Hadis ini diriwayatkan oleh:
1.al-Imam al-Hakim (Muhammad bin Abdullah) dalam kitab al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1411 H.), cet. I, juz III, hal.390
2.al-Imam al-Thabrany (Sulaiman bin Ahmad), al-Mu'jam al-Kabir, (Musol: Maktabah al-'Ulum wa al-Hikam, 1404 H.), cet. II, juz IV, hal. 21
3.al-Imam al-Mundziri (Abdul Adzim bin Abdul Qawi), al-Targhib wa al-Tarhib, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1417 H.), cet. I, juz I, hal. 196
Kesemuanya dari Shahabat Habib bin Maslamah al-Fihry ra.

Kamis, 07 Mei 2009

PERAWI SYIAH DALAM KUTUB SITTAH

بسم الله الرحمن الرحيم
وقد سألني بعض الإخوان على تكفير الشيعة أو كونهم من المسلمين. فأقول بأن الشيعة ليست واحدة بل هي تتفرق بفرق كثيرة مثل الإمامية والحنفية والزيدية، ومن ثم تتفرق الأحكام.
فمن رأى أن عليا إله أو نبي بعثه الله بعد رسولنا محمد أو أرسله ولم يرسل نبينا محمد على قول من زعم أن جبريل أخطأ في إنزال الوحي فهو كافر بلا خلاف سواء كان ينتمي إلى الشيعة أو لا. وكذلك لا نكفر أحدا ببدعة مثل القدرية أو جبرية أو المرجئة، بل نكفر من رد القدر لأنه من أركان الإيمان.
فمن الجملة لا نكفر فرقة بل نكفر أفرادا (فردا فردا) اعتقدوا بخلاف ما هو معلوم من الدين بالضرورة.
وأمثل أشخاصا كانوا من الشيعة وقد يكونوا منهم غلاة ولكن قبل العلماء رواياتهم حيث ان الروايات المقبولة منقولة من الثقات والثقة عدل ضابط والعدل لا يكون إلا مسلما.
فههنا الرواة الذين أخرج لهم أصحاب الستة وعددهم من الشيعة أكثر من خمسين (ومن الفرق الأخرى أكثر من سبعين):
1. أبان بن تغلب الكوفي شيعي جلد لكنه صدوق فلنا صدقه وعليه بدعته
وقد وثقه أحمد بن حنبل ويحيى بن معين وابو حاتم واورده ابن عدي وقال كان غاليا في التشيع (ميزان الاعتدال ج: 1 ص: 118)
أخرج له مسلم وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه وأحمد

2. إسحاق بن منصور السلولي روى عن إبراهيم بن سعد وأسباط بن نصر وإسرائيل روى عنه أبو بكر بن أبى شيبة وعمرو الناقد يعد في الكوفيين سمعت أبى وأبا زرعة يقولان ذلك حدثنا عبد الرحمن انا يعقوب بن إسحاق الهروي فيما كتب الى ثنا عثمان بن سعيد الدارمي قال سألت يحيى بن معين قلت إسحاق بن منصور السلولي فقال ليس به بأس (الجرح والتعديل ج: 2 ص: 234)
ومراد قول ابن معين "ليس به بأس" هو التوثيق منه، وقد أخرج له الستة (تهديب التهذيب ج: 1 ص: 219)

3. إسماعيل بن أبان الوراق الأزدي أبو إسحاق أو أبو إبراهيم كوفي ثقة تكلم فيه للتشيع (تقريب التهذيب ج: 1 ص: 150)

4. ثعلبة بن يزيد الحماني صاحب شرطة علي شيعي غال، قال البخاري في حديثه نظر وقال النسائي ثقة

5. جعفر بن سليمان الضبعي بضم المعجمة وفتح الموحدة أبو سليمان البصري صدوق زاهد لكنه كان يتشيع (تقريب التهذيب ج: 1 ص: 140)
قيل لجعفر بلغنا أنك تشتم أبا بكر وعمر فقال أما الشتم فلا ولكن بغضا. وقال أبو حاتم كان من الثقات المتقنين في الروايات غير أنه كان ينتحل الميل إلى أهل البيت ولم يكن بداعية إلى مذهبه)

6. خالد بن مخلد القطواني بفتح القاف والطاء أبو الهيثم البجلي مولاهم الكوفي صدوق يتشيع وله أفراد من كبار (تقريب التهذيب ج: 1 ص: 190) وقد روى له البخاري ومسلم في الصحيحين

7. سعيد بن فيروز وهو بن أبي عمران أبو البختري الطائي مولاهم الكوفي روى له الستة ثقة ثبت فيه تشيع قليل كثير الإرسال (تقريب التهذيب ج: 1 ص: 240)

8. سليمان بن قرم الضبي الكوفي ويقال سليمان بن معاذ فينسب إلى جده فإنه سليمان بن قرم بن معاذ الكوفي، وقال أبو حاتم ليس بالمتين وأما أحمد فقال ثقة رواه عبد الله بن أحمد عن أبيه. وقال ابن حبان كان رافضيا غاليا ومع ذلك يقلب الأخبار وقال النسائي ليس بالقوي قيل لعبد الله بن الحسن أفي أهل قبلتنا كفار قال نعم الرافضة

6. عبد الملك بن أعين أخو حمران بن اعين من أهل الكوفة يروى عن العراقيين روى عنه بن عيينة وإسماعيل بن سميع وكان يتشيع. وقد ذكره ابن حبان في الثقات (الثقات ج: 7 ص: 94)

