ME...

ME...
MUSCAT-OMAN 2005

Kamis, 23 Oktober 2008

Pandangan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari Tentang Peringatan Maulid

Kutipan Bebas Dari Kitab
al-Tanbihat al-Wajibat Li Man Yashna’ al-Mawlid Bi al-Munkarat
Karya Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari

Buku ini terdiri muqaddimah, 10 Tanbih, khatimah, 3 penjelasan tambahan, tadznib (epilog) yang dikutip dari ‘Izz al-Din bin ‘Abd al-Salam

a. Muqaddimah
Hadratusy syaikh memulai muqaddimah kitabnya dengan kutipan hadis, “Kullu bid’ah dhalalah”.
Pada malam Senin, 25 Rabiul Awal 1355 H, saya mendapati sekelompok santri di beberapa pesantren menyelenggarakan perayaan Maulid. Mereka mendatangkan alat-alat malahi (musik), dan melakukan kemunkaran seperti pencak silat, tinju, dan permainan rebana, setrek (ketoprak), judi, joget-joget, tertawa terbahak-bahak, teriak-teriak, di hadapan perempuan-perempuan yang bukan mahramnya. Sebagian dari mereka bahkan melakukan ikhthilath, di mana laki-laki dan perempuan bercampur baur. Kemunkaran ini dilakukan setelah pembacaan ayat Alquran, khabar-khabar tentang Rasulullah, dan sirah beliau. Melihat hal ini, akupun menegur dan melarang mereka. Kemudian merekapun membubarkan diri.
Kekhawatiran akan terjadinya kembali peristiwa ini, yang bisa jadi membuat masyarakat yang awam keluar dari agama Islam (murtad) tanpa mereka sadari, maka akupun menulis Tanbihat ini sebagai sebuah nasihat dariku kepada kaum muslimin.

b. Sepuluh Tanbihat
Pertama, peringatan maulid sebagaimana yang dikehendaki ulama, yaitu berkumpulnya sekelompok orang yang membaca Alquran, sirah rasulullah, dan menyantap hidangan yang disediakan. Ada juga yang menabuh rebana dengan tetap menjaga etika dan kesopanan.
Hadratusy syaikh mengutip Abu Syamah dalam kitabnya al-Ba’its Fi Inkar al-Bida’ wa al-Hawadits yang menyatakan bahwa salah satu bid’ah yang terbaik yang ada di zamannya adalah tradisi peringatan mauled rasulullah yang dimanifestasikan dalam bentuk sedekah, kegembiraan, dan berbuat baik kepada kaum dhuafa.
Pada tanbih pertama ini, Hadratusy syaikh banyak mengutip riwayat (hadis) dan pendapat ulama terkait anjuran bergembira dengan mawlid rasulullah. Beliau mengutip hadis riwayat al-Tirmidzi tentang kebolehan membunyikan rebana di masjid saat mengumumkan pernikahan. Beliau mengkritik al-Tirmidzi yang mendhaifkan hadis tersebut.
Kedua, Hadratusy syaikh kembali menyatakan keharaman peringatan mauled yang disertai kemunkaran. Beliau mengutip al-Baydhawi dalam Tafsirnya, “Ketaatan yang memunculkan kemaksiatan yang rajih (lebih dominan dari pada ketaatan itu sendiri) wajib ditinggalkan. Karena segala sesuatu yang menjerumuskan kita ke dalam keburukan adalah buruk”.
Ketiga, Hadratusy syaikh mengutip ucapan al-Fakihani, seorang ulama mazhab Maliki tentang keharaman peringatan mauled yang disertai kemunkaran. Sementara ketika peringatan mauled ini dilakukan berupa berkumpulnya sekelompok orang yang menyantap hidangan yang disediakan, maka hukumnya bid’ah yang makruhah. Pendapat al-Fakihani yang menyatakan kemakruhan mauled yang diselenggarakan tanpa kemunkaran ini dikritik oleh Yusuf al-Dajawi.
Keempat, Hadratusy syaikh mengutip Abu ‘Abdullah bin al-Haj, seorang ulama mazhab Maliki, tentang keharaman perayaan mauled dengan disertai kemunkaran.
Kelima, Hadratusy syaikh mengutip Ibn Hajar (al-‘Asqalani) yang menyatakan bahwa peringatan mauled adalah bid’ah yang memuat kebaikan dan keburukan. Jika mauled dilaksanakan dengan cara yang benar dan menjauhi kemaksiatan, maka ia menjadi bid’ah hasanah. Demikian pula sebaliknya jika mauled dilaksanakan dengan disertai kemunkaran, maka ia adalah bid’ah yang haram. Al-‘Asqalani kemudian menyatakan riwayat yang menyatakan anjuran menampakkan kegembiraan atas lahirnya rasulullah, dan manifestasi kegembiraan yang diperbolehkan (yaitu dengan ibadah).
Keenam, Hadratusy syaikh mengutip al-Qadhi ‘Iyadh tentang kewajiban memuliakan rasulullah yang salah satunya berupa peringatan hari kelahirannya. Al-Qadhi menyatakan bahwa rasulullah wajib dimuliakan baik saat beliau hidup maupun setelah kemangkatannya.
Ketujuh, Hadratusy syaikh mengutip Ibn al-Haj al-Fasi tentang keharaman memuliakan sesuatu bukan pada tempatnya. Demikian juga haram hukumnya menggunakan sesuatu yang menghinakan pada sesuatu yang dimuliakan.
Kedelapan, Hadratusy syaikh mengutip al-Qadhi ‘Iyadh keharaman menghina rasulullah.
Kesembilan, Hadratusy syaikh memaparkan bahwa merayakan mauled dengan disertai kemunkaran adalah perbuatan yang sangat buruk.
Kesepuluh, Hadratusy syaikh memaparkan kemunkaran yang dilakukan bersamaan dengan peringatan mauled, seperti memubadzirkan harta dan berlebihan dalam berdandan (dan berpakaian). Hadratusy syaikh juga membahas banyak hal pada tanbih ini.

c. Khatimah
Hadratusy syaikh mengulas tentang tradisi NU (Nahdhatul ‘Ulama) dalam memperingati mauled. Beliau memaparkan dalil membaca (Alquran) dengan suara yang merdu

Buku ini selesai ditulis pada hari Ahad, 14 Rabi’ al-Tsani 1355 H (ditulis dalam rentan waktu kira-kira delapan belas hari).

