ME...

ME...
MUSCAT-OMAN 2005

Kamis, 01 Juli 2010

Tema Makalah Sebagai Pengganti Kehadiran Di Kelas

Sebagai pengganti ketidakhadiran dalam pembelajaran di kelas, kecuali bagi yang berhalangan karena sakit, mahasiswi menulis satu makalah untuk satu absensi. Makalah minimal 9 halaman, ditulis sesuai kaedah penulisan karya ilmiah, dan diserahkan pada hari pelaksanaan UAS.
Berikut tema-tema makalahnya:

1. Pengenalan kitab Tahdzib al-Kamal katya al-Mizzi
2. Fenomena Inkar Sunnah
3. Konsep Tsiqah: Terminologi 'adalah dan dhabth dan aplikasinya dalam penelitian sanad
4. Nasikh dan Mansukh dalam hadis
5. Ummul Mukminin Aisyah dan peranannya dalam penjagaan hadis
6. Berhujjah dengan hadis ahad
7. israiliyat dalam hadis

KISI-KISI UAS IIQ KELAS KRITIK SANAD TAHUN 2009-2010

A. Materi:
1. Kritik Sanad: Pengertiannya (kritik sanad bukan mengkritisi rasulullah sebagai mandataris penjelas syariat, tetapi kajian atas orang yang menyampaikan periwayatan apakah ia bisa dipercaya atau tidak), urgensi mempelajarinya (agar bisa membedakan hadis yang shahih dengan hadis yang tidak shahih), dan literatur yang digunakan dalam kritik sanad (buku tarajum, buku jarh wa ta'dil, dan buku tentang takhrij wa dirasah asanid)
2. Ungkapan dalam al-jarh wa al-Ta'dil dan penjelasannya (mana yang masih bisa diterima periwayatannya, dan mana yang menjadikan seorang perawi dinilai dhaif)
3. ittishal sanad: maksud dari ittishal sanad, bagaimana cara mengetahui ittishal atau inqitha' sanad, dan pengaruh ittishal sanad dalam keshahihan hadis
4. konsepsi syadz: definisi dan contohnya
5. konsepsi illat: definisi dan contohnya
6. konsepsi tsiqah: definisi 'adalah dan dhabth, bagaimana cara mengetahui 'adalah dan dhabth seseorang, dan pengaruh ke-tsiqah-an dalam keshahihan hadis

semoga sukses, para ustadzah!

KISI-KISI UAS PTIQ SEMESTER 2 TAHUN 2009-2010

A. Kelas Ilmu Hadis II PTIQ

1. Kisi-kisi:
a. Konsepsi Tsiqah ('adalah dan dhabth): Definisi 'Adl dan Dhabth, bagaimana cara mengetahui dan menetapkan ketsiqahan atau ketidaktsiqahan seorang perawi, dan ungkapan yang digunakan dalam al-jarh wa ta'dil
b. Hadis Palsu: Definisi, ciri-ciri, hukum meriwayatkan hadis palsu, dan hukum mengamalkan hadis palsu
c. Shighah al-Tahammul wa al-Ada': pengertiannya, dan ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam periwayatan hadis (al-tahammul wa al-ada'), manfaat mengetahui shighah tahammul wa al-ada'

2. Sumber Bacaan:
a. Tadrib al-Rawi karya al-Suyuthi
b. Taysir Mushthalah al-Hadits karya al-Thahhan
c. Makalah mahasiswa yang telah dipresentasikan
d. Literatur ilmu hadis

Kamis, 03 Juni 2010

CANDA SANTRI: HUMOR YANG HALALAN THAYYIBAN


SEBUAH PENGANTAR

Saya memiliki asumsi bahwa dalam setiap komunitas masyarakat yang beranggotakan minimal dua puluh orang, pasti ada satu atau lebih orang yang lucu, humoris, dan menjadi pelawak bagi yang lain. Di waktu yang sama, ada juga orang yang judes, skeptis, menyebalkan dan tidak disukai mayoritas komunitas itu. Nampaknya hal ini merupakan sebuah sunnatullah yang menghendaki keseimbangan alam.

Asumsi ini sama sekali tidak berasal dari sebuah penelitian, atau data akademis yang dapat anda cari di perpustakaan. Asumsi ini muncul dari pengalaman hidup yang saya kira anda semua dapat memverifikasi ketepatannya.

Alhamdulillah, Allah telah menempatkan saya di pesantren selama 13 tahun. Mulai pesantren kecil yang hanya memiliki santri kurang dari empat puluh orang hingga pesantren yang jumlah santrinya ribuan sudah pernah saya kunjungi dan tempati. Pengalaman ini menguatkan asumsi saya tersebut.