Selasa, 28 April 2009

قبول رواية المبتدعة

بسم الله الرحمن الرحيم
والصلاة والسلام على سيدنا محمد سيد المرسلين وأتقى الناس أجمعين.
وقد دارت في ذهني مسألة تكلم فيها الناس عوامهم وعلماءهم وهي مسألة قبول رواية من اتهم ببدعة. فأقول وبالله التوفيق:
قال المنذري:
وقد اختلف أهل العلم في أهل البدع كالقدرية والرافضة والخوارج. فقالت طائفة لا يحتج بحديثهم جملة. وذهبت طائفة إلى قبول أخبار أهل الأهواء الذين لا يعرف منهم استحلال الكذب ولا الشهادة لمن وافقهم بما ليس عندهم فيه شهادة. وذهبت طائفة إلى قبول غير الدعاة من أهل الأهواء، فأما الدعاة فلا يحتج بأخبارهم. ومنهم من ذهب إلى أنه يقبل حديثهم إذا لم يكن فيه تقوية لبدعتهم. انتهى كلام المنذري
جاء في سير أعلام النبلاء في ترجمة الحافظ أبي بكر هشام الدستوائي البصري وحديثه في الكتب الستة: "قال الحافظ محمد بن البرقي قلت ليحيى بن معين أرأيت من يرمى بالقدر يكتب حديثه؟ قال نعم قد كان قتادة وهشام الدستوائي وسعيد بن أبي عروبة وعبد الوارث (وذكر جماعة) يقولون بالقدر وهم ثقات يكتب حديثهم ما لم يدعوا إلى شيء.
وقال الذهبي هذه مسألة كبيرة وهي القدري والمعتزلي والجهمي الرافضي إذا علم صدقه في الحديث وتقواه ولم يكن داعية إلى بدعته فالذي عليه أكثر العلماء قبول روايته والعمل بحديثه.
وترددوا في الداعية هل يؤخذ عنه؟ فذهب كثير من الحفاظ إلى تجنب حديثه وهجرانه، وقال بعضهم إذا علمنا صدقه وكان داعية ووجدنا عنده سنة تفرد بها فكيف يسوغ لنا ترك تلك السنة؟! فجميع تصرفات أئمة الحديث تؤذن بان المبتدع إذا لم تبح بدعته خروجه من دائرة الإسلام ولم تبح دمه فإن قبول ما رواه سائغ.
قال عبد الفتاح أبو غدة "وهذه المسألة لم تتبرهن لي كما ينبغي، والذي اتضح لي منها أن من دخل في بدعة ولم يعد من رؤوسها ولا أمعن فيها يقبل حديثه كما مثل الحافظ أبو زكريا (يحيى بن معين) بأولئك المذكورين وحديثهم في الكتب الإسلام لصدقهم وحفظهم.
وقال السيوطي في تدريب الراوي نقلا عن الحافظ ابن حجر: التحقيق أنه لا ترد رواية كل مكفر (بفتح الفاء) ببدعته لأن كل طائفة تدعي أن مخالفيها مبتدعة، وقد تبالغ في ذلك فتكفرهم، فلو أخذ ذلك على الإطلاق لاستلزم تكفير جميع الطوائف.
والمعتمد أن الذي ترد روايته من أنكر أمرا متواترا من الشرع معلوما من الدين بالضرورة أو اعتقد عكسه. أما من لم يكن كذلك وانضم إلى ذلك ضبطه لا يرويه مع ورعه وتقواه فلا مانع من قبوله.
قال الشيخ بخيت: وعلى كل حال فلو رددنا الروايات بمثل هذا لم نقبل رواية قط إلا ممن أجمع الكل على أنه غير مبتدع...ومن ذلك تعلم أن الحق قبول رواية كل من كان من أهل القبلة يصلي بصلاتنا ويؤمن بكل ما جاء به رسولنا مطلقا متى كان يقول بحرمة الكذب. فإن كل من هو كذلك لا يمكن أن يبتدع بدعة إلا وهو متأول فيها مستند في القول فيها إلى كتاب الله أو سنة رسوله بتأويل رآه باجتهاده وكل مجتهد مأجور وإن أخطأ.
نعم إذا كان ينكر أمرا متواترا من الشرع معلوما من الدين بالضرورة أو اعتقد عكسه كان كافرا قطعا لأن ذلك ليس محلا للاجتهاد بل هو مكابرة فيما هو متواتر من الشريعة معلوم من الدين بالضرورة فكان كافرا مجاهرا فلا يقبل مطلقا حرم الكذب أو لم يحرمه.
ثم إن النقاد اختلفوا في توثيق راو أو تضعيفه لأن الجرح والتعديل من الأمور الاجتهادية ولا يسلم أحد غير الرسول صلى الله عليه وسلم من معدل ومجرح.
فمن ذلك أبو الزبير المكي وعبد الملك بن أبي سليمان وحكيم بن جبير ترك شعبة الرواية عنهم مع أن غير واحد من الأئمة حدثوا عن أبي الزبير وعبد الملك وحكيم بن جبير.
قال عطاء بن أبي رباح كان أبو الزبير أحفظنا للحديث.
وقال أيوب السختياني حدثني أبو الزبير وأبو الزبير أبو الزبير، قال سفيان بيده يقبضها، قال أبو عيسى إنما يعني به الإتقان والحفظ.
وقال سفيان الثوري كان عبد الملك بن سليمان ميزانا في العلم.
وسأل علي بن المديني يحيى بن سعيد عن حكيم بن جبير تركه شعبة من أجل الحديث الذي روى في الصدقة، وقد حدث عن حكيم سفيان الثوري وزائدة ولم ير علي بحديثه بأسا. انتهى كلام الترمذي.
واورد هنا اختلاف المحدثين في الاحتجاج بمحمد بن إسحاق وشبابة بن سوار.

محمد بن إسحاق
فمحمد بن إسحاق بن يسار أثنى عليه كثير من العلماء وذمه الآخرون. وأما البخاري ومسلم فلم يحتجا به في صحيحيهما البتة، وإنما أخرج له مسلم أحاديث في المتابعات لا في الأصول، وكذلك البخاري لم يخرج له شيئا في الأصول وإنما ذكره في الاستشهاد، جريا على عادتهما فيمن لا يحتجان بحديثه كما فعله البخاري في ابي الزبير المكي وسهيل بن أبي صالح وكما فعله مسلم في عكرمة مولى ابن عباس وشريك بن عبدالله.
فشعبة وسفيان يقولان في محمد بن إسحاق: أمير المؤمنين في الحديث، مع أن مالك ويحيى بن سعيد يجرحانه.
قال سليمان بن داود قال لي يحيى بن سعيد أشهد أن محمد بن إسحاق كذاب. قال قلت ما يدريك؟ قال قال لي وهيب بن خالد إنه كذاب. قال قلت لوهيب ما يدريك؟ قال قال لي مالك بن أنس أشهد انه كذاب. قلت لمالك ما يدريك؟ قال قال لي هشام بن عروة أشهد أنه كذاب. قال لهشام ما يدريك؟ قال حدث عن امرأتي فاطمة بنت المنذر وأدخلت علي وهي بنت تسع سنين وما رآها رجل حتى لقيت الله.
قال عبدالله بن أحمد بن حنبل فحدثت أبي بحديث ابن إسحاق فقال وما ينكر هشام لعله جاء واستأذن عليها وأذنت له أحسبه قال ولم يعلم هوظز وقال أحمد بن حنبل مرة أخرى وقد يمكن أن يسمع منها تخرج إلى المسجد أو خارجة فسمع.
وقد كان هشام نفى رؤيته لها ولم ينف سماعه منها. وقال علي بن المديني: الذي قال هشام ليس بحجة، لعله دخل على امرأته وهو غلام فسمع منها.
فمن ترك الاحتجاج بحديث ابن إسحاق احتمل أن يكون تركه للقدر أو للتشيع أو للتدليس على رأي من يرى ذلك قادحا. ومن احتج بحديثه احتمل أن يكون لا يرى البدعة مانعة ولا التدليس.
وجاء في الكامل لابن عدي في ترجمة محمد بن إسحاق أنه أي ابن عدي حضر مجلس الفريابي وقد سئل عن حديث لمحمد بن إسحاق وكان يأبى عليهم. فلما كرروا عليه قال محمد بن إسحاق فذكر كلمة شنيعة فقال زنديق.
قال عبدالفتاح: فانظر ما أوسع ما بين طرفي تويثق ابن إسحاق وجرحه فسبحان الله. الفريابي يقول في أمير المؤمنين في الحديث زنديق كبرت كلمة هو قائلها فإنا لله وإنا إليه راجعون...
فقد قال مالك في ابن إسحاق إنه دجال من الدجاجلة. وقال فيه شعبة إنه أمير المؤمنين في الحديث. فهذان الإمامين اختلفا في رجل واحد. فبسبب هذا الاختلاف حصل اختلاف الأئمة في التصحيح والتضعيف.
قيل لما قال ابن إسحاق اعرضوا على علم مالك فأنا بيطاره. فبلغ مالكا فقال تلك الكلمة الجافية التي لو لا جلالة من قالها وما نرجوه من عفو الله عن فلتات اللسان عند الغضب. فلما وجدناه خرج مخرج الغضب لم نره قادحا في ابن إسحاق فإنه خرج مخرج جزاء السيئة بالسيئة، على أن ابن إسحاق لم يقدح في مالك ولا في علمه. فنظرنا كلام شعبة في ابن إسحاق فقدمنا قوله لأنه خرج مخرج النصح للمسلمين ليس له حامل عليه إلا ذلك.
ولا يكون الجرح والتعديل متعارضا إلا إذا كان كل من الجرح والتعديل للراوي خاليا من السبب القادح فيه. أما إذا كان الجرح غير سليم بأن كان ناشئا عن الغضب أو الكراهية وكان التعديل سليما على الجادة فلا يلتفت إلى ذلك التعارض.