Selasa, 21 Oktober 2008

Silabus Ulumul Hadis 1 PTIQ

Silabus Mata Kuliah Ulumul Hadis I PTIQ

Sesi 1, Pengenalan Hadis:
a. Definisi Hadis, Khabar, Naba', Atsar, dan Sunnah
b. Definis Sanad dan Matan
c. Definisi Rawi, Muhaddits, Hafidz, Hakim, dan Amirul Mukminin

Sesi 2, Kedudukan Dan Fungsi Sunnah Dalam Islam:
a. Kehujjahan Sunnah
b. Inkarus Sunnah

Sesi 3, Pengenalan Ulumul Hadis:
a. Kemunculan dan Perkembangan Ulumul Hadis (pra Ramahurmuzi hingga pasca Ibn Shalah)
b. Objek Kajian Ulumul Hadis
c. Pengenalan Karya/Literatur Ulumul Hadis
d. Manfaat Ulumul Hadis

Sesi 4, Klasifikasi Hadis Ditinjau Dari Diterima Atau Ditolaknya Sebuah Hadis:
a. Shahih (Definisi , Kriteria/Syarat dan Contoh)
b. Dhaif (Definisi dan Contoh)
c. Hasan (Definisi dan Contoh)
d. Shahih Muhtaff Bil Qara'in (Shahih Karena Faktor Eksternal)

Sesi 5, Hadis Hasan:
a. Definisi, Kriteria/Syarat dan Contohnya
b. Ulama Yang Menggunakan Terminologi Hasan (Ali al-Madini dan al-Tirmidzi)
c. Arti Ucapan al-Tirmidzi: “Hadis Hasan Shahih”
d. Berhujjah Dengan Hadis Hasan

Sesi 6, Macam-macam Hadis Dhaif (A):
a. Maudhu/Palsu (Definisi, Contoh, Tanda Kepalsuan, dan Hukum Meriwayatkannya)
b. Matruk/Semi Palsu (Definisi dan Contohnya)
c. Munkar (Definisi dan Contohnya)

Sesi 7, Macam-macam Hadis Dhaif (B):
a. Mubham (Definisi dan Contohnya)
b. Maqlub (Definisi dan Contohnya)
c. Syadz (Definisi dan Contohnya)
d. Mudhtharib (Definisi dan Contohnya)
e. Mushahhaf (Definisi dan Contohnya)
f. Mu'allal/Ma'lul (Definisi dan Contohnya)
g. Hukum Berhujjah Dengan Hadis Dhaif (Yang Bukan Munkar, Matruk, dan Maudhu')

Sesi 8, Macam-macam Inqitha' (Keterputusan Sanad):
a. Mu'allaq (Definisi dan Contohnya)
b. Mursal (Definisi dan Contohnya)
c. Mu'an 'an dan Muannan (Definisi dan Contohnya)
d. Mudallas (Definisi, Macam dan Contohnya)

Sesi 9, Sisipan Dalam Matan
a. Mudraj (Definisi dan Contohnya)
b. Ziyadah al-Tsiqat (Definisi dan Contohnya)

Sesi 10, Klasifikasi Hadis Berdasarkan Kuantitas Perawi:
a. Mutawatir (Definisi, Kriteria/Syarat dan Contohnya)
b. Ahad Yaitu Masyhur, Aziz, dan Gharib ((Definisi dan Contohnya)
c. Berhujjah Dengan Hadis Ahad

Sesi 11, Klasifikasi Hadis Berdasarkan Nisbat
a. Qudsy (Definisi dan Contohnya)
b. Marfu' (Definisi dan Contohnya)
c. Mauquf (Definisi dan Contohnya)
d. Maqthu (Definisi dan Contohnya)

Literatur/ Sumber Bacaan
1.Taysir Mushtalah Hadis karya Mahmud al-Thahhan
2.Manzhumah al-Bayquniyah
3.Muqaddimah karya Ibn Shalah
4.Tadrib al-Rawi karya al-Suyuthi

Merawat Anak Yatim

Petang itu, kang Jamil mengantar pak Yanto berkunjung ke kediaman kyai Achid.

“Kyai, saya telah menunaikan ibadah haji tiga tahun yang lalu, dan tahun ini saya ingin berhaji lagi. Bagaimana menurut Kyai?” Tanya pak Yanto setelah berbasa-basi secukupnya.

“Dalam banyak Hadis disebutkan betapa besar pahala ibadah haji yang mabrur.” Jawab Kyai, “Misalnya Hadis muttafaq ‘alaih yang menyatakan bahwa pahala haji yang mabrur adalah surga. Dan Hadis riwayat al-Bukhari yang menyatakan bahwa orang yang hajinya mabrur, semua dosanya akan dihapuskan, mirip seperti bayi yang baru terlahir di dunia”.

Pak Yanto dan kang Jamil mendengarkan jawaban kyai dengan seksama.

"Tapi ia masuk surga sendirian", Demikian ujar kyai Achid.

"Beda dengan orang yang mau merawat anak yatim, atau membiayai pendidikannya. Orang ini dijamin oleh Kandjeng Nabi Muhammad masuk surga bersama beliau". Tambah beliau, "Demikian keterangan dari Ummul Mukminin Aisyah, seperti yang termaktub dalam Hadis riwayat al-Imam al-Bukhari".

"Kyai, surga Kandjeng Nabi seperti apa bagusnya?" Tanya pak Yanto.