Dunia pesantren memang penuh warna. Keragaman asal dan budaya santri memunculkan banyak hal termasuk keluguan dan kelucuan yang sering kali tidak disadari oleh santri itu sendiri. Dengan menggunakan perspektif humor, kemalangan nasib dan hal-hal yang biasa dialami santri bisa diangkat menjadi komoditas humor. Sebut saja Fauzan, seorang santri yang berasal dari Madura yang suatu sore ingin pergi ke pasar. Mobil angkutan umum yang dinaikinya saat itu penuh dengan ibu-ibu yang sedang ramai merumpi dan menggosip dengan menggunakan bahasa Madura. Merasa berasal dari suku yang sama, Fauzan memberanikan diri ikut nimbrung obrolan ibu-ibu itu.

"Sampeyan oreng Madureh (Anda orang Madura)?" tanya seorang ibu kepadanya
"Engkih (iya), bu!" jawab Fauzan dengan antusias.
"Sampeyan jualan sate di mana?" Tanya ibu itu lagi

Fauzanpun merasa sebal dan keki mendengar "tuduhan" bahwa dirinya penjual sate. Saat kejadian ini diceritakan, semua santri tertawa terpingkal tanpa ada satupun yang berempati.

Berhumor bukanlah sebuah dosa selama tidak disertai kebohongan dan kezaliman. Humor yang disertai pelecehan atau sesuatu yang bisa menyinggung perasaan orang lain tentu berakibat dosa. Berhumor merupakan salah satu mekanisme menghibur diri. Seorang shahabat Rasulullah (saya lupa namanya) pernah berkata, "Sesungguhnya hati jika dipaksa akan mati". Ada juga shahabat lain (yang saya juga lupa namanya) berkata, "Aku senantiasa menyempatkan diri untuk berguyon dan berhibur di sela peribadatanku kepada Allah".

Pernah seorang nenek mendatangi Rasulullah dan meminta beliau untuk mendoakan dirinya masuk surga. Dengan mimik serius, Rasulullah mengatakan bahwa di surga tidak ada nenek-nenek. Mendengar jawaban ini, sontak sang nenek menangis. Namun tidak lama waktu berselang, nenek tadi segera tertawa gembira setelah mendengar bahwa maksud ucapan Rasulullah tadi adalah tiap orang yang masuk surga akan menjadi muda kembali, termasuk dirinya. Kutipan ini terkoleksi dalam sebuah hadis (maaf, saya lupa perawinya)

Seorang teman (lagi-lagi maaf, yang ini juga saya lupa namanya) pernah berkata, "Lebih baik menjadi muslim yang humoris, dari pada menjadi orang fasiq yang selalu cemberut".

Maka, dari pada saya berpanjang lebar menyampaikan hal-hal-yang saya lupa sumber-sumbernya, lebih baik segera saya persilahkan anda untuk membaca buku kecil ini.

TELAH TERBIT, BUKU "CANDA SANTRI: HUMOR YANG HALALAN THAYYIBAN
Discount 10% selama masa promo.

Kamis, 29 April 2010

Kejujuran...(artikel ini, alhamdulillah, telah dimuat koran republika)


Pada tahun keenam Hijriyah, Abu Sufyan berniaga ke Syam. Di sana ia mendapat undangan khusus dari Kaisar Heraclius untuk berdiskusi seputar sifat Muhammad SAW serta ajaran yang didakwahkannya.

Abu Sufyan yang saat itu belum memeluk Islam serta masih memusuhi Islam dan kaum Muslimin, dengan tegas menjelaskan sifat dan akhlak mulia Rasulullah SAW. Muhammad SAW adalah sosok manusia yang jujur tanpa pernah sekalipun berdusta.
Muhammad SAW mengajak manusia untuk mengesakan Tuhan dan berbudi pekerti luhur.
"Demi Allah, jika bukan karena aku khawatir orang-orang akan menjuluki diriku sebagai seorang pendusta, niscaya aku akan berdusta tentang Muhammad." (HR Al-Bukhari).

Rasulullah SAW memang terkenal sebagai orang yang jujur dan berakhlak mulia. Semenjak kecil beliau sudah menyandang julukan al-Amin yang artinya tepercaya. Abu Jahal yang selama hidupnya memusuhi Islam dan kaum Muslimin yang bahkan sempat mau membunuh Rasulullah SAW pernah mengatakan, "Kami tidak mendustakanmu, wahai Muhammad (karena kami tahu bahwa engkau adalah orang yang jujur). Kami hanya mendustakan agama yang engkau dakwahkan."