شبابة بن سوار
فقد احتج به البخاري ومسلم في صحيحيهما وحدث عنه ثلة من الأئمة مثل احمد بن حنبل وعلي بن المديني وابن معين وابنا ابي شيبة وإسحاق بن راهويه. وقد تكلم فيه بعضهم فقال أحمد بن حنبل تركته ولم أرو عنه للإرجاء وكان داعية.
وقيل لعلي بن المديني عن حديث شبابة الذي رواه عن شعبة في الدباء فقال علي أي شيء تقدر أن تقول في ذاك؟ يعني شبابة ، كان شيخا صدوقا إلا انه كان يقول بالإرجاء ولا ينكر لرجل سمع من رجل ألفا أو ألفين أن يجيء بحديث غريب.
قال أبو أحمد الجرجاني الذي أنكرته عليه الخطأ ولعله حدث به حفظا. وقيل لأبي زرعة في أبي معاوية، كان يرى الإرجاء؟ قال نعم كان يدعو إليه. قيل فشبابة بن سوار أيضا؟ قال نعم. قيل رجع عنه؟ قال نعم. قال الإيمان قول وعمل.
فهذا الإمام أحمد صرح بأنه تركه لكونه داعية إلى الإرجاء، وهذا علي بن المديني لم ير قوله بالإرجاء وتفرده بشيء مؤثرا في حقه، والخطأ فلا يسلم منه أحد.
والله تعالى أعلم وصلى الله على نبيه محمد وسلم

(نقلته كثيرا عن محدث العصر عبد الفتاح أبو غدة

Senin, 06 April 2009

HUKUM MENYEMIR RAMBUT DENGAN WARNA HITAM

diambil dari berbagai sumber

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَحْسَنَ مَا اخْتَضَبْتُمْ بِهِ لَهَذَا السَّوَادُ أَرْغَبُ لِنِسَائِكُمْ فِيكُمْ وَأَهْيَبُ لَكُمْ فِي صُدُورِ عَدُوِّكُمْ (أخرجه ابن ماجه)
قال الألباني: ضعيف

قَالَ الْحَافِظُ فِي الْفَتْحِ: قَدْ تَمَسَّكَ بِهِ يَعْنِي بِحَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ الْمَذْكُورِ مَنْ أَجَازَ الْخِضَابَ بِالسَّوَادِ، وَقَدْ تَقَدَّمَتْ فِي بَابِ ذِكْرِ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ أَحَادِيثِ الْأَنْبِيَاءِ مَسْأَلَةُ اِسْتِثْنَاءِ الْخَضْبِ بِالسَّوَادِ لِحَدِيثَيْ جَابِرٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ، وَأَنَّ مِنْ الْعُلَمَاءِ مَنْ رَخَّصَ فِيهِ فِي الْجِهَادِ وَمِنْهُمْ مَنْ رَخَّصَ فِيهِ مُطْلَقًا وَأَنَّ الْأَوْلَى كَرَاهَتُهُ. وَجَنَحَ النَّوَوِيُّ إِلَى أَنَّهُ كَرَاهَةُ تَحْرِيمٍ، وَقَدْ رَخَّصَ فِيهِ طَائِفَةٌ مِنْ السَّلَفِ مِنْهُمْ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَعُقْبَةُ بْنُ عَامِرٍ وَالْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ وَجَرِيرٌ وَغَيْرُ وَاحِدٍ وَاخْتَارَهُ اِبْنُ أَبِي عَاصِمٍ فِي كِتَابِ الْخِضَابِ لَهُ، وَأَجَابَ عَنْ حَدِيثِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَفَعَهُ: "يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ بِالسَّوَادِ لَا يَجِدُونَ رِيحَ الْجَنَّةِ " ، بِأَنَّهُ لَا دَلَالَةَ فِيهِ عَلَى كَرَاهَةِ الْخِضَابِ بِالسَّوَادِ بَلْ فِيهِ الْإِخْبَارُ عَنْ قَوْمٍ هَذِهِ صِفَتُهُمْ . وَعَنْ حَدِيثِ جَابِرٍ : جَنِّبُوهُ السَّوَادَ بِأَنَّهُ فِي حَقِّ مَنْ صَارَ شَيْبُ رَأْسِهِ مُسْتَبْشَعًا وَلَا يَطَّرِدُ ذَلِكَ فِي حَقِّ كُلِّ أَحَدٍ اِنْتَهَى. وَمَا قَالَهُ خِلَافُ مَا يَتَبَادَرُ مِنْ سِيَاقِ الْحَدِيثَيْنِ، نَعَمْ يَشْهَدُ لَهُ مَا أَخْرَجَهُ هُوَ عَنْ اِبْنِ شِهَابٍ قَالَ : كُنَّا نَخْضِبُ بِالسَّوَادِ إِذَا كَانَ الْوَجْهُ جَدِيدًا فَلَمَّا نَغَضَ الْوَجْهُ وَالْأَسْنَانُ تَرَكْنَاهُ. وَقَدْ أَخْرَجَ الطَّبَرَانِيُّ وَابْنُ أَبِي عَاصِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَفَعَهُ: "مَنْ خَضَبَ بِالسَّوَادِ سَوَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ"، وَسَنَدُهُ لَيِّنٌ وَمِنْهُمْ مَنْ فَرَّقَ فِي ذَلِكَ بَيْنَ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ فَأَجَازَهُ لَهَا دُونَ الرَّجُلِ. وَاخْتَارَهُ الْحَلِيمِيُّ وَأَمَّا خَضْبُ الْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ فَلَا يَجُوزُ لِلرِّجَالِ إِلَّا فِي التَّدَاوِي اِنْتَهَى كَلَامُ الْحَافِظِ.