"Di surga tersedia semua yang kita kehendaki dan kita inginkan. Demikian keterangan yang terdapat dalam al-Quran Surat al-Zukhruf ayat 71. Bahkan semua kenikmatan yang mungkin terlintas di benak kita, sesungguhnya kenikmatan surga lebih baik, jauh lebih enak, dan juuaauuuh lebih nikmat". Jawab kyai dengan bersemangat."Dalam Hadis riwayat al-Imam Muslim diterangkan bahwa orang yang terakhir masuk surga akan mendapat surga yang luasnya sepuluh kali lipat dunia ini. Dan surga yang demikian itu adalah surga kelas emperan, kelas yang paling ekonomis.” Sambung kyai, “Lalu menurut sampeyan surga tempat tinggal Kandjeng Nabi seperti apa?".

"Tentu surga untuk Kandjeng Nabi jauh lebih luhur, lebih agung, lebih indah, lebih nyaman, lebih menyenangkan, lebih enak, lebih baik dan lebih nikmat. Pokoknya surga untuk Kandjeng Nabi pasti yang terbaik! Kelas super super super Vi Ai Pi, lah!". Jawab kang Jamil mantap.

"Nah, orang yang mau merawat anak yatim akan bersama beliau di surga kelas super super super VIP itu". Sambut kyai.

"Jadi kita bisa dapet surga kelas super super super Vi Ai Pi, kalau kita mau merawat anak yatim Kyai?". Tanya kang Jamil lagi.

"Betul, demikian janji Kandjeng Rasul seperti yang disampaikan oleh Ibunda Aisyah". Jawab kyai dengan senyumnya yang menyejukkan hati.

"Walaupun amal kebajikan kita sedikit?" Kang Jamil penasaran.

"Ya, walau amal kebajikan kita sedikit, yang penting ikhlas dan Allah Ta'ala menerimanya". Kyai menghela napasnya, “Semisal presiden akan melakukan perjalanan ke luar kota dengan menaiki kereta api, menurut sampeyan, kira-kira dia naik kereta api kelas ekonomi atau kelas VIP?”

“Ya tentunya naik kelas VIP!” jawab kang Jamil, “Masak presiden naik kereta api kelas ekonomi”.

“Nah, presiden biasanya ditemani menteri-menterinya dan robongan yang terdiri dari para pelayan dan petugas pengaman kepresidenan. Menurut sampeyan, rombongan presiden itu naik kereta VIP yang sama dinaiki presiden atau mereka naik kereta kelas ekonomi?” Tanya kyai lagi.

“Para menteri dan rombongan pastinya ikut kereta yang sama dengan yang dinaiki presiden” jawab kang Jamil.

“Lho, pelayan dan petugas keamanan kok bisa naik kereta yang sama dengan yang dinaiki presiden?” Tanya kyai Achid.

“Tentu saja bisa, lha wong presiden yang mengajak mereka” jawab pak Yanto dengan mantap.

“Begitu pula kita yang amal kebajikannya minim dan sering kali masih disusupi perasaan ujub dan riya`. Kita bisa masuk surga kelas vi ai pi kalau diajak Rasulullah.” ujar kyai Achid, “Jadi, kalau saya boleh mengusulkan, anda urungkan saja niat berhaji lagi, toh anda sudah pernah melaksanakan ibadah haji sementara kewajiban haji hanya berlaku sekali seumur hidup. Uang ONHnya bisa anda salurkan untuk panti asuhan anak yatim, agar anda diajak Rasulullah masuk ke dalam robongan beliau, dan menjadi tetangga beliau di surga yang kelasnya super vi ai pi”.

Kang Jamil dan pak Yanto menganggukan kepala..

Shadaqah Dan Pertambahan Harta

"Tidak akan berkurang harta sebab shadaqah" (HR. al-Tirmidzi)



Shadaqah yang dimaksudkan beliau di sini adalah zakat, dan memang penggunaan kata shadaqah untuk arti zakat, digunakan juga dalam al-Quran surat al-Taubah ayat 60, "Sesungguhnya shadaqah-shadaqah (zakat-zakat) itu, hanyalah untuk orang-orang fakir..."

Sungguh pun demikian, banyak juga ulama yang mengartikan shadaqah di sini meliputi infaq, shadaqah, dan wakaf. Artinya penggunaan kata shadaqah tidak terbatas hanya pada zakat.

Penjelasan sabda Rasulullah pada hadis "Tidak akan berkurang harta dengan shadaqah" banyak sekali. Di sini kita akan coba menerjemahkannya secara kuantitatif dan kualitatif dari sisi keuangan dan perbankan.

Secara kuantitatif, dana yang kita keluarkan dalam bentuk zakat dan shadaqah tidak berkurang dapat dibuktikan dengan memakai kerangka akuntansi.

Dalam akuntansi kita mengenal harta lancar (current asset) dan harta tetap (fixed asset). Dan kategori harta yang paling lancar adalah uang tunai atau uang di bank. Jika anda memiliki uang Rp. 1.000.000 kemudian anda belanjakan Rp. 25.000, maka anda akan merasakan uang anda di saku berkurang dan tersisa 97,5 persen. Secara akuntansi, istilah 'hilang' sesungguhnya tidak terlalu tepat, tetapi yang tepat adalah perpindahan harta dari pos harta lancar ke pos biaya atau pengeluaran.

Dalam kaitannya dengan infaq dan zakat, hilangnya dana sebesar Rp. 25.000 akan dicatat oleh Allah Ta'ala bukan di pos biaya, melainkan di sisi Aset dalam jumlah yang beratus-ratus kali lipat. Analogi ini akan lebih jelas lagi jikalau Rp. 25.000 tadi anda tabung.

Menabung di dunia, bunganya hanya 18 sampai 20 persen setahun, itu pun jikalau banknya sehat dan tidak dilikuidasi. Berbeda jikalau menabung pada Allah Ta'ala, bunga atau bagi hasilnya adalah 700 persen, atau bahkan lebih, maka total harta lancar anda akan bertambah, bukannya berkurang.