Allah SWT berfirman, "Sungguh Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu membuatmu sedih. (Namun ketahuilah) Sesungguhnya mereka tidak mendustakanmu, akan tetapi orang-orang zalim itu mendustakan ayat-ayat Allah." (QS Al-An'am [6]: 33).

Suatu hari seorang sahabat bertanya pada Rasulullah SAW. "Apakah seorang Mukmin akan berdusta?" Dengan tegas Rasulullah SAW menyatakan tidak. Kemudian beliau membaca ayat 105 Surat An-Nahl (16). "Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kedustaan adalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah. Dan mereka itu adalah orang-orang pendusta."

Dapat disimpulkan bahwa orang yang beriman, meyakini eksistensi Allah SWT dan pengetahuan-Nya atas semua amal perbuatan manusia. Seseorang yang berdusta menganggap bahwa Allah SWT tidak ada, atau Allah SWT ada tetapi tidak mengetahui kedustaan yang dilakukannya.
Sebab, salah satu tanda kemunafikan adalah kedustaan. "Dia adalah munafik walaupun dia melakukan shalat dan berpuasa, serta menyangka bahwa dirinya beriman." (HR Muslim).

Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya kejujuran akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan orang ke dalam surga. Tidaklah seseorang selalu berkata jujur atau berusaha untuk selalu jujur, sehingga Allah mencatatnya sebagai orang yang jujur. Sebaliknya, kedustaan akan membawa kedurhakaan, dan kedurhakaan akan menjerumuskan orang ke neraka. Dan tidaklah seseorang selalu berdusta atau berusaha menutupi kedustaannya dengan kedustaan yang lain, kecuali Allah akan mencatatnya sebagai seorang pendusta." (HR. Muttafaq 'Alaih dari Ibn Mas'ud)

Selasa, 30 Maret 2010

takhrij PTIQ 2010

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوهَا فَإِنَّهُ نِصْفُ الْعِلْمِ وَهُوَ يُنْسَى وَهُوَ أَوَّلُ شَيْءٍ يُنْزَعُ مِنْ أُمَّتِي

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ بِعْنَا أُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ فَلَمَّا كَانَ عُمَرُ نَهَانَا فَانْتَهَيْنَا

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ بَنُو قُرَيْظَةَ عَلَى حُكْمِ سَعْدٍ هُوَ ابْنُ مُعَاذٍ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ قَرِيبًا مِنْهُ فَجَاءَ عَلَى حِمَارٍ فَلَمَّا دَنَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُومُوا إِلَى سَيِّدِكُمْ فَجَاءَ فَجَلَسَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ إِنَّ هَؤُلَاءِ نَزَلُوا عَلَى حُكْمِكَ قَالَ فَإِنِّي أَحْكُمُ أَنْ تُقْتَلَ الْمُقَاتِلَةُ وَأَنْ تُسْبَى الذُّرِّيَّةُ قَالَ لَقَدْ حَكَمْتَ فِيهِمْ بِحُكْمِ الْمَلِكِ

الْخِلَافَةُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ لِي سَفِينَةُ أَمْسِكْ خِلَافَةَ أَبِي بَكْرٍ ثُمَّ قَالَ وَخِلَافَةَ عُمَرَ وَخِلَافَةَ عُثْمَانَ ثُمَّ قَالَ لِي أَمْسِكْ خِلَافَةَ عَلِيٍّ قَالَ فَوَجَدْنَاهَا ثَلَاثِينَ سَنَةً قَالَ سَعِيدٌ فَقُلْتُ لَهُ إِنَّ بَنِي أُمَيَّةَ يَزْعُمُونَ أَنَّ الْخِلَافَةَ فِيهِمْ قَالَ كَذَبُوا بَنُو الزَّرْقَاءِ بَلْ هُمْ مُلُوكٌ مِنْ شَرِّ الْمُلُوكِ

عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَهُوَ مَرِيضٌ قُلْنَا أَصْلَحَكَ اللَّهُ حَدِّثْ بِحَدِيثٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهِ سَمِعْتَهُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ قَالُوا قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ عِنْدَ ذَلِكَ قَالَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ أَلَا مَنْ وَلِيَ عَلَيْهِ وَالٍ فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَلَا يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى بِيَمِينٍ وَشَاهِدٍ

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ الْمَدِينَةِ أَوْ مَكَّةَ فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فِي قُبُورِهِمَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ ثُمَّ قَالَ بَلَى كَانَ أَحَدُهُمَا لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ وَكَانَ الْآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ دَعَا بِجَرِيدَةٍ فَكَسَرَهَا كِسْرَتَيْنِ فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبْرٍ مِنْهُمَا كِسْرَةً فَقِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا أَوْ إِلَى أَنْ يَيْبَسَا

عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ قَالَ كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ قَالَ أَنَا قَالَ رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ

ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَ مِرَارًا قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

عن عبد الله بن عمرو قال رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يعقد التسبيح قال ابن قدامة بيمينه

Senin, 29 Maret 2010

tugas takhrij IIQ 2010

كان إذا رفأ الإنسان إذا تزوج قال بارك الله لك وبارك عليك وجمع بينكما في خير

إذا وقع الرجل بأهله وهي حائض فليتصدق بنصف دينار

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأمر إحدانا إذا كانت حائضا أن تتزر ثم يضاجعها زوجها وقال مرة يباشرها

ما أحل الله شيئا أبغض إليه من الطلاق

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ وَرَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

حَسْبُكَ مِنْ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ

قَالَ كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ فَهِيَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِي زَانِيَةً

وَإِنَّ طِيبَ الرِّجَالِ مَا ظَهَرَ رِيحُهُ وَلَمْ يَظْهَرْ لَوْنُهُ أَلَا إِنَّ طِيبَ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَلَمْ يَظْهَرْ رِيحُهُ

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ امْرَأَتِي لَا تَمْنَعُ يَدَ لَامِسٍ قَالَ غَرِّبْهَا قَالَ أَخَافُ أَنْ تَتْبَعَهَا نَفْسِي قَالَ فَاسْتَمْتِعْ بِهَا

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى امْرَأَةً فَأَتَى امْرَأَتَهُ زَيْنَبَ وَهِيَ تَمْعَسُ مَنِيئَةً لَهَا فَقَضَى حَاجَتَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى أَصْحَابِهِ فَقَالَ إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَوَّارَاتِ الْقُبُورِ

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ تُغَنِّيَانِ بِغِنَاءِ بُعَاثَ فَاضْطَجَعَ عَلَى الْفِرَاشِ وَحَوَّلَ وَجْهَهُ وَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَانْتَهَرَنِي وَقَالَ مِزْمَارَةُ الشَّيْطَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلَام فَقَالَ دَعْهُمَا فَلَمَّا غَفَلَ غَمَزْتُهُمَا فَخَرَجَتَا وَكَانَ يَوْمَ عِيدٍ يَلْعَبُ السُّودَانُ بِالدَّرَقِ وَالْحِرَابِ فَإِمَّا سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِمَّا قَالَ تَشْتَهِينَ تَنْظُرِينَ فَقُلْتُ نَعَمْ فَأَقَامَنِي وَرَاءَهُ خَدِّي عَلَى خَدِّهِ وَهُوَ يَقُولُ دُونَكُمْ يَا بَنِي أَرْفِدَةَ حَتَّى إِذَا مَلِلْتُ قَالَ حَسْبُكِ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَاذْهَبِي

مَنْ عَالَ ابْنَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثَ بَنَاتٍ أَوْ أُخْتَيْنِ أَوْ ثَلَاثَ أَخَوَاتٍ حَتَّى يَمُتْنَ أَوْ يَمُوتَ عَنْهُنَّ كُنْتُ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ وَأَشَارَ بِأُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

أَنَّ جَاهِمَةَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيرُكَ فَقَالَ هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَالْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَسْأَلُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ أَيْنَ أَنَا غَدًا أَيْنَ أَنَا غَدًا يُرِيدُ يَوْمَ عَائِشَةَ فَأَذِنَ لَهُ أَزْوَاجُهُ يَكُونُ حَيْثُ شَاءَ فَكَانَ فِي بَيْتِ عَائِشَةَ حَتَّى مَاتَ عِنْدَهَا قَالَتْ عَائِشَةُ فَمَاتَ فِي الْيَوْمِ الَّذِي كَانَ يَدُورُ عَلَيَّ فِيهِ فِي بَيْتِي فَقَبَضَهُ اللَّهُ وَإِنَّ رَأْسَهُ لَبَيْنَ نَحْرِي وَسَحْرِي وَخَالَطَ رِيقُهُ رِيقِي

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ الْأَخِرَ وَقَعَ عَلَى امْرَأَتِهِ فِي رَمَضَانَ فَقَالَ أَتَجِدُ مَا تُحَرِّرُ رَقَبَةً قَالَ لَا قَالَ فَتَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا قَالَ أَفَتَجِدُ مَا تُطْعِمُ بِهِ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا قَالَ فَأُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهِ تَمْرٌ وَهُوَ الزَّبِيلُ قَالَ أَطْعِمْ هَذَا عَنْكَ قَالَ عَلَى أَحْوَجَ مِنَّا مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ مِنَّا قَالَ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