مَنْ أَجَازَ الْخِضَابَ بِالسَّوَادِ اِسْتَدَلَّ بِأَحَادِيثَ مِنْهَا: حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ الْمَذْكُورُ فَإِنْ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "غَيِّرُوا الشَّيْبَ" بِإِطْلَاقِهِ يَشْمَلُ التَّغْيِيرَ بِالسَّوَادِ أَيْضًا وَوَقَعَ فِي رِوَايَةِ الْبُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ" إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَا يَصْبُغُونَ فَخَالِفُوهُمْ" قَالَ الْحَافِظُ اِبْنُ أَبِي عَاصِمٍ قَوْلُهُ: "فَخَالِفُوهُمْ" إِبَاحَةٌ مِنْهُ أَنْ يُغَيِّرُوا الشَّيْبَ بِكُلِّ مَا شَاءَ الْمُغَيِّرُ لَهُ إِذْ لَمْ يَتَضَمَّنْ قَوْلُهُ: "خَالِفُوهُمْ" أَنْ اُصْبُغُوا بِكَذَا وَكَذَا دُونَ كَذَا وَكَذَا اِنْتَهَى.
وَمِنْهَا حَدِيثُ جَابِرٍ قَالَ: أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ أَوْ جَاءَ عَامَ الْفَتْحِ أَوْ يَوْمَ الْفَتْحِ وَبِرَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ مِثْلُ الثَّغَامِ أَوْ الثَّغَامَةِ فَأَمَرَ أَوْ فَأُمِرَ بِهِ إِلَى نِسَائِهِ قَالَ: غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ، فَإِنَّ قَوْلَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ بِإِطْلَاقِهِ يَشْمَلُ التَّغْيِيرَ بِالسَّوَادِ أَيْضًا.
وَأَجَابَ الْمَانِعُونَ عَنْ هَذَيْنِ الْحَدِيثَيْنِ بِأَنَّ الْمُرَادَ بِالتَّغْيِيرِ فِيهِمَا بِغَيْرِ السَّوَادِ، فَإِنَّ حَدِيثَ جَابِرٍ هَذَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ طُرُقِ اِبْنِ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْهُ وَزَادَ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ فِي هَذِهِ الزِّيَادَةِ دَلَالَةٌ وَاضِحَةٌ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالتَّغْيِيرِ فِي الْحَدِيثَيْنِ الْمَذْكُورَيْنِ التَّغْيِيرُ بِغَيْرِ السَّوَادِ .
وَأَجَابَ الْمُجَوِّزُونَ عَنْ هَذِهِ الزِّيَادَةِ بِأَنَّ فِي كَوْنِهَا مِنْ كَلَامِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَظَرًا، وَيُؤَيِّدُهُ أَنَّ اِبْنَ جُرَيْجٍ رَاوِيَ الْحَدِيثِ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ كَانَ يَخْضِبُ بِالسَّوَادِ كَمَا سَتَقِفُ عَلَيْهِ.
وَمِنْهَا حَدِيثُ أَبِي ذَرٍّ الْمَذْكُورُ فَإِنَّهُ يَدُلُّ عَلَى اِسْتِحْبَابِ الْخِضَابِ بِالْحِنَّاءِ مَخْلُوطًا بِالْكَتَمِ وَهُوَ يُسَوِّدُ الشَّعْرَ.
وَأُجِيبَ عَنْهُ بِأَنَّ الْخَلْطَ يَخْتَلِفُ، فَإِنْ غَلَبَ الْكَتَمُ اِسْوَدَّ، وَكَذَا إِنْ اِسْتَوَيَا، وَإِنْ غَلَبَ الْحِنَّاءُ اِحْمَرَّ، وَالْمُرَادُ بِالْخَلْطِ فِي الْحَدِيثِ إِذَا كَانَ الْحِنَّاءُ غَالِبًا عَلَى الْكَتَمِ جَمْعًا بَيْنَ الْأَحَادِيثِ،
وَفِيهِ أَنَّ الْحَدِيثَ مُطْلَقٌ لَيْسَ مُقَيَّدًا بِصُورَةٍ دُونَ صُورَةٍ ، وَوَجْهُ الْجَمْعِ لَيْسَ بِمُنْحَصِرٍ فِيمَا ذُكِرَ. وَمِنْهَا حَدِيثُ صُهَيْبٍ رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَهْ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ الصَّيْرَفِيُّ مُحَمَّدُ بْنُ فِرَاسٍ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ بْنِ زَكَرِيَّا الرَّاسِبِيُّ حَدَّثَنَا دَفَّاعُ بْنُ دَغْفَلٍ السَّدُوسِيُّ عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ صَيْفِيٍّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ صُهَيْبِ الْخَيْرِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ أَحْسَنَ مَا اِخْتَضَبْتُمْ بِهِ لَهَذَا السَّوَادُ أَرْغَبُ لِنِسَائِكُمْ فِيكُمْ، وَأَهْيَبُ لَكُمْ فِي صُدُورِ عَدُوِّكُمْ". وَيُؤَيِّدُ هَذَا الْحَدِيثَ مَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَأْمُرُ بِالْخِضَابِ بِالسَّوَادِ وَيَقُولُ: هُوَ تَسْكِينٌ لِلزَّوْجَةِ وَأَهْيَبُ لِلْعَدُوِّ. وَذَكَرَهُ الْعَيْنِيُّ فِي الْعُمْدَةِ.
وَأَجَابَ الْمَانِعُونَ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ بِوَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا أَنَّ دَفَّاعَ بْنَ دَغْفَلٍ وَعَبْدَ الْحَمِيدِ بْنَ صَيْفِيٍّ ضَعِيفَانِ كَمَا فِي التَّقْرِيبِ، وَثَانِيهِمَا أَنَّ عَبْدَ الْحَمِيدِ بْنَ صَيْفِيٍّ "وَهُوَ عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ زِيَادِ بْنِ صَيْفِيٍّ" عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ لَا يُعْرَفُ سَمَاعُ بَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ، قَالَهُ الْبُخَارِيُّ كَمَا فِي الْمِيزَانِ.