Kemudian ada perbedaan dalam soal jatuh tempo pencairan. Jika anda menabung di bank, maka jatuh tempo pengambilannya, kalau deposito mungkin enam bulan atau setahun sekali, dan kalau obligasi mungkin 10 sampai 20 tahun. Sedangkan investasi kepada Allah Ta'ala diambil ketika kita berpulang kepadanya nanti, mungkin seminggu, mungkin setahun, sepuluh tahun, atau bahkan bisa sehari lagi atau sejam lagi…(Ya Rabbi, 'tersenyumlah' kepadaku saat kita 'bertemu' nanti)

Penjelasan kedua adalah penjelasan secara kualitatif. Coba perhatikan surat Ibrahim ayat 7," Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami (Allah Ta'ala) akan menambahkan (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat Allah) maka sesungguhnya siksa-Ku sangatlah pedih".

Di sini Allah Ta'ala mengaitkan proses penambahan ni'mat dengan syukur, atau dalam bahasa statistiknya, ada positive correlation (hubungan yang positif) antara penambahan aset dan proses syukur yang salah satu manivestasinya adalah pengeluaran zakat, infaq, dan shadaqah.

Mungkin saja Allah Ta'ala sudah merencanakan rezeki tahap dua anda, namun pencairannya ditangguhkan sampai syukur, zakat dan infaq terjadi dahulu. Dan jika infaq dan zakat terjadi, maka turunlah rezeki tahap dua itu. Sebaliknya jika zakat dan infaq tidak terjadi, maka rezeki berikutnya pun tidak turun juga. Wallahu a'lam.***

(disadur dari BICARA, Bisnis Cara Rasulullah, Asuhan Syafi'i Antonio)



Saat ditanya tentang shadaqah dan zakat, Kyai Achid mengutip firman Allah Ta'ala pada Surat al-Baqarah ayat 276, Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.

"Banyak hikmah yang terkandung dalam ibadah shadaqah dan zakat" Jawab kyai Achid. "Selain tentunya berpahala, sebenarnya harta yang disedekahkan tidak berkurang melainkan berkembang, dan kita akan bertambah kaya" lanjut kyai.

"Kok bisa, harta yang diberikan ke orang lain, malah membuat kita kaya?" Kang Jamil bertanya.

"Memang secara matematis, harta yang kita sedekahkan memang berkurang, tapi sesungguhnya ia justru bertambah" Kyai Achid mulai menjelaskan.

"Ehm, maaf Kyai, matematis itu apa maksudnya?" Kang Jamil menyela

Kyai tersenyum, "Matematis maksudnya secara hitungan dzahir, seperti hitungan satu tambah satu sama dengan dua"

"Oo, begitu"

"Dengan bersedekah berarti kita telah beribadah, dan ibadah sesungguhnya adalah upaya kita untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Nah, siapa yang dekat dan dikasihi oleh Allah Ta'ala, maka hatinya akan penuh dengan ketenangan dan ketentraman, betul ndak Kang?!."

"Betul Kyai, orang yang dekat dengan Gusti Allah Ta'ala pasti tentrem dan nyaman hatinya" Mantap sekali kang Jamil menjawab.

"Nah, orang yang hatinya dipenuhi Allah Ta'ala dengan ketenangan, ia akan bekerja dengan penuh konsentrasi dan temenanan (bersungguh-sungguh). Dan hasil kerjanya pun menjadi baik dan sempurna".

"Maksud Kyai, hasil kerjanya akan Opotimal?!"

"Bukan opo timal, tapi optimal" Sambung kyai lalu tertawa sampai terlihat gigi serinya.

"Ayo, silahkan diminum tehnya, Kang Jamil"

"Inggih (iya) Pak Yayi, terima kasih" jawab kang Jamil lalu menyeruput tehnya.

"Semisal kita punya uang sepuluh ribu rupiah, terus lima ratus rupiah kita sedekahkan, dan empat ribu lima ratus rupiah kita belikan nasi di warung. Sisanya lima ribu rupiah kita tabungkan. Menurut Kang Jamil, berapa uang yang sebenar-benarnya milik saya?"

"Saya tahu, pasti uang yang benar-benar menjadi milik kita, adalah lima ratus rupiah yang kita sedekahkan" Jawab Kang Jamil dengan mantap.

"Kok bisa?!" Kyai Achid bertanya kembali.

"Karena uang lima ratus rupiah yang kita sedekahkan, akan kita dapatkan kembali di akhirat nanti, bahkan bukan hanya lima ratus rupiah, melainkan dilipatgandakan oleh Gusti Allah menjadi ribuan, atau bahkan jutaan. Adapun uang empat ribu lima ratus yang kita belikan makanan di warung, akan segera menjadi keringat dan kotoran. Dan sisa uang sebanyak lima ribu rupiah yang ditabungkan, akan menjadi milik ahli waris, sebab ketika kita meninggal, maka uang itu jelas-jelas tidak bisa kita bawa ke alam barzakh, jadi yang memilikinya adalah ahli waris kita".

"Ya, benar apa yang Kang jamil katakan" Kyai menimpalinya.

"Iya benar dong Kyai, kan Kyai juga yang mengatakannya saat pengajian di mushala, saya masih ingat kok, waktu kita mengaji kitab Taqrib kemarin lusa!"

Kyai kembali tertawa, kemudian mempersilahkan kang Jamil menyicipi Sukun goreng, dan meminum kembali tehnya. Lalu keduanya bergegas ke mushala, karena waktu shalat Isya' sudah hampir masuk. Dan tak lama kemudian, suara nyaring adzan kang Jamil, terdengar merdu terbawa hembusan angin, melewati dedaunan pohon randu yang rimbun tumbuh di sekeliling mushala, memanggil orang-orang yang mulai berdatangan ke mushala untuk melaksanakan shalat Isya' berjamaah.



Dalam Alquran Surat al-Baqarah ayat 268 diterangkan bahwa, Syaithan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat kejahatan (kikir); Sedang Allah menjanjikan untuk kalian ampunan dari-Nya dan karunia, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Juga dalam Surat al-Naba' ayat 39 Ia berfirman, Katakanlah, "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan baginya (siapa yang dikehendaki-Nya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.