وَأُجِيبَ عَنْ الْوَجْهِ الْأَوَّلِ: بِأَنَّ دَفَّاعَ بْنَ دَغْفَلٍ ضَعَّفَهُ أَبُو حَاتِمِ وَوَثَّقَهُ اِبْنُ حِبَّانَ ، قَالَهُ الذَّهَبِيُّ فِي الْمِيزَانِ. وَقَالَ الْحَافِظُ فِي تَهْذِيبِ التَّهْذِيبِ: قَالَ أَبُو حَاتِمِ: ضَعِيفُ الْحَدِيثِ وَذَكَرَهُ اِبْنُ حِبَّانَ فِي الثِّقَاتِ، فَتَضْعِيفُ أَبِي حَاتِمِ وَقَوْلُهُ ضَعِيفُ الْحَدِيثِ غَيْرُ قَادِحِ لِأَنَّهُ لَمْ يُبَيِّنْ السَّبَبَ. قَالَ الزَّيْلَعِيُّ فِي نَصْبِ الرَّايَةِ فِي الْكَلَامِ عَلَى مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ، وَقَوْلُ أَبِي حَاتِمٍ لَا يُحْتَجُّ بِهِ غَيْرُ قَادِحِ ، فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْ السَّبَبَ وَقَدْ تَكَرَّرَتْ هَذِهِ اللَّفْظَةُ مِنْهُ فِي رِجَالٍ كَثِيرِينَ مِنْ أَصْحَابِ الصَّحِيحِ الثِّقَاتِ الْأَثْبَاتِ مِنْ غَيْرِ بَيَانِ السَّبَبِ كَخَالِدٍ الْحَذَّاءِ وَغَيْرِهِ اِنْتَهَى. فَتَوْثِيقُ اِبْنِ حِبَّانَ هُوَ الْمُعْتَمَدُ، وَعَبْدُ الْحَمِيدِ بْنِ صَيْفِيٍّ لَمْ يَثْبُتْ فِيهِ جَرْحٌ مُفَسَّرٌ. وَقَالَ أَبُو حَاتِمٍ هُوَ شَيْخٌ. وَذَكَرَهُ اِبْنُ حِبَّانَ فِي الثِّقَاتِ.
وَأُجِيبَ عَنْ الْوَجْهِ الثَّانِي بِأَنَّ قَوْلَ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ :لَا يُعْرَفُ سَمَاعُ بَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى مَا اِشْتَرَطَهُ فِي قَبُولِ الْحَدِيثِ الْمُعَنْعَنِ مِنْ بَقَاءِ بَعْضِ رُوَاتِهِ مِنْ بَعْضٍ وَلَوْ مَرَّةً. وَأَمَّا الْجُمْهُورُ فَلَمْ يَشْتَرِطُوا ذَلِكَ، وَالْمَسْأَلَةُ مَذْكُورَةٌ مَبْسُوطَةٌ فِي مَقَامِهَا.
وَمِنْهَا حَدِيثُ عَائِشَةَ مَرْفُوعًا: "إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ وَهُوَ يَخْضِبُ بِالسَّوَادِ فَلْيُعْلِمْهَا أَنَّهُ يَخْضِبُ"، رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ فِي مُسْنَدِ الْفِرْدَوْسِ.
وَأُجِيبَ عَنْهُ بِأَنَّهُ ضَعِيفٌ لِضَعْفِ عِيسَى بْنِ مَيْمُونٍ. قَالَهُ الْمُنَاوِيُّ.
وَاسْتَدَلَّ الْمُجَوَّزُونَ أَيْضًا بِأَنَّ جَمْعًا مِنْ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمْ مِنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ وَغَيْرَهُمْ قَدْ اِخْتَضَبُوا بِالسَّوَادِ وَلَمْ يُنْقَلْ الْإِنْكَارُ عَلَيْهِمْ مِنْ أَحَدٍ . فَمِنْهُمْ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، رَوَى الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَكَانَ أَسَنَّ أَصْحَابِهِ أَبُو بَكْرٍ فَغَلَفَهَا بِالْحِنَّاءِ وَالْكَتَمِ حَتَّى قَنَأَ لَوْنُهَا وَفِي الْقَامُوسِ قَنَأَ لِحْيَتَهُ سَوَّدَهَا كَقَنَأَهَا اِنْتَهَى.
وَأُجِيبَ عَنْهُ بِأَنَّ الْمُرَادَ بِقَوْلِهِ: "حَتَّى قَنَأَ لَوْنُهَا" اِشْتَدَّتْ حُمْرَتُهَا، فَفِي النِّهَايَةِ فِي بَابِ الْقَافِ مَعَ النُّونِ: مَرَرْت بِأَبِي بَكْرٍ فَإِذَا لِحْيَتُهُ قَانِئَةٌ، وَفِي حَدِيثٍ آخَرَ: وَقَدْ قَنَأَ لَوْنُهَا، أَيْ شَدِيدَةُ الْحُمْرَةِ اِنْتَهَى.
وَقَالَ الْعَيْنِيُّ: أَيْ حَتَّى اِشْتَدَّتْ حُمْرَتُهَا حَتَّى ضَرَبَتْ إِلَى السَّوَادِ اِنْتَهَى. وَرُوِيَ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ قَالَ: كَانَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ يَخْرُجُ إِلَيْنَا وَكَأَنَّ لِحْيَتَهُ ضِرَامُ الْعَرْفَجِ مِنْ الْحِنَّاءِ وَالْكَتَمِ، ذَكَرَهُ الْعَيْنِيُّ فِي الْعُمْدَةِ. قَالَ الْجَوْزِيُّ فِي النِّهَايَةِ بَعْدَ ذِكْرِ هَذَا الْأَثَرِ: الضَّرَمُ لَهَبُ النَّارِ شُبِّهَتْ بِهِ لِأَنَّهُ كَانَ يَخْضِبُهَا بِالْحِنَّاءِ. وَقَالَ فِي مَادَّةِ ( ع ر ف ) الْعَرْفَجُ شَجَرٌ مَعْرُوفٌ صَغِيرٌ سَرِيعُ الِاشْتِعَالِ بِالنَّارِ وَهُوَ مِنْ نَبَاتِ الصَّيْفِ.
وَمِنْهُمْ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. قَالَ الْحَافِظُ اِبْنُ الْقَيِّمِ فِي زَادِ الْمَعَادِ: قَدْ صَحَّ عَنْ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُمَا كَانَا يَخْضِبَانِ بِالسَّوَادِ، ذَكَرَ ذَلِكَ اِبْنُ جَرِيرٍ عَنْهُمَا فِي كِتَابِ تَهْذِيبِ الْآثَارِ وَذَكَرَهُ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ وَسَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ وَعُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ وَالْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ وَجَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَعَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ، وَحَكَاهُ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ التَّابِعِينَ مِنْهُمْ عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ وَعَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ وَأَبُو مَسْلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْأَسْوَدِ وَمُوسَى بْنُ طَلْحَةَ وَالزُّهْرِيُّ وَأَيُّوبُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ. وَحَكَاهُ اِبْنُ الْجَوْزِيِّ عَنْ مُحَارَبِ بْنِ دِثَارٍ وَيَزِيدَ وَابْنِ جُرَيْجٍ وَأَبِي يُوسُفَ وَأَبِي إِسْحَاقَ وَابْنِ أَبِي لَيْلَى وَزِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ وَغَيْلَانِ بْنِ جَامِعٍ وَنَافِعِ بْنِ جُبَيْرٍ وَعَمْرِو بْنِ عَلِيٍّ الْمُقَدَّمِيِّ وَالْقَاسِمِ بْنِ سَلَّامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ اِنْتَهَى.