Ketika seseorang memiliki kelapangan rezeki, dan ia enggan menafkahkannya untuk kepentingan Islam dan muslimin, dengan pertimbangan bahwa dengan menafkahkan rezeki, maka hartanya berkurang, maka sesungguhnya ia telah membenarkan syaitan, dan mendustakan Allah Ta'ala, karena syaitan merayunya untuk menjadi nritil dan pelit serta menakut-nakutinya dengan kemiskinan jika ia bersedekah, padahal Allah Ta'ala justru menjanjikan keberkahan dan kekayaan kepada siapa saja yang ikhlas bersedekah dan berderma.



Info Ringan:

Dalam banyak Hadis diterangkan betapa besar pahala ibadah Haji yang Mabrur. Misalnya al-Imam al-Thabrani dalam kitab al-Mu'jam al-Ausath II/198 dan al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya meriwayatkan Hadis dari Shahabat Abu Hurairah yang menyatakan bahwa pahala Haji mabrur adalah surga.

Dan al-Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih al-Bukhari II/553 meriwayatkan Hadis dari Shahabat Abu Hurairah bahwasanya orang yang hajinya mabrur, maka semua dosanya akan dihapus, sehingga diilustrasikan seperti halnya bayi yang baru terlahir di dunia.

"Tapi ia masuk surga sendirian" Demikian kata kyai Achied.

"Beda dengan orang yang mau merawat anak yatim, atau membiayai pendidikannya, maka ia dijamin oleh Baginda Rasulullah masuk surga bersama beliau". Tambah beliau, "Demikian keterangan dari Ibunda Aisyah, seperti yang disebutkan dalam Hadis riwayat al-Imam al-Haitsami dalam kitab Majma' al-Zawaid (VIII/160)".

"Kyai, surga Kandjeng Nabi seperti apa bagusnya?" Tanya kang Jamil.

"Di surga semua yang kita kehendaki dan kita hasrati tersedia, demikian keterangan yang terdapat dalam al-Quran Surat al-Zukhruf ayat 71. Bahkan semua kenikmatan yang mungkin terlintas di benak kita, sesungguhnya kanikmatan surga lebih baik, jauh lebih baik, juuaauuuh lebih baik". Jawab Kyai.

"Dalam Hadis riwayat al-Imam al-Daylami dalam kitabnya al-Firdaus bi Ma'tsur al-Khitab, diterangkan bahwa orang yang terakhir masuk ke dalam surga, yaitu orang mukmin yang terakhir kali diangkat dari neraka setelah ia dibersihkan dari dosa-dosanya, ia mendapat surga yang luasnya sepuluh kali lipat dari dunia ini, dan surga yang demikian tersebut adalah surga yang kelas emperan, kelas paling ekonomis. Lalu menurut sampeyan surga tempat tinggal Kandjeng Nabi seperti apa?", Tanya Kyai Achied.

"Tentu surga untuk Kandjeng Nabi jauh lebih luhur, lebih agung, lebih indah, lebih nyaman, lebih menyenangkan, lebih enak, lebih baik dan lebih nikmat. Pokoknya surga untuk Kandjeng Nabi pasti yang terbaik! Kelas super super super Vi Ai Pi, lah!". Jawab kang Jamil mantap.

"Nah, orang yang mau merawat anak yatim akan bersama beliau di surga kelas super super super VIP tersebut". Sambut Kyai.

"Jadi kita bisa dapet surga kelas super super super Vi Ai Pi, kalau kita mau merawat anak yatim Kyai?". Tanya kang Jamil lagi.

"Betul, demikian janji Kandjeng Rasul seperti yang disampaikan oleh Ibunda Aisyah". Jawab Kyai sambil tersenyum menyejukkan hati.

"Walaupun amal kebajikan kita sedikit?" Kang Jamil penasaran.

"Inggih, walau amal kebajikan kita sedikit, yang penting ikhlas dan Allah Ta'ala menerimanya". Jawab Kyai

Otarki: Menanami Lingkungan Dan Penghijauan Pekarangan

Otarki identik dengan Jepang. Keterbatasan tanah yang dapat ditanami serta etos kemandirian yang dimiliki penduduk negeri sakura, menjadikan otarki sebagai kultur yang terlembagakan dengan baik dari generasi ke generasi.

Dalam pengertian yang sederhana, otarki dipahami sebagai budaya menanami pekarangan rumah dengan tanaman-tanaman yang produktif, termasuk di dalamnya tanaman obat-obatan. Di Jepang, otarki juga dilakukan dengan media pot. Hasilnya, penduduk jepang relatif lebih berswa semabada pangan di bandingkan Indonesia.

Indonesia yang diberkati kekayaan alam yang berlimpah, perlu "mengimpor" budaya ini. Karena kita memiliki laut yang mengandung hasil laut yang hampir tidak terbatas, di mana tanpa harus melakukan budi daya perikanan, kebutuhan ikan, udang, teripang dan sebagainya seharusnya dapat terpenuhi. Di daratan, potensi alam negeri ini juga tidak kalah melimpah. Banyak tanaman lokal seperti umbi-umbian, rempah-rempah dan makanan pokok sehari-hari dapat tumbuh dengan sendirinya. Namun nyatanya kita belum berswa sembada pangan. Kita masih perlu mengimpor beras dari Vietnam, bahkan kita pernah menjual kapal buatan PT DI (IPTN) dengan pembayaran berupa tepung. Dan rasanya kita perlu mengurut dada, mengingat bahwa untuk memenuhi kebutuhan garam, kitapun masih harus mengimpor dari luar negeri.

Luas pekarangan rumah dan tanah kosong yang dimiliki mayoritas masyarakat Indonesia belum tergarap dengan maksimal. Untuk pekarangan rumah yang luasnya 1 x 2 meter, seseorang dapat menanam 1 pohon terong yang merambat, 1 pohon kunyit, 1 pohon jahe, 3 pohon cabai, 1 pohon tomat, 1 pohon lengkoas yang masing-masing ditanam dalam pot ukuran sedang. Kemudian sebagai penyejuk, silahkan dia memilih pohon belimbing, rambutan, mangga, jambu air, jambu batu, atau pohon lain yang buahnya berukuran kecil atau sedang. Ia pun masih dapat menambah 1 pohon pepaya di pojok pekarangan. Dengan demikian, pekarangan rumah yang mungil tadi dapat memenuhi kabutuhan pangan, paling tidak sambal terong untuk pelengkap lauk nasi, sekaligus rempah untuk membuat obat-obatan alternatif bagi penyakit ringan seperti gatal-gatal, masuk angin, dan flu.

Untuk mendapatkan benih cabai, tomat, dan pepaya, kita cukup menjemur biji-biji buah tersebut selama satu hari, untuk kemudian disebar di tanah (atau pot). Untuk menanam terong, jahe, dan langkoas, kita cuma perlu menanamnya dalam tanah. Selanjutnya, kita menyiraminya jika hujan tidak turun. Tanpa pupuk dan perawatan yang rumit, pohon-pohon itu dapat tumbuh dengan baik, dan memberikan hasil yang tidak terputus oleh musim.

Orang-orang tua kita sudah mengingatkan, bahwa semisal besok kiamat datang, dan di tangan kita ada satu benih papaya, maka hendaknya kita menanamnya. Apa yang kita tanam, terkadang tidak kita nikmati hasilnya, namun demikian, orang setelah kita akan bersyukur kepada kita atas "warisan" tanaman yang kita tinggalkan. Nabi Muhammad shallalahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, Apabila seorang muslim menanam, kemudian tanaman itu dimakan burung, manusia, ataupun hewan, maka itu sudah termasuk sedekah (HR. Bukhari dan Muslim)

Sejarah Calender Hijriyah

“Setelah sampai di Madinah, Rasulullah menetapkan penanggalan”. (HR. Al-Hakim dalam al-Iklil)

Dalam Fath al-Bari, Ibn Hajar menyatakan Hadis ini mu’dhal (ada dua perawi hadis yang hilang dalam mata rantai sanad), dan hadis mu’dhal kualitasnya dhaif (validasinya lemah). Sementara dalam riwayat yang populer (masyhur), disebutkan bahwa khalifah Umar bin al-Khathab adalah orang yang meresmikan penanggalan hijriyah. Al-Hakim sendiri juga memiliki riwayat yang menyatakan bahwa penanggalan hijriyah pertama kali ditetapkan oleh khalifah Umar pada bulan Rabi’ al-Awwal tahun 17 H. Penanggalan ini berdasarkan perputaran bulan terhadap bumi, sehingga ia juga disebut sebagai kalender qamariyah atau kalender bulan.

Ibn Sirin mengisahkan bahwa seorang laki-laki dari Yaman berkunjung ke Madinah dan menyatakan bahwa di Yaman orang-orang sudah memiliki penanggalan untuk mencatat peristiwa-peristiwa. Khalifah Umar yang mendengarnya, tertarik dan memutuskan untuk menetapkan penanggalan yang digunakan kaum muslimin. Sebelumnya, Abu Musa al-Asy’ari juga mengeluhkan surat-surat yang datang kepadanya dari khalifah Umar tanpa tanggal, bulan dan tahun. Hal itu membingungkan akibat tidak diketahui urutan kronologis surat yang dikirimkan khalifah Umar. Sehingga semisal ada dua surat khalifah yang diterima Abu Musa al-Asy’ari, dan masing-masing berisi instruksi yang berbeda, akan timbul masalah terkait surat mana yang diterapkan dan dilaksanakan.

Al-Sakhawi dalam al-I’lan bi al-Taubikh li Man Dzamm al-Taurikh menyebutkan banyak riwayat terkait penetapan tahun pertama dalam penanggalan qamariyah. Setidaknya ada empat opsi yang mengemuka di kalangan shahabat: (1) Tahun kelahiran Rasulullah, (2) tahun pengangkatan beliau sebagai rasul, (3) tahun beliau berhijrah, dan (4) tahun kemangkatan beliau.

Untuk menetapkan tahun pertama penanggalan, khalifah Umar bermusyawarah dengan shahabat-shahabat senior. Opsi pertama dan kedua ditolak dengan alasan bahwa tahun kejadiannya masih diperselisihkan di kalangan mereka sendiri. Opsi keempat juga ditolak karena kewafatan Rasulullah telah menimbulkan kesedihan yang mendalam di kalangan kaum muslimin. Kemudian ditetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah sebagai tahun pertama penanggalan. Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa yang mengusulkan opsi ketiga ini adalah Ali bin Abu Thalib, ”Kita memulai penanggalan dari peristiwa hijrahnya Rasulullah dari Mekkah yang saat itu dipenuhi kemusyrikan”. Umar mengamininya dan berkata, ”Hijrah adalah momentum yang memisahkan antara kebenaran dengan kebatilan”.

Masyarakat Arab sendiri sebelum diseru agama Islam, telah mengenal bulan-bulan (penanggalan). Hanya saja saat itu belum ditetapkan tahun penanggalan. Sehingga peristiwa yang terjadi di tengah-tengah mereka, diingat dalam tanggal dan bulan saja. Sementara untuk tahunnya, mereka mengasosiasikannya dengan peristiwa unik yang terjadi. Misalnya saat tentara Abrahah beserta tentaranya yang menunggangi gajah menyerbu Mekkah, sejarah mencatat peristiwa yang menandai kelahiran Rasulullah itu dengan tahun ”Gajah”.



Peristiwa Hijrah

Dengan membuka literatur sejarah, kita akan dapati fakta bahwa Rasulullah berhijrah pada bulan Rabi’ al-Awwal, bukan bulan Muharram. Sekilas memang ada kerancuan: Penanggalan qamariyah ditetapkan bermula pada saat hijrahnya Rasulullah, yaitu bulan Rabi’ al-Awwal. Tapi kenapa bulan Muharram yang dijadikan bulan pertama dalam penanggalan ini?