وَكَانَ مِمَّنْ يَخْضِبُ بِالسَّوَادِ وَيَقُولُ بِهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ صَاحِبُ الْمَغَازِي وَالْحَجَّاجُ بْنُ أَرْطَاةَ وَالْحَافِظُ بْنُ أَبِي عَاصِمٍ وَابْنُ الْجَوْزِيِّ وَلَهُمَا رِسَالَتَانِ مُفْرَدَتَانِ فِي جَوَازِ الْخِضَابِ بِالسَّوَادِ، وَابْنُ سِيرِينَ وَأَبُو بُرْدَةَ وَعُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ وَشُرَحْبِيلُ بْنُ السِّمْطِ وَعَنْبَسَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَقَالَ: إِنَّمَا شَعْرُك بِمَنْزِلَةِ ثَوْبِك فَاصْبُغْهُ بِأَيِّ لَوْنٍ شِئْت وَأَحَبُّهُ إِلَيْنَا أَحْلَكُهُ.
وَأُجِيبَ عَنْ ذَلِكَ بِأَنَّ خَضْبَ هَؤُلَاءِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَغَيْرُهُمْ بِالسَّوَادِ يَنْفِيه الْأَحَادِيثُ الْمَرْفُوعَةُ فَلَا يَصْلُحُ لِلِاحْتِجَاجِ، وَأَمَّا عَدَمُ نَقْلِ الْإِنْكَارِ فَلَا يَسْتَلْزِمُ عَدَمَ وُقُوعِهِ. وَفِيهِ أَنَّ الْأَحَادِيثَ الْمَرْفُوعَةَ فِي هَذَا الْبَابِ مُخْتَلِفَةٌ فَبَعْضُهَا يَنْفِيه ، وَبَعْضُهَا لَا بَلْ يُثْبِتُهُ وَيُؤَيِّدُهُ فَتَفَكَّرْ .
وَاسْتَدَلَّ الْمَانِعُونَ عَنْ الْخِضَابِ بِالسَّوَادِ بِأَحَادِيثَ مِنْهَا حَدِيثُ جَابِرٍ الَّذِي رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ طَرِيقِ اِبْنِ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْهُ قَالَ: أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ" فَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ" دَلِيلٌ وَاضِحٌ عَلَى النَّهْيِ عَنْ الْخِضَابِ بِالسَّوَادِ.
وَأُجِيبَ عَنْهُ بِأَنَّ قَوْلَهُ "وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ" مُدْرَجٌ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَلَيْسَ مِنْ كَلَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّ مُسْلِمًا رَوَى هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِي خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ إِلَى قَوْلِهِ: غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ فَحَسْبُ وَلَمْ يَرِدْ فِيهِ قَوْلُهُ "وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ" وَقَدْ سَأَلَ زُهَيْرٌ أَبَا الزُّبَيْرِ: هَلْ قَالَ جَابِرٌ فِي حَدِيثِهِ جَنِّبُوهُ السَّوَادَ؟ فَأَنْكَرَ وَقَالَ: لَا فَفِي مُسْنَدِ أَحْمَدَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا حَسَنٌ وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَا حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ أَحْمَدُ فِي حَدِيثِهِ حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ: أُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَبِي قُحَافَةَ أَوْ جَاءَ عَامَ الْفَتْحِ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ مِثْلُ الثَّغَامِ أَوْ مِثْلُ الثَّغَامَةِ، قَالَ حَسَنٌ فَأُمِرَ بِهِ إِلَى نِسَائِهِ قَالَ: غَيِّرُوا هَذَا الشَّيْبَ، قَالَ حَسَنٌ قَالَ زُهَيْرٌ قُلْتُ لِأَبِي الزُّبَيْرِ: قَالَ جَنِّبُوهُ السَّوَادَ؟ قَالَ: لَا اِنْتَهَى وَزُهَيْرٌ هَذَا هُوَ زُهَيْرُ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْمُكَنَّى بِأَبِي خَيْثَمَةَ أَحَدُ الثِّقَاتِ الْأَثْبَاتِ، وَحَسَنٌ هَذَا هُوَ حَسَنُ بْنُ مُوسَى أَحَدُ الثِّقَاتِ. وَرُدَّ هَذَا الْجَوَابُ بِأَنَّ حَدِيثَ جَابِرٍ هَذَا رَوَاهُ اِبْنُ جُرَيْجٍ وَاللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ وَهُمَا ثِقَتَانِ ثَبْتَانِ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْهُ مَعَ زِيَادَةِ قَوْلِهِ: "وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ " كَمَا عِنْدَ مُسْلِمٍ وَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِمَا، وَزِيَادَةُ الثِّقَاتِ الْحُفَّاظِ مَقْبُولَةٌ وَالْأَصْلُ عَدَمُ الْإِدْرَاجِ. وَأَمَّا قَوْلُ أَبِي الزُّبَيْرِ لَا فِي جَوَابِ سُؤَالِ زُهَيْرٍ فَمَبْنِيٌّ عَلَيْهِ أَنَّهُ قَدْ نَسِيَ هَذِهِ الزِّيَادَةَ، وَكَمْ مِنْ مُحَدِّثٍ قَالَ قَدْ نَسِيَ حَدِيثَهُ بَعْدَمَا أَحْدَثَهُ، وَخَضْبُ اِبْنِ جُرَيْجٍ بِالسَّوَادِ لَا يَسْتَلْزِمُ كَوْنَ هَذِهِ الزِّيَادَةِ مُدْرَجَةً كَمَا لَا يَخْفَى.
وَمِنْهَا حَدِيثُ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَغَيْرُهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ لَا يُرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ ، فَهَذَا الْحَدِيثُ صَرِيحٌ فِي حُرْمَةِ الْخِضَابِ بِالسَّوَادِ.
وَأَجَابَ الْمُجَوِّزُونَ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ بِوُجُوهٍ ثَلَاثَةٍ:
الْأَوَّلُ أَنَّ فِي سَنَدِهِ عَبْدَ الْكَرِيمِ بْنَ أَبِي المخارق أَبَا أُمَيَّةَ كَمَا صَرَّحَ بِهِ اِبْنُ الْجَوْزِيِّ وَهُوَ ضَعِيفٌ لَا يُحْتَجُّ بِحَدِيثِهِ.