Al-Kautsari menyatakan bahwa penetapan bulan pertama ini didasarkan pada fakta bahwa niat berhijrah muncul pada bulan Muharram. Tepatnya beberapa saat setelah peristiwa bai’at (sumpah kesetiaan kaum muslimin yang berasal dari kota Madinah kepada Rasulullah) yang terjadi pada pertengahan bulan Dzilhijjah. Bai’at ini sendiri dianggap sebagai ”muqaddimah” hijrah. Maka bulan Muharram yang berlaku setelah Dzilhijjah ditetapkan sebagai momentum hijrah itu sendiri.



Penanggalan Di Libya

Ketika kebanyakan kaum muslimin menetapkan ”Islamic Calendar” berdasarkan tahun terjadinya peristiwa hijrah Rasulullah dari kota Mekkah ke Madinah, Pemerintah Libya menetapkan tahun wafatnya Rasulullah sebagai awal penanggalannya. Dalam Islamic Calender Muammar El-Gadhafi menyatakan,

There is no doubt that the birth of Jesus (P.B.U.H) is one of the miracles of Almighty Allah, Creator of all Things. The birth of a human having no father and commissioned with a divine message deserves to be registered and followed in dating. But the death of the Seal of the Prophets (S.A.W) meant the termination of all divine message and the final stopping of divine revelations until Resurrection day. It meant the complete and eternal silence between heaven and earth. Allah will not address us either directly or from behind a veil after Muhammad’s death. Allah will not descend any sacred scriptures upon us and will not send any messenger after Muhammad (S.A.W). This date in which the Seal of Prophets died denoted all these cosmic meanings. It is more deserving to base our calendar on this date, and it is more deserving to be preserved by mankind in view that it is date unsure passed in importance by any other date.

Muammar el-Gadhafi menyadari bahwa hijrah adalah momentum agung dalam Islam. Selain itu, masih banyak lagi peristiwa-peristiwa besar lainnya, misalnya peristiwa Pembebasan Kota Mekkah (Fath Makkah) dan kemenangan saat perang Badar. Hanya saja, masih menurutnya, kemangkatan Rasulullah adalah momentum terbesar dan paling layak dijadikan dasar penanggalan,

However we shall always celebrate al-Hijra and say that so many years have passed since it took place. We shall continue to celebrate the occupation of Mecca and say that so many years have passed since it happened. We shall continue to celebrate the incursions led successfully by the Prophet in person and all other eventful incursions. We shall continue to celebrate these events every year, but we shall base our calendar on the year of the death of Prophet Muhammad (S.A.W).

Semoga semangat tahun baru menginspirasikan kita untuk berbuat yang lebih baik.

Haji Esoteris

Haji menurut makna etimologis berarti berkehendak (al-qashd). Dan dalam terminologis syar’i-nya berarti berkehendak mengunjungi Baitullah untuk niat ibadah [M. Nawawi al-Bantani dalam Tausikh ’ala Ibn Qasim].

Haji yang disyariatkan pada tahun keenam hijrah [al-Malibary dalam Fath al-Mu’in], merupakan satu dari rukun Islam yang lima. Hal ini ditegaskan Rasulullah dalam sebuah Hadis,بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلىَ خَمْسٍ شَهاَدَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقاَمُ الصَّلاَةِ وَإيْتاَءُ الزَّكاَةِ وَالحَجُّ وَصَوْمُ رَمَضَانَ

“Islam didirikan atas lima (dasar); Persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad merupakan Rasullah, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa pada bulan Ramadhan”. [muttafaq ’alaih dari Ibn Umar]

Shahabat Ibn Abbas pernah menyatakan bahwa siapa yang memiliki keyakinan bahwa haji tidak wajib, maka ia telah menjadi kafir, dan kewajiban haji bagi orang yang mampu melaksanakannya merupakan ijma’ (konsensus) umat Islam. [Ibn Qudamah dalam al-Mughni].

Rasulullah setelah diutus menjadi nabi dan rasul hanya pernah sekali melaksanakan ibadah haji dan empat umrah yang salah satunya dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji beliau. Keempat umrah Rasulullah dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah, kecuali umrah yang dilaksanakan bersamaan dengan haji, yaitu saat haji Wada’ tahun 10 H [muttafaq ’alaih dari Anas bin Malik]. Namun demikian, sebelum diutus menjadi nabi dan rasul, beliau telah sering melaksanakan haji. [Al-Malibary]. Al-Imam Muslim meriwayatkan Hadis dari Qatadah,

سَأَلْتُ أَنَسًا: كَمْ حَجَّ رَسُوْلُ اللهِ؟ قَالَ حَجَّةً وَاحِدَةً وَاعْتَمَرَ أَرْبَعَ عُمَرٍ
“Aku bertanya kepada Anas bin Malik, “Berapa kali Rasulullah menunaikan haji?” ia menjawab: “Beliau berhaji satu kali dan berumrah empat kali”.

Dan saat ditanya oleh salah seorang shahabat, apakah haji wajib dilaksanakan setiap tahun, Rasulullah menjawab bahwa haji hanya wajib dilaksanakan sekali seumur hidup, “Seandainya aku menjawab iya (bahwa haji wajib dilaksanakan setiap tahun), maka akan menjadi sebuah ketetapan (untuk melaksanakan haji setiap tahun), dan kalian tidak akan mampu melaksanakannya” [HR. Muslim].

Dan bagi orang yang telah mampu berhaji hendaknya ia bersegera menunaikannya,
مَنْ أَرَادَ الحَجَّ فَلْيَتَعَجَّلْ
“Siapa yang berkehendak melaksanakan haji, hendaknya ia bersegera” [HR. Abu Dawud dan al-Hakim dari Ibn Abbas]

Mereka yang menunda-nunda haji padahal telah mampu melaksanakannya, maka mereka telah berdosa besar. Hal ini berdasarkan Hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Tirmidzi dalam kitab Sunan-nya, مَنْ مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً تُبْلِغُهُ إِلىَ بَيْتِ اللهِ وَلَمْ يَحُجَّ فَلاَ عَلَيْهِ إِلاَّ أَنْ يَمُوْتَ يَهُوْدِياًّ أَوْ نَصْرَانِيًّا
“Siapa yang telah memiliki ongkos dan kendaraan yang bias mengantarkannya ke Baitullah, namun ia tidak (mau) berhaji, maka tidak ada dosa baginya kecuali ia (disuruh memilih antara) mati sebagai orang yahudi atau orang nashrani”.

Keikhlasan dalam Berhaji

Perintah ibadah Haji dalam al-Qur`an, di awali dan di akhiri dengan kata “lillâh”, yang menyiratkan nuansa keikhlasan dalam pelaksanaannya. Hal ini termaktub dalam al-Qur`an Surat Alu Imran ayat 97,...وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا ً…
“…Dan karena Allah (lillâh), haji wajib atas manusia, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah…”

Dan dalam al-Qur`an Surat al-Baqarah ayat 196,وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ...
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan `umrah karena Allah (lillâh)…”

Keikhlasan dalam menunaikan rukun dan syarat haji, menjadi syarat diterimanya ibadah haji. Al-Imam al-Daylami pernah meriwayatkan Hadis dari Shahabat Anas bin Malik, bahwa Rasulullah pernah bersabda,يَأْتِيْ عَلىَ النََّاسِ زَمَانٌ يَحُجُّ أَغْنِيَاءُ أُمَّتِيْ لِلنُّزْهَةِ وَأَوْسَطُهُمْ لِلتِّجَارَةِ وَفُقَرَاؤُهُمْ لِلْمَسْئَلَةِ وَقُرَّاؤُهُمْ لِلسُّمْعَةِ وَالرِّياَءِ
“Akan datang masa pada umatku, di mana kaum kaya dari umatku beribadah haji untuk bertamsya, kaum menengah mereka beribadah haji untuk berniaga (kepentingan bisnis), kaum faqir mereka beribadah haji untuk meminta-minta, dan kaum terpelajar mereka berhaji untuk pamer dan riya” [HR. al-Daylamy dari Anas bin Malik]

Mereka yang beribadah haji, akan mendapatkan balasan sesuai dengan niat dan orientasinya. Keikhlasan seseorang yang berarti ia beramal semata-mata karena Allah, akan mendapatkan balasan atas perbuatannya berada di sisi Allah berupa pahala dan keridhaan-Nya. Dan ketika amal ibadah tidak berangkat dari keikhlasan hati, maka orientasi duniawi yang melatarbelakangi semua ibadah, termasuk ibadah haji tentunya, akan menjadi balasan bagi amalnya. Sementara itu, Allah yang tidak ‘menjadi tujuan dari amalnya, tentu tidak menyediakan balasan apa-apa atas perbuatan-perbuatan tersebut.

Haji Esoteris
Dalam banyak Hadis diterangkan betapa besar pahala ibadah haji yang mabrur. Misalnya Hadis yang diriwayatkan dari Shahabat Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah pernah bersabda,
الحَجُّ المَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ
“Haji Mabrur tidak ada balasananya kecuali surga” [HR. Ahmad]

Dan dalam Hadis lain, diterangkan bahwasanya orang yang hajinya mabrur, maka semua dosanya akan dihapus, sehingga diilustrasikan seperti halnya bayi yang baru terlahir di dunia.
مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Siapa yang haji, dan tidak berbuat perbuatan yang sia-sia dan perbuatan kefasikan, maka ia akan kembali (bersih dari dosa) seperti (bayi) pada hari dilahirkan oleh ibunya” [HR. Al-Bukhari]

Dalam al-Qur`an Surat al-Zukhruf ayat 71 diterangkan bahwa semua kenikmatan yang terlintas dalam benak manusia, sesungguhnya kenikmatan surga lebih baik dan lebih sempurna,
يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِنْ ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ.
"Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya."

Namun demikian, orang yang berhaji mabrur akan memasuki surga ‘sendirian’. Berbeda dengan orang yang mau merawat anak yatim, atau membiayai pendidikannya, maka ia dijamin oleh Rasulullah masuk surga bersama beliau. Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan dari Ummul Mukninin Aisyah,أَناَ وَكاَفِلُ الَيتِيْمِ فِي الجَنَّةِ كَهاتَيْنِ وَجَمَعَ بَيْنَ السَّبَابَةِ وَالوُسْطَى
“Aku (Rasulullah) dan orang yang merawat anak yatim di surga (berdekatan) seperti dua jari ini. Dan beliau menggabungkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Daylamy, diterangkan bahwa diterangkan bahwa orang yang terakhir masuk ke dalam surga, yaitu orang mukmin yang terakhir kali diangkat dari neraka setelah ia dibersihkan dari dosa-dosanya, ia mendapat surga yang luasnya sepuluh kali lipat dari dunia ini. Surga yang demikian tersebut adalah surga yang kelas ‘emperan’, kelas paling ekonomis.

Ketika surga ‘kelas emperan’ sedemikian luas dan hebat, maka surga yang akan ditempati Rasulullah tentu lebih bagus dan lebih luhur, yang jika dianalogikan dengan hotel, maka surga yang ditempati Rasulullah adalah president suite dari hotel berkelas diamonds.
Jika anda tertarik bersama Rasulullah di surga kelas super super super VIP, kalau sudah pernah berhaji, maka tidak usah berhasrat pergi ke Mekkah lagi untuk berhaji, selain membuat ‘sumpek’ Arafah dan Mina, uang ONH-nya bisa disumbangkan ke panti asuhan anak yatim, Dompet Dhu’afa, atau ke lembaga sosial lainnya yang akuntabel. Di sini artinya anda telah melaksanakan haji sosial.

Rasulullah yang menjadi teladan kita, setelah berhijrah, beliau hanya sekali menunaikan haji. Allah A’lam.