وَقَدْ رُدَّ هَذَا الْجَوَابُ بِأَنَّ عَبْدَ الْكَرِيمِ هَذَا لَيْسَ هُوَ اِبْنُ أَبِي الْمُخَارِقِ أَبَا أُمَيَّةَ بَلْ هُوَ عَبْدُ الْكَرِيمِ بْنُ مَالِكٍ الْجَزَرِيُّ أَبُو سَعِيدٍ وَهُوَ مِنْ الثِّقَاتِ. قَالَ الْحَافِظُ بْنُ حَجَرٍ فِي الْقَوْلِ الْمُسَدَّدِ: أَخْطَأَ اِبْنُ الْجَوْزِيِّ فَإِنَّمَا فِيهِ عَبْدُ الْكَرِيمِ الْجَزَرِيُّ الثِّقَةُ الْمُخَرَّجُ لَهُ فِي الصَّحِيحِ اِنْتَهَى. وَقَالَ الْحَافِظُ الْمُنْذِرِيُّ فِي التَّرْغِيبِ بَعْدَ ذِكْرِ هَذَا الْحَدِيثِ: ذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى أَنَّ عَبْدَ الْكَرِيمِ هَذَا هُوَ اِبْنُ أَبِي الْمُخَارِقِ وَضَعَّفَ الْحَدِيثَ بِسَبَبِهِ وَالصَّوَابُ أَنَّهُ عَبْدُ الْكَرِيمِ بْنُ مَالِكٍ الْجَزَرِيُّ وَهُوَ ثِقَةٌ اِحْتَجَّ بِهِ الشَّيْخَانِ وَغَيْرُهُمَا اِنْتَهَى
وَالثَّانِي أَنَّ الْوَعِيدَ الشَّدِيدَ الْمَذْكُورَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ لَيْسَ عَلَى الْخَضْبِ بِالسَّوَادِ بَلْ عَلَى مَعْصِيَةٍ أُخْرَى لَمْ تُذْكَرْ كَمَا قَالَ الْحَافِظُ اِبْنُ أَبِي عَاصِم ، وَيَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ وَقَدْ عَرَفْت وُجُودَ طَائِفَةٍ قَدْ خَضَبُوا بِالسَّوَادِ فِي أَوَّلِ الزَّمَانِ وَبَعْدَهُ مِنْ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَغَيْرِهِمْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، فَظَهَرَ أَنَّ الْوَعِيدَ الْمَذْكُورَ لَيْسَ عَلَى الْخَضْبِ بِالسَّوَادِ ، إِذَا لَوْ كَانَ الْوَعِيدُ عَلَى الْخَضْبِ بِالسَّوَادِ لَمْ يَكُنْ لِذِكْرِ قَوْلِهِ فِي آخِرِ الزَّمَانِ فَائِدَةٌ، فَالِاسْتِدْلَالُ بِهَذَا الْحَدِيثِ عَلَى كَرَاهَةِ الْخَضْبِ بِالسَّوَادِ لَيْسَ بِصَحِيحٍ.
وَالثَّالِثُ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْخَضْبِ بِالسَّوَادِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ الْخَضْبُ بِهِ لِغَرَضِ التَّلْبِيسِ وَالْخِدَاعِ لَا مُطْلَقًا، جَمْعًا بَيْنَ الْأَحَادِيثِ الْمُخْتَلِفَةِ وَهُوَ حَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ.
وَمِنْهَا حَدِيثُ أَنَسٍ رَوَاهُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "غَيِّرُوا الشَّيْبَ وَلَا تُقَرِّبُوهُ السَّوَادَ".
وَأُجِيبَ عَنْهُ بِأَنَّ فِي سَنَدِهِ اِبْنَ لَهِيعَةَ وَهُوَ ضَعِيفٌ. قَالَ الْحَافِظُ فِي التَّلْخِيصِ قَالَ الْبَيْهَقِيُّ: أَجْمَعَ أَصْحَابُ الْحَدِيثِ عَلَى ضَعْفِ اِبْنِ لَهِيعَةَ وَتَرْكِ الِاحْتِجَاجِ بِمَا يَنْفَرِدُ بِهِ اِنْتَهَى، ثُمَّ هُوَ مُدَلِّسٌ وَرَوَاهُ عَنْ خَالِدِ بْنِ أَبِي عِمْرَانَ بِالْعَنْعَنَةِ.
وَمِنْهَا حَدِيثُ أَبِي الدَّرْدَاءِ مَرْفُوعًا: "مَنْ خَضَبَ بِالسَّوَادِ سَوَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ"، أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ وَابْنُ أَبِي عَاصِمٍ.
وَمِنْهَا حَدِيثُ اِبْنِ عُمَرَ مَرْفُوعًا: "الصُّفْرَةُ خِضَابُ الْمُؤْمِنِ وَالْحُمْرَةُ خِضَابُ الْمُسْلِمِ وَالسَّوَادُ خِضَابُ الْكَافِرِ"، أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ وَالْحَاكِمُ.
وَمِنْهَا حَدِيثُ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ رَفَعَهُ: "مَنْ غَيَّرَ الْبَيَاضَ بِالسَّوَادِ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ"، ذَكَرَهُ الْحَافِظُ فِي لِسَانِ الْمِيزَانِ.
وَأُجِيبَ عَنْ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ الثَّلَاثَةِ بِأَنَّهَا ضَعِيفَةٌ لَا يَصْلُحُ وَاحِدٌ مِنْهَا لِلِاحْتِجَاجِ. أَمَّا الْأَوَّلُ فَقَدْ ضَعَّفَهُ الْحَافِظُ فِي الْفَتْحِ كَمَا عَرَفْت: وَأَمَّا الثَّانِيفَقَالَ الْمُنَاوِيُّ فِي التَّيْسِيرِ: إِنَّهُ مُنْكَرٌ. وَأَمَّا الثَّالِثُ فَفِي سَنَدِهِ مُحَمَّدُ بْنُ مُسْلِمٍ الْعَنْبَرِيُّ وَهُوَ ضَعِيفٌ كَمَا فِي الْمِيزَانِ وَاللِّسَانِ. هَذَا وَقَدْ ذَكَرْنَا دَلَائِلَ الْمُجَوِّزِينَ وَالْمَانِعِينَ مَعَ بَيَانِ مَا لَهَا وَمَا عَلَيْهَا، فَعَلَيْك أَنْ تَتَأَمَّلَ فِيهَا. وَقَدْ جَمَعَ الْحَافِظُ اِبْنُ الْقَيِّمِ فِي زَادِ الْمَعَادِ بَيْنَ حَدِيثِ جَابِرٍ وَحَدِيثِ اِبْنِ عَبَّاسٍ الْمَذْكُورَيْنِ بِوَجْهَيْنِ فَقَالَ: فَإِنْ قِيلَ قَدْ ثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ النَّهْيُ عَنْ الْخِضَابِ بِالسَّوَادِ وَالْكَتَمُ يُسَوِّدُ الشَّعْرَ، فَالْجَوَابُ مِنْ وَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا أَنَّ النَّهْيَ عَنْ التَّسْوِيدِ الْبَحْتِ . فَأَمَّا إِذَا أُضِيفَ إِلَى الْحِنَّاءِ شَيْءٌ آخَرُ كَالْكَتَمِ وَنَحْوِهِ فَلَا بَأْسَ بِهِ فَإِنَّ الْكَتَمَ وَالْحِنَّاءَ يَجْعَلُ الشَّعْرَ بَيْنَ الْأَحْمَرِ وَالْأَسْوَدِ بِخِلَافِ الْوَسْمَةِ فَإِنَّهَا تَجْعَلُهُ أَسْوَدَ فَاحِمًا وَهَذَا أَصَحُّ الْجَوَابَيْنِ: الْجَوَابُ الثَّانِي: أَنَّ الْخِضَابَ بِالسَّوَادِ الْمَنْهِيَّ عَنْهُ خِضَابُ التَّدْلِيسِ كَخِصَابِ شَعْرِ الْجَارِيَةِ وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ تَغُرُّ الزَّوْجَ وَالسَّيِّدَ بِذَلِكَ وَخِضَابُ الشَّيْخِ يَغُرُّ الْمَرْأَةَ بِذَلِكَ فَإِنَّهُ مِنْ الْغِشِّ وَالْخِدَاعِ ، فَأَمَّا إِذَا لَمْ يَتَضَمَّنْ تَدْلِيسًا وَلَا خِدَاعًا فَقَدْ صَحَّ عَنْ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُمَا كَانَا يَخْضِبَانِ بِالسَّوَادِ إِلَخْ.
وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ

Kamis, 05 Februari 2009

ISLAM MULIAKAN PEREMPUAN

Anda, seperti halnya saya, sudah sering mendengar isu dan wacana yang isinya mendiskreditkan Islam dan ajaran-ajarannya. Gender misalnya, sebuah gagasan yang diimport dari barat yang disertai pemaksaan untuk dianut oleh bangsa-bangsa muslim. Maka tidak aneh kalau kemudian kita mendengar wacana adanya ayat Alquran dan hadis yang dituduh misoginis (merendahkan wanita), yang kalau dicermati lebih lanjut sebenarnya ahistoris (tidak sesuai fakta sejarah), distorsi (memuat kebohongan data), dan provokatif.

Sebagai sebuah sistem nilai (maaf kalau istilah ini tidak berkenan), Islam membawa ajaran dan dogma kepada seluruh manusia (dan jin). Penyelewengan dan kedurjakaan terhadap ajaran Islam yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, bukan sebuah justifikasi (pembenaran) atas tuduhan-tuduhan miring terhadap Islam.


Berikut sikap Islam terhadap perempuan, yang dalam perspektif ”mereka” sering direndahkan dan dihinakan:

1. Islam menilai seseorang beradasarkan kinerja dan sikap diri/akhlaq (âmanû wa ’amilû al-sâlihât), yang dalam bahasa Agama disebut taqwa, bukan berdasarkan ras, suku bangsa, dan jenis kelamin (QS. Al-Hujurat: 13)

2. Islam membuka kesempatan bagi setiap orang untuk ”memuliakan diri” (QS. Al-Isra`: 7)

3. Islam memberikan hak dan kewajiban yang proporsional kepada perempuan ”wa lahunna mitsl al-ladzî ‘alayhinna bil ma’rûf” (QS. Al-Baqarah: 228)

4. Islam memahami bahwa kesamaan hak dan kewajiban bersifat proporsional, dan bahwa ada kelebihan yang dimiliki laki-laki dan ada kelebihan yang dimiliki perempuan ”wa lirrijâl ’alayhinna darajah” (QS. Al-Baqarah: 228). Menyamakan seratus persen antara laki-laki dan perempuan tentulah bukan sesuatu yang benar. Dalam banyak hal, perempuan dapat melakukan apa-apa yang dilakukan laki-laki, sementara dalam beberapa hal ada kekhasan yang dimiliki laki-laki atau perempuan saja.

5. Sikap eropa terhadap perempuan sebelum abad 18 sangat tidak manusiawi, sementara pada zaman Rasulullah (abad 6) perempuan diberi hak waris (dan zaman ’Umar ada perempuan yang menjadi kepala pasar/pemegang otoritas moneter dan fiskal dalam definisi yang sederhana), hak dalam kemiliteran, menjadi cendekiawan (Aisyah menjadi mufti bagi shahabat).

6. Islam memahami bahwa budaya paternalistik dan dominasi laki-laki atas perempuan, seringkali membatasi hak-hak perempuan. Pembatasan ini bukan dikarenakan doktrin agama, tetapi lebih pada ”perilaku pasar” dan ”sifat manusiawi manusia” di mana yang kuat akan mendominasi yang labih lemah.

7. Islam mendudukan ibu tiga tingkat di atas ayah, dan bahwa surga berada di ”telapak kaki” ibu.

8. Saat ini ada kesalahpahaman terhadap ajaran Agama, sehingga muncul sikap dan perilaku yang misoginis dan cenderung membatasi hak-hak perempuan, seperti anggapan bahwa perempuan tidak pantas memegang kekuasaan politis, dan tidak boleh mengendarai mobil sendirian (kasus Saudi). Hal ini lebih tepat dikarenakan budaya paternalistik dan pemahaman yang tidak membedakan ajaran Agama (al-Qur`an dan Sunnah) dengan penafsiran ulama.

9. Pembacaan yang setengah-setengah terhadap ajaran Agama menimbulkan pemahanan yang keliru, misalnya anggapan adanya doktrin yang misoginis (bias gender) dalam ajaran Agama, Islam agama teroris (akibat hanya membaca ayat ”pedang” dan tidak membaca ”ayat toleransi), Islam agama yang identik dengan kekumuhan dan dan keterbelakangan, serta Islam anti barat

10. Sayangnya, alih-alih mengkaji lebih lanjut ajaran Islam, atau bertanya kepada pihak-pihak yang memiliki kompetensi dalam bidang agama (mujtahid), sebagian orang yang ”kurang tahu” melakukan ”black campagne” terhadap Islam.

Rabbunâ al-Musta’ân